Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
34. Hamil??


__ADS_3

Jeff menggelengkan kepalanya dengan cepat ketika Bila menolaknya. “Tunggu dulu. Ada anakku kan di sini?” tanya Jeff sambil berusaha menyentuh perut Bila.


Sontak Bila menghindar agar tangan Jeff tak menyentuh perutnya. Dia merapatkan coat yang dia kenakan agar bagian perutnya tertutup.


“Tak ada. Sejak Anda menginginkan anak ini menghilang, dia sudah benar-benar hilang. Tak ada lagi yang perlu Anda khawatirkan.” Ucapan Bila begitu menusuk hati Jeff.


Sebelumnya gadis itu tak pernah berbicara formal padanya seperti itu. Ditambah dengan penekakan di setiap kalimat yang dia lontarkan.


“Tidak. Aku bisa melihatnya, perutmu membesar. Aku yakin dia ada di sana,” sanggah Jeff. Dia mencekal tangan Bila agar gadis itu tak pergi darinya.


“Lepaskan aku!! Aku sudah bilang yang sebenarnya. Bukankah saat itu Anda tak menginginkan bayi itu? Saya sudah mengabulkannya, saya melenyapkannya.”


Seakan tersambar petir yang sangat dahsyat, tubuh Jeff luruh ke lantai mendengar penuturan Bila. Dia tak ingin percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu, tapi ekspresi gadis itu memaksanya untuk percaya.


Setelah pegangan Jeff pada tangannya mulai melemah, Bila menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Dia berjalan cepat ke arah pemuda yang tak lain muridnya itu.


“I’m sorry. But, can we study elsewhere?” tanya Bila. Tanpa menanyakan alasannya, pemuda itu menganggukan kepalanya dan membereskan barangnya.


Bila menggunakan kesempatan itu untuk pergi dari sana sebelum Jeff kembali mengejarnya. Sadar dengan kepergian Bila, Jeff kemudian bangkit dan mencari keberadaan gadis itu.


Hilang. Dia sudah tak bisa menemukan Bila di sana. Dengan kesal, Jeff menendang udara kosong di hadapannya.


“Sialan!” umpatnya. Dia mengacak rambutnya frustasi.


Nafasnya memburu, dia mulai mencari Bila kesetanan. Dia bersumpah tak akan lagi melepaskan gadis itu jika berhasil menemukannya.


“Aaarrgghh!! Ke mana dia pergi?” tanyanya mulai bingung. Dengan segera, dia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


“Ayah, aku bertemu dengan Bila. Dia di Korea. Tapi aku kehilangan jejaknya. Bisa bantu aku mencarinya?” Tanpa memberikan jeda, dia memberitahu semua yang dia lihat pada Tuan Harla.


“Kau yakin itu dia?” tanya Tuan Harla heboh, lebih tepatnya dia sangat antusias mendengar pernyataan Jeff.


“Aku sangat yakin karena aku berbicara dengan Bila sebentar sebelum aku kehilangan jejaknya,” jelas Jeff.


“Baiklah, aku akan membantu dari sini dan akan mengirimkan beberapa orang ke sana untuk mencarinya,” ujar Tuan Harla yang diangguki oleh Jeff.

__ADS_1


Setelah selesai dengan percakapannya, Jeff  memutus sambungan telpon. Dia masih berpikir ke mana kiranya Bila pergi.


“Sialan! Aku tak bisa berpikir,” desisnya.


Sepanjang hari dihabiskan Jeff untuk mencari Bila, tapi dia tak kunjung menemukn gadis itu.


****


Bila mendudukan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Setelah selesai melakukan les pada anak didiknya, dia segera pulang.


Rupanya keberadaannya di sini sudah tidak aman. Banyak orang yang dia kenal menemukannya, terutama Jeff.


“Astaga, apakah aku harus pergi lagi? Tapi jika aku pergi, apakah semua akan baik-baik saja?” tanyanya pada dirinya sendiri.


Hidup mandiri membuat dia harus membuat keputusan sendiri dengan berbagai pilihan dalam hidupnya.


Hal ini memang sudah semestinya bisa Bila lakukan. Tapi, karena awalnya dia adalah gadis yang manja, jadi dia merasa sangat terkejut ketika harus melakukan semuanya sendiri.


