
"Bukan gitu Bang, belakangan ini gue emang lagi sibuk banget. Dewa juga kan sibuk sama basketnya. Malu lah gue kalau main ke rumah sendirian aja."
Raveno berusaha mencari alasan yang tepat.
Rangga mengangguk paham. "Jadi, ada apa nih? Tumben main ke sini?" tanya Rangga. Dia masih berkutat dengan kopinya, namun dia juga berbicara dengan Dewa dan Raveno.
"Gini Bang. Sorry gue datang tiba-tiba. Gue dengar lo lagi perlu karyawan buat di sini ya?" Raveno langsung menanyakan kebenaran tentang hal yang dikatakan Dewa tadi di sekolah.
"Hhmm gue lagi butuh buat kasir. Kasir lama resign karena sakit," jawab Rangga.
"Kalau lo izinin gue mau kerja di sini Bang." Selesai mengatakan hal tersebut, Rangga berhenti dengan kegiatannya.
Dia memandang Raveno tak percaya. "Lo kalau mau main-main mending gak usah di sini lah."
Dia sama sekali tak percaya jika Raveno ingin bekerja di tempatnya karena dia tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Raveno.
"Kok main-main sih Bang? Gue serius." Raveno berusaha memperlihatkan betapa serius niatnya itu.
"Apa motif lo mau kerja di sini? Kenapa gak di perusahaan Ayah lo aja?" tanya Rangga. Dia cukup percaya jika Raveno mampu bekerja di perusahaan Ayahnya.
"Nah itu dia Bang. Gue butuh yang kerjanya malam karena kalau siang kan gue sekolah. Kalau di perusahaan Ayah gue harus siang dong."
Alasan yang dikatakan Raveno memang benar. Dia harus meninggalkan sekolahnya jika ingin bekerja di perusahaan Ayahnya.
"Jadi gimana Bang?" tanya Raveno. "Siang juga oke kalau gue lagi gak sekolah. Cuma kalau sekolah gue gak bakal masuk kerja Bang."
Raveno bersedia jika hari libur dia juga harus bekerja.
Rangga menoleh pada Dewa meminta pendapat adiknya itu. Dewa mengangguk pertanda dia mempercayai temannya untuk bekerja di sana.
"Oke kalau gitu mulai besok lo kerja di sini." Raveno tersenyum lebar ketika Rangga menerimanya.
"Serius kan Bang?" tanyanya masih tak percaya. Rangga mengangguk. "Atau lo berharap gue tolak lo?" ancam pria itu.
"Enggak Bang enggak." Raveno dengan cepat menggeleng.
"Makasih Bang." Selesai sudah urusannya. Sekarang dia hanya perlu pulang dan membawa Melinda ke tempat barunya.
"Kalau gitu sekarang gue pulang dulu Bang, Dew," pamit Raveno pada kedua orang itu.
"Iya. Hati-hati di jalan." Raveno mengangguk. Dia melenggang meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagianya.
"Kaya suami yang mau cari duit buat istrinya tekat gue sekarang," kekehnya.
Dia berharap tak ada yang mendengar ucapannya barusan.
__ADS_1
Raveno melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia merasa sangat bahagia karena semua berjalan sesuai dengan rencananya.
Raveno tiba di halaman rumahnya dan bertepatan dengan itu juga dia melihat Melinda keluar dari rumahnya dengan seragam sekolahnya.
Raveno segera turun dari motornya dan melepaskan helmnya. Tak lama sang Bunda juga datang dari dalam rumah.
"Mel, Rav gak akan izinin kamu pulang," teriak Bundanya karena jarak mereka memang cukup jauh.
"Mau ke mana lo?" Melinda terlihat terkejut dengan kedatangan Raveno. Sementara Bundanya berhenti berjalan ketika dia sadar jika Raveno berada di sana.
Biarkan anaknya itu yang mengurus sisanya.
"Rav, udah pulang? Mel izin pulang ya. Makasih tumapangannya." Melinda berkata dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
"Pulang ke mana?" tanya pria itu seolah mengatakan jika Melinda tak memiliki rumah lagi selain di sana.
