Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
54. Rumah Ternyaman


__ADS_3

“Ahh, akhirnya aku bisa melihat wanita yang selama ini kamu bicarakan,” kekeh pria tua itu.


Ya, saat ini Jeff sedang berada di rumah Kakeknya. Setelah menemui orang tuanya, Jeff mengajak Bila ke rumah kakeknya karena memang kakeknya itu lebih penting daripada kedua orang tuanya.


“Siang, Kek,” sapa Bila. Dia tahu itu kakeknya Jeff karena beberapa saat lalu pria itu berbisik padanya.


“Ya siang. Jadi kapan rencananya?” Pertanyaan Kakek Adhinata membuat Bila bingung. Rencana apa yang dimaksud oleh pria tua itu.


“Bil, kemarin aku udah ke sini. Kakek udah tau semuanya, aku ajak kamu ke sini cuma mau kenalin kalian aja,” jelas Jeff kemudian yang sadar jika kekasihnya itu kebingungan.


Bila akhirnya mengangguk paham. “Secepatnya Kek. Jeff mau dilaksanakan secepatnya,” jawab Jeff.


“Kamu udah bilang sama orang tua Bila?” tanya Kakeknya. “Itu belum. Rencananya besok Jeff mau ke rumah Bila sekalian lamaran. Kakek mau temenin kan?” tanya Jeff.


Kakek Adhinata tentu saja mengangguk. Itu sudah menjadi kewajibannya mendampingi cucunya kemanapun dia pergi.


“Tentu saja.”  Banyak hal yang mereka bicarakan setelah Bila selesai berkenalan dengan kakek Adhinata.


Saat ini Jeff mengajak Bila ke halaman belakang rumah untuk berjalan-jalan. Di bagian belakang rumah itu memang ada gazebo yang dapat mereka gunakan untuk duduk santai.


“Wah enak banget. Betah ya kalau tinggal di sini,” ucap Bila. Dia berjalan kesana-kemari melihat-lihat bunga yang memang sedang bermekaran.


Jeff terkekeh melihat kekasihnya. “Kamu mau rumah kaya gini?” tanya Jeff. Sontak Bila memandan Jeff dengan lekat.


“Emang bisa?” tanya Bila. Bila belum tahu se-kaya apa pria yang akan menjadi suaminya itu.


“Kalau buat kamu emang apa yang aku gak bisa?” goda Jeff yang membuat pipi Bila merona.


Jeff menarik tangan Bila dengan lembut, membawanya untuk duduk di gazebo yang ada di sana. Raut wajah Jeff berubah serius dan Bila tahu saat ini dia harus benar-benar mendengarkan Jeff.


Mereka duduk di sana saling berhadapan. “Kamu kenapa?” tanya Bila. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Jeff.

__ADS_1


Sementara Jeff menatap Bila dengan lekat. Tatapannya berubah sendu, pria itu juga memegang tangan Bila yang masih setia berada di pipinya.


“Kamu udah liat sendiri gimana kondisi keluarga aku. Hancur, kan?” tanya Jeff yang berhasil membuat hati Bila tersentak.


Bila hanya diam tak berani untuk menjawab pertanyaan Jeff yang satu itu. “Salah satu hal yang sebenarnya berat buat aku bilang sama kamu. Berat banget karena aku takut.”


“Aku takut kamu pergi setelah lihat keadaan keluarga aku,” lirihnya. Jeff sudah tak berharap banyak. Dia sudah sangat rela jika setelah ini Bila pergi meninggalkannya.


Bila menurunkan tangannya dan berubah menggenggam tangan Jeff dengan erat hingga pria itu memandang Bila dengan lekat.


“Kenapa harus pergi? Emangnya keluarga kamu kenapa?” Reaksi yang diberikan Bila sungguh berbeda dengan orang yang pernah berada di posisi Bila.


“Kamu gak perlu tutup mata tentang kejadian di rumah aku tadi, Bil. Kalau kamu mau batalin pernikahan kita aku terima, tapi tolong jangan larang aku buat ketemu anak aku,” lirih Jeff.


Air matanya perlahan mengalir setelah mengatakan hal itu. Bila terbelalak. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata Jeff.


