
Melinda, kini gadis itu sudah menyerah. Dia tak akan mengganggu Raveno lagi, tapi dia hanya akan memperhatikan pria itu dari jauh.
Setelah kejadian Raveno yang ditampar oleh Papahnya, dia merasa sangat menyesal. Jika saja waktu itu Raveno tak mengantarnya pulang, mungkin Raveno tak akan mengalami hal itu.
Menyerahnya gadis itu bukan berarti dia tak sayang lagi, tapi justru karena dia sayang. Dia tak ingin Raveno mendapatkan rasa sakit yang lebih jika Melinda tetap memaksakannya.
Gadis itu berjalan hendak pergi ke UKS, dia melihat Raveno berjalan berhadapan dengannya. Sengaja dia membelokan badanya untuk menghindari pria itu.
“Mel!” teriak Raveno. Dia sangat sadar jika saat ini Melinda sedang menghindarinya. Melinda menulikan pendengarannya dan tetap melanjutkan langkahnya.
Sejenak Melinda merasa lega karena suara pria itu sudah tak terdengar lagi. Namun dia berhasil dibuat terlonjak dengan hal selanjutnya yang dia alami.
Sebuah tangan menariknya hingga melinda berhadapan dengan orang itu. “Lo kenapa sih?” tanya Raveno.
Ya, tadi Raveno memilih tak lagi memanggil Melinda dan menahan gadis itu saja. Melinda mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang ada di hadapannya itu.
“Kenapa Rav? Mel gak kenapa-kenapa,” ucapnya diiringi dengan senyuman tulus di wajahnya.
Raveno berdecak. Dia muak dengan segala kebohongan yang dilakukan oleh Melinda.
“Gue tau lo ngehindarin gue! Jangan berani bohong sama gue!” bentak Raveno. Saking kesalnya, bahkan pria itu tak sadar mengeratkan pegangannya di tangan Melinda hingga tangan gadis itu memucat.
“Aw sakit Rav.” Melindaa berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Raveno. Namun, bukannya terlepas, cengkraman Raveno malah semakin kuat.
“Jawab gue dulu!!”Lagi-lagi Raveno membentak Melinda. Hal itu sukses membuat Melinda juga kesal.
“Jangan kasar bisa gak sih?!!” Ya, Melinda adalah tipe wanita yang sangat benci dengan kekerasan.
Tubuh Raveno mematung ketika Melinda membentaknya. Sejauh ini pria itu tak pernah melihat Melinda marah, tapi saat ini gadis itu sepertinya sangat marah.
“S-sorry, gue gak sengaja,” ucap Raveno tergagap. “Diem di situ, jangan ikutin Mel lagi!!” Melinda menunjuk ke arah di mana Raveno sedang berdiri.
Dia meninggalkan Raveno di sana masih dengan keterkejutannya. Dia juga dengan patuh diam di tempat tanpa mengikuti Melinda lagi.
__ADS_1
“Lah, kenapa gue patuh banget?” Setelah beberapa saat akhirnya dia sadar dengan apa yang dia lakukan.
Setelah menyadarinya, Raveno segera beranjak dari sana untuk mencari Melinda. Marah Melinda tak membuat dirinya berhenti untuk mencari kebenarannya.
Sementara itu, kini Melinda berada di UKS untuk melanjutkan niatnya yang sempat tertunda karena Raveno.
“Shh sakit banget.” Melinda mengompres bagian sudut bibirnya yang memar. Sekalian juga dia mengompres pergelangan tangannya yang membiru akibat cengkraman Raveno.
“Kenapa jadi kasar sih?” ucapnya. Dia berbicara sendiri karena memang di sana tak ada siapapun selain dirinya.
“Gue minta maaf, tadi kelepasan.” Sebuah suara bariton membuaat Melinda membalikkan badannya.
Pria yang baru saja datang itu merebut kompres dari tangan Melinda dan menarik gadis itu untuk duduk di brankar.
“Gak perlu, biar Mel aja. Mel bisa sendiri kok.” Melinda hendak merebut kembali apa yang diambil Veno, tapi Veno segera menjauhkannya dari jangkauan Melinda.
