Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
92. Membaik


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan Dokter. Tadi Jeff masih dalam pengaruh obat bius, buktinya saat ini dia telah membuka matanya.


“Bil,” lirihnya. Suaranya serak saat memanggil istrinya itu. “Hmm? Kenapa, ada yang sakit? Atau mau sesuatu?” tanya Bila. Gadis itu menjadi lebih perhatian pada suaminya.


Jeff menggelengkan kepalanya. Saat ini mereka hanya berdua di ruangan itu karena orang tua Bila dan Tuan Adhinata memilih menunggu di luar dan memberikan mereka ruang untuk berbicara.


“Akum mau bilang sesuatu,” ucap Jeff. “Apa?” tanya Bila lembut. Gadis itu menggenggam tangan Jeff dan membawanya ke pipinya.


“Aku berhasil buktiin kalau Laras bohong,” ucap Jeff. Demi Tuhan, bahkan di saat seperti ini Jeff masih membicarakan masalah itu.


Bila sedang tak ingin membahas itu karena poin utamanya saat ini adalah kesehatan Jeff. Maksudnya, jika kepergian pria itu sebelum kecelakaan adalah untuk membuktikan kebohongan Laras, maka dia akan lebih memilih tak tahu kebohongan Laras.


“Kamu serius mau ngomongin ini? Bahkan kondisi badan kamu aja kaya gini,” timpal Bila. Namun, Jeff tetap mengangguk. Sepanjang jalan tadi sebelum dia mengalami kecelakaan, yang dia pikirkan hanya satu, yaitu memberitahu Bila jika Laras selama ini sudah menipunya.


“Laras nipu kita.” Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Bila. “Apa maksud kamu?” Bila masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya.


Awalnya dia tak ingin membicarakan masalah ini, namun setelah mendengar hal itu, dia menjadi berubah pikiran.


“Selama ini Laras gak hamil,” jawab Jeff. Bila mengernyit berusaha mencerna ucapan suaminya.


“Kamu ini mimpi? Jelas-jelas waktu dia datang ke rumah perutnya itu buncit. Aku yakin kok kalau dia lagi isi saat itu.” Bila mencoba kembali membayangkan bagaimana tampilan Laras waktu datang ke rumah mereka.


“Aku juga mikir gitu selama ini. Tapi ternyata dugaan kita salah. Kemarin waktu kita bertengkar, aku pergi ke rumahnya. Perutnya rata, tak terlihat seperti dia hamil.”


“Jadi selama ini … “


“Hmm, dia pake alat buat bikin dia kaya orang hamil. Aku gak tau alat kaya apa, tapi aku yakin kalau dia gak hamil dan dia gak nyangkal itu sama sekali,” jelas Jeff.


Bila menutup mulutnya sangat terkejut. “Jadi selama ini dia pura-pura hamil buat meras kamu?” Bila kembali menduga apa yang diinginkan gadis itu dari suaminya.


“Aku mikirnya gitu. Maaf aku ngomongin ini, tapi kamu tau kan kalau dia mantan aku?” tanya Jeff yang diangguki oleh Bila.

__ADS_1


“Dulu waktu kita pacaran, dia juga sering minta aku buat antar dia belanja. Dia gak pernah mau belanja barang murah. Dia selalu pilih barang mahal walaupun barang lama dia masih bagus.”


Bila mendengarkan ucapan suaminya dengan serius. Jeff memang tak pernah menceritakan hal ini, tapi Jeff pernah mengatakan jika Laras adalah mantannya.


“Jadi kayanya wajar kalau dia lakuin cara kaya gini buat dapat uang dari aku,” lanjut Jeff.


“Tapi menurut aku ini gak wajar. Wanita mana yang akan lakuin itu cuma demi kepuasannya sendiri? Apalagi pria yang dia dekati itu sudah beristri.” 


Apa yang dikatakan Bila juga benar. Lalu Jeff harus mengatakan apa dengan semua hal yang terjadi?


“Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Yang penting sekarang kita udah tau kalau dia bohong.”


