
Dua hari setelahnya Jeff benar-benar membawa Bila ke rumah yang dikatakannya waktu itu.
“Kamu udah siap?” tanya Jeff. “Udah, emang kita mau ke mana sih?” tanya Bila penasaran. Pasalnya suaminya itu mengatakan untuk meluangkan waktunya hari ini, tapi dia tidak mengatakan ke mana dia akan membawanya pergi.
“Kamu liat aja nanti.” Jeff memang keras kepala, dia sama sekali tak memberitahunya.
Pada akhirnya Bila hanya mengikuti keinginan suaminya. Mereka berangkat ke tempat yang sama sekali tidak Bila ketahui.
Hari ini Jeff tak masuk sekolah, dia meminta izin sehari ini saja karena dia ingin mengurus masalah ini dulu.
Tak terlalu jauh jaraknya dari apartemen Jeff, mereka tiba di sana. Di sebuah rumah bernuuansa putih bersih yang bisa dikatakan besar.
Halaman yang luas juga mampu memanjakan mata Bila. “Ini rumah siapa?” Bila bertanya heran, pasalnya Jeff tak pernah membawanya ke sana sekalipun.
“Rumah kita,” ucap Jeff sambil membuka gerbang. Bila terlonjak, apa suaminya itu sudah gila?
“Gak ada rumah kita. Tadi kan kita berangkat dari rumah kita, terus ini rumah siapa?” Bila kembali bertanya.
“Yuk masuk dulu.” Jeff merangkul istrinya.
Mereka masuk. Namun sebelum Jeff membawa Bila untuk berkeliling rumah dia mendudukkan Bila dulu di sofa.
"Kamu suka?" tanya Jeff pada istrinya.
"Ini beneran rumah kita?" tanya Bila masih ragu.
"Ikut aku yuk!" Jeff kembali mengajak Bila agar mengikutinya.
Rumah itu berukuran cukup besar terdiri dari sekitar enam kamar tidur yang masing-masing kamar memiliki kamar mandi di dalamnya.
Satu dapur, taman depan yang luas dan juga taman belakang. Mereka berputar mengelilingi rumah itu hingga kini mereka tiba di halaman belakang.
Mata Bila terbelalak saat dia melihat pemandangan di sana. "Tunggu dulu ini, kok aku ngerasa dejavu ya," ucap bila.
Matanya berputar melihat apa saja yang ada di taman belakang itu. Sementara Bila berjalan, Jeff berada di belakangnya mengawasi gadis itu.
"Aku ingat dulu waktu di rumah Kakek, kamu bilang suka berada di taman belakang. Aku juga sadar kalau kamu sangat menyukai desain rumah kakek. Itulah kenapa aku membeli rumah ini."
Ya desain rumah itu terlihat sama dengan desain rumah kakek Adinata, terutama di taman belakang yang terdapat gazebo di tengahnya. Bila mendudukan dirinya di sana sementara Jeff menghampirinya dan berdiri di hadapan gadis itu yang telah duduk di gazebo.
__ADS_1
"Kamu punya uang dari mana untuk membeli rumah sebesar ini?" Bila tahu Jeff berasal dari keluarga kaya, tapi Bila juga tahu jika dia bukan tipe orang yang akan meminta uang untuk kepentingannya sendiri.
"Aku menabung. Aku punya tabungan. Dulu aku emang gak pernah punya tujuan buat beli sesuatu pakai uang aku, tapi setelah aku nikah sama kamu dan kamu sepertinya sangat menyukai desain rumah kakek, aku punya mimpi buat mewujudkan keinginan kamu itu. Dan akhirnya aku memutuskan buat beli rumah ini."
Air mata Bila menggenang saat dia mendengar alasan Jeff membeli rumah itu.
"Makasih banyak. Padahal aku sama sekali gak berharap kamu sampai kaya gini. Tapi aku berterima kasih banget."
"Ssttt kenapa kamu nangis?" Jeff khawatir dia lagi-lagi menyakiti Bila.
Namun Bila menggeleng. "Enggak kok, aku nangis karena aku bahagia bukan karena aku sedih. Makasih udah lakuin banyak hal buat aku."
Bila memeluk Jeff dengan posisi dia masih duduk di gazebo dan Jeff berdiri di depannya.
