
“Masa kecil lo kurang bahagia ya?” Bila lega karena pertanyaan Stevani lain dengan yang dia pikirkan. Dia pikir, Stevani menyadari perubahan Bila dan curiga dengan kehamilan gadis itu.
“Sialan lo!” Bila membasuh mulutnya setelah mengeluarkan isi perutnya. Dia meninggalkan Stevani segera menuju kelas kembali.
Meskipun raganya di sekolah, tapi pikirannya tengah melayang ke mana kira-kira Jeff menghindar darinya.
Bila menyelesaikan sekolahnya. Beberapa kali guru menyuruhnya untuk beristirahat di UKS, namun beberapa kali pula Bila menolaknya. Dia takut akan dibawa pulang ke rumah oleh petugas kesehatan.
Jika dia dibawa pulang ke rumahnya, bagaiman dia akan menemui Jeff sepulang sekolah nanti?
Waktu yang dinantikan Bila kini sudah tiba. Bel pulang berbunyi beberapa saat lalu. Kini Bila sedang menunggu Mang Parman menjemputnya.
Tak selang beberapa lama, orang yang Bila tunggu akhirnya datang. Bila segera naik ke dalam mobil.
“Mang jangan langsung pulang ya. Antar Bila ke alamat ini dulu.” Bila menyerahkan sebuah kertas kecil berisi alamat rumah Jeff.
“Baik Non.” Mang Parman segera melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan majikannya.
Sebuah gedung apartemen yang terlampau mewah. Di sanalah kini Bila berada. Dengan tekad yang kuat, dia akan menemui Jeff setelah pria itu sedari kemarin tak ingin menemuinya.
“Jeff, buka pintunya?” ucap Bila setelah Bila menekan bel tak ada jawaban dari dalam sana.
Setelah kurang lebih sepuluh menit Bila menekan bel dan memanggil nama Jeff, akhirnya pintu terbuka menampilkan Jeff dengan penampilan yang berantakan.
Jeff tak menyapa Bila, setelah dia membuka pintu, dia kembali ke dalam mengabaikan Bila. Bila masuk ke apartemen Jeff dengan sedikit emosi.
“Kamu kemana aja? Kenapa telpon aku gak diangkat?” tanya Bila. Jeff mengusak rambutnya. Dia sedang tak ingin mendengarkan hal yang membuatnya pusing.
“Bil kamu bisa diem gak? Aku pusing banget belakangan ini,” jawab Jeff. Perlakuan seperti ini jauh sekali dengan perlakuan Jeff pada Bila biasanya.
“Aku cuma tanya kamu kemana aja. Kemarin kamu ke rumah sakit kan? Kenapa gak nemuin aku?” Bila kembali mengutarakan isi hatinya sejak kemarin.
“Aku bilang diem! Aku lagi gak mau di ganggu. Sekarang kamu pulang aja!” Jeff membentak Bila yang membuat gadis itu terlonjak.
__ADS_1
Dia tak mengira Jeff tega melakukan hal itu padanya. “Aku hamil!” Bila balas berteriak. Dia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Jeff setelah dia memberi tahu kabar itu.
“Terus?” tanya Jeff yang membuat Bila menganga.
“Terus kamu bilang? Ini anak kamu, kamu gak akan tanggung jawab?” tanya Bila tak menyangka Jeff akan menjadi sangat dingin.
“Gugurin, aku gak mau anak itu.” Sebuah ucapan yang berhasil membuat dunia Bila runtuh. Dia kira Jeff akan berbeda dengan orang-orang yang meninggalkannya.
Ternyata Jeff adalah yang paling menyakitkan hatinya lebih dari orang-orang yang meninggalkannya.
“Kamu gila?! Dia anak kamu!” Bila kini sudah menangis. Mata dan hidungnya memerah. Hatinya teramat sakit mendengar perintah Jeff. Bagaimana bisa pria itu menyuruhnya untuk membunuh anaknya sendiri?
“Terus mau gimana lagi? Kamu masih sekolah, aku juga gak siap jadi Ayah.” Lagi-Lagi Bila tak habis pikir dengan Jeff.
“Iblis kamu,” lirih Bila sambil berlalu meninggalkan Jeff di sana.
