
“Terakhir gue pergi dari rumah, mereka gak tau kalau gue hamil. Tapi...” Bila menggantungkan kalimatnya.
“Tapi?” Raveno penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Bila.
“Gue gak tau. Beberapa hari lalu, gue ketemu sama Pak Jeff.” Raveno terbelalak. “Dia ada di sini?” tanyanya.
Bila mengangguk sambil membenarkan posisi duduknya menghadap Raveno. “Gue takut sekarang dia masih cari gue. Gue gak mau ketemu lagi sama dia,” ujar Bila memelas.
“Tenang aja. Kalau itu yang lo mau, gue gak akan biarin dia nemuin lo,” jawab Raveno dengan yakin.
“Tapi kemungkinan dia udah kasih tahu keberadaan gue sama orang tua gue. Kalaupun gue menghindar, gue yakin gak akan bisa. Orang tua gue pasti nemuin gue.”
“Terus gimana?” Raveno sama sekali tak membantunya.
“Gue cerita sama lo berharap lo kasih saran buat gue. Kalau malah gue lagi yang mikir, percuma gue kasih tahu lo semuanya,” kesal Bila. Dia membalikan badannya tak lagi menatap pria itu.
Bibirnya mengerucut karena kesal. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. “Sorry, abisnya gue juga bingung.” Keadaan hening untuk beberapa saat.
“Lusa gue udah pulang lagi ke Indonesia. Lo mau ikut gue?” Bila memandang Raveno dengan lekat.
Apakah dia harus mengikuti Raveno, atau harus tetap tinggal di sana?
****
“Bagaimana, apa kalian sudah menemukannya?” tanya Tuan Harla pada orang di seberang sana.
Sudah terhitung hari ketiga orang-orangnya mencari Bila di Negeri Ginseng, namun gadis itu belum juga ditemukan.
Tentu saja, semenjak kejadian dia bertemu dengan Jeff, dia tak pernah keluar rumah. Semua anak didiknya dia minta untuk belajar di rumahnya.
“Belum, Tuan. Kita sudah mencarinya ke tempat-tempat yang mungkin Non Bila datangi. Tapi tak ada satupun tanda-tanda bahwa beliau ada di sini,” jelasnya.
Tuan Harla menghela napasnya begitupun dengan Bunda Erina. Dia mendengar semua percakapan yang barusan suaminya lakukan.
“Baiklah. Cari sampai ketemu. Kabari aku jika ada kemajuan atau hal yang janggal.”
“Baik Tuan.”
__ADS_1
Tuan Harla sedikit gelisah karena anak buahnya tak kunjung menemukan putrinya. “Kamu di mana, Bil,” lirihnya. Tanpa dia tahu di sana putrinya juga sangat merindukannya.
Gadis yang selama ini selalu ada dalam ingatan Tuan Harla kini berada di bandara bersama Raveno dan keluarganya.
“Lo yakin?” tanya Raveno sekali lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya dia bertanya seperti itu.
“Panas telinga gue lama-lama. Udah gue bilang, gue yakin.” Bila mencoba meyakinkan Raveno kembali.
“Oke, kalau gitu gue pergi sekarang. Jaga diri selama gue gak ada. Gue bakal lakuin apa yang lo minta,” ujar Raveno yang mendapatkan anggukan dari Bila.
Bila mengalihkan perhatiannya pada Dita dan juga Bunda Dian, Bundanya Raveno. “Semoga selamat sampai tujuan, Tante, Dit,” ucap Bila sambil menyalami mereka satu persatu.
“Padahal Veno udah senang banget loh waktu kamu bilang mau ikut pulang.” Mendengar Bundanya berkata demikian, Raveno sedikit menyenggol Bundanya memberikan kode agar tak membocorkan rahasianya pada gadis itu.
Bila terkekeh sambil menatap Raveno sebentar. “Iya, Tan. Tadinya mau ikut, tapi kayanya lebih baik Bila di sini dulu. Nanti kalau udah ada kabar dari Veno, sepertinya Bila juga akan pulang,” jelasnya.
Bunda Dian mengangguk. “Ya udah, kita pergi dulu ya.”
Mereka melambaikan tangannya pada Bila. Sementara Bila menghela nafasnya sedikit lega. “Semoga semuanya lancar.”
