
“Bagaimana? Kalian sudah menemukannya?” tanya Tuan Harla pada bawahannya. Sudah tiga bulan lebih, Bila pergi dari rumah tanpa sebuah alasan yang jelas. Tentu saja hal itu sangat membingungkan dan membuat Tuan Harla khawatir.
“Masih belum ada informasi apapun, Tuan. Nona Bila pergi tanpa meninggalkan jejak,” jawab orang itu.
Pekerjaan Tuan Harla banyak yang terbengkalai karena dia fokus pada pencarian putrinya. Dia juga sudah meminta bantuan kepolisian, tapi mereka juga masih mencari.
“Ke mana kamu pergi, Nak?” lirih Tuan Harla. Dia sadar jika dia jarang ada di rumah dan jarang memperhatikan putrinya, tapi kenapa dia baru menyadari itu sekarang ketika putrinya sudah pergi?
“Jika kamu pulang, Ayah janji akan lebih sering berada di rumah. Ayah mohon, pulanglah,” lirihnya. Dia benar-benar merasa kehilangan. Dan saat ini adalah bulan ketiga. Dia sudah hampir putus asa mencari putrinya.
Bunda Erina juga hanya bisa menangis setiap hari karena Bila yang tak kunjung pulang. Dia juga sudah berusaha untuk mencari putrinya, namun nihil. Tak ada seorangpun yang mengetahui ke mana gadis itu pergi.
****
Pagi ini Jeff pergi ke sekolah dengan wajah pucat. Subuh tadi, dia baru saja pulang dari diskotik. Meminum minuman yang memabukkan setidaknya bisa membuatnya melupakan masalah bila walau hanya sesaat.
“Sial!! Kenapa masih pusing?” ujarnya sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya. Sepertinya untuk saat ini dia tak sanggup mengajar.
Tapi ada tuntutan untuknya untuk mengajar hari ini. Itulah alasan kenapa dia pergi ke sekolah sekalipun kepalanya terasa sangat pusing.
Dengan terpaksa Jeff meninggalkan ruangannya. Dia menuju kelas yang harus dia ajar sekarang. Untuk hari ini dia hanya akan memberikan tugas saja pada anak didiknya.
“Kerjakan tugas evaluasi halaman 67, jika sudah selesai simpan di meja saya. Jangan berisik dan jangan keluar kelas, kalian mengerti?!” tekan Jeff.
“Mengerti Pak!” Kompak satu kelas menjawab pertanyaan Jeff. Jeff meninggalkan kelas pergi ke kantin. Mungkin dengan sarapan dan beberapa minuman kesadarannya akan benar-benar kembali.
“Pak!” Jeff menghentikan langkahnya saat merasa terpanggil. Pria itu membalikan badannya untuk melihat siapa orang yang telah memanggilnya.
Stevani dan Keisya. Kedua teman Bila yang telah memanggilnya. Jeff yakin mereka akan menginterogasinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bila masih belum pulang?” lirih Stevani. Tiga bulan sudah gadis itu berusaha menghubungi Bila, tapi nomor temannya itu sudah tidak aktif.
“Kenapa kalian gak masuk kelas?” Bukannya menjawab pertanyaan Stevani, Jeff malah mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Gurunya lagi gak ada. Ini mau ke kantin, lapar.” Stevani malah terbawa oleh topik yang ditanyakan Jeff.
Namun setelah sadar, gadis itu segera menggelengkan kepalanya dan kembali sadar. “Bapak jagan mengalihkan topik pembicaraan. Saya tanya di mana Bila? Kenapa dia belum juga balik?”
Jeff menghela napas. Ternyata cara yang dia pakai sama sekali tak berhasil pada Stevani dan Keisya.
“Kita bicara di kantin.” Setelah berucap demikian, Jeff melenggang pergi dari sana dengan harapan kedua gadis itu tak mengikutinya. Namun, lagi-lagi harapannya musnah.
Stevani dan Keisya mengikuti Jeff ke kantin. Bagaimanapun mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Bila pergi dan tak pernah kembali.
Mereka tiba di kantin. Suasana kantin cukup sepi, mungkin karena jam pelajaran masih berlangsung saat ini.
