
Hari kedua Jeff berada di Negeri Ginseng ini. Cuaca dingin di sini sangat berlainan dengan Indonesia di mana dia bisa dengan bebas memakai pakaian pendek.
"Kenapa Bila sangat suka Korea? Padahal di sini sangat dingin," kekehnya.
Dia kembali teringat pada gadis itu. Gadis yang mengisi hatinya, sekaligus membuatnya kosong kembali setelah kepergian gadis itu.
"Terlalu jahat," lirihnya. Dia kembali teringat dengan ucapannya pada Bila. Menolak dengan kasar darah dagingnya sendiri. Yang lebih parah adalah meminta Bila untuk membunuhnya.
"Harusnya gue yang mati, bukan dia." Dia berpikir jika Bila sudah menggugurkan anaknya karena itu permintaan dia saat mereka terakhir kali bertemu.
Jeff memandang jauh ke depan sana di mana keramaian kota terlihat dengan jelas. Ingin sekali dia berjalan-jalan, namun dia tak ingin berinteraksi dengan orang lain.
Terlalu malas mengeluarkan suara emasnya hanya untuk bertegur sapa dengan orang lain.
"Tapi aku sangat jenuh," ucapnya.
Akhirnya tanpa berpikir panjang, dia keluar dari hotel tempat dia tidur. Untuk saat ini tujuannya adalah menjelajahi destinasi wisata.
"Aku akan datang lebih dulu, jadi nanti jika aku membawamu ke sini aku tak akan bingung." Lagi-lagi Jeff berbicara sendiri.
Dia mengambil coat berwarna hitam dan memakainya. Jarang sekali dia mengenakannya karena cuaca di Indonesia yang sangat bersahabat.
Saat ini dia bisa melihat sebuah menara yang sangat tinggi. Jeff bisa melihat banyak orang yang berlalu-lalang di sana hanya untuk sampai di puncak tower.
Namsan tower, ya di sanalah saat ini berada. Sebuah destinasi wisata romantis korea. Di mana seorang pasangan akan pergi ke sana dan memasang gembok dengan nama mereka masing-masing.
"Ayo pulang Bil. Setelah aku menemukanmu, aku akan membawamu ke sini," lirihnya.
Jika orang-orang yang datang ke sana tersenyum bahagia, maka tidak dengan Jeff. Dia merasa sangat sedih.
Jeff hanya membeli beberapa makanan di sana dan juga ikon khas dari sana. Setelah itu dia kembali menyusuri jalanan korea yang sangat padat.
****
"Bang, cepetan ah. Gue udah cape," ucap seorang gadis muda yang sepertinya baru menginjak usia belasan tahun.
"Sabar elah. Gue udah mulai jompo, gak bisa jalan cepet-cepet," jawab orang itu.
"Rav, udah ah. Ngalah aja, dia adik kamu. Ayo!!" Dengan cepat, Sang Bunda menggandeng tangan putranya dan menariknya agar berjalan lebih cepat.
Raveno, pria itu hanya menurut meskipun mulutnya tak henti merapalkan mantra untuk mengumpat pada adiknya.
"Dita, jangan cepat-cepat Sayang. Bunda cape," ucap Bundanya pada akhirnya. Hanya dengan begitu putrinya akan menuruti ucapannya.
__ADS_1
Benar saja, setelah mendengar hal itu, Dita segera berhenti dan membalikan tubuhnya. Dia melihat Bundanya yang masih berada jauh di belakangnya.
"Ayo Bun. Dita mau rebahan dulu sebelum jalan-jalan," ucap gadis manis itu.
Bundanya tak banyak tanya. Dia segera menghampiri putrinya menjadikan hal itu kesempatan untuk mensejajarkan jalannya dengan sang putri.
"Bahagia banget ya kamu bisa jalan-jalan ke sini," kekeh Bundanya setelah dia berada tepat di samping Dita.
Dita tersenyum polos dan tertawa renyah setelahnya. "Iya dong Bun. Udah dari lama Dita mau ke sini. Tapi baru kesampaian sekarang," ujarnya.
