
Seperti biasa, Melinda pulang dengan bis. Dia memiliki mobil, tapi dia tak ingin menggunakannnya karena dia benci sepi. Jika dalam mobil dia sendirian, tapi jika naik bis akan banyak orang di sana.
Setelah dia turun di halte, dia hrus berjalan kaki agak jauh untuk sampai di rumahnya. Kepalanya menunduk memikirkan beberapa hal yang berjadi belakangan ini.
“Ahh cape banget,” lirihnya. Bukan lelah karena berjalan terlalu jauh, tapi lelah karena otaknya tak bisa berhenti berfikir.
Tanpa dia sadari, di belakang Raveno mengikutinya. Dia juga tak mengenakan motor. Dia ikut naik bis dengan gadis itu.
Entah mengapa dia menjadi sangat penasaran dengan segala ketertutupan gadis itu. Melinda tiba di rumah. Begitupun dengan Raveno yang sembunyi tak jauh dari sana.
“Telat lagi!! Sebenarnya kamu ini mau jadi apa?” Melinda belum masuk rumah dia dihadang oleh Papahnya yang sepertinya sudah menunggu lama.
“Maaf Pah, tadi bisnya lama. Jadi Mel nunggu dulu,” alasan Melinda. Sebenarnya itu bukan alasan karena memang itu kenyataannya.
“Alasan kamu!!” sentak Papahnya diiringi dengan tamparan yang keras di pipi Melinda. Raveno yang melihat itu terbelalak.
Dia kira Papahnya Melinda tak akan berani melakukan itu pada wanita, tapi ternyata dia bisa. Itu berarti dugaannya selama ini benar. Luka-luka di tubuh Melinda adalah perbuatan Papahnya.
“Sebenarnya di mana Ibunya?” Raveno bertanya-tanya tentang keberadaan orang lain di rumah itu hingga taka da satupun yang menolong Melinda.
“Gak gitu Pah. Mel gak bohong.” Gadis itu sudah menangis tersedu-sedu.
“Dasar ******!! Mau jadi kaya Ibu kamu, hah?!! Mau ninggalin Papah dan jadi gadis murahan di luar sana?!! Mau jadi kaya Kakak kamu juga?!!”
Teriakan demi teriakan terus saja keluar dari mulut sang Papah. Hingga pria itu kembali mau menampar Melinda namun sebuah tangan kekar menahannya.
“Jangan gini Om!!” Ya, pria itu adalah Raveno. Dia sangat kesal melihat kelakuan Papahnya Melinda.
Melinda yang sudah menundukkan kepalanya siap-siap untuk mendapat tamparan, sekarang mendongak dan terkejut dengan kedatangan seseorang.
“Kamu ngapain di sini?” lirih Melinda agak heran. Raveno tak menjawab, dia masih fokus dengan pria paruh baya yang ada di hadapannya.
“Dia anak Om, dia juga perempuan!” Karena kesal, Raveno agak menaikan nada suaranya.
Papah Melinda menghentak tangan Raveno hingga terlepas. “Jangan ikut campur kamu!! Ini urusan saya sama anak saya!!” Tak ingin kalah, Papah Melinda juga mencari pembelaan.
__ADS_1
“Om masih bilang dia anak Om setelah apa yang Om lakuin ke dia!?” tanya Raveno muak.
Karena tak kuasa dengan segala macam pertanyaan Raveno, Papah Melinda mendengus kesal dan pergi meninggalkan mereka ke dalam rumah.
Raveno masih mematung di tempatnya. Dia belum berani menatap Melinda karena mungkin gadis itu akan marah dengan keberadaannya di sana.
“Kamu ngapain di sini?” Melinda kembali bertanya setelah dirasa dia tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang pertama.
Barulah Raveno berani untuk membalikkan dirinya menghadap gadis itu. “Sorry gue ngikutin lo,” lirih Raveno.
Melinda berdecak tak habis fikir dengan apa yang dilakukan Raveno. “Kalau kamu cuma penasaran dengan masalah hidup aku sekarang udah tau kan? Bisa kamu pergi?” Tak ada lagi Melinda yang lembut dan ceria. Gadis itu berkata dengan sangat dingin.