“Duduk!” Sebuah perintah yang terdengar mutlak dan jika Melinda menolaknya dia yakin akan mendapatkan hukuman.
Cukup lama mereka terdiam hingga mereka merasa menjadi canggung satu sama lain. “Tetap gak mau bilang sama gue siapa yang lakuin ini?” tanya Raveno.
Pandangan Melinda berubah serius. Dia menatap tajam netra Veno. “Melinda yang harusnya tanya sama Rav. Kenapa jadi perhatian kaya gini? Bukannya dulu Rav sering usir Mel kalau Mel mau ketemu Rav. Udah cinta?” tanya Melinda.
“Ngarep lo!!” sentak Veno yang membuat Melinda terkekeh miris. “Itu kamu udah tau jawabannya kan? Mel gak akan kasih tau apapun sama kamu. Kamu gak ada hak.” Setelah mengatakan hal itu, Melinda pergi dari sana meninggalkan Veno yang masih memegang kompresan.
Pandangannya kosong, otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Melinda. Benar apa yang dikatakan gadis itu. Kenapa dia menjadi peduli? Bukannya bagus sekarang Melinda menghindarinya? Tak ada lagi yang akan mengganggu hidupnya.
****
“Ehh ehh kenapa tuh anak nangis?”
“Gak tau. Ditolak Raveno kali.”
“Bagus sih, lagian jadi cewek kok genit banget.”
__ADS_1
Desas-desus yang terdengar oleh Melinda ketika dia hendak kembali ke kelasnya setelah dia meninggalkan Raveno di UKS.
Ya, dia menangis. Ada rasa sakit di hatinya ketika dia mengatakan hal itu pada Raveno. Tapi jika begitu, Raveno tak akan berhenti penasaran dengan hidupnya.
“Ya, dia cuma penasaran kok.” Melinda berusaha meyakinkan jika Raveno tak sedang menaruh hati padanya.
“Di jaga lo kalau ngomong!!” Lagi dan lagi, Raveno selalu ada di sekitarnya. Setelah Melinda tiba di kelas, dia mendengar suara Raveno yang membentak orang yang mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya.
“Emang gitu kan kenyataannya?” Rupanya orang itu tak mau kalah.
“Jangan mikir karena lo cewek, gue gak akan berani sama lo ya. Kalau sekali lagi gue sampai dengar hal yang enggak-enggak dari mulut lo, awas lo!!” Raveno murka.
Melinda mendengar semua yang pria itu katakan. Tapi dia tak ingin ikut campur. Dia lelah, dia hanya ingin tidur untuk saat ini.
“Lo baik-baik aja?” Dewi, teman sebangku Melinda bertanya. Selama di sekolah, mungkin hanya gadis itu yang selalu menanyakan keadaannya.
Tapi mereka memang tak sedekat itu. Mungkin Dewi peduli padanya juga karena dia adalah ketua kelas.
“Aku gak apa-apa,” jawab Melinda mendongakkan kepalanya sebelum kemudian dia kembali menelungkupkannya di atas meja.
“Kalau lo sakit bilang ya,” lanjut Dewi yang kemudian diangguki oleh Melinda.
Di luar sana Raveno masih memperhatikan Melinda. Raveno bisa melihat jika Melinda terlihat sangat kelelahan.
“Sebenarnya apa yang terjadi di hidup lo, Mel,” lirih Raveno. Yang dia tahu selama ini adalah Melinda si gadis cantik yang selalu mengejarnya.
Tak pernah ada kata sedih dan menyerah dalam hidupnya. Meski sekarang gadis itu berusaha terlihat kuat dihadapannya, namun semuanya terasa beda.
Ada sorot di matanya yang mengatakan jika dia ingin menyerah. Ada juga sorot yang menjelaskan jika dia ingin meminta pertolongan.
“Lo cukup bilang ke gue apa yang lo mau dan gue akan kabulin itu semua.” Entah Raveno sadar atau tidak ketika dia mengatakan hal itu.
Jika dia tak salah ingat, Melinda mulai menjadi seperti itu ketika Raveno mengantarnya pulang. Ya, tepat di mana Papah Melinda menampar Raveno.
__ADS_1