Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
49. Kembali Bersama


__ADS_3

“Kenapa dia gak pernah cerita punya apartemen?” tanya Victor saat mereka telah tiba di depan pintu apartemen Jeff.


Bila tak menjawab, dia segera menekan bel berharap sang pemilih rumah segera datang membukakan pintu.


Namun sampai empat kali Bila menekan bel, tak ada tanda-tanda jika pintu akan terbuka. Hatinya semakin tak tenang, dia takut akan terjadi apa-apa pada Jeff.


“Jeff buka pintunya, ini aku!” teriak Bila frustasi. Dia memang belum tahu pasti apakah Jeff ada di dalam atau tidak. Tapi entah mengapa hatinya mengatakan jika pria itu ada di sana.


“Astaga! Kenapa aku bisa lupa.” Setelah berkata demikian, Bila segera menekan angka yang memang password apartemen Jeff.


Bila tahu password-nya. “Lo tahu?” Victor tak habis pikir, bahkan Jeff memberikan sandi rumahnya pada gadis itu.


Berarti memang Jeff sesayang dan sepercaya itu pada Bila. “Iya, dulu dia kasih tau gue. Katanya jaga-jaga kalau-kalau gue datang dan dia lagi tidur. Jadi gue gak perlu tunggu dia bangun.”


Tak lama pintu berhasil terbuka. Aroma pertama saat mereka membuka pintu adalah aroma alkohol yang sangat menyengat.  


Netra Bila menangkap sosok pria yang sangat dia kenali tengah meringkuk di lantai. Kedinginan, itulah gambaran pria yang saat ini dia lihat.


“Jeff!” Bila berteriak seraya menghampiri pria itu dengan cepat. Dia meletakan kepala Jeff di pahanya dan berusaha membangunkan pria itu.


“Jeff bangun.” Bila memegang kening Jeff. Panas, pria itu sepertinya sakit. “Bawa ke kamarnya,” saran Victor yang dijawab dengan anggukan oleh Bila.


Mereka berdua membopong tubuh Jeff ke kamarnya. Setidaknya pria itu bisa berbaring dengan nyaman di ranjangnya. Dengan telaten, Bila menyelimuti Jeff.


“Apa gue bilang, beruntung kita cepat datang,” ucap Victor. Bila merasa sedikit menyesal dengan perlakuannya pada Jeff selama ini. Dia tak menyangka jika Jeff akan semenderita ini.


Cukup lama mereka menunggu di sana hingga Victor ditelpon orang tuanya untuk pulang. “Sorry gue harus pulang duluan. Bokap gue udah telpon,” ujar Victor.


Bila masih setia dengan kain kompres yang dia gunakan untuk mengompres Jeff berharap panas tubuh Jeff akan turun.

__ADS_1


“Hmm hati-hati di jalan. Makasih udah ingetin gue,” ucap Bila. Beruntunglah temannya Jeff itu mengingatkan dia dan menegurnya. Jika tidak, mungkin dia akan terlambat menyadari itu semua.


“Santai aja. Sorry juga gue gak bisa antar lo pulang.” Bila kembali mengangguk. “Gue bisa pake taksi atau nanti telpon orang rumah.” Setelah mengatakan hal itu Victor pergi dari sana dan Bila mengantarnya hingga depan pintu.


Bila kembali ke dalam. Jeff masih sama, dia masih belum membuka matanya dan panasnya tak kunjung turun.


Bila merasa khawatir. “Apa harus dibawa ke rumah sakit?” tanyanya. Dia duduk di ranjang tepat di samping Jeff yang berbaring.


Dia hendak mengeluarkan ponselnya untuk memanggil Mang Parman agar bisa membawa Jeff diperiksa.


Namun sebelum hal itu terjadi, tangannya ditarik oleh orang yang ada di sampingnya hingga badan Bila tumbang tepat di dada Jeff.


Ya, Jeff sudah sadar. Dalam posisi ini Bila bisa merasakan dengan jelas bagaimana suhu tubuh Jeff saat ini.


“Bil, apa aku lagi mimpi?” lirih Jeff. Nada bicaranya masih belum sepenuhnya benar. Mungkin efek alkohol yang membuatnya seperti itu.


