
“Lah, ini dia orang yang dia kejar tadi!” seru salah satu petugas kesehatan yang membawa gadis itu ke UKS.
Raveno bingung sendiri karena petugas itu menunjuk ke arahnya seolah menyalahkannya.
“Gue? Kenapa?” tanya Raveno bingung.
“Ini cewek tadi lagi ngejar lo, eh gak sengaja kepalanya kena bola basket keras banget. Pingsan dah,” jelas petugas itu.
“Tapi dia gak apa-apa kan?” tanya Raveno sambil mendekati gadis yang sekarang terbaring di brankar UKS.
“Gak apa-apa. Di kasih minyak angin juga nanti dia bangun. Pingsan doang.” Raveno mengangguk paham dengan penjelasan petugas kesehatan itu.
Ya gadis yang saat ini tengah terbaring itu adalah Melinda. Setelah Raveno meninggalkannya tadi, gadis itu berusaha mengejarnya tapi di tengah jalan sebuah bola basket berhasil menghantam kepalanya yang membuat dia pusing dan pingsan di tempat.
“Ya udah, biar gue aja yang urus. Kalian boleh pergi,” pinta Raveno. Dia tak tahu kenapa dia tiba-tiba menawarkan dirinya untuk merawat Melinda, hanya saja hatinya berkata demikian.
Seperti yang dikatakan petugas kesehatan tadi, Raveno mengambil sebuah minyak angin di dalam kotak obat. Dia menuangkannya sedikit ke atas jarinya sebelum kemudian dia mendekatkan jarinya ke arah hidung Melinda.
Satu kali, dua kali tak ada pergerakan hingga Raveno mengulang cara tersebut untuk kesekian kalinya akhirnya Melinda mengerjabkan matanya.
“Enngghh,” lenguhnya. Matanya mengerjab berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya.
Dia menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan di mana dia saat ini berada. “Di mana ini?” tanyanya.
Gadis itu belum sadar dengan orang yang ada di sampingnya saat ini. Dia hanya mengira orang itu adalah petugas kesehatan.
“UKS,” jawab Raveno singkat. Mata Melinda membulat sempurna saat dia mendengar suara itu. Suara yang sangat dia kenali.
Dengan cepat dia mengarahkan pandangannya pada orang yang ada di sampingnya. Melinda menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Raveno?!” tanyanya sambil berteriak.
Raveno yang baru saja merasa iba dengan gadis itu kini kembali kesal. “Kalau lo mau teriak-teriak, gue pergi.” Raveno hendak beranjak dari sana sebelum kemudian gadis itu mencegahnya.
__ADS_1
Dia mencekal tangan Raveno dan menampilkan wajah memohonnya. Memohon pada pria itu agar tak pergi dari sana.
“Jangan pergi,” rengeknya. Matanya berbinar seperti anak kucing. Melinda tahu ekspresi wajahnya yang seperti ini tak akan membuat Raveno iba, tapi entahlah dia ingin melakukannya.
“Ck gak usah diimut-imutin, lo sama sekali gak imut,” sentak Raveno. Namun pria itu kembali duduk di kursi yang ada di samping brankar.
Tanpa Melinda ketahui, saat ini jantung Raveno berdegup begitu cepat. Apalagi ketika pria itu melihat ekspresi wajah Melinda yang memohon.
Ingin sekali dia melihat ekspresi itu ketika mereka berdua sedang bertelanjang bulat. “Astaga, apa yang gue pikirin!!” Raveno menggelengkan kepalanya berusaha menghalau pikiran kotor yang terlintas di otaknya.
“Kenapa?” tanya Melinda. Rupanya gadis itu sama sekali belum merubah raut wajahnya. Masih sangat imut dan terlihat memohon.
Raveno sontak memalingkan wajahnya saat melihat wajah Melinda. “Gak apa-apa!” sentaknya. Dia sebenarnya tak sengaja, dia berkata keras hanya untuk menutupi rasa gugupnya.
Melinda memajukan bibirnya kesal ketika mendapat bentakan dari Raveno. “Gak usah bentak! Kalau gak niat bantuin ya gak usah. Pergi aja sana.” Melinda mengusir Raveno.
