Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
74. Bukti Transfer


__ADS_3

"Bentar dulu, sebelum itu Ayah mau tanya sama kamu. Apa kamu serius sayang dan suka sama dia?" tanya ayahnya. Dia tak ingin putranya keliru mengartikan kata suka dan simpati.


"Raveno serius Yah. Raveno sayang, kalau ini cuma simpati, gak mungkin kan Reveno berani bawa dia ke rumah. Malah semalam dia tidur di rumah." 


Entah sadar atau tidak, tapi baru saja Raveno membuka hal yang sebenarnya tak akan dia katakan pada Ayahnya.


"Ohh udah berani ya kamu bawa dia ke rumah," goda Ayanya. 


Raveno terkejut sendiri menyadari apa yang baru saja dia katakan.


"Gak gitu Yah. Ah udahlah. Jadi intinya Ayah izinin gak?" Raveno kembali bertanya. Dia tak ingin pembahasan ini merembet ke hal yang tak ingin dia bicarakan.


"Kalau tinggal di rumah kayanya Ayah gak bajak izinin." Bahu Raveno turun saat dia mendengar keputusan Ayahnya itu.


Dia terdiam tak tahu lagi harus bagaimana. "Tapi kalau di rumah yang lain mungkin bisa." Kelanjutan ucapan Ayahnya cukup membuat dia memiliki harapan lain.


"Di mana Yah?" tanya Raveno. Seingatnya dia tak memiliki rumah lain selain rumah yang dia tempati saat ini.


"Tapi kalau Ayah bilang, kamu yakin mau nurutin persyaratannya?" tanya Ayahnya yang langsung dianggukki oleh Raveno.


Baginya mengangguk saat ini sangat mudah. Biarlah kedepannya dia akan memikirkannya nanti saja.


"Oke Rav akan turutin," ucapnya yakin


"Di apartemen," ucap Ayahnya yang kembali membuat Raveno mengernyitkan keningnya.


"Apartemen di mana? Emang kita ada?" tanya Raveno heran.


"Ayah yang akan beliin sekarang. Tapi kedepannya Ayah gak akan tanggung jawab sama biaya sehari-hari gadis itu. Kalau kamu beneran sayang sama dia, usaha sendiri buat hidupin dia kalau kamu emang mau ambil keputusan berat ini." Raveno termenung.


Apa jawaban yang harus dia berikan kepada Ayahnya saat ini.


"Yah, boleh kasih Raveno waktu? Nanti siang Rav kabarin lagi keputusannya."


"Oke, Ayah tunggu. Kalau kamu udah yakin, nanti Ayah kirim uang dan kontak orang yang bisa dimintai bantuan."


"Oke. Makasih Yah." Raveno mematikan sambungan telepon setelah dia yakin tak ada lagi yang harus dia bicarakan dengan Ayahnya.


Raveno melamun. "Apa harus sejauh ini?"


Otak Raveno kembali melayang ke momen di saat Melinda ditampar oleh Papahnya. Dua juga membayangkan setiap cerita yang keluar dari mulut gadis itu.

__ADS_1


Ketika membayangkan itu, ada rasa nyeri yang mampir di hatinya. "Kenapa sakit? Kenapa gue gak mau liat dia sakit?"


Pertanyaan yang terus saja berputar di otak Raveno.


"Oke biar nanti gue pikirin lagi," ucap Raveno. Dia beranjak dari sana untuk pergi ke kelasnya.


"Berapa Bu?" Tak lupa sebelum dia pergi, dia membayar minumnya terlebih dahulu.


Setelah selesai dia baru pergi ke kelasnya. Guru sudah datang dan seperti yang kalian pikirkan, Raveno telat.


**** 


Bila berjalan dengan cepat ke lantai bawah untuk mencari suaminya. Jeff kembali tak masuk sekolah karena dia tak ada kelas hari ini.


"Jeff!!" teriaknya. Suaminya itu sedang mencuci motor kesayangannya di luar.


Dia yang menggunakan earphone sama sekali tak mendengar teriakan Bila.


"Jeff!! Astaga, pantesan dia gak nyaut," ucap Bila setelah dia melihat apa yang ada di telinga Jeff.