Jeff mengangguk menjawab ucapan Bila. Lagipula tujuan awal dia hanya ingin mengatakan jika Laras menipu mereka bukan untuk membicarakan masa lalunya.


“Aku mau tanya soal kecelakaan ini, kenapa bisa gini?” tanya Bila mulai merasa panik lagi.


“Hmm. Waktu itu pikiran aku lagi kacau. Ada rasa bahagia karena akhirnya aku bisa buktiin ke kamu kalau Laras bohong sama kita. Jadi, aku ngendarain mobil sangat cepat.”


“Lain kali kalau lagi banyak pikiran gak usah bawa mobil dulu. Aku gak mau kamu gini lagi. Kamu gak tau gimana khawatirnya aku waktu berita itu lewat di televisi,” ucap Bila.


“Maaf karena udah bikin kamu khawatir. Lain kali aku bakal lebih hati-hati.” Jeff menggenggam tangan Bila dengan erat sebagai permintaan maafnya.


**** 


 “Bagus ya, mentang-mentang udah ada pacar jadi gak inget pulang,” ucap wanita paruh baya yang baru saja membuka pintu.


Ya, itu adalah Bundanya Raveno. Pria itu mendapatkan jeweran di telinganya padahal dia baru saja tiba di rumahnya.


“Aduh Bun, ini Abang baru sampai loh,” protes Raveno tak terima. “Sini kamu, masuk.” Bundanya menjewernya dan menariknya masuk ke dalam rumah.


“Bunda, kasian loh Rav.” Kali ini Melinda yang bicara. Meski dia tau jika jeweran Bundanya itu tak kencang, tetap saja dia merasa tak tega melihat kekasihnya seperti itu.

__ADS_1


Setelah itu barulah Bundanya melepaskan jewerannya. Mereka duduk di ruang keluarga, di sana juga ada Dita yang sedang betah menonton televisi.


“Lah kalian? Kirain siapa,” ucap Dita saat melihat Abangnya datang. “Belajar, malah nonton tv mulu,” ucap Raveno.


“Mening gue nonton tv, daripada lo pacarana mulu.” Dita menjulurkan lidahnya tak mau kalah.


Raveno menghampiri adiknya dan memitingnya yang membuat Melinda dan Bunda Raveno terkekeh melihat itu.


Sudah agak lama dia tak melihat hal itu karena Raveno juga jarang pulang ke rumah semenjak Ayahnya membelikannya apartemen.


“Udah Bang, jangan godain adek kamu terus.”


“Abisnya dia ngeselin, Bun.” Raveno mencari pembelaan. Bundanya hanya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.


“Udah makan belum?” tanya Bunda Raveno pada Melinda karena Raveno masih sibuk dengan Dita.


“Udah, Bun. Baru aja sebelum berangkat ke sini kita makan dulu,” jawab Melinda yang diangguki Bunda Raveno.


“Gimana? Betah di sana?” Melinda mengangguk. Dia menggenggam tangan Bundanya dan menatapnya dengan lekat.


“Bunda, makasih ya udah terima Mel di sini. Mel gak tau mau jadi apa Mel kalau kalian gak nampung Mel,” lirih Melinda.


Jika taka da Raveno dan keluarganya, mungkin dia akan menjadi sebatangkara setelah Papahnya masuk rumah sakit jiwa.


“Gak boleh gitu. Raveno sayang kamu dan apapun yang Raveno sayangi akan selalu jadi kesayangan Bunda juga. Jadi jangan bilang gitu lagi ya. Sekarang kita keluarga,” jawab Bunda Raveno.


Melinda mengangguk dengan lemah. “Kali-kali nginep di sini juga gak apa-apa. Di rumah sepi banget kalau cuma Bunda sama Dita.”


Seperti yang kalian ketahui jika Ayah Raveno tak sering datang ke rumah, itulah alasan kenapa Bundanya mengatakan rumah selalu sepi.


Melinda mengangguk menjawab ucapan Bunda Raveno.

__ADS_1


__ADS_2