Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
94. She's My Sister


__ADS_3

Selama Jeff sakit, Bila selalu mengurus pria itu dengan baik. Bahkan gadis itu sampai menyuapi Jeff makan. Padahal tangan Jeff baik-baik saja dan dia bisa bahkan jika melakukannya sendiri.


Tapi istrinya selalu memaksa untuk menyuapinya. Ketika Jeff sakit, Bila seperti memiliki dua bayi. Yang satu bayi kecil dan yang satunya bayi besar.


“Kamu yakin mau kerja sekarang? Luka kamu belum sembuh loh,” ucap Bila. Sedari tadi dia terus mengikuti langkah Jeff yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


“Yang, ini udah kering dan aku juga udah gak pake perban. Aku udah sehat banget.” Jeff memegang bahu Bila dan membuat gadis itu menatapnya dengan lekat.


Dia berusaha meyakinkan Bila jika dirinya sangat baik-baik saja saat ini. “Iya, tapi ini masih ada bekasnya,” ucap Bila sambil menunjuk luka yang ada di pelipis suaminya.


“Iya cuma bekas. Udah gak sakit kok,” timpal Jeff. Bila menyerah akhirnya dia menghela napas pasrah.


“Ya udah kalau kamu emang mau banget kerja,” ucap Bila. “Jangan marah dong. Aku kerja juga kan buat kalian. Kalau aku gak kerja, gimana aku hidupin kalian?” tanya Jeff.


Sebenarnya sangat mudah untuk Bila menjawab hal itu. Mereka kaya dan harta Jeff sangat cukup bahkan lebih dari cukup untuk menghidupi Bila dan Azka hingga bertahun-tahun.


Tapi dia juga tak ingin menahan suaminya terlalu lama. Mungkin dia akan baik-baik saja.


“Aku gak marah. Aku cuma khawatir,” jawab Bila sambil menundukkan kepalanya.”


“Kalau gitu, nanti aku selalu kasih kabar sama kamu biar kamu gak khawatir,” bujuk Jeff walau dia tak yakin akan selalu memegang ponselnya, tapi dia akan berusaha.


Bila menengadah untuk melihat wajah Jeff. “Benar ya, kabarin?” tanya Bila yang diangguki oleh suaminya.


“Mau sarapan dulu gak?” tawar Bila namun Jeff menggeleng. “Nanti aku sarapan di kantin aja. Takut kesiangan.”


Ya, karena sedari tadi Bila selalu membuntutinya, Jeff saat ini hampir kesiangan. “Ya udah, hati-hati di jalan.” Inilah salah satu yang membuat Bila khawatir membiarkan Jeff bekerja.


“Iya. Aku berangkat dulu ya,” pamit Jeff setelah selesai dengan persiapannya. Bila mengangguk sambil menyalami tangan Jeff.


Jeff mengecup kening istrinya sebelum kemudian dia memeluk gadis itu sejenak. 


Setelah selesai dengan istrinya, Jeff berpindah pada putranya. “Hai Jagoan, jaga Mommy dulu ya. Ayah mau kerja bentar,” pamit Jeff pada Azka.

__ADS_1


Bayi itu hanya menggeliatkan badannya acak sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Ayahnya.


“Oke aku berangkat.” Bila mengantar suaminya hingga depan rumah. Suaminya itu menggunakan motor untuk sementara karena mobilnya masih di bengkel.


Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena dia telah berjanji pada istrinya jika dia akan hati-hati.


Sesampainya di sekolah sudah banyak siswa yang berdatangan. Tak sedikit para siswi yang memperhatikan Jeff karena ketampanan pria itu apalagi sekarang dia memakai motor.


“Padahal Pak Jeff abis kecelakaan, tapi gantengnya gak pudar ya.”


“Plester di jidatnya juga nambah poin gantengnya.”


Seperti itulah pujian-pujian yang selalu Jeff dengar dari siswinya. Tapi dia memilih mengabaikan itu karena dia tahu siswinya itu hanya mengagumi.


“Jeff!!” teriak seseorang yang sangat Jeff kenal suaranya. Suara yang dari beberapa hari lalu dia benci.


Suara orang yang telah menipunya. Laras, gadis itu kembali menemuinya setelah beberapa hari mereka tak bertemu.


