Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
75. Apartemen


__ADS_3

Raveno sudah berpikir ratusan kali dan jawaban yang dia dapat masih sama. Dia ingin melindungi Melinda. 


Gadis rapuh yang selama ini bersikap seolah tak ada yang terjadi rupanya serapuh itu. 


Raveno mengeluarkan ponselnya. Di jam istirahat ini temannya sudah mengajaknya ke kantin tapi dia menolaknya. 


"Ke kantin ga, Rav?" Tanya Dewa teman satu kelasnya yang biasa pergi bersama. 


"Enggak. Kalian duluan aja." Memang Dewa tak pergi sendiri, dia juga bersama teman kelanya yang lain. 


Dewa mengangguk dan meninggalkan Raveno di sana sendirian. 


Dia benar-benar sendirian karena seluruh anak kelasnya pergi. Mungkin ada yang ke kantin, toilet atau kemanapun Raveno tak peduli. 


Dia mencari kontak Ayahnya. Keputusannya sudah bulat untuk bertanggung jawab atas Melinda. Raveno mendekatkan ponsel ke telinganya setelah dia menyentuh tombol hijau di ponselnya. 


"Hhmm Bang, jadi gimana?" tanya Ayahnya dari sebenarang sana. 


"Abang setuju Yah. Abang yang akan biayain dia selanjutnya." 


"Oke kalau gitu Ayah akan urus semuanya. Untuk dokumen dan kuncinya nanti Ayah kasih kamu kontak teman Ayah." 


Raveno mengangguk. Dia mengerti dengan yang dikatakan oleh Ayahnya. 


"Makasih, Yah. Kalau gitu Abang tutup telponnya ya." 


Raveno benar-benar menutup telponnya setelah pembicaraannya selesai. 


"Sekarang gimana cara gue buat biayain hidup dia?" Raveno memegang kepalanya dan berusaha memutar otakknya untuk berpikir. 


"Woyy kenapa lo?" Rupanya Dewa sudah kembali ke sana. 


Raveno sedikit terlonjak dengan kedatangan temannya itu yang tiba-tiba. 


"Enggak. Kok cepat banget?" tanya Raveno. Jika dia tak salah ingat, Dewa baru saja pergi beberapa saat lalu. 


"Hhmm gue gak jadi makan. Kantin penuh banget." Dewa mendudukkan dirinya di depan Raveno dengan badan yang berhadapan dengan Raveno. 


"Jadi kenapa? Kayanya lo lagi pusing banget?" Dewa kembali bertanya. 


Bukan hanya ingin tahu tapi dia memang peduli dengan temannya itu. 


Ya, bisa dikatakan jika Dewa adalah salah satu teman dekat Raveno. 


"Lo ada kerjaan? Gue mau kerja." Pertanyaan Raveno yang tiba-tiba membuat Dewa mengeryit. 


"Lo diusir dari rumah?" tanya Dewa. Setahu dia, Raveno berasal dari keluarga yang berkecukupan bahkan kaya. Lalu kenapa pria itu mencari kerja? 


"Bukan. Gue cuma mau kerja aja. Lo ada gak? Tapi kalau bisa yang malam, soalnya siang kan gue sekolah."

__ADS_1


Dewa memandang wajah Raveno curiga. 


"Waahh lo hamilin anak orang ya?" Dewa menunjuk Raveno dengan tatapan horonya. 


Raveno yang ditatap seperti spontan menampar kepala Dewa cukup keras. 


"Otak lo terbuat dari apa sih!" kesalnya. Dia hendak pergi dari sana karena percuma berada di sana dia tak mendapatkan hasil apapun. 


Tapi tangannya dicekal oleh Dewa. "Weh tunggu dulu! Baper banget sih lo." 


Dewa berdiri dan berhadapan dengan Raveno. 


"Kebetulan Abang gue lagi butuh karyawan buat di caffe barunya. Lo mau?" tawar Dewa. 


Awalnya dia akan mencari orang lain karena kebanyakan temannya berasal dari keluarga kaya hingga mereka tak akan mau jika ditawari pekerjaan seperti itu. Tapi siapa sangka justru teman terdekatnya sangat membutuhkannya. 


"Gak jauh dari sini kan?" tanya Raveno. 


Dewa menggeleng. "Enggak. Ada dekat rumah gue. Jadi gimana? Lo tertarik? Kalau lo mau nanti gue bilang sama Abang gue buat gak usah cari orang lagi."


"Oke gue terima. Tapi bisa gue ketemu Abang lo dulu?" 