Jeff segera memesan makanan karena memang itu tujuannya datang ke kantin. Sementara Stevani dan Keisya memilih tempat duduk yang nyaman.
Jeff mendekati dua anak didiknya sekaligus sahabat Bila itu. “Jadi, apa yang mau kalian tanyain?” Jeff bertanya. Dia hanya akan menjawab apapun yang ditanyakan teman Bila itu.
“Kepergian Bila ada hubungannya sama Bapak kan?” Keisya yang bertanya. Dia sudah sangat tak sabar untuk mengetahui kebenarannya.
“Ya aku rasa.”
“Aku membuatnya hamil.” Ucapan Jeff berhasil membuat kedua orang itu terbelalak karena rasa terkejut. Bagaimana bisa seorang guru seperti Jeff melakukan hal bejat seperti itu? Itulah pertanyaan yang ada dalam benak mereka.
“Lalu kenapa Bila harus pergi? Kenapa dia tak meminta pertanggung jawaban Bapak?” Sebuah pertanyaan yang sangat Jeff hindari akhirnya keluar dari mulut Stevani.
“Sudah. Dia sudah melakukannya.”
“Lalu?”
“Aku menolaknya karena aku memang tak menginginkan anak itu.”
Plak
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi kiri Jeff. Keisya adalah pelakunya. Stevani membelalakkan matanya melihat hal itu.
__ADS_1
“Kei, apa yang lo lakuin!” teriak Stevani.
“Lo gak dengar apa yang barusan dia bilang? Dia gak mau tanggung jawab, Stev. Setelah apa yang dia perbuat. Bajingan lo! Mau enak, giliran tanggung jawab lepas tangan,” tekan Keisya sambil menunjuk wajah Jeff.
Jeff menundukkan kepalanya karena tamparan itu. Dia perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat Keisya.
Air mata telah menggenang di mata pria itu. Bukan sakit karena tamparan Keisya, tapi sakit mendengar apa yang gadis itu katakan.
Benar, semua yang Keisya katakan adalah sebuah kebenaran. Dia memang bajingan dan dia mengakui itu.
“Salah banget gue kagum sama lo selama ini. Najis!” Keisya pergi dari sana. Bukannya Stevani tak marah, hanya saja dia belum mendapatkan ceritanya secara keseluruhan. Jadi dia memilih untuk diam di sana dan membiarkan Keisya pergi sendiri.
Tak lama makanan Jeff datang. “Terima kasih, Bu,” ucap Jeff sambil mengembangkan senyumnya.
“Loh, Pak. Itu kenapa bibirnya berdarah?” tanya Ibu kantin. Jeff mengusap darah yang ada di sudut bibirnya seraya tersenyum.
“Ahh gak apa-apa, Bu. Ini tadi ada kecelakaan kecil,” jawabnya.
Ibu kantin itu mengangguk setelah mendapatkan jawaban dari Jeff kemudian pergi dari sana.
“Saya mau dengar yang lengkap.” Stevani berucap dengan dingin.
“Saya gak perlu ceritain bagian itu. Yang bisa kamu tahu saat ini adalah saya yang menghamili Bila. Mungkin dia pergi karena saya menolak untuk bertanggung jawab. Saya menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan itu. Saya juga mengabaikannya selama beberapa hari karena saya merasa terkejut dengan kabar yang tiba-tiba itu.”
Jeff menundukkan kepalanya. Setelah sedari tadi dia tahan agar tak menangis, akhirnya air mata itu meluncur juga.
Pria itu menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. “Sungguh, saya menyesal,” lirih Jeff.
Stevani tak bisa marah jika seperti ini. Dia melihat Jeff sudah menyesal. Tugasnya saat ini hanya mencari keberadaan Bila dan membawanya kembali.
“Maafkan perlakuan teman saya Pak. Dia memang sedikit emosian,” ucap Stevani yang mendapatkan gelengan kepala dari Jeff.
“Saya pantas mendapatkannya. Bahkan harusnya dia menghajar saya habis-habisan. Cuma sebuah tamparan masih kurang untuk perbuatan saya yang gak bisa dimaafkan,” lirihnya.
__ADS_1
“Saya tak bisa membantu banyak, Pak. Tapi saya akan berusaha mencari Bila sampai ketemu.”