
Melinda memandang netra Raveno dengan dalam. “Rav, maaf. Awalnya aku gak mau bebanin kamu dengan cerita aku, tapi kayanya aku emang butuh kamu buat jadi rumah aku,” ucap Melinda.
“Terlepas dari kamu mau terima aku atau enggak, terlepas dari kamu benci aku atau enggak, aku tetap mau cerita sama kamu,” lanjut Melinda.
Raveno diam dan mengangguk mempersilahkan Melinda menceritakan apapun keluh kesahnya.
“Kamu tadi tanya kenapa aku gak berani buat pulang, kan?” tanya Melinda. “Hmm.”
“Jangankan aku gak pulang kaya sekarang, aku pulang telat aja kamu tau sendiri apa yang Papah lakuin ke aku. Apalagi sekarang aku gak pulang, mungkin kalau aku pulang besok aku bakal tinggal nama doang,” jelas Melinda.
“Ssstt gak boleh ngomong gitu, gue gak suka,” ucap Raveno Dia paling tak suka dengan orang-orang yang membicarakan kematian.
“Sorry, kalau boleh gue tau, nyokap lo … “ tanya Raveno dengan ragu. Dia takut akan menyakiti perasaan gadis itu jika dia melanjutkannya.
Melinda mengangguk. “Itu juga salah satu alasan kenapa Papah bisa bersikap kaya sekarang.”
“Maksud lo?” tanya Raveno tak mengerti.
“Mama dulu tinggal bareng kita. Mel juga punya kakak perempuan. Kita tinggal bareng dan semuanya berjalan normal hingga Mama ketahuan selingkuh. Papah marah, awalnya Mama menyesal dan mau mengulang lagi dari awal. Tapi mungkin rasa percaya Papah ke Mama semakin berkurang sampai Papah posesif banget dan hampir kurung Mama setiap hari.”
Raveno mendengarkan cerita Melinda dengan seksama. Dia tak ingin terlewatkan apapun tentang cerita Melinda.
“Mama capek bahkan kejiwaan Mama hampir terganggu. Itulah kenapa dia memutuskan pergi ninggalin Papah. Kakak Mel yang dulu udah ngerti dengan keadaan juga pergi setelah satu minggu Mama pergi.”
“Terus kenapa lo gak pergi?” tanya Raveno. Bukankah lebih baik Melinda juga pergi ikut Mama atau Kakanya?
Melinda menggeleng dengan senyum miris di wajahnya. Dia membayangkan dulu ketika dia memilih memutuskan untuk menetap dengan ayahnya.
“Mel gak bisa tinggalin Ayah. Ayah gak bisa masak, kalau Mel pergi nanti siapa yang masakin ayah makan? Dia juga gak bisa berbenah.”
“Sepeduli itu lo sama bokap lo?” tanya Raveno. Jika berada di posisi Melinda, jujur saja Raveno akan memilih untuk pergi saja.
__ADS_1
“Iya karena dulu dia gak main tangan sama Mel. Tapi pas Mel masuk SMA, Mel selalu banyak tugas dan pulang telat, Papah selalu tampar, mukul atau nendang Mel.”
“Itu juga alasan lo waktu itu ilang satu minggu?” Raveno masih mengingat dengan jelas bagaimana dia mencari gadis itu.
Melinda memandang Raveno dengan pandangan seperti dia meminta maaf pada pria itu.
“Apa aja yang dilakuin bokap lo sama lo sampai bisa semerah ini?” Tangan Raveno terangkat untuk menyentuh luka yang ada di sudut bibir Melinda.
Melinda meringis yang membuat Raveno kembali menjauhkan tangannya. Baru kali ini Melinda melihat raut wajah Raveno yang terlihat khawatir.
“Bukan apa-apa kalau kemarin. Papah cuma nampar sama nendang perut aja kok,” jawab Melinda diiringi dengan senyuman di wajahnya.
Raveno tak habis pikir dengan orang yang ada di hadapannya. “Lo bilang cuma?” tanya Raveno yang dibalas anggukkan oleh Melinda.
“Iya, cuma. Biasanya lebih parah dari itu,” jawab Melinda. “Tapi Rav jangan bilang siapa-siapa. Biar bagaimanapun Papah itu tetap Papahnya Mel.” Melinda memohon pada Raveno.
