
Rumah yang selama ini sangat Bila rindukan, akhirnya dia bisa kembali ke sini. Setelah perjalan panjang yang sangat melelahkan, Bila tiba di rumahnya.
“Non Bila!!” seru Bi Inah yang baru saja datang dari dapur. Hari memang sudah sore, jadi Bi Inah berada di dapur untuk menyiapkan makanan.
Bi Inah berlari menghampiri gadis yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu. Dia memeluknya dengan erat dibalas oleh Bila yang tak kalah erat.
“Bibi, Bila kangen,” lirih Bila. Air matanya hampir saja menetes jika dia tak segera menghalaunya.
“Bibi juga kangen. Non ke mana aja? Hiks...hiks.” Berbeda dengan Bila. Bi Inah sudah tak bisa lagi menahan tangisnya. Makanya saat dia memeluk Bila, air matanya mengalir begitu deras.
“Maaf Bila pergi gak bilang-bilang,” sesal Bila. Tak ada jawaban dari Bi Inah. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk seraya melepaskan pelukannya.
“Non Bila baik-baik aja, kan?” Saking senangnya, Bi Inah sampai lupa menanyakan kabar gadis itu.
Bila mengangguk. “Bila sehat, Bi.”
“Syukurlah,” Bi Inah bernafas lega setelah mengetahui keadaan Bila. “Kalau gitu Bila ke kamar dulu ya.” Bila berpamitan pada Bi Inah yang diangguki oleh wanita paruh baya itu.
“Ayo Sayang.” Bunda Erina mengulurkan tangannya untuk mengantar Bila ke kamarnya. Sementara Ayahnya mengekor dari belakang dengan koper yang dia geret.
Bila dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Nuansa merah muda yang selalu menjadi ciri khasnya masih melekat di kamar itu.
Tak ada satupun yang berubah. Bahkan tata letak kamarnya masih sama seperti ketika dia pergi dari sana.
“Bila kangen banget sama kamar Bila.” Bila berjalan perlahan untuk duduk di ranjangnya yang kemudian diikuti oleh kedua orang tuanya.
Tuan Harla menyimpan koper Bila di dekat lemarinya. Biarlah nanti Bi Inah yang membereskannya.
“Jangan pergi lagi. Kalau ada apa-apa kamu boleh cerita sama Bunda. Kalau masih ragu, Bi Inah juga ada di sini,” ucap Bunda Erina mengingatkan.
Masa tersulit dalam hidupnya adalah ketika Bila pergi dari rumah. Dia tak ingin lagi mengalami hal itu karena sangat menyakitkan.
Bila mengangguk paham. “Bun, Pak Jeff gak akan ke sini, kan?” Bila masih gelisah dengaan hal yang sama.
__ADS_1
Dia takut Jeff akan mencarinya dan menemuinya. Namun kemudian, Bunda Erina menggeleng. “Bunda gak yakin. Belakangan ini dia sering banget ke sini. Tapi kalau kamu belum siap ketemu, Bunda akan ngomong sama dia,” jelas Bundanya.
“Emang seharusnya dia gak temuin anak kita lagi, Bun,” ucap Tuan Harla diiringi dengan emosinya.
“Yah, gak boleh gitu. Siapa tahu dia emang mau berubah. Lagian mau bagaimanapun, anak yang ada dalam kandungan Bila juga anaknya,” ucapnya.
Bila yang mendengar hal tersebut menunduk dalam. Apa yang dikatakan Bundanya memang benar. Bagaimanapun anak ini adalah darah daging Jeff, gak mungkin Bila akan melarang Jeff bertemu anaknya selamanya.
“Bunda, Bila mau istirahat dulu, boleh?” tanya Bila karena tak ingin lagi mendengar permasalahan tentang Jeff.
“Hmm, tidurlah. Bunda juga akan istirahat. Nanti kita bangunkan kalau mau makan siang,” jawab Bundanya yang diangguki oleh Bila.
Akhirnya kedua orang tua Bila pergi dari sana meninggalkan Bila yang sebenarnya masih dengan segala pikiran yang ada di kepalanya.
