
Bila dan Bunda Erina segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Jeff.
Sepanjang jalan, air mata Bila terus mengalir tanpa bisa ditahan. Gadis itu jugas sibuk memilin jari-jari tangannya.
"Tenang, Sayang. Bunda yakin Jeff baik-baik aja." Bunda Erina mengambil tangan Bila dan menggenggamnya dengan erat.
"Bila takut, Bun," lirihnya. Bunda Erina mengangguk karena dia juga merasakan apa yang dirasakan gadis itu walau tak sedalam itu.
"Azka?" Bila benar-benar baru ingat dengan putranya. Dia tak membawa putranya saking paniknya tadi.
"Udah Bunda titipin sama Bi Inah." Bila menghela nafas ketika mendengar hal itu. Untung saja Bundanya cepat tanggap dan tak terlalu panik. Jadi dia masih mengingat hal sedetail itu.
Mang Parman melajukan mobilnya sedikit lebih cepat ketika melihat jalanan kosong.
"Jeff baik-baik aja. Dia pria yang kuat." Serangkaian kalimat penenang kembali Bunda Erina ucapkan.
Bila mencoba mempositifkan pikirannya. Dia akan mempercayai apa yang dikatakan Bundanya tentang Jeff.
Perjalanan yang tak terlalu lama itu serasa sangat lama bagi Bila karena rasa paniknya.
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Bila dan Bundanya segera menanyakan keberadaan Jeff.
"Pasien kecelakaan yang terjadi di pusat kota barusan ada di mana ya, Sus?" tanya Bunda Erina pada salah satu perawat yang ada di sana.
"Ah pasien atas nama Jeff Adhinata?" Perawat itu memperjelasnya.
Bila mengangguk dengan cepat dan fokus pada perawat itu.
"Pasien saat ini sedang dalam penanganan dokter. Biar saya antar," ucap perawat itu.
Bunda Erina dan Bila mengikuti langkah perawat itu menuju ruangan di mana Jeff ditindak.
"Dokter sedang menanganinya di dalam. Silahkan tunggu di luar." Perawat itu menunjuk ruangan tertutup di hadapan mereka sementara mereka dipersilahkan untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.
"Ya Tuhan, semoga Jeff gak apa-apa," isak Bila. Dia tak bisa tenang sebelum dokter datang dan mengatakan hasilnya.
"Yang sabar Sayang." Bunda Erina mengelus punggung Bila dengan lembut. Tangan lainnya menggenggam lengan Bila yang terasa sangat dingin.
Sekitar empat puluh menit mereka duduk di sana, akhirnya Dokter keluar dengan beberapa perawat di balakangnya.
"Keluarga pasien?" tanya Dokter itu karena melihat kedua wanita itu ada di depan ruangan.
"Iya Dok." Bila dan Bundanya segera mendekati Dokter itu untuk meminta penjelasan.
"Ahh syukurlah, tadi ketika pasien di bawa ke sini sama sekali tak ada keluarga."
"Jadu dia gak apa-apa kan Dok?" tanya Bila tak mempedulikan ucapan Dokter sebelumnya.
__ADS_1
"Syukurlah pasien tidak mendapatkan luka parah. Hanya luka ringan di bagian pelipisnya dan beberapa lecet di lengan dan kakinya." Akhirnya Bila bisa menghela nafas lega setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter.
"Tapi, tadi di berita katanya korban kritis?" tanya Bila juga agak aneh.
"Oh mungkin maksud anda orang yang berada di truk itu. Sopirnya meninggal dunia tapi satu orang lainnya kritis," jelas Dokter.
"Ahh begitu. Pasien sudah bisa dijenguk?" tanya Bila tak sabar untuk melihat kondisi suaminya.
"Silahkan. Tapi mungkin pasien masih dalam pengaruh obat tidur. Mungkin dia akan sadar beberapa saat lagi." Dokter kembali menjelaskan.
"Terima kasih Dok."
Dokter dan beberapa perawat itu akhirnya pergi dari sana.
"Kamu masuk duluan, biar Bunda kasih tau Ayah dulu." Bunda Erina mengelus lengan putrinya yang kemudian dibalas anggukan oleh Bila.
Bila masuk ke dalam ruang rawat. Di sana, Jeff terbarint dengan jarum infus yang tersemat di tangannya.