Setelah mengantarkan Raveno dan keluarganya ke bandara, Bila segera pulang ke rumahnya. Dia takut kembali bertemu dengan Jeff.
****
“Udah jutaan kali lo hela nafas gitu!” sentak Victor. Pria yang tengah menyelesaikan pekerjaannya itu merasa sangat terganggu.
Bukan karena Jeff berisik atau bertanya padanya, tapi karena helaan nafas pria itu yang terkesan putus asa.
“Apa sih masalah lo?! Setau gue kalau masalah keluarga gak mungkin lo kaya gini,” ujarnya. Victor memang sangat tahu bagaimana sahabatnya itu.
Dia sudah bersikap acuh pada keluarnya saking lelahnya memikirkan semua itu. Tapi kali ini ada yang berbeda.
Pria itu seolah tak bisa melupakan masalah yang satu ini. “Apa gue belum cerita ya sama lo?” Jeff tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan memandang Victor dengan serius.
Victor yang mengerti jika hal yang ingin dibicarakan Jeff ini sangat penting akhirnya dia menutup laptopnya dan mengalihkan atensinya sepenuhnya pada Jeff.
“Jadi apa?” tanya Victor memulai percakapan mereka.
__ADS_1
“Gue punya pacar.” Seketika wajah Victor berubah datar dan merasa kecewa. Dia kira apa yang akan dibicarakan sahabatnya itu sangat penting.
Karena kesal, Victor memutar kembali kursinya dan membelakangi Jeff. “Dari dulu gue juga udah tau kalau lo punya pacar,” jawab Victor. “Laras, kan?” lanjutnya.
“So tau lo!! Makanya dengerin dulu!”sentak Jeff kesal karena Victor seperti menyepelekannya.
“Jadi lo punya pacar lagi?!” Victor terkejut dan sontak kembali membalikan badannya menghadap Jeff.
Jeff merotasikan bola matanya. “Hmm,” jawabnya.
“Siapa? Cantik gak? Kenapa lo gak kenalin sama gue?” Beberapa pertanyaan dari Victor menghujam Jeff begitu saja.
“Dia pergi.” Nada suara Jeff berubah sendu ketika dia sadar bahwa kekasihnya telah meninggalkannya karena perbuatannya sendiri.
“Lo kalau cerita gak usah setengah-setengah biar gue gak salah paham!” kesalnya.
Lagi-lagi Jeff menghela nafas dalam sebelum akhirnya dia bercerita pada Victor.
“Gue hamilin dia. Dan dia murid gue di sekolah.” Ucapan Jeff sangat berhasil membuat Victor membelalakkan matanya.
“Sialan lo! Pedofil!” sentaknya. Jeff tak mempedulikan umpatan temannya itu. Dia melanjutkan sesi ceritanya.
“Dia pergi ninggalin gue karena kesalahan gue sendiri. Gue nolak buat tanggung jawab dan suruh dia buat gugurin kandungannya.” Rupanya temannya ini sangat penuh dengan kejutan.
“Kemarin gue ketemu dia di Korea. Dia bilang, dia udah gugurin kandungannya. Gue pembunuh ya?” Jeff seperti kehilangan sebagian nyawanya saat ini ketika mengingat betapa jahatnya dia.
Bugh
Sebuah tinju melayang di wajahnya ketika dia tepat menyelesaikan ucapannya. Jeff menolehkan pandangannya pada Victor.
“Gue gak pernah punya teman kurang ajar!! Siapa lo!!!” Victor tahu, mereka adalah anak-anak yang suka dunia malam, tapi menyakiti hati wanita sangat pantang hukumnya bagi seorang Victor.
“Gue tahu gue salah. Itu sebabnya selama ini gue sering hilang buat cari dia. Gue mau minta maaf, tapi kayanya gue terlambat.” Jeff tak membalas pukulan Victor karena dia tahu dia pantas menerimanya.
Jika sudah seperti ini Victor juga bingung harus membantu seperti apa. Hanya satu yang harus temannya itu lakukan.
“Dapetin maaf dari dia, setidaknya itu yang bisa lo lakuin sekarang. Gak usah terlalu berharap dia mau balik sama lo.”
__ADS_1