“Kangen banget lihat pemandangan dari atas sini,” ucap Bila. Pandangannya lurus ke depan melihat suasana sore dari balkon kamarnya.
Di bawah sana, Bi Inah masih sibuk dengan segala makanan yang dia masak. Bagaimanapun dia ingin menyambuk kedatangan Bila. Jadi dengan sengaja dia memasak semua makanan kesukaan Bila.
****
Hari itu saat Jeff memanggil Raveno ke ruangannya, hal itu sia-sia karena dia tak mendapatkan informasi apapun. Dengan keras kepala pria itu tak ingin memberitahukan apapun pada Jeff.
Ketika motornya memasuki gerbang rumah Bila, matanya tak sengaja melihat sosok gadis di balkon kamar Bila.
“Bila,” lirihnya. Dia menghentikan motornya. Dia mengucek matanya untuk memastikan jika penglihatannya tak salah. Dia kembali melihat ke arah sana dan hilang. Tak ada siapapun di sana.
“Apa gue gila?” kekehnya miris. Jujur saja, saat ini dia merasa sangat kasihan dengan dirinya sendiri.
Mendapatkan penolakan dari kekasih bahkan keluarganya. Tak ada yang mendukungnya, tak ada tempat bercerita. Lengkap sudah alasannya untuk mati.
Jeff tak memikirkan sosok itu lagi. Dia segera mengetuk pintu berharap keluarga Bila masih meu membukakannya.
“Eh Den. Nyonya sama Tuannya sedang tidur. Ada apa ya?” tanya Bi Inah yang membukakan pintu.
__ADS_1
“’Bila udah pulang Bi?” tanya Jeff langsung pada intinya.
Bi Inah bingung harus menjawab apa. Wanita paruh baya itu tergagap saat akan menjawab pertanyaan Jeff.
“E-em...”
“Ada apa kamu ke sini lagi?” Suara bariton terdengar membuat kedua orang yang sedang bicara tadi spontan mengalihkan atensinya pada suara itu.
“Ayah. Bila udah pulang, kan? Tadi Jeff lihat dia di balkon kamar,” ujar Jeff. Sementara itu Bi Inah tak ingin ikut campur. Dia kembali ke dapur setelah mendapatkan persetujuan dari Tuannya.
“Gak ada. Lagipula bukan urusan kamu mau dia pulang atau enggak,” jawab Tuan Harla.
“Yah, maafin Jeff. Tolong kasih Jeff kesempatan satu kali lagi. Kalau setelah ini Jeff nyakitin Bila lagi, Ayah boleh bunuh Jeff.” Jeff memohon dengan sungguh-sungguh.
“Mau kamu bersujud di hadapan Ayahpun, Ayah gak bakal maafin kamu!” bentak Tuan Harla.
“Pergi dari sini!” lanjutnya yang membuat Jeff sedikit terlonjak.
Namun kemudian pria itu menggelengkan kepalanya pelan. “Jeff gak akan pergi dari sini sebelum ketemu Bila,” ucap pria itu.
“Terserah!” Setelah mengatakan hal itu, Tuan Harla menutup rapat pintunya. Dia tak peduli bahkan jika Jeff akan diam di sana selama setahunpun.
Jeff menghela napasnya berat. Sangat sulit mendapatkan maaf dari Ayah Bila. Dia duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di pintu rumah Bila.
Sementara itu di dalam, Bunda Erina turun dari kamarnya setelah dia mendengar ada keributan di bawah.
“Ada apa, Yah?” tanyanya ketika Tuan Harla sudah menutup pintu.
“Jeff di depan. Dia minta maaf lagi.”
“Yah, kita keterlaluan gak sih? Dia udah berulang kali datang ke sini cari Bila dan minta maaf sama kita. Tapi kita gak juga kasih maaf buat dia,” ucap Bunda Erina.
Tuan Harla mulai sedikit bimbang. “Ayah juga ngerasa gitu, Bun. Gak salah juga kalau kita kasih dia kesempatan kedua. Lagian dia juga udah janji gak bakal nyakitin Bila lagi.” Tuan Harla menambahkan.
__ADS_1