
Kencannya dengan Jeff sungguh luar biasa. Bila sangat senang, tak ada hari yang lebih indah dibandingkan dengan harinya bersama Jeff.
Malam tadi setelah dari pasar malam, Jeff mengantar Bila pulang karena hari juga sudah larut. Sebenarnya Bila terus merengek, dia tak ingin pulang. “Aku masih mau main.” Itulah ucapnya.
Dengan berbagai rayuan dan bujukan, akhirnya Bila setuju untuk pulang. Sebenarnya bisa saja Jeff membawa Bila ke apartemennya. Namun, dia merasa tak enak karena baru beberapa jam setelah dia bertemu dengan orang tua Bila.
“Jadi kan?” tanya Bila. Inilah salah satu syarat yang diajukan Bila.
“Iya nanti aku ke rumahmu,” jawab Jeff pasrah. Dia sudah berjanji jadi tak mungkin juga dia mengingkarinya.
Malam tadi Bila berkata akan pulang jika besok Jeff mau main ke rumahnya dan menghabiskan waktu di sana karena di rumahnya tak ada siapa-siapa.
Bukannya Jeff tak ingin, tapi rasanya akan canggung jika menghabiskan waktu di rumah Bila. Karena kalian tahu sendiri Jeff seperti apa.
Saat ini Bila sedang berada di ruangan Jeff setelah mata pelajaran Jeff berakhir. Mudah sana bagi Jeff untuk meminta Bila datang ke ruangannya hanya bermodalkan kalimat, “Bila, tolong bawakan buku ini ke ruangan saya.”
“Kamu gak mau ke kantin? Aku lapar,” ucap Bila sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Jeff. Sofa yang ada di ruangan Jeff terasa sangat nyaman bagi mereka.
Sedang nyaman-nyamannya bersandar di dada sang kekasih, dan belum juga Jeff menjawab pertanyaan Bila, suara ketukan pintu membuat keduanya membulatkan mata dan memandang satu sama lain.
“Siapa? Tanya Bila terkejut. Siapa tahu Jeff memanggil seseorang untuk datang ke ruangannya. Namun, dengan polosnya Jeff menggelengkan kepalanya.
“Aku tak memanggil siapapun,” jawab Jeff setelahnya.
“Kau sembunyi dulu di ... “ Jeff mengedarkan pandangannya mencari tempat yang bisa menjadi persembunyian Bila.
“Kamar mandi!” ucapnya spontan. Hanya itu tempat yang menurutnya agak aman di ruangannya.
Bila memandang Jeff tak menyangka. Bagaimana bisa dia ditempatkan di kamar mandi. Namun, Jeff tak mengindahkannya. Pria itu mendorong bahu Bila pelan untuk segera bersembunyi.
Setelah selesai dengan urusannya, Jeff sedikit merapikan pakaiannya agar tak terlihat terlalu kusut.
__ADS_1
Jeff membuka pintu dengan senyum palsunya.
“Ibu, ada apa Bu? Silahkan masuk,” ucap Jeff. Kepala sekolah yang selalu memerintahnya. Entah mengapa dia merasa sangat kesal dengan wanita yang sudah berumur ini karena tak ada habisnya mencari alasan untuk selalu menemuinya.
Kepala sekolah itu masuk ke ruangan Jeff dan menempatkan dirinya di sofa yang beberapa saat lalu Jeff duduki dengan Bila.
“Sebenarnya tak ada hal yang terlalu mendesak. Saya cuma mau menanyakan keadaan anak-anak setelah melalui bimbingan belajar.” Sebuah alasan yang sangat murahan.
Sebenarnya dia tak perlu menanyakan itu. Dia hanya tinggal duduk manis, Jeff yang akan bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan padanya dan Kepala Sekolah bisa melihat hasilnya nanti di akhir.
“Perkembangan mereka sangat pesat. Saya yakin delapan puluh persen mereka akan menjadi juara. Untuk dua puluh persen terakhir, saya akan segera meningkatkannya mulai sekarang,” jelas Jeff. Pria itu tetap menjawab pertanyaan Kepala Sekolah itu.