Bila hanya diam. Dia masih terus mendengarkan Jeff yang sepertinya akan melanjutkan kalimatnya.


Terdengar dengan jelas jika Jeff saat ini sedang menangis. Bahkan Bila juga merasakan lehernya yang basah karena air mata pria itu.


“Aku gak bakal ganggu hidup kamu kalau itu yang kamu mau. Tapi aku mohon, suatu saat kalau anak kita udah besar, aku mau ketemu dia sekali saja. Seenggaknya biarin dia kenal aku, biarin dia tahu kalau aku ayahnya. Aku gak mau dia bernasib sama kaya aku. Dia harus punya sosok Ayah,” ucap Jeff.


Entah pria itu saat ini sudah sadar sepenuhnya atau belum. Bila yang mendengar hal itu hatinya sangat teriris. Sedalam itu dan sesakit itu Jeff saat ini.


“Ssstt jangan ngomong lagi. Aku maafin kamu.” Bila membalas pelukan Jeff. Dia mengecup kening pria itu.


Jeff mengerjapkan matanya untuk memastikan apakah orang yang saat ini memeluknya adalah Bila atau hanya halusinasinya saja.


“Bil, ini kamu?” tanya Jeff memastikan. Bila menjauhkan tubuhnya dan mengangguk dengan pasti.

__ADS_1


“Ya, ini aku. Maaf udah nyakitin kamu.” Bila kembali memeluk Jeff dalam posisi Jeff terbaring.


Jeff masih memproses apa yang sedang terjadi saat ini. Bila memeluknya dan datang ke apartemennya.


Akhirnya setelah cukup lama berpikir, Jeff sadar jika ini bukan halusinasi. Dia menjauhkan Bila dari tubuhnya dan mulai membangkitkan dirinya dari posisi tidur.


Jeff tak banyak bertanya setelah dia ada di posisi duduk. Dia kembali memeluk Bila. Dia sangat merindukan kekasihnya.


“Maaf. Kamu gak harus ketemu anak kamu pas dia besar. Dari sekarang, kamu mau kan rawat dia bareng aku?” tanya Bila. Sebenarnya dia agak ragu menanyakan hal ini karena dia takut mendapatkan penolakan. Tapi dia berusaha untuk mengatakannya.


Dengan cepat Jeff mengangguk. “Kamu mau nikah sama aku?”


Pertanyaan Jeff yang tiba-tiba membuat Bila mematung. Dia tak menyangka Jeff akan bertanya seperti itu.


Bila terdiam, melepaskan pelukannya dan memandang Jeff dengan tatapan penuh arti sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.


Jeff tersenyum senang, dia sangat bahagia. “Maaf tentang hal yang dulu udah nyakitin kamu. Waktu itu aku benar-benar kaget dan gak bisa mikir jernih. Tapi setelah aku kehilangan kamu, aku baru sadar kalau aku salah.” Akhirnya Jeff bisa mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan sejak lama.


Bila mengangguk. Dia sudah memaafkan Jeff. Semuanya terasa seimbang karena tanpa mereka sadari, selama ini mereka aling menyakiti satu sama lain secara tidak sengaja.


Tangisan keduanya sudah reda. Jeff memandang Bila begitupun sebaliknya. “Kamu kurusan,” ujar Bila sambil mengusap pipi Jeff. Tangan Jeff terangkat untuk memegang tangan Bila yang berada di pipinya.


“Gak apa-apa, nanti juga gendut lagi,” candanya. Dia berusaha untuk mencairkan suasana.


“Mau pergi ke rumah sakit? Kamu demam,”  tawar Bila karena Bila tahu Jeff adalah tipe orang yang sangat anti dengan obat dan rumah sakit.


“Enggak. Nanti juga sembuh sendiri. Apalagi sekarang obatnya ada di sini.” Jeff kembali memeluk kekasihnya itu.


“Kalau gitu kamu tiduran lagi. Aku kompres, seenggaknya panasnya bisa turun.” Dengan patuh, Jeff membaringkan badannya kembali.

__ADS_1


Dia menatap Bila yang sedang mengompresnya dengan lekat seolah tak akan melepaskan gadis itu dari pandangannya.


 


__ADS_2