
Beruntung Jeff tak mendapatkan luka yang serius sehingga dia hanya dirawat selama dua hari saja di rumah sakit dan hari ini dia sudah bisa kembali ke rumahnya.
Namun, perban di kepalanya memang belum dilepas karena memang belum kering sempurna. Tapi luka-luka yang ada di bagian tubuh lainnya sudah mulai sembuh.
“Kasian banget Azka kamu tinggalin selama dua hari,” ucap Jeff dalam perjalanan pulang.
“Aku kan juga bolak-balik. Gak aku tinggalin selalu kok.” Memang benar apa yang dikatakan Bila, dia kadang pulang untuk menjenguk anaknya dan memberikan asi walau tak lama.
“Udah kangen banget aku sama anak aku,” ujarnya. “Hhmm setelah dia lahir, emang intensitas kamu ketemu sama dia tuh bisa dihitung jari,” jawab Bila.
Kalian tahu apa yang membuat Jeff jarang bertemu dengan putranya. Dia saat itu fokus pada Laras untuk mencari kesalahan gadis itu walau pada akhirnya dia baru menemukan kebenarannya sekitar tiga hari kebelakang.
“Mang, tadi Bunda sama Ayah ada di rumah?” tanya Bila pada sopirnya. “Enggak, Non. Mereka pergi ke kantor katanya ada urusan mendadak,” jawab sopirnya.
“Berarti Azka sama Bi Inah?” timpal Bila. “Iya, Non. Tadi sih lagi tidur waktu Mamang berangkat.” Bila mengangguk mendengar jawaban Mang Parman.
Setelah itu taka da lagi percakapan di antara mereka hingga mereka tiba di rumahnya. Suasana rumah sangat sepi.
Apalagi rumah sebesar itu dan di dalamnya hanya ada Bi Inah dan Azka saja, oh jangan lupakan Pak Satpam yang selalu menjaga rumah Bila itu.
“Bi,” panggil Bila saat dia sudah membuka pintu. Kedua tangannya sibuk memapah Jeff.
Barang-barang Jeff sudah dibawa oleh Mang Parman ke kamarnya di lantai atas dan dia memerlukan Bi Inah untuk membawakan belanjaannya.
Ya, sebelum sampai ke rumah tadi, dia mampir dulu ke supermarket untuk membeli peralatan bayi dan makanan ringan.
“Iya, Non sebentar!” teriak Bi Inah dari dapur. Hari memang sudah mulai malam, mungkin wanita paruh baya itu sedang sibuk memasak di dapur.
Tak lama, Bi Inah datang menghampiri Bila. “Tolong beresin ini ya, Bi,” pinta Bila pada Bi Inah.
“Siap, Non.” Bi Inah membawa belanjaan yang dimaksud Bila. “Non, semua barangnya udah di kamar ya.” Mang Parman baru saja turun dari lantai atas.
__ADS_1
“Iya, Mang. Makasih ya.” Mang Parman mengangguk dan segera berlalu dari sana setelah urusannya selesai.
Begitupun Bi Inah yang langsung membereskan belanjaannya. “Yuk duduk di sini dulu aja,” ucap Bila. Jeff mengangguk dan mereka duduk di ruang tamu karena itu sofa yang paling dekat dengan pintu masuk.
“Bentar, aku ambil minum dulu,” ucap Bila sebelum kemudian dia berlalu dari sana untuk mengambil minum.
“Nih minum dulu.” Bila menyodorkan segelas air pada suaminya yang diterima dengan senang oleh Jeff. “Makasih,” ucapnya setelah menghabiskan air yang ada dalam gelas itu.
Bila ikut duduk di sebelah suaminya. “Yang, mobil aku gimana nasibnya?” tanya Jeff. Bila tak habis pikir dengan suaminya itu. Mereka bukan orang susah, dan di saat seperti ini suaminya masih bisa memikirkan kondisi mobilnya?
“Tenang aja, jangan dipikirin. Ayah udah urus semuanya, mungkin sekarang masih di bengkel,” jawab Bila. Beruntung setelah kejadian itu Ayahnya segera mengurus mobil Jeff.
“Syukur deh,” jawab Jeff. “Mau naik ke kamar sekarang atau nanti?” tanya Bila. Dia bertanya karena takut jika suaminya itu ingin berbaring.