“Gue bukan penasaran Mel,” jawab Raveno. Melinda tertawa miris mendengar jawaban Raveno. “Terus apa kalau bukan penasaran?”
Raveno kelabakan mencari jawaban yang tepat dari pertanyaan yang diajukan Melinda. Melinda kembali menertawakan Raveno. “Gak ada jawabannya kan? Kamu itu cuma pena – “
“Gue suka sama lo!!” Raveno memotong ucapan Melinda yang berhasil membuat Melinda mematung dengan jawaban pria itu.
“Gue suka sama lo! Puas lo?!!” Pria itu membentak Melinda. “Gak ada gunanya gue ada di sini kalau lo bersikap gini.” Setelah mengatakan hal itu Raveno beranjak dari sana hendak pergi.
“Rav.” Melinda menahan Raveno dengan menarik tangannya agar pria itu tak pergi.
Raveno menghela nafasnya sebelum dia berbalik. “Apa lagi? Belum puas ledek gue? Mau lagi? Silahkan, gue terima semuanya!”
“Maaf,” cicit Melinda sambil menundukkan kepalanya. Tangisnya pecah saat mengucapkan hal itu.
Raveno yang pada dasarnya memang peduli dengan Melinda sangat terkejut ketika mendengar tangisan Melinda.
Pria itu langsung memegang kedua bahu Melinda dan berusaha melihat wajahnya. “Mel, lo gak apa-apa?” tanya Raveno panik.
Melinda masih menangis dan menggelengkan kepalanya. “Ada yang sakit?” Raveno kembali bertanya.
Melinda mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Raveno yang lebih tinggi dari dia sebelum kemudian mengangguk.
“Di mana yang sakit? Ini?” Raveno mengelus pipi Melinda yang tadi terkena tamparan Papahnya.
__ADS_1
Namun sepertinya tebakan Raveno meleset karena sekarang Melinda menggelengkan kepalanya.
“Hati Mel yang sakit.” Tangis Melinda kembali pecah. Gadis itu memegang dadanya. Tangisnya terdengar sangat memilukan.
Raveno yang mendengar itu tertegun sebelum kemudian dia membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“Nangis, gak apa-apa,” ucap Raveno. Mendengar tangisan Melinda, Raveno juga bisa merasakan gimana sakitnya gadis itu.
Melinda menangis dalam pelukan Raveno. Setelah beberapa lama, Raveno menjauhkan Melinda dari pelukannya. Dia memandang gadis itu.
“Ikut gue ya,” ucap Raveno lembut. Melinda terdiam cukup lama tak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu.
“Ke mana?” isaknya. “Rumah gue.” Tak menunggu jawaban dari gadis itu, Raveno segera membawa Melinda pergi dari sana.
Kali ini mereka tak lagi menunggu bis karena mereka memilih naik taksi. Sepanjang perjalanan Raveno menggandeng tangan Melinda.
Tangisan gadis itu juga sudah berhenti. Wajahnya memerah, apalagi di bagian mata, hidung dan bibir.
Ingin tersenyum karena lucu, tapi Raveno tak bisa karena masalah yang diderita Melinda cukup dalam. Dia tak ingin lagi dinilai hanya penasaran dengan gadis itu.
Ya, Raveno akui dia sudah jatuh untuk gadis itu. Dia mencintainya setelah sekian lama dia menolak gadis itu.
“Malam ini tidur di rumah gue.” Ucapan Raveno berhasil membuat Melinda menoleh kea rah pria itu dan menggelengkan kepalanya.
“Gak boleh. Mel harus pulang,” jawabnya panik. Raveno memegang bahu Melinda berusaha meyakinkan gadis itu.
“Gue tanggung jawab kalau ada yang terjadi sama lo. Gue bakal lebih khawatir kalau lo balik ke rumah,” jelas Raveno.
“Gak bisa Rav, nanti Papah marah,” lirihnya hendak menangis lagi.
“Gue bilang, gue yang bakal tanggung jawab. Gue gak bakal biarin dia kasarin lo lagi, oke.”
Seakan terhipnotis dengan ucapan Raveno, Melinda akhirnya mengangguk menyetujui rencara Raveno.
“Bagus,” ucap Raveno diiringi dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1