Dengan cepat gadis itu mencabut earphone yang digunakan suaminya hingga Jeff menoleh pada Bila dengan pandangan heran


"Kamu kenapa?" tanya Jeff heran melihat istrinya yang ngos-ngosan dan juga tiba-tiba mengganggu kegiatannya.


Awalnya dia mengira itu hanya sebuah struk minimarket, tapi setelah dia membacanya dia tercengang dengan nominalnya.


Orang mana yang Jeff kirimi uang hingga sebanyak itu.


"Ohh ini, aku kirim ke tabungan aku yang satunya. Kalau di tabungan yang itu gampang aku ambil. Kalau yang satunya bakal susah karena aku gak ada kartunya," jawab Jeff.


Sudah jauh-jauh hari dia mempersiapkan ini dan akhirnya Bila menanyakannya juga.


"Ohh kirain kamu kirim buat siapa." Bila merasa lega setelah dia tahu apa yang sebenarnya.


"Udah kamu mau tanya itu doang?" tanya Jeff yang kemudian diangguki oleh Bila.


"Udah sana istirahat. Lagian kenapa sih gak percaya gitu?" tanya Jeff.


"Enggak. Bukannya gak percaya. Aku cuma mau mastiin aja kan." Jeff mengangguk pada akhirnya karena dia tahu Bila tak bisa kalah.


Bila akhirnya kembali ke dalam dan Jeff kembali fokus juga pada motornya yang masih belum bersih.

__ADS_1


"Maafin aku Yang. Tapi ini demi kebaikan kita juga," lirihnya.


Ya itu adalah sebuah kebohongan. Kalian tahu sendiri kan ke mana uang itu mengalir.


Bila mencoba berfikir lagi. "Emang bisa ya orang mindahin uang dari tabungan dia yang satu ke tabungan lainnya cuma dengan alasan itu?" tanyanya.


Dia termenung cukup lama. "Ah udah lah gak usah dipikirin. Lagian juga me mana dia kirin uang?"


Bila membuat secangkir teh untuk suaminya. Cuaca dingin seperti ini memang cocok meminum atau makan makanan yang hangat.


"Yang, ini minumnya. Jangan lama-lama nanti keburu dingin," ucap Bila mengingatkan.


"Iya Yang ini bentar lagi selesai kok," jawab Jeff.


Membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk Jeff bisa menyelesaikan pekerjaannya.


"Dingin loh, kenapa gak pakai jaket?" tanya Jeff. 


Dia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping Bila.


"Enggak. Masih gak terlalu dingin kok," jawab Bila yang dianggukki oleh Jeff.


"Iya tapi nanti kalau udah agak malam kamu masuk ke dalam. Nggak boleh kelamaan di luar soalnya cuaca lagi dingin kayak gini," perintah Jeff.


"Iya nanti aku juga masuk. Kamu juga jangan mandi malam-malam, nanti masuk angin." Jeff mengangguk, dia mengambil secangkir teh yang tadi dibuatkan oleh Bila kemudian meneguknya sedikit.


Asap masih mengepul dari cangkir itu hingga dia tidak bisa meminumnya sekaligus.


"Aduh besok harus kerja lagi, padahal kalau udah punya istri kayak gini males banget kerja. Pengennya kelonan terus sama istri. Tapi kalau nggak kerja nanti anak istri aku mau dikasih makan apa dong?" ucap Jeff yang membuat Bila terkekeh kecil.


"Kalau nggak mau ribet, kamu tinggal ngepet aja," ceplos Bila.


"Hush, kamu itu kalau ngomong." Jeff memperingati istrinya.


"Lagian kamu yang mancing duluan." Bila tak mau kalah.


"Udah ah yuk masuk. Makin dingin nih," ajak Jeff kepada istrinya.


Bila tak menolak, dia mengikuti keinginan suaminya.


"Air hangatnya udah aku siapin, kamu tinggal mandi aja nanti kita makan bareng. Aku juga udah masak walaupun gak banyak."

__ADS_1


Jeff mengangguk, mereka berdua pergi ke kamarnya namun Jeff langsung mengarah ke kamar mandi sementara Bila menyiapkan pakaian yang akan digunakan suaminya nanti.


__ADS_2