"Sama-sama. Buat kedepannya aku akan berusaha bikin kamu bahagia terus kaya gini."
Bila mengangguk berharap apa yang diucapkan suaminya bukan hanya omong kosong saja.
Tapi bukan berarti dia menginginkan kemewahan. Yang dia inginkan hanya kebahagiaan kecil bersama dengan Jeff.
Bila mendongakkan kepalanya agar dia bisa melihat wajah Jeff dengan jelas. "Kapan kita bisa pindah ke sini?" tanya Bila.
"Enggak deh. Aku cape. Paling besok atau dua hari kedepan aja."
"Emang aku bilang harus kamu yang beresin semuanya? Kita bisa sewa orang buat beresin barang kita dan bawa ke sini," jelas Jeff.
Bila terlihat sedikit berfikir. Sepertinya cara yang disarankan Jeff cukup bagus.
"Nanti aja deh, aku minta Bi Inah buat bantuin. Kalau sekarang kan dia masih di kampungnya."
Jeff juga tak ingin memaksa, dia pada akhirnya mengangguk mengiyakan keinginan istrinya.
"Mau pulang sekarang atau masih mau di sini?" tanya Jeff.
"Lima menit lagi ya." Jeff mengangguk setuju.
****
Sudah hampir satu minggu setelah hari di mana Raveno mengantar Melinda pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Selama itu juga Raveno mencari Melinda di sekolah maupun ke rumah itu. Tapi yang didapatkannya masih sama, dia tak menemukan sosok itu.
Namun hari ini, dia dibuat terkejut dengan kedatangan sosok yang selama ini dia cari.
"Mel," ucapnya pelan. Gadis itu kembali datang ke kelasnya dengan papper bag di tangannya. Jangan lupakan senyum yang senantiasa tersemat di wajahnya.
"Hai Rav. Lama gak ketemu ya. Ini Mel mau balikin hoodie kamu. Tenang aja, Mel udah cuci kok jadi gak perlu khawatir bakal kotor." Melinda menyodorkan papper bag itu ke arah Raveno.
Bukannya menerima uluran itu, Raveno malah memandang Melinda lekat. Senyum gadis itu memang tak luntur.
Tapi ada yang berbeda. Senyum yang terkesan dipaksakan dan juga luka lebam di sudut bibirnya yang seperti baru saja dia dapatkan.
Tangan Raveno bergerak meraih tangan Melinda yang kosong. Pria itu menarik Melinda entah ke mana.
"Mau ke mana Rav?" tanya Melinda heran. Namun Raveno sama sekali tak menjawabnya.
Dia terus menarik halus gadis itu hingga mereka tiba di taman belakang sekolah yang terbilang cukup sepi.
Raveno memandang Melinda dengan lekat terutama di bagian lukanya.
"Kenapa?" Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya Raveno mengeluarkan suaranya.
"Apanya yang kenapa?"
Raveno yang mendengar hal itu memejamkan matanya dengan erat. Tangannya terangkat untuk mengelus luka lebam itu.
"Ini kenapa?" Ketika Raveno menyentuhnya, Melinda spontan menjauh.
"Ahh ini tadi ada insiden kecil. Kepentok pintu," jawab Melinda. Jika kalian berharap Raveno percaya, maka jawabannya tidak.
"Jawab jujur Mel, gue bukan anak kecil yang bisa lo bohongin dengan mudah." Melinda mulai panik, dia memilin jari-jari tangannya.
"Papah lo kan yang lakuin?" Pertanyaan sekaligus ucapan Raveno berhasil membuat tubuh Melinda bergetar hebat.
"Enggak, bukan Papah yang lakuin. Mel baik-baik aja." Gadis itu sangat panik hingga dia mulai menggosok tubuhnya sendiri dengan brutal. Pandangannya kosong, hampir saja dia tak bisa menahan beban tubuhnya.
Raveno yang sadar akan hal itu segera memeluk tubuh Melinda berusaha menenangkannya. Pria itu mengelus punggung Melinda dengan lembut.
"Iya oke, bukan Papah lo yang lakuin. Tenang oke." Perlahan tubuh Melinda semakin tenang. Nafasnya juga mulai teratur.
__ADS_1