“Ada lagi yang lain, Bu?” tanya Jeff. Matanya sedikit melirik ke arah kamar mandi mengkhawatirkan kekasihnya yang berada di dalam sana.
“Sebenarnya tak ada. Tapi bisakah saya ikut ke kamar mandi? Ini sudah di ujung,” ucap Kepala Sekolah yang membuat mata Jeff terbelalak. Dia tak bisa membiarkan itu terjadi atau Bila akan ada dalam bahaya.
“Tidak!” teriak Jeff spontan yang membuat Kepala Sekolah terlonjak dan otomatis menatap Jeff dengan pandangan curiga.
Masih baik otaknya berjalan dengan cepat. Kepala Sekolah mengangguk dengan penjelasan Jeff.
Sementara itu gadis yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi terkekeh ringan karena alasan yang dibuat kekasihnya itu.
Awalnya dia merasa kesal karena Kepala Sekolah datang hanya untuk menanyakan hal yang tak penting. Tapi moodnya seketika berubah setelah hal itu.
“Ya sudah, kalau begitu saya kembali dulu,” ucap sang Kepala Sekolah kemudian keluar dari sana.
Jeff menghela napasnya dalam, merasa lega karena wanita itu sudah pergi dari sana. Dia segera teringat dengan Bila yang masih ada di kamar mandi.
Jeff berjalan ke arah kamar mandi, dia membuka pintu dan terlihat di sana Bila yang sedang tertawa dengan menutup mulutnya mencoba agar tak bersuara.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Jeff aneh melihat Bila tertawa setelah membiarkan gadis itu diam di kamar mandi untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Tidak, tidak. Aku hanya ingin tertawa saja,” ucap Bila sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu serius?” Jeff memegang bahu Bila memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Bila mengambil tangan Jeff yang ada di bahunya dan menarik pria itu untuk keluar dari kamar mandi.
Mereka kembali ke tempat awal mereka, yaitu sofa. “Alasanmu tadi lucu sekali.” Bila kembali terbahak mengingat kejadian beberapa saat lalu.
Jeff yang sadar Bila sedang menertawakan apa hanya menghela napas sambil memutar bola matanya. Di saat dia kelimpungan mencari sebuah alasan untuk menyembunyikan kekasihnya, di sana Bila malah tertawa dengan bahagia.
“Berhenti tertawa. Aku pusing mencari alasan, kamu malah bersenang-senang.” Jeff mengerucutkan bibirnya. Dia kesal karena kekasihnya itu.
Bila yang sadar akan marahnya Jeff segera memeluk Jeff erat. “Oke oke maafkan aku. Aku hanya merasa itu sangat lucu.” Bila mengeratkan pelukannya.
Jeff yang memang mudah terbujuk segera membalas pelukan Bila. Dia kembali tersenyum karena Bila mau membujuknya.
“Untung saja dia tak jadi ke kamar mandi,” ucap Jeff yang diangguki Bila dalam pelukannya.
“Kamu tadi bilang lapar kan? Mau ke kantin?” tanya Jeff. Bila menjauhkan badannya untuk melihat Jeff.
“Mau, tapi aku mau tetap sama kamu.” Bila kembali memeluk Jeff. Jeff yang dapat perlakuan seperti itu tentu saja sangat senang melebihi apapun. Sifat Bila yang manja seperti ini yang justru disukai Jeff.
Laras suka bermanja-manja dengannya, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda bila yang bermanja itu Bila. Sangat menggemaskan.
“Ya sudah, aku yang beli saja. Nanti aku bawa ke sini. Gimana?” usul Jeff. Bila terlihat sedikit berpikir sebelum kemudian mengangguk antusias.
Meski berkata demikian, Jeff tak kunjung melepaskan pelukannya, sebentar lagi. Dia masih sangat nyaman dengan posisinya saat ini.
Sedang nyamannya berpelukan, lagi-lagi sebuah gangguan datang. Ponsel Jeff yang berada di atas meja berdering. Otomatis mata kedua orang itu mengarah pada satu objek di hadapannya.
“Laras?” ucap Bila bertanya-tanya. Sementara Jeff menghela napasnya. Bila tak akan marah bukan?
__ADS_1