Meski dia berusaha kuat, tetap saja ada sepercik rasa sakit ketika Raveno berbicara keras padanya.
“G-gak g-gitu.” Raveno gagap dan menciut ketika menyadari jika Melinda marah padanya.
“Ya udah gue pergi! Lagian siapa juga yang mau bantuin lo!” Raveno beranjak dari sana meninggalkan Melinda yang masih tak menyangka Raveno berani meninggalkannya.
“Kok beneran pergi sih!” teriak Melinda. Gadis itu segera turun dari atas brankar dan mengejar ke mana perginya pria itu.
Raveno yang tenang dengan jalannya, sementara itu di belakangnya ada Melinda yang berusaha menyamakan langkahnya dengan berlari.
“Ih jangan cepet-cepet. Cape,” keluhnya. Sedari tadi dia tak berhenti berlari sementara Raveno berjalan seperti biasa.
Itulah keuntungan memiliki tubuh tinggi. “Lo-nya aja yang lari, gue gak nyuruh lari kok,” jawab Raveno cuek.
“Kamu kan tinggi, aku gak bisa samain langkah aku sama kamu.” Melinda terengah. Meski begitu dia tak menyerah untuk mengejar Raveno.
__ADS_1
“Makanya tumbuh tuh ke atas!” sentak Raveno. Tak ada jawaban dari Melinda. Raveno awalnya juga acuh, mungkin gadis itu sibuk mengejarnya hingga tak ada waktu untuk menjawabnya.
Dengan sengaja Raveno memelankan langkahnya berharap Melinda bisa mengejarnya atau setidaknya menyamakan langkahnya.
Saat dirasa ada yang janggal, Raveno segera membalikan badannya untuk melihat apa yang terjadi.
Jauh di belakang sana, Melinda terduduk dengan tangan yang memegang dadanya. Jangan lupakan gadis itu juga seperti tengah berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Raveno berlari ke arah gadis itu untuk memastikan keadaannya. “Lo kenapa?” Raveno bertanya dengan nada panik karena wajah melinda semakin memerah.
“G-gak a-apa-apa. T-tapi b-bisa tolong b-bawa t-tas gue ke s-sini?” Ucapan Melinda terputus-putus karena nafasnya juga tersenggal-senggal.
“Oke, tunggu bentar.” Raveno tak banyak bertanya karena dia tahu Melinda sedang tak baik-baik saja.
Pria kekar itu menuju kelas Melinda untuk membawa tas gadis itu. Tak perlu menanyakan di mana kelas gadis itu dan yang mana tasnya karena Raveno tahu itu semua dengan jelas.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Raveno segera kembali ke tempat di mana Melinda berada dengan tas yang dia bawa.
“Ini,” ucap Raveno sambil memberikan tasnya. Dia tak bisa banyak membantu karena dia tak tahu apa yang terjadi.
Yang dia tahu sebatas Melinda kehabisan nafas. Tangan melinda segera meraih tasnya dan mencari sesuatu di sana. Sesuatu yang setidaknya bisa membantunya meredakan penyakitnya itu.
Ventolin Inhaler, itulah yang sedang dia cari. Dapat, Melinda segera menyemprotkan alat itu ke mulutnya sebelum kemudian dia bernafas dengan dalam beberapa kali.
Nafasnya mulai normal beberapa saat setelah dia menyemprotkan alat itu. “Lo gak apa-apa?”
Sangat ketara raut khawatir di wajah Raveno. Jantungnya juga hampir copot melihat keadaan Melinda beberapa saat lalu.
Namun jauh dari dugaannya, Melinda tersenyum lebar pada Raveno seperti tak terjadi apa-apa.
“Gak apa-apa,” kekehnya. “Rav kenapa kaya khawatir gitu?” goda Melinda setelah dia benar-benar pulih.
__ADS_1
Raveno merotasikan bola matanya kesal. Dia berdiri dari posisi jongkoknya dan akan segera pergi dari sana sebelum lagi-lagi tangannya ditahan oleh Melinda.
“Kok pergi sih? Kalau ditanya tuh di jawab Rav,” ucap Melinda yang membuat Raveno menghela nafas dalam tak habis fikir dengan gadis yang ada di hadapannya itu.