“Apakah harus kembali ke Indonesia? Bandung?” tanyanya. Dia banyak mendengar jika Bandung adalah kota yang indah.


Entah mengapa Bandung langsung ada dalam otaknya ketika dia berpikir untuk melarikan diri lagi.


Dia tak ingin pusing memikirkan orang-orang yang tak kunjung berhenti menyakitinya. Mulai saat ini dia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri dan juga anaknya.


Tanpa sadar, Bila terlelap di sana dengan coat yang masih setia menempel di tubunnya. Selama tiga bulan terakhir ini Bila menjadi sangat nyenyak dalam tidurnya.


Mungkin karena kelelahan melakukan aktifitas sepanjang hari apalagi dengan perutnya yang mulai semakin besar.


Cukup lama Bila terlelap hingga dia bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringat mengucur membasahi pelipisnya.


“Tidak, tidak!! Aku tidak mau!!” teriaknya sebelum kemudian dia terjaga dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.


“Sangat menakutkan,” lirihnya. Air matanya sudah menggenang. Tapi sekuat tenaga dia menahan itu agar tak menangis.


Bila memeluk tubuhnya sendiri dan berusaha mengontrol nafasnya agar kembali beraturan.

__ADS_1


****


“Jeff  ketemu sama Bila. Tapi dia kehilangan jejak lagi. Aku mengirim beberapa orang ke Korea untuk membantu Jeff cari Bila. Aku juga akan membantu dari sini.” Tuan Harla sedikit kelimpungan dengan masalah yang dia hadapi saat ini.


Putrinya yang hilang sudah tiga bulan, belum lagi pekerjaannya yang tak kunjung usai membuat kepalanya terasa ingin pecah.


Bunda Erina hanya menyimak apa yang diucapkan suaminya barusan. Dia menjadi sangat stres sejak kepergian Bila.


Dia bahkan tak pernah lagi bekerja atau hanya sekedar datang ke kantor. Tapi Tuan Harla tak mempermasalahkan hal itu. Lagi pula mencari nafkah adalah kewajibannya.


“Kita akan menemukan Bila, kan?” tanya Bunda Erina takut.


Tuan Harla mengangguk meyakinkan istrinya bahwa mereka pasti akan menemukan putrinya.


“Haruskah aku juga pergi ke Korea untuk mencarinya?” Bunda Erina mulai histeris.


“Aku tak akan mengijinkan. Yang harus kau lakukan adalah istirahat dan berdo’a agar Bila bisa segera kembali. Selebihnya biar aku yang mengurusnya,” ucap Tuan Harla sambil mengelus lembut surai istrinya.


Bunda Erina tak bisa melawan. Lagi pula dia sadar diri akan kesehatannya. Orang sakit sepertinya hanya akan mempersulit keadaan jika pergi ke luar negeri.


“Istirahatlah, aku akan kembali.” Tuan Harla pergi dari kamar mereka. Dia harus mencari orang untuk dia kirim ke luar negeri.


“Bi, titip Nyonya ya. Saya ada urusan sebentar.”


“Siap Tuan.” Bi Inah mengantar Tuan Harla ke depan hingga mobil Tuannya itu hilang dari pandangannya.


“Non Bila di mana? Bibi kangen,” lirihnya saat dia kembali ke dalam dan tak sengaja melihat potret gadis itu yang berada di ruang tamu.


“Cepat pulang ya. Bibi udah tepatin janji gak bilang Tuan sama Nyonya kalau Non hamil,” ucapnya tanpa sadar.


Orang yang ada di kaki tangga itu ambruk mendengar penuturan asisten rumah tangganya.


“Ha-hamil?” lirihnya hampir tak terdengar.


Bi Inah yang mendengar ada orang yang jatuh akhrinya berbalik dan terkejut. Terkejut dengan ucapannya dan terkejut dengan orang yang sudah terjatuh di sana.

__ADS_1


“N-Nyonya?” tanya Bi Inah takut-takut. Dia tak berniat membocorkan hal ini, tapi dasar mulutnya yang tak bisa dijaga hingga dia kelepasan.


Bi Inah memapah Bunda Erina ke sofa untuk duduk. “A-apa maksud perkataan Bibi?”


__ADS_2