“Yuk turun,” ucap Raveno. Mereka baru saja tiba di sekolah. Mereka tiba agak siang karena jarak rumah Bundanya dan sekolah agak jauh.


Ya, malam tadi mereka kembali menginap di rumah Bundanya karena wanita paruh baya itu yang selalu protes jika putranya jarang pulang ke rumah.


“Jeff!!” Teriakan seseorang yang memanggil nama guru mereka membuat mereka juga ikut mengalihkan atensinya pada orang itu.


Melinda mematung saat dia melihat orang itu. Orang yang selama ini selalu ingin dia temui dan Melinda selalu ingin bertanya tentang banyak hal.


“Kakak,” cicitnya yang terdengar oleh Raveno yang memang jaraknya dengan Melinda sangat dekat.


“Kakak?” tanya Raveno pada Melinda berusaha mencari penjelasan gadis itu. Melinda memandang Raveno sejenak sebelum kemudian dia mengangguk.


“Dia Kakak aku.” Melinda berlari menghampiri gadis itu setelah dia mengangguk pada Raveno. Raveno yang melihat itu segera mengikuti Melinda takut gadis itu kenapa-kenapa.


Namun, belum juga Melinda sampai di hadapan Kakaknya itu, Kakaknya sudah pergi untuk menghampiri orang lain.

__ADS_1


“Pak Jeff,” lirih Melinda tak mengerti dengan segala hal yang terjadi sekarang. Akhirnya Melinda hanya memilih memperhatikan adegan itu terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang terjadi.


“Jeff aku bisa jelasin semuanya,” ucap Laras saat dia sudah tiba di depan pria yang selama ini dia cari.


“Apa-apaan sih sampai nyamperin ke sini segala!” sentak Jeff namun dengan suara pelan. Dia takut pembicaraan mereka terdengar oleh orang lain.


“Akum au jelasin semuanya sama kamu,” ucap Laras dengan nada sendunya. “Gak ada yang perlu di jelasin dan jangan temui aku lagi. Aku sudah beristri,” final Jeff.


Pria itu pergi meninggalkan Laras dengan perasaan yang campur aduk. Dia menyerah untuk hari ini karena Jeff juga sudah masuk lebih dalam ke Kawasan sekolah.


Dia berbalik hendak pulang dan mencari cara lain untuk mendekati pria itu, namun jalannya dihalangi oleh seseorang.


Dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang menghalangi jalannya. “Mel?” tanyanya dengan terkejut ketika dia melihat siapa orang itu.


“Hmm ini Mel. Kakak kemana aja selama ini?” tanya Melinda langsung pada intinya. Ada rasa kecewa, sedih dan marah bersatu jadi padu dalam perasaannya saat ini.


“K-kakak,” gugupnya. Melinda masih menunggu Kakaknya untuk melanjutkan kalimatnya.


Melinda segera menarik tangan Kakaknya untuk menjauh dari kawasan sekoalah. “Rav, aku pergi bentar. Titipin absen sama teman aku buat jam pelajaran pertama ya. Aku akan cerita semuanya nanti.”


Setelah mengatakan hal itu, Melinda benar-benar pergi dari sana dan membawa Kakaknya ke caffe di depan sekolah.


“Apa yang Kakak lakuin di sini?” tanya Melinda. “Cari orang,” jawabnya singkat.


“Jadi selama ini Kakak ada di dekat Mel? Kenapa pergi kalau masih di sini?” kesalnya.


Kenangan kelam ketika di rumahnya kembali tersuat ketika Melinda bertanya seperti itu. “Lo gak tau sakitnya gue waktu dapat penyiksaan dari Papah. Lo gak tau gimana menderitanya gue setiap hari!” ucap Laras dengan nada sedikit meninggi.


Melinda terkekeh terkesan meremehkan ucapan Kakaknya. “Jadi itu sebabnya Kakak pergi dari rumah?” tanya Melinda berusaha bertanya setenang mungkin. 


“Hmm,” gumam Laras. “Mel tau kok apa yang Kakak rasain waktu disiksa Papah,” ucap Melinda.


Laras menajamkan pandangannya pada adiknya itu. “Jangan bilang lo … “

__ADS_1


__ADS_2