Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
52. Meminta Saran dan Bantuan


__ADS_3

“Jadi, kenapa lo kemarin kaya orang bego?” tanya Victor. Maksudnya ketika Jeff dengan bodohnya meminum alkohol di sing hari hingga dia terkapar sakit.


“Gatau, gue ngerasa cape aja buat segalanya,” jawabnya.


“Dapetin maaf Bila?” tebak Victor. Dia mengira itulah puncak masalah dari segala masalah yang dihadapi oleh Jeff.


Dan benar saja Jeff mengangguk dengan mudah ketika Victor menebak itu. “Tapi sekarang dia udah balik, kan?” Victor kembali bertanya karena sepertinya kemarin Bila sudah baik-baik saja dengan sahabatnya itu.


“Iya, semalam dia juga tidur di apart gue,” jawab Jeff. “Mau ngucapin makasih gak lo sama gue? Kalau bukan gue yang jemput dia ke rumahnya, dia gak akan maafin lo sampai sekarang.”


Saat ini Victor merasa besar kepala karena dia merasa sangat berjasa pada sahabatnya itu. “Hhmm, thank’s. Kalau bukan karena lo, mungkin Bila masih gak mau ketemu gue.”


Jeff sama sekali tak terpaksa mengucapkan terima kasih karena memang tujuannya datang ke sana salah satunya untuk mengucapkan kata maaf.


Victor mengangguk. “Gue juga ikut bahagia kalau lo sama dia udah baikan.”


Sisanya mereka membicarakan pekerjaan mereka masing-masing dan bermain game bersama. Suatu hal yang memang tak bisa mereka tinggalkan jika mereka bertemu adalah bermain game.


“Abis ini lo mau ke mana?” tanya Victor karena hari sudah mulai malam.


“Gak ada rencana kayanya. Gue tadi juga udah bilang sama Bila gak akan ke rumah. Oh iya, kayanya dalam waktu dekat ini gue mau nikahin Bila. Gue belum bilang siapapun karena keluarga gue juga belum tahu.”


Victor sedikit terkejut dengan informasi dadakan yang diberikan oleh Jeff itu. Namun kemudian dia kembali memasang wajah normalnya.


“Lo yakin?” tanya Victor. Jeff mengangguk, dia sangat yakin. Apa lagi yang dia tungg jika dia dan Bila sama-sama saling mencintai.


“Tapi gue takut,” ucap Jeff tiba-tiba setelah dia berkata begitu sangat yakin. Victor mengernyitkan dahinya.


“Apa yang lo takutin?” Mungkin saja Victor bisa membantu sedikit tentang kendala yang dihadapi oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


“Orang tua gue. Keadaan rumah yang hancur. Gue takut pas Bila lihat itu dia akan marah dan ninggalin gue.”


“Lo belum cerita masalah ini sama Bila?” tanya Victor tak habis fikir. Jeff menggeleng. Dia selalu tak ingin menceritakan tentang keluarganya pada siapapun karena malu.


Selama ini dia hidup dengan penuh kepura-puraan. Berpura-pura baik-baik saja, pura-pura memiliki keluarga yang sempurna. Semuanya adalah topeng.


Hal yang dia jalani selama hidupnya justru sangat bertolak belakang dengan apa yang dilihat oleh orang lain.


“Bilang sama dia secepatnya.” Victor memberikan saran pada sahabatnya. Jeff mengangguk.


“Gue juga mau. Tapi gimana kalau dia pergi?” Selalu saja hal itu yang ada dalam fikirannya. Ya, dia pernah mengalami hal buruk tentang ini. Jadi, bisa dibilang jika saat ini Jeff trauma.


“Ya makanya lo harus bilang sama dia biar lo tahu jawabannya. Kalau lo tetap diam kaya gini, gimana lo bakal tau apa yang bakal dia lakuin.”


Benar apa yang dikatakan Victor. Bagaimanapun, dia harus memberitahukan ini pada Bila dan juga keluarga Bila.


“Oke, besok gue bakal ajak dia ke rumah.” Akhirnya Jeff mengambil keputusan. Sebenarnya ini keputusan yang berat tapi tak ada pilihan lain jika dia ingin menikah dengan Bila.


Malam ini Jeff benar-benar tak pergi ke rumah Bila. Masih ada hal lain yang harus dia lakukan daripada bertemu dengan kekasihnya itu.