Setelah Bila pergi, Jeff menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia memegangi kepalanya, sedari kemarin dia memikirkan jalan keluar dari masalah ini dan jawabannya hanya satu yaitu menggugurkan janinnya.
“Gue emang iblis.” Jeff memukul kepalanya sendiri dengan keras. Raungan terdengar sangat frustasi.
“Non Bila baik-baik aja?” tanya Mang Parman begitu Bila sampai di parkiran. Mang Parman memang hanya mengantar Bila sampai parkiran karena gadis itu yang menginginkannya.
Bila mengangguk. “Ayo pulang Mang.” Untuk saat ini dia akan pulang. Mungkin Jeff hanya sedang letih dan pria itu akan menghampirinya esok dan bertanggung jawab.
Sepanjang jalan, Bila mengelus perutnya. Meskipun anaknya adalah sebuah ketidak sengajaan, tapi dia tak pernah berpikir untuk menyingkirkannya.
Anak itu adalah titipan dari Tuhan dan itu adalah anugerah terindah untuk Bila. “Aku akan menjaganya sendiri jika dia tak menginginkannya.”
Sebelum sampai ke rumahnya, Bila meminta Mang Parman untuk berhenti di sebuah mini market.
“Mang mampir ke mini market dulu ya,” ucap Bila. Mang Parman mengangguk dan segera membelokan mobilnya untuk parkir.
Kali ini Mang Parman tak menunggu di parkiran. Dia ikut ke dalam untuk membawakan belanjaan Nonanya.
__ADS_1
Tak banyak yang Bila beli, hanya susu ibu hamil, tisu dan beberapa camilan. “Totalnya jadi seratus dua puluh lima ribu rupiah.”
Tanpa banyak bertanya, Bila seger membayar belanjaannya. Dia ingin segera pulang dan membaringkan badannya. Dia merasa sangat pegal karena seharian terus duduk dan berjalan.
Sesampainya di rumah, Bila menyimpan camilan ke dalam kulkas dan untuk susu ibu hamil dia bawa ke kamar berjaga-jaga agar Bunda dan Ayahnya tidak mengetahui kehamilannya.
Seperti yang sudah dia rencanakan, dia akan tidur. Tak biasanya Bila tertidur sepulang sekolah. Tapi sekarang badannya terasa sangat lelah.
Bila tertidur masih dengan seragam sekolahnya.
****
Jeff tak lagi memikirkan Bila. Membuatnya pusing jika harus memikirkan hal yang sama setiap hari.
Malam ini dia memutuskan untuk pergi ke sebuah diskotik. Dia menaiki motornya. Di tengah perjalanan dia melihat sebuah keluarga yang sedang mengelilingi taman berjalan kaki.
Seorang perempuan yang membawa permen kapas, dan pria yang sedang menggendong gadis kecil di pangkuannya. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia.
Hal itu membuat sesuatu dalam hati Jeff menghangat. “Bagaimana jika aku yang berada di posisi itu,” lirihnya.
Karena banyak melamun, motor yang dia kendarai oleng dan menabrak sebuah pohon besar.
“Sialan!” umpatnya saat dia terjatuh. Banyak orang yang akan membantunya sebelum Jeff menolak tawaran itu.
“Ah tidak apa-apa, saya baik-baik saja.” Jeff bangun sendiri. Dia membangunkan motornya dan kembali melaju. Niat awalnya yang akan pergi ke sebuah diskotik malam ini ternyata hanya menjadi sebuah angan karena pada akhirnya dia berhenti di sebuah apotek.
Jeff tahu dia terluka walaupun tidak parah. Jeff membeli sebuah antiseptik dan plester. Dia menuangkan air itu ke lukanya untuk membersihkannya.
Jeff sedikit meringis kala ada rasa perih di lukanya. Setelah itu, dia menempelkan plester di lukanya agar tak kotor.
“Gara-gara melamun aku jadi mendapatkan luka ini,” desisnya. Dia tak melanjutkan perjalanannya menuju diskotik. Jeff malah termenung di bangku yang ada di depan sebuah apotik.
“Bagaimana jadinya jika aku menerima anak itu?” Jeff benar-benar dilanda kebingungan saat ini. Tapi dia tak mungkin menerimanya, Bila masih sekolah dan dia tak ingin menjadi Ayah.
__ADS_1