Dewa mengangguk. "Nanti pulang sekolah ikut aja langsung ke tempatnya. Abang gue pasti ada di sana," ucap Dewa yang langsung disetujui oleh Raveno. 


Ponselnye bergetar tanda ada pesan yang masuk. 


Raveno melihatnya, rupanya itu adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk apartemen itu. 


Tentu saja dia harus memastikan apartemen itu dulu karena itu yang terpenting. 


"Iya santai aja. Mau malam sambil main ke sana juga gak apa-apa." Dewa menepuk pelan lengan Raveno dan Raveno menganggukkan kepalanya. 


"Oke, thank's." Raveno membalas tepukan Dewa di lengannya. 


**** 


Waktu berlalu hingga jam pulang sekolah tiba. Raveno bergegas ke alamat yang telah diberikan kenalan Ayahnya. 


Rupanya tempat itu tak terlalu jauh dari sekolah. Dan sepertinya ini adalah lokasi yang strategis. 


"Semoga ini keputusan yang tepat," ucapnya. Raveno segera berjalan mendekti gedung yang sangat besa itu. 


Sepertinya ini kawasan elit sehingga sarana yang ada di sana juga sangat lengkap. 


Dia memasuki apartemen yang dibicarakannya tadi. Ruangannya lengkap dan luas. Ada dua kamar tidur juga di sana. 


"Raveno?" tanya seseorang yang mungkin sejak tadi sudah ada di sana. 


Raveno menengok ke arah suara itu dan benar saja di sana ada orang dengan pakaian yang sangat lengkap. 

__ADS_1


Mereka berbicara panjang lebar tentang pembelian itu dan orang itu juga menjelaskan apa-apa saja yang telah ditanggung oleh ayahnya. 


"Oke terima kasih atas kepercayaannya. Kalau begitu saya permisi dulu." Raveno mengangguk. Orang itu pergi dari sana sementara Raveno masih di sana. 


"Semoga dia betah ada di sini," ucapnya. 


Setelah puas berada di sana, Raveno akhirnya pergi dari sana. Satu urusannya sudah selesai, dia harus melanjutkan ke urusan yang lainnya. 


Rumah Dewa. Awalnya dia ingin langsung ke lokasi kerjanya tapi sayang dia tak tahu di mana tempatnya jadi dia harus bertemu terlebih dahulu dengan Dewa. 


Rumah Dewa terlihat besar dan  megah. 


"Sebenarnya apa lagi yang dicari keluarga sekaya dia? Kenapa tetap mencari uang," kekehnya tanpa dia sadari dia juga saat ini ada di posisi yang sama. 


"Permisi," sapa Raveno pada satpam penjaga rumah itu. 


"Cari siapa?"


"Dewa ada? Saya temannya." Meskipun mereka berteman lumayan lama, tapi Raveno memang jarang main ke rumah temannya itu. 


"Woyy Rav." Belum juga satpamnya itu menjawab, Dewa sudah menghampirinya. 


Sadar jika majikannya mengenal orang yang sedang berdiri di luar itu, satpam langsung membukakan gerbangnya. 


Raveno masuk ke rumah itu. "Jadi di mana tempatnya?" tanya Raveno tak sabar. 


"Sabar, kenapa sih kok kaya buru-buru banget?" tanya Dewa. 


Raveno mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan temannya. 


"Hhmm gue buru-buru. Jadi bisa kita langsung ke sana?" 


Dewa tak protes, dia segera mengambil motornya dan mereka melaju ke tempat itu berada. 


Benar apa yang dikatakan temannya itu, tempatnya tak jauh dari rumah Dewa begitupun dengan sekolah. 


Mereka tiba di sana. Desain caffe yang indah adalah hal yang pertama kali bisa memanjakan indera penglihatan Raveno. 


"Yuk masuk. Abang gue ada di dalam," ajak Dewa. 


Banyak sekali wanita yang berkunjung ke sana. Mata mereka memperhatikan Abang Dewa yang sedang membuat kopi. 


"Bang!" Karena teriakan Dewa itu seluruh perhatian malah menuju pada mereka sekarang. 


Begitupun dengan Rangga yang sedang membuat kopi. 


Rangga adalah Abang Dewa. Dia pemilik tempat ini tapi dia juga yang menyeduh kopi untuk para pelanggannya. Mungkin itu salah satu daya tarik di sana. 


"Bang, sehat?" tanya Raveno ragu. Sudah lama sekali dia tak bertemu dengan Rangga. 

__ADS_1


"Sehat, sombong banget lo jarang main ke rumah." Mereka memang sudah saling mengenal sebelumnya. 


__ADS_2