
Jeff tertidur dengan pulas dikala Bila mengompres dirinya. Dengan telaten Bila merawat kekasihnya. Selain mengompres untuk menurunkan panasnya, dia juga membilas tubuh Jeff.
Setelah selesai dengan Jeff, Bila pergi ke dapur membuang air bekasnya.
Niatnya Bila mau memasak untuk makan Jeff, tapi dia terlalu lelah. Akhirnya dia memesan makanan saja.
"Ahh lelah," ujarnya lega sambil mendudukkan dirinya di kursi di ruang tamu.
Bila melihat jam yang menempel di dinding. Jam itu menunjukkan pukul lima sore. Tapi dia belum ingin pulang sebelum Jeff bangun.
Mungkin juga jika dirinya menginap di sana malam ini.
Tak membutuhkan waktu lama, bel berbunyi menandakan ada yang datang ke sana.
Bila membuka pintu. "Dengan Mbak Bila?" tanya orang itu.
"Iya Pak." Pria yang membawa makanan Bila itu segera menyodorkan makanan itu pada Bila.
Bila memberikan uang selembar seratus ribuan. Setelah selesai transaksi, Bila segera kembali ke dalam dan menyajikan makanannya sebelum Jeff terbangun.
Saat sedang berkutat dengan makanannya, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.
Bila sedikit menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang memeluknya.
"Kok bangun? Emang udah sembuh?" tanya Bila memastikan.
Pria di belakangnya yang tak lain adalah Jeff hanya mengangguk.
Setelah usai dengan makanannya, Bila membalikan badannya. Tangan Jeff masih melingkar di perutnya.
Posisi mereka saat ini berhadapan dengan tangan Jeff yang masih melingkar di pinggangnya.
Bila mengangkat tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Jeff.
"Bohong banget! Ini masih panas," ucap Bila. Dia hendak melepaskan pelukan Jeff namun gagal karena pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Mau kemana? Aku masih kangen," ucap Jeff di tengkuk Bila yang membuat Bila sedikit merinding.
"Mau ambil stiker pereda panas," jawab Bila sedikit gemas.
Setelah mendapatkan jawaban dari Bila akhirnya Jeff melepaskan pelukannya. Dia mengambil apa yang dia ucapkan tadi sebelum kemudian segera menempelkannya ke kening Jeff.
__ADS_1
"Sekarang duduk. Ayo kita makan." Bila mendudukan Jeff di kursi makan. Tak bisa Jeff pungkiri jika kepalanya saat ini masih belum sembuh seutuhnya mungkin efek alkohol yang dia minum tadi.
"Tadi kamu sama siapa ke sini?" tanya Jeff sambil memakan makanannya.
"Tadi ada teman kamu datang ke rumah aku. Dia nyari kamu, dia bilang kamu gak bisa dihubungi jadi dia khawatir. Karena aku juga sama khawatirnya, jadi aku juga ikut ke sini," jelas Bila panjang lebar.
"Berarti Victor tahu kalau aku punya apartemen?" Jeff sedikit kaget karena memang dia tak memberitahukan siapapun jika dia memiliki apartemen. Hanya keluarganya, kakeknya dan Bila saja yang tau.
"Awalnya dia gak tau. Tapi gatau kenapa, aku ngerasa kalau kamu emang lagi ada di sini. Jadi aku bawa dia ke sini. Maaf kalau bikin kamu gak nyaman," sesal Bila.
Bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa dia lakukan tadi.
Jeff menggelengkan kepalanya. Dia tak keberatan, lagi pula dia memang sudah memiliki niat untuk memberitahukan hal itu pada sahabatnya.
"Gak apa-apa. Lagian aku juga udah niat mau kasih tau dia, tapi emang belum sempat aja. Kalau kamu udah lebih dulu kasih tau dia ya syukur."
Bila menghela nafas setelah mendengar kalimat penenang dari kekasihnya.
"Lagian kamu tuh kenapa sih pake mabuk-mabukan segala!" sentak Bila kesal.