"Ya udah ayo. Sekarang kita ke hotel dulu buat beresin barang-barang. Setelah itu kamu bebas mau ke mana pun asal tetap bersamamu Abangmu.
Dita mengerutkan keningnya ada yang janggal dengan perkataan Bundanya barusan.
"Kok Abang? Memangnya Bunda tidak akan ikut?"
"Kalau sekarang Bunda kayaknya nggak ikut dulu, masih capek juga. Tapi besok Bunda akan ikut kok," ucap bundanya.
Sementara Raveno hanya diam menyimak percakapan dua wanita yang sangat dia sayang itu.
"Oke deh." Setelah percakapan itu, mereka melanjutkan perjalanan ke hotel yang ada di depan mereka.
****
Raveno merotasikan bola matanya. Dia merasa seperti sedang mengasuh anak kecil yang sedang bermain.
"Iya bentar, ini kan lagi jalan." Raveno menyusul adiknya dengan terpaksa.
Setelah bangun dari tidurnya tadi, Dita segera tersadar dan langsung mengajak Raveno pergi keluar.
Saat ini mereka sedang menyusuri jalanan yang sangat ramai dengan penjual makanan dan yang lainnya.
Sedari tadi Dita terus saja membeli ini dan itu. Jika perutnya sangat elastis, mungkin perut itu sudah sangat buncit mengingat berapa banyak makanan yang dimakan oleh gadis itu.
"Lo dari tadi makan mulu. Gak kenyang perut lo?" Akhirnya Raveno mencoba untuk bertanya.
Dita menggeleng. Mulutnya masih betah mengunyah makanan yang beberapa saat lalu dia beli.
"Enggak. Kan gue baru aja makan dikit!" ujar Dita tak terima.
Ingin sekali Raveno mengingatkan gadis itu sudah berapa banyak memakan makanan sejak mereka tiba di sini.
"Terserah lo!" Setelah mengucapkan hal itu, Raveno mengedarkan pandangannya hanya untuk melihat suasana sekitar.
__ADS_1
Matanya menyipit saat dia melihat orang yang sepertinya dia kenal.
"Bila," bisiknya agak ragu. Dita yang samar mendengar hal itu sontak menolehkan pandangannya pada Raveno.
"Hah? Apaan?" tanya Dita.
Raveno segera tersadar dan memandang Dita sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa-apa." Mereka melanjutkan perjalanannya. Raveno mencoba melihat kembali orang itu.
Namun sayang, dia sudah tak ada. Mungkin itu hanya halusinasi seorang Raveno saja. Itulah anggapannya.
Bruk
Terdengar sangat nyaring. Suara benda yang saling berbenturan dan tentu saja Raveno juga merasakannya. Karena badannyalah yang terkena benturan itu.
"Aw." Suara wanita yang baru saja menabrak punggung lebar Raveno.
Raveno hendak marah jika saja dia tak melihat siapa orang yang menabraknya.
Pria itu berbalik untuk melihat si pelaku. "Ah maaf," ucap orang yang menabrak tubuh Raveno sambil menundukkan kepalanya.
Sepersekian detik kemudian, wanita itu mendongak untuk melihat siapa orang yang telah ditabraknya.
"Raveno?!"
"Bila?!"
Keduanya sama-sama terkejut saat melihat satu sama lain. Berarti benar, orang yang dilihat Raveno beberapa saat lalu adalah Bila.
Sementara itu Dita diam memperhatikan interaksi dua orang itu.
"Jadi selama ini lo di sini?" Raveno sangat terkejut dengan pertemuannya.
Bila menunduk. Niatnya untuk bersembunyi dari orang-orang yang dia kenal harus gagal dalam satu malam.
"Kita bicara di tempat lain." Raveno sontak menarik tangan Bila dan juga Dita untuk mencari tempat duduk.
Adiknya itu tak protes, mungkin dia sedang paham dengan keadaan saat ini.
Mereka akhirnya tiba di sebuah caffe yang tak jauh dari sana. Mereka memesan minuman dan duduk di salah satu kursi di sana.
Raveno menghela nafasnya sebelum dia bertanya. "Kenapa lo pergi?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang tak disangka akan keluar dari mulut Raveno.