Bila tak lagi melihat Jeff yang manja, Jeff yang memujinya, membentaknya atau tersenyum padanya.
Pria itu sekarang hanya terbaring lesu di brankar rumah sakit. Bibirnya sangat pucat pasi.
"Bangun, Sayang," ucap Bila, padahal baru saja beberapa menit lalu dokter mengatakan jika mungkin Jeff masih dalam pengaruh obat tidur.
Tangan Bila terangkat untuk menggenggam tangan Jeff yang ada di samping badannya.
Air matanya kembali mengalir. Dia menggenggam tangan itu dan mengecupnya pelan.
"Azka kangen sama kamu," lirihnya.
Bunda Erina datang setalah dia selesai memberitahukan hal itu pada suaminya.
"Ayah mau ke sini?" tanya Bila berbalik memandang Bundanya.
"Hhmm Ayah pulang sekarang dari kantor dan dia langsung ke sini," jawab Bunda Erina.
Bila mengangguk. "Kenapa Jeff gak mau bangun ya, Bun?" tanyanya dengan pandangan kosong.
"Tadi kan kata dokter dia masih dalam pengaruh obat tidur, jadi wajar mungkin kalau dia belum bangun."
Mungkin dia terlalu tak sabar hingga menginginkan Jeff bangun sekarang juga.
Mereka akhirnya hanya pasrah. Duduk di sana menunggu Jeff bangun.
Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok pria paruh baya dengan setelah jas kantornya.
"Ayah, kok cepat?" tanya Bila.
__ADS_1
"Hmm, tadi waktu Bunda telpon, Ayah sebenarnya udah di jalan pulang. Jadi gak butuh waktu lama buat sampai di sini."
"Gimana keadaannya?" tanya Tuan Harla sambil membuka jasnya menyisakan kemeja putih yang membalut badannya.
"Kata dokter lukanya ringan. Di kepala, lengan dan kaki," jawab Bila.
"Syukurlah."
"Kenapa bisa gini sih?" tanya Tuan Harla heran. Biasanya di jam-jam itu Jeff masih berada di sekolah, tapi kenapa pria itu malah ada di luar sekolah?
Bila terdiam tak menjawab. Akan sangat tak baik jika orang tuanya tahu bahwa tadi mereka bertengkar.
Biarlah mereka yang menyelesaikan itu tanpa melibatkan orang tuanya.
"Gak tau. Mungkin udah takdirnya kaya gini," ucap Bunda Erina.
"Ayah udah telpon kakeknya Jeff?" Bunda Erina seakan ingat dengan pesannya beberapa lalu.
Bunda Erina meminta suaminya untuk memberitahu kakek Jeff tentang kecelakaan ini.
"Hhmm, udah. Tadi waktu Ayah telpon, Kakeknya bilang dia juga udah liat berita. Tapi emang dia lagi ada kerjaan lain. Mungkin dia akan ke sini nanti."
Bila mengangguk mengerti. Pandangan mereka kembali tertuju pada Jeff yang masih terbaring di sana.
Entah mereka sadari atau tidak, jari Jeff bergerak sedikit. Pria itu juga mengernyitkan keningnya seperti sedang bermimpi.
"Jeff bangun?" tanya Bunda Erina yang melihat Jeff ada pergerakan.
Perhatian mereka langsung tertuju pada Jeff yang masih dalam posisi awal.
"Sayang, kamu bangun?" Bila mencoba menggoyangkan badan Jeff dengan lembut.
Perlahan namun pasti, Jeff membuka matanya.
"Di mana ini?" tanyanya dengan suara serak.
"Di rumah sakit. Kamu ngalamin kecelakaan," jawab Bila.
Jeff kembali memejamkan matanya seolah sedang memproses kalimat yang baru saja diucapkan Bila.
"Sakit," cicitnya sambil memegangi kepalanya yang terbalut perban.
Bila menggantikan tangan Jeff dengan tangannya untuk mengelus luka Jeff yang diperban.
"Kamu kuat kok. Nanti juga sembuh." Bila meniup luka itu walau dapat dia pastikan jika udara dari tiupannya tak akan berpengaruh besar.
"Maaf ya." Tiba-tiba Jeff mengucapkan kata maaf begitu saja.
__ADS_1