Jeff yang semula sedang memakan makanannya tersedak karena hentakan tiba-tiba dari Bila.
Bila yang mendengar itu mematung. Berarti salah satu faktor kenapa Jeff mabuk adalah karena dirinya.
"Aku sebenernya udah berusaha biar gak luluh sama kamu. Tapi siapa yang tau ternyata aku masih sesayang itu sama kamu," lirih Bila.
Ya dia akui sejak kepergiannya hingga kini, hatinya masih tetap untuk Jeff. Dia sama sekali tak pernah melupakan Jeff walau hanya sebentar.
"Jadi selama ini bukan cuma aku yang rindu?" tanya Jeff yang dibalas anggukan oleh Bila.
"Aku juga rindu."
Jeff tersenyum simpul. "Maaf karena udah banyak nyakitin kamu. Setelah ini aku gak akan bikin kamu sakit lagi."
Bila menggelengkan kepalanya. "Jangan berjanji. Aku gak butuh dan siapa yang tahu kedepannya bakal seperti apa. Cukup lakuin apa yang memang harusnya kamu lakuin."
Jeff sadar, Bila tak ingin hanya sekedar ucapan. Dia ingin Jeff membuktikan dengan perbuatannya apa yang barusan dia katakan.
Jeff selesai dengan makannya. Dia mendekati Bila sebelum kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
"Kenapa?" tanya Bila heran. "Gak apa-apa, cuma kangen kamu aja. Boleh cium?" Dengan bodohnya Jeff malah meminta izin terlebih dahulu.
__ADS_1
Sejak kapan pria itu izin dulu ketika akan berciuman?
Dengan inisiatifnya sendiri, Bila bukannya mengangguk tapi malah menarik tengkuk Jeff agar mendekat.
Bila mulai memagut bibir Jeff dengan rakus hingga semakin lama semakin menuntut.
Jeff juga tak ingin kalah, dia membalas pagutan Bila dengan brutal.
Jeff mengangkat Bila menuju kamarnya. Bila teringat jika sekarang di sana tak hanya ada mereka berdua, tapi juga jabang bayi yang ada di perut Bila.
"Jeff, pelan-pelan. Ada anak kita," desis Bila mengingatkan Jeff jika saja pria itu lupa.
Jeff mengangguk. Sebenarnya tanpa diingatkan, pria itu juga sudah sadar dengan hal itu.
Setelah mendapatkan kepastian dari Jeff, mereka kembali melakukan aktivitasnya. Hingga kedua tubuh mereka kini telanjang bulat.
"Pelan-pelan," ucap Bila. Pandangan antara satu sama lain sangat terlihat lapar.
Mereka akhirnya melakukan hal yang selama ini mereka rindukan. Sentuhan candu satu sama lain dan belaian yang selalu memanjakannya juga.
Beberapa jam berlalu. Mereka juga sudah selesai dengan kegiatan panas mereka. Nafas keduanya saling beradu karena kelelahan.
"Apa aku nyakitin kamu?" tanya Jeff khawatir. Apalagi rasa rindunya yang menggebu membuat pria itu sedikit sulit mengontrol birahinya.
"Aku baik-baik aja," jawab Bila.
Posisi mereka saat ini yaitu mereka berbaring dengan kepala Bila yang ada di dada bidang Jeff.
"Besok kita ke dokter ya buat periksa kandungan kamu," ajak Jeff.
Dia juga sangat ingin melihat buah hatinya itu lewat layar monitor.
Bila hanya mengangguk pasrah. "Setelah ini aku mau kamu nikah sama aku. Aku akan siapin semuanya. Apa kamu mau?" tanya Jeff.
Memang belum ada cincin. Tapi dia janji akan memberikan mahar yang lebih daripada sebuah cincin.
"Aku belum pernah ketemu sama orang tua kamu."
Ucapan Bila berhasil membuat Jeff menegang. Inilah yang sangat dia takutkan.
Dia takut setelah Bila melihat hancurnya keluarganya, Bila akan meninggalkannya.
__ADS_1