"Rumah Mel. Emang Mel mau pulang ke mana lagi?" Melinda terkekeh.
"Rumah lo? Rumah lo bilang? Lo mau di siksa lagi sama bokap lo?!" bentak Raveno yang berhasil membuat Melinda terlonjak.
Bundanya mendekat dan mengelus lengan Raveno. "Bang, gak boleh gitu."
Raveno memejamkan matanya. Dia sangat benci melihat Melinda yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa di rumahnya.
"Tapi… "
"Gak ada tapi. Kita ngomong dulu di dalam." Raveno menarik lengan Melinda masuk ke dalam rumahnya.
Setelah ketiganya duduk di sofa, kebetulan di sana juga ada Dita sehingga Raveno meminta adiknya juga ikut duduk.
"Ada yang mau Abang omongin sama kalian. Sebelumnya Abang juga udah minta izin sama Ayah dan Ayah setuju."
Raveno mencoba menjelaskannya sebaik mungkin agar tak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Kalau gitu harusnya Mel gak boleh ada di sini, ini kan urusan keluarga kalian." Melinda hendak berdiri dan pergi dari sana.
"Duduk! Siapa yang suruh lo pergi?" Dia sudah sangat lelah, apakah Melinda juga akan membuatnya tambah lelah?
Melinda menciut setelah mendengar itu. Dia kembali duduk dengan wajah menunduk.
"Gini Bun, tentang hal yang kita omongin tadi pagi, Abang udah minta izin sama Ayah dan Ayah gak izinin."
Bundanya menoleh ke arahnya dan meminta penjelasan lebih.
"Tunggu dulu, Dita gak ngerti apa yang kalian omongin," kesalnya.
__ADS_1
"Oke kita mulai dari awal. Bun, Dit dia Melinda orang yang Abang suka."
Melinda yang mendengar itu mendongakkan kepalanya. Dia tak mengira jika Raveno akan berkata seperti itu di depan keluarganya.
"Ada hal yang terjadi sama dia hingga Abang bawa di ke rumah. Dan sekarang Abang gak mau kehilangan dia. Abang gak mau dia balik ke rumahnya. Abang mau dia tinggal di sini sama kita."
Lagi-lagi hal yang dikatakan Raveno membuat Melinda menganga.
"Rav, apaan sih?" ucap Melinda.
Raveno menghiraukan Melinda dan dia lebih memilih melanjutkan ucapannya.
"Abang udah minta izin sama Ayah tapi Ayah gak kasih izin dengan alasan kita belum sah dan apa kata tetangga nantinya."
Mereka mendengarkan dengan seksama penjelasan Raveno.
"Tapi Ayah kasih saran yang mungkin bisa lebih baik daripada Melinda tinggal di sini."
"Apa?" Kali ini Dita yang bertanya.
"Ayah beliin Abang apartemen." Dita terbelalak mendengar hal itu.
Semudah itu Ayahnya memberikan apartemen kepada Abangnya.
"Buat gue gak ada?" tanya Dita. Dia juga ingin.
"Minta sama Ayah sendiri."
"Jadi buat kedepannya lo bisa tinggal di sana. Gue juga bakal datang ke sana sekali-kali," lanjut Raveno
Melinda menggelengkan kepalanya. Dia tak bisa menerima kebaikan Raveno yang sangat besar ini.
"Rav, maaf. Tapi kayanya Mel gak bisa," tolaknya.
Raveno mengernyit. Setelah segala perjuangan yang dia lakukan Melinda malah menolaknya?
"Apa yang bikin lo nolak?" tanya Raveni berusaha tenang.
"Mel udah bilang semalam kan?"
"Bisa gak lo peduliin diri lo dulu sebelum bokap lo?" tanya Raveno mulai kesal.
Melinda yang mendengar itu dari mulut Raveno juga tersulut. Meski Ayahnya kasar padanya, tapi bagaimanapun itu juga ayahnya.
"Rav gak berhak nilai Ayah Mel gitu aja." Mel tenang namun ucapannya kali ini sangat menusuk.
__ADS_1