
Karena belum bisa menjaga bayi dengan baik, maka dua hari setelah kepulangan Bila ke rumah, dia memilih untuk tinggal di rumah Bundanya.
Bundanya juga sudah mengatakan jika Bila tak bisa, dia boleh menyewa pengasuh. Namun Bila menolak hal itu dengan keras.
"Gak mau Bun. Bila gak mau pakai pengasuh. Soalnya banyak kejadian anak akan lebih menempel pada pengasuhnya ketika mereka besar. Dan Bila gak mau itu terjadi. Bila Pengen belajar sama Bunda atau Bi Inah aja. Jadi anak Bila tetap Bila yang urus," jelas Bila.
Akhirnya Bundanya itu mengikuti keputusan Bila. "Ya sudah kalau memang itu keputusan kamu. Bunda ikut saja."
"Bunda Jeff titip Bila dan Azka ya. Jeff mau pergi ke sekolah dulu," ucap Jeff yang baru saja turun dari kamar Bila.
"Iya jangan khawatir, Bunda akan menjaga mereka. Lagi pula tanpa kamu minta, Bunda juga pasti akan menjaganya."
Wanita paruh baya itu memang sengaja tidak masuk ke kantor karena dia mendapatkan kabar jika Bila akan pulang ke rumah.
"Kamu mau pergi sekarang? Ini masih pagi loh," tanya Bunda Erina pada menantunya.
Bukan apa-apa, tapi hari memang masih pagi. Jam baru saja menunjukkan pukul enam dini hari.
Namun Jeff kemudian mengangguk. "Iya, Bunda. Jeff berangkat sekarang, ada yang harus Jeff lakukan terlebih dulu," jawab Jeff singkat.
Bunda Erina mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dikatakan menantunya.
Lagi pula dia tidak akan melarang jika itu memang menjadi urusan penting bagi Jeff.
Akhirnya setelah berpamitan dengan Bunda Erina dan Bila, Jeff pergi dari sana.
Sementara itu raut wajah Bila masih sangat datar karena dia tahu dengan pasti apa yang akan dilakukan suaminya itu.
Jeff pasti akan menemui Laras entah untuk apa alasannya.
Apa yang dirasakan Bila pada akhirnya memang benar. Suaminya pergi ke rumah Laras.
"Laras, buka pintunya," panggil Jeff dari luar sambil mengetuk pintu gadis itu.
Sementara itu di dalam, Laras sibuk mencari pengganjal perut yang biasa dia gunakan.
"Sialan?! Di mana benda itu?" tanya Laras. Semalam dia mabuk, dan sepertinya dia lupa menyimpannya.
"Laras!!" Sudah beberapa kali Jeff memanggil nama gadis itu, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam.
"Lagian kenapa datang pagi-pagi banget sih?!" kesal Laras. Dia bahkan belum membasuh wajahnya.
"Laras!! Buka atau aku dobrak pintunya?!"
"Ketemu!!" seru Laras ketika akhirnya dia mendapatkan apa yang dia cari.
"Iya bentar!!" Sekarang Laras sudah berani menjawab pria itu karena dia sudah mulai memasang benda itu di perutnya. Laras akhirnya membuka pintunya. Dia sedikit berkeringat setelah apa yang dia lakukan beberapa saat lalu.
__ADS_1
"Kenapa sih pagi-pagi gini datang ke sini?" kesal Laras.
"Loh terserah aku dong. Kamu bilang dia anak aku kan? Kalau aku mau ketemu dia gimana? Dan aku mau sepagi ini." Jeff seperti sedang menantang gadis itu.
"Ya udah ayo masuk." Laras akhirnya mempersilahkan Jeff masuk ke rumahnya.
"Berapa bulan sekarang?" tanya Jeff. Sejauh ini, dia tak pernah menanyakan pada gadis itu usia kandungannya.
"Jalan enam bulan." Laras menjawabnya. Untung saja dia sudah menyiapkan skenario untuk menjawab pertanyaan yang satu itu.
Jeff mengangguk paham. "Berarti tinggal nunggu empat bulan lagi?" Jeff mencoba menghitungnya.
Laras kembali mengangguk untuk menjawab Jeff.
Otaknya mulai berpikir bagaimana cara dia melahirkan, sementara dia sama sekali tak hamil.