Ini sangat penting karena menyangkut masa depannya. Jeff memarkirkan mobilnya di halaman yang sudah sangat familiar itu. Rumah kediaman Adhinata, kakeknya.


Kalian tahu maksud kedatangan Jeff ke sini? Ya, apa lagi yang dia lakukan di sini selain karena dia menginginkan sesuatu.


Kebetulan sekali kakeknya itu ada di halaman depan dengan kopi di hadapannya.


“Kek, kenapa malam-malam begini masih di luar?” tanya Jeff sambil menghampiri kakeknya itu.


“Kamu kenapa malam-malam begini berkeliaran?” Bukannya mendapatkan jawaban, tapi Jeff malah kembali mendapatkan pertanyaan.

__ADS_1


“Kek, aku mau menikah,” ucap Jeff langsung pada hal yang ingin dia bicarakan. Dia bukan tipe orang yang akan membahas kesana kemari untuk menuju hal yang ingin dia bicarakan.


Kakeknya itu terlihat sangat terkejut karena cucunya itu mengatakan hal itu secara tiba-tiba.


“Mau nikah sama siapa? Kamu udah dapat yang baru?” tanya Kakeknya heran. “Kakek fikir kamu udah setia banget sama Bila. Bukannya Bila masih belum ketemu?”


Kabar terakhir yang Kakeknya tahu memang Bila pergi dan belum kembali hingga sekarang. Jeff belum memberi tahu kakeknya jika Bila sudah kembali ke rumahnya bahkan gadis itu sekarang sudah memaafkannya.


“Jeff mau nikah sama dia, Kek sama Bila. Dia udah balik. Jeff baikan sama dia juga baru kemarin, tapi Jeff gak mau menunda lagi apalagi dia juga lagi hamil,” ucap Jeff.


Ada sedikit keterkejutan bagi Adhinata karena Jeff tiba-tiba mengatakannya. “Jadi dia udah balik?” tanyanya memastikan.


Jeff mengangguk. “Udah agak lama juga dia balik. Tapi Jeff selalu gak dapat maaf dari dia. Baru kemarin semuanya membaik,” jelas Jeff.


Tuan Adhinata mendengarkan dengan seksama. “Jadi kamu ke sini mau apa? Minta izin atau minta uang?” goda Kakeknya.


“Sebenarnya mau minta izin sekalian minta bantuan. Kakek tau sendiri kan apa yang pernah terjadi dulu, Jeff gak mau itu terulang lagi. Menurut Kakek, gimana caranya biar Bila gak lari atau ninggalin Jeff setelah dia tahu keadaan keluarga Jeff?” tanya Jeff.


Mungkin setidaknya kakeknya itu mampu memberikan sedikit solusi untuk permasalahannya itu.


“Kakek gak bisa bantu banyak. Tapi coba kamu jelasin dulu sama dia juga keluarganya. Kalau nanti terjadi sesuatu, Kakek yang akan turun tangan,” ucapnya.


Jeff merasa sedikit lega karena ada kakeknya yang selalu mendukung dan membantunya. Setidaknya sekarang dia tak perlu terlalu khawatir.


“Niatnya Jeff mau bawa Bila ke rumah besok. Tapi mungkin sore karena Jeff juga harus ke sekolah dulu.” Kakeknya mengangguk. Inilah yang membuat Adhinata selalu siap untuk membantu cucunya.


Cucunya itu bukan anak manja yang selalu meminta uang padanya. Dia meminta bantuan hanya untu masuk di sekolah itu sebagai guru. Dia mencari uang sendiri, adapun uang yang ada di tabungannya itu adalah murni pemberian kakeknya, bukan hasil meminta.


“Lakukan apa yang sebaiknya kamu lakukan. Kabari Kakek kalau ada apa-apa,” ucapnya sambil menepuk pundak cucunya.

__ADS_1


“Iya Kek. Kalau gitu Jeff pamit pulang. Udah malam juga,” ucap Jeff. Adhinata mengangguk dan mengantar cucunya hingga dia memasuki mobil.


“Jangan ngebut!” Kakeknya itu berusaha memperingati Jeff. Jeff mengangguk sebelum dia benar-benar pergi dari sana.


__ADS_2