Raveno paham dengan apa yang dikatakan oleh Melinda. Dia mengangguk mengiyakan. Untung saja pria itu Papahnya Melinda, jika bukan sudah dia pastikan akan melaporkan perbuatannya.
“Udah ya, sekarang lo istirahat. Lo tidur!” perintah Raveno. Dia membaringkan tubuh Melinda dan menyelimutinya hingga sebatas dada.
Raveno beranjak dari sana hendak tidur di sofa. “Rav,” panggil Melinda yang membuat Raveno menghentikan langkahnya dan berbalik memandang gadis itu.
“Hhhmm?” tanya Raveno. “Makasih,” ucap Melinda. “Sama-sama,” jawab Raveno. Setelah Raveno yakin jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan dengannya, dia menuju sofa yang ada di sana.
Mereka terlelap setelah beberapa lama mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing.
****
Pagi ini menjadi pagi yang berbeda bagi Melinda maupun keluarga Raveno. Pasalnya mereka kedatangan Melinda begitupun Melinda yang seperti memiliki keluarga utuh.
“Ayah kapan pulang, Bun?” tanya Raveno. Sudah hampir dua bulan Ayahnya itu tak pulang. Beliau berada di luar kota dengan alasan pekerjaan.
__ADS_1
“Gak tau, belum ada kabar. Dia sih bilang masih sibuk jadi belum bisa pulang,” jawab Bunda Raveno.
Saat ini mereka masih berdua di dapur. Raveno memang sering membantu Bundanya memasak dan menyiapkan makanan.
Sementara itu Dita dan Melinda masih membersihkan badan mereka. “Bun, apa akan baik-baik aja kalau Melinda menetap di sini?” Pertanyaan Raveno sukses membuat Bundanya menjatuhkan piring yang sedang dia cuci.
Pandangannya beralih pada Raveno yang sedang mengeringkan gelas. “Apa maksud kamu, Bang?” tanya Bundanya bingung.
“Tentang masalah Melinda yang gak bisa Abang bilang sama Bunda, itu semua menyangkut fisik dan mental Melinda atau mungkin nyawanya. Abang mau nolong dia, Bun,” jawab Raveno. Sebisa mungkin dia berusaha membuat Bundanya mengerti.
“Jadi?” Bundanya meminta penjelasan yang lebih rinci dari itu.
“Abang gak bisa biarin dia pulang. Kalau dia pulang Abang gak bisa jamin keselamatannya.” Sampai di sini Bunda Raveno paham dengan apa yang dikatakan putranya.
Bahkan dia juga bisa memprediksi apa yang sebenarnya terjadi di rumah Melinda. “Bunda gak masalah sama itu, tapi kamu juga harus izin sama Ayah,” jawab Bundanya.
Raveno mengangguk. Untuk mendapatkan izin dari Ayahnya Raveno yakin akan mendapatkannya dengan mudah.
“Kalau gitu biar nanti Abang telpon Ayah,” jawabnya yang dianggukki oleh Bundanya.
Tak lama setelah pembahasan mereka, Melinda datang masih dengan pakaian Raveno. Sungguh dia tak memiliki pakaian ganti.
“Mel, sini duduk!” seru Raveno. Dia menarik kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk.
“Maaf Bunda, Mel ngerepotin,” sesalnya. Sebenarnya dia juga tak ingin merepotkan orang lain seperti ini, tapi tak ada pilihan lain. Hanya Raveno yang bersedia membantunya.
“Hush, kamu ini ngomong apa? Gak ada yang ngerepotin sama sekali,” jawab Bundanya.
“Abang, Bunda … “ Ucapan Dita terhenti saat dia melihat orang lain di rumah mereka.
“Duduk dulu, Sayang,” perintah Bundanya. Dita tak banyak bertanya, dia duduk di hadapan Melinda.
__ADS_1
Melinda yang melihat itu segera menampilkan senyum terbaik untuk Dita. “Biasa aja liatnya, tuh mata hampir keluar,” ucap Raveno yang melihat tatapan Dita pada Melinda.
Bukannya menyahut Abangnya, Dita malah bertanya hal lain. “Dia siapa Bang?” tanya Dita.