"Ras!!" sentak Jeff saat gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya.
"Hah? Apa?" Laras terlonjak saat Jeff menyentaknya.
"Ayo pergi ke dokter kandungan. Kita lakuin USG. Aku mau lihat anak aku," ajak Jeff.
Laras sedikit mematung mendengar ajakan Jeff. Bagaimana bisa dia memenuhi keinginan itu jika bahkan dia tak hamil sama sekali.
"Kan kemarin udah aku liatin fotonya." Laras berusaha mencari alasan agar tak pergi.
"Gamau. Sayang uangnya, mening buat beli bahan makanan. Lagian bulan ini aku udah check up kok."
Jeff semakin curiga dengan gadis di hadapannya itu.
"Kamu selalu gak mau kalau aku ajak check up atau USG. Ini yang bikin aku curiga sama kamu." Jeff akhirnya mengeluarkan isi hatinya.
"Ya terus kalau udah masa mau lagi. Sayang uangnya. Belum lagi lahiran pasti perlu uang yang banyak."
Apa yang dikatakan Laras memang benar, tapi siapa peduli jika itu demi membongkar kejahatan Laras.
"Terserah kamu. Aku pergi." Karena gagal mendapatkan keinginannya, akhirnya Jeff pergi dari sana.
Lagipula hari sudah agak siang dan Jeff tak mau telat pergi ke sekolahnya.
****
"Jadi, masih mau diem-dieman nih?" tanya Raveno pada Melinda.
Sejak pertanyaan Raveno semalam, Melinda sama sekali tak menyapanya. Gadis itu hanya diam seribu bahasa.
"Jangan ngomong sama aku, aku masih marah." Bukannya membuat Raveno takut, tapi kemarahan Melinda malah membuatnya gemas.
__ADS_1
Mana ada orang marah yang mendeklarasikannya.
"Iya maaf yang lagi marah." Akhirnya Raveno kembali fokus pada makanannya begitupun Melinda.
Mereka sedang sarapan sekarang sebelum mereka pergi ke sekolah.
"Sore ini guelatihan basket bentar. Mau nunggu atau pulang duluan?" tanya Raveno.
Satu minggu ke depan tim mereka memang akan mengadakan turnamen dengan sekolah sebelah. Jadi dia harus kembali mengasah kemampuannya.
Raveno bahkan mengambil cuti untuk kerjanya selama satu minggu ini.
Jika tim mereka menang, hadiah yang akan mereka dapatkan cukup menggiurkan.
"Nunggu aja. Bentar kan?" tanya Melinda cuek yang diangguki oleh Raveno.
"Paling cuma dua jam?" tebak pria itu. Lagu pula dua jam itu mereka tak hanya berlatih, sisanya mencoba saling mengenal dan berbicara satu sama lain.
"Oke aku nunggu."
"Udah selesai?" tanya Raveno yang mendapatkan anggukan dari Melinda.
Mereka akhirnya berangkat setelah selesai dengan sarapannya.
Melinda menyimpan piring kotor. Biarkan dia akan mencucinya nanti sepulang sekolah.
Melinda dan Raveno pergi ke sekolah. Suasana sekolah cukup ramai karena hari memang sudah agak siang.
"Tunggu gue!" teriak Raveno saat dia melihat Melinda yang berjalan mendahuluinya ketika dia sedang memarkirkan motornya.
Melinda akhirnya menghentikan langkahnya menunggu pria itu tanpa menoleh ke belakang.
Tak lama Melinda menunggu hingga sebuah tangan kekar menyampir di bahunya melingkari lehernya.
"Ayo!" seru Raveno sambil merangkul gadis itu.
Ternyata ini sifat asli Raveno jika Melinda sudah mengenal pria itu lebih dalam.
"Mikirin apa sih? Diem mulu," interupsi Raveno saat Melinda sama sekali tak berbicara padanya.
"Bukan urusan kamu!"
"Urusan gue lah. Lo kan pacar gue." Raveno mengklaim Melinda sebagai kekasihnya yang tentu saja hal tersebut berhasil membuat Melinda tersipu malu.
"Apaan sih!?" sentak Melinda untuk menutupi rasa malunya.
"Jangan salting gitu dong." Raveno mencolek hidung Melinda mencoba menggoda gadis itu.
__ADS_1