“Kamu ngomong apa sih? Siapa yang mau batalin?” sentak Bila kesal. Tentu saja dia merasa kesal. Kenapa Jeff berkata seperti itu?


Mata Jeff seakan penuh dengan harapan ketika Bila berkata demikian. “Jadi kamu tetap mau nikah sama aku?” tanya Jeff memastikan. Dia takut salah dengar tadi.


Jeff memeluk Bila dengan erat bagai tak ingin kehilangan gadis itu. “Makasih,” ucap jeff. Bukannya berhenti menangis, tangis Jeff malah semakin deras.


“Udah ih jangan nangis, jelek,” goda Bila sambil melepaskan pelukannya. Dia kembali membersihkan air mata Jeff.


Jeff terisak sebelum kemudian menghentikan tangisannya. Sebenarnya belum sepenuhnya lega karena rintangan selanjutnya adalah orang tua Bila.


Bila mungkin bisa menerima keluarganya yang seperti itu, tapi bagaimana dengan kedua orang tua Bila? Apakah mereka juga akan menerimanya?


“Besok aku datang ke rumah. Aku mau lamar kamu di depan Ayah sama Bunda. Aku juga mau jelasin keadaan keluarga aku yang seperti ini adanya,” ucap Jeff.


Bila mengangguk dengan senyum yang sedari tadi tak kunjung luntur dari bibirnya.

__ADS_1


“Kamu bisa cerita ke aku kapan aja kamu siap,” ucap Bila. Jeff sadar itu adalah kode jika Bila ingin mengetahui alasan di balik semua yang terjadi pada keluarganya.


Jeff mengangguk. Dia sama sekali tak keberatan jika harus menceritakan apa yang terjadi pada Bila jika sebagai gantinya Bila tak akan meninggalkannya.


“Kalau besok aku udah cerita sama Ayah, Bunda, baru aku cerita sama kamu semuanya,” ucap Jeff.


Tentu saja dia menunggu persetujuan kedua orang tua Bila sebelum dia mengatakan apa yang terjadi.


Bila mengangguk mengerti. Sisanya, mereka menikmati sore di atas gazebo. Sangat nyaman hingga Bila tak ingin pulang dari sana hingga malam tiba.


Jeff sudah beberapa kali mengajak gadis itu pulang karene Jeff tak membawa mobil. Dia takut Bila akan masuk angin atau kedinginan.


Tapi gadis itu lagi-lagi merengek padanya jika dia tak ingin pulang. Dia masih ingin di sana. Jika seperti ini, sepertinya Jeff sudah yakin rumah seperti apa yang harus dia beli ketika dia sudah menikah dengan Bila.


“Pulang yu, udah malam banget. Aku gak mau dimarahin Ayah sama Bunda loh.” Jeff mencoba kembali membujuk Bila berharap gadis itu kali ini akan menuruti kemuannya.


“Aku masih betah di sini,” rengek Bila. Entah ada setan apa yang menahannya di sana hingga dia tak mau pulang ke rumah.


“Kapan-kapan kita ke sini lagi. Kamu bisa ke sini kapanpun kamu mau. Tapi sekarang kita pulang, udah malam,” bujuknya.


Bila menghela nafas pasrah. Dia juga memang tak mau mendapatkan ceramah dari Ayah dan Bundanya. Akhirnya Bila menyerah, Bila mengangguk dan turun dari gazebo.


Jeff menggandeng tangan gadis itu. “Hati-hati,” ucapnya.


“Mau pulang?” Rupanya Kakek Adhinata masih belum tidur. Dia masih betah dengan koran di tangannya, jangan lupakan kaca mata yang bertengger di batang hidungnya.


“Iya Kek, udah malam juga,” jawab Jeff.


“Kamu ke sini pakai motor, kan?” tanya Kakek Adhinata yang kemudian dianggukki oleh Jeff.


“Simpan motor kamu di sini. Kamu bawa mobil aja, kasian Bila. Takutnya masuk angin,” saran Kakeknya.

__ADS_1


Jeff melupakan jika Kakeknya itu seorang yang kaya raya. Tentu saja dia punya banyak mobil untuk digunakan.


Jeff mengangguk paham.


__ADS_2