“Di sini dulu aja deh. Lagian masih sore.” Jeff akhirnya menjawab. Bila mengangguk mengiyakan.
Suara deru mobil terdengar dari depan rumah mereka. Bila sangat mengenali suara mobil itu.
“Kalian udah pulang?” tanya Bunda Erina. Wanita paruh baya itu terlihat sangat cantik dengan setelan kantornya, Ayahnya yang baru saja datang juga tak kalah tampan.
“Iya Bun, belum lama kok. Perusahaan baik-baik aja, kan?” tanya Bila pada orang tuanya.
“Baik-baik aja kok. Cuma ada acara dadakan aja tadi, jadi harus pergi.” Kali ini Ayahnya yang menjawab.
“Udah pada makan belum?” lanjut Tuan Harla. Dua orang yang sedang duduk di sofa itu menggeleng dengan kompak.
“Yaudah yuk kita makan bareng,” ajak Bunda Erina. “Kayanya Bi Inah belum selesai masak, Bun. Soalnya tadi Bila minta bantuan Bi Inah dulu, jadi ketunda.”
Bunda Erina mengangguk. “Kalau gitu Bunda sama Ayah bersih-bersih dulu, baru kita makan,” saran Ayahnya.
“Oke deh, Bila juga mau bersih-bersih dulu biar enak,” kekehnya. Akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan badan mereka.
__ADS_1
Azka masih tertidur ketika Bila dan Jeff masuk ke kamar mereka. Putranya itu terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.
“Ganteng banget sih anak Ayah,” ucap Jeff sambil mengelus lembut pipi Azka.
“Iya dong, liat siapa dulu Mommy-nya.” Bila berucap dengan sombong. “Kok Mommy-nya sih? Kan harusnya Ayahnya, dia kan ganteng bukan cantik,” protes Jeff saat mendengar ucapan Bila.
Bila terkekeh. “Coba kamu liat, kayanya semua yang ada di wajah Azka itu copy paste dari aku,” sombong Bila.
“Iya deh yang paling cantic.” Akhirnya Jeff mengalah karena dia tahu dia tak akan menang jika melawan istrinya.
Selesai dengan perdebatan mereka tentang Azka yang lebih mirip siapa, Jeff menyerah dan membuka bajunya hendak mandi.
“Mau apa kamu?” tanya Bila curiga karena Jeff membuka bajunya. “Mau mandi lah. Aku udah gak mandi beberapa hari, lengket banget rasanya,” jawab Jeff.
“Enggak. Kamu gak boleh mandi dulu. Biar aku bilas aja. Diem di situ,” perintah Bila. Seperti yang Jeff katakan tadi, dia tak akan menang jika melawan Bila, jadi saat ini dia hanya menuruti perintah gadis itu.
Bila pergi ke kamar mandi untuk mengambir air dalam wadah kecil. Dia juga mengambil handuk kecil berwarna putih.
“Sini,” ucap Bila memerintahkan Jeff agar menghadap kepadanya. “Aduh, ini celananya buka dulu,” ucap Bila saat dirasa celana Jeff menghalangi kegiatannya.
Dengan patuh, Jeff membuka celananya hingga menyisakan boxer saja. “Nah, gini kan enak.” Akhirnya Bila bisa dengan leluasa membilas suaminya.
Sebenarnya Jeff sudah sangat ingin mandi. Baru kali ini rasanya dia merindukan dinginnya air. Tapi apa day ajika Bila sudah memutuskan.
“Nah, udah selesai.” Bila terlihat bangga waktu dia menyelesaikan kegiatannya. Dia beranjak dari sana menuju lemari pakaian.
Dia memilih pakaian tidur untuk Jeff malam ini. Sebuah celana pendek dan juga kaos pendek berwarna hitam.
Dia memilih yang pendek karena itu akan meminimalisir gesekan dengan luka Jeff di lengan dan di kakinya.
“Nih pakai dulu.” Bila membantu Jeff mengenakan pakaiannya. Jika sudah seperti ini, Jeff benar-benar merasa sangat istimewa bagi Bila. Dia tersenyum dalam diam melihat tingkah istrinya.
__ADS_1