Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
95. Terungkap


__ADS_3

“Hmm, setelah kalian ninggalin rumah, Papah jadi sering marah sama Mel. Dia ngeluapin emosinya sama Mel karena emang gak ada siapa-siapa lagi di rumah,” jawab Melinda.


“Tapi lo gak dikasarin, kan?” Meskipun Laras pergi meninggalkannya, pada kenyataannya dia sangat menyayangi dan selalu mengkhawatirkan Melinda.


Melinda terdiam, apa yang harus dia katakan jika memang Papahnya selalu bersikap kasar padanya.


“Mel, jawab gue,” tekan Laras. “Hmm dia kasarin Mel.” Laras memejamkan matanya. Dia pikir dengan kepergian dia dan Mamanya akan membuat Papahnya sadar dan menghentikan perbuatan kasarnya itu, tapi ternyata tidak.


“Kalau gitu mening lo juga pergi dari rumah,” saran Laras yang membuat Melinda terkekeh.


“Mel udah lama pergi dari rumah,” jawab Melinda yang sukses membuat Laras tercengang.


“Terus selama ini lo tinggal di mana?” tanya Laras. “Kakak gak perlu tau, waktu Kakak pergi juga gak kasih tau apa-apa sama Mel.”


Laras tak bisa lagi menjawab jika sudah seperti ini karena apa yang dikatakan Melinda memang benar adanya.


“Pasti ada hubungannya sama cowok tadi, kan?” Laras langsung teringat pria yang tadi datang bersama adiknya itu.


“Lupain itu. Sekarang Mel mau tanya. Ada hubungan apa Kakak sama Pak Jeff?” tanya Melinda. Melinda sudah tahu jika gurunya itu sudah menikah, tapi kenapa Kakaknya seperti sedang mengejar Jeff?


“Dia mantan gue,” jawab Laras singkat. “Dia udah nikah, Kak. Mening Kakak berhenti kejar dia.”


“Hmm, gue tau kalau dia udah nikah. Dia juga udah punya anak.” Laras justru malah menjelaskan semuanya pada kakanya.


“Ya kalau Kakak tau kenapa masih dikejar?” tanya Melinda kesal. Dia tak suka jika Kakaknya seperti itu.


“Gue butuh dia,” jawab Laras. Melinda tak habis pikir dengan apa yang dikatakan kakaknya.


“Terus Kakak pikir istri sama anaknya gak butuhin dia? Mereka lebih butuhin dia, jadi stop lakuin ini.” 


Karena kesal dengan ceramahan adiknya, Laras sontak berdiri dan aka keluar dari sana. “Mau ke mana? Mel belum selesai bicara,” ucap Melinda sambil menahan tangan Kakaknya.


“Ceramahan lo itu gak guna buat gue. Jadi stop urusin hidup gue,” pinta Laras. Setelah mengatakan itu dia benar-benar pergi dari sana.


“Kalau itu yang Kakak mau, lakuin. Tapi Mel akan hentikan semuanya,” ucapnya pelan.


Setelah selesai dengan urusannya dan dia juga sudah membayar minuman mereka. Melinda kembali ke sekolahnya. 


Benar saja, jam pertama sudah masuk. Kalaupun dia masuk ke kelas, guru pasti akan memarahinya.


Itulah kenapa dia memilih diam di kantin.


Melinda mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Raveno jika dia berada di kantin.

__ADS_1


"Bu, mau es teh satu ya." Melinda akhirnya memesan minum untuk temannya di kantin.


Dia terus memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosannya hingga tak lama Raveno datang ke sana.


"Kenapa gak masuk kelas aja?" tanya Raveno dan mendudukkan dirinya di depan Melinda.


Melinda mendongak saat dirasa ada yang datang. "Loh, kok kamu ke sini? Emang gak belajar?" tanya Melinda. 


Dia memberitahu Raveno jika dirinya ada di kantin bukan agar Raveno menyusulnya, tapi dia takut Raveno mengkhawatirkannya.


"Gak ada guru juga. Terus kenapa lo di sini?" Raveno kembali bertanya saat pertanyaannya yang tadi tidak dijawab oleh Melinda.


"Gamau ah. Pasti gurunya bakal ngomel karena Mel telat," jawab Melinda.


Raveno menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan kekasihnya itu.


"Bu, es teh-nya satu." Kalo ini Raveno yang memesan es teh. 


Tak lama, minuman yang mereka pesan datang. 


"Makasih, Bu." Mereka kembali fokus pada pembicaraan mereka setelah beberapa saat lalu mereka memesan minuman. 


"Jadi, tadi gimana?" tanya Raveno sebelum kemudian dia meminum minumannya. 


"Yang tadi Kakak Mel. Rav tau kan waktu itu Mel udah cerita kalau Kakak sama Mamah Mel pergi ninggalin rumah." Melinda mencoba menjelaskan semuanya. 


"Sekarang dia udah balik berarti?" tebak Raveno, namun Melinda menggeleng. 


"Dia bilang, dia emang gak pernah pergi jauh. Dia cuma gak nampakin diri aja," jawab Melinda. 


"Kenapa dia bisa kenal sama Pak Jeff? Tadi dia ngomong kan sama Pak Jeff?" Raveno sangat penasaran, karena yang dia tau, Jeff sudah menikah dengan Bila. 


"Pak Jeff mantan Kakak aku. Tapi aku juga gak tau kenapa dia tadi datang ke sini." Melinda menggedikan bahunya. 


Dia tahu jika kakaknya memanfaatkan Jeff demi uang, tapi tak mungkin juga dia mengatakan hal itu pada Raveno. 


Raveno mengangguk. Dia tak akan bertanya lagi. Dia pikir sudah cukup bertanya sampai di sana.


"Kayanya jam pelajaran pertama udah selesai. Ke kelas yuk!" ajak Melinda. 


Raveno mengangguk. Mereka sama-sama menghabiskan minuman mereka sebelum kemudian membayarnya. 


Mereka berjalan beriringan menuju ke kelas. "Kok kamu ke sini?" tanya Melinda heran karena harusnya Raveno mengambil arah kanan. 

__ADS_1


Ya, kelas mereka berlawanan arah. "Gue mau antar lo dulu," ucap Raveno. 


Melinda mengangguk. Dia juga tak akan menolak. 


"Belajar yang benar!" Raveno memperingatkan kekasihnya yang kemudian diangguki oleh Melinda. 


"Ya udah  sana kamu ke kelas," ucap Melinda. 


"Hhmm. Gue ke kelas dulu. Pulang sekolah nanti tunggu di sini, gue jemput."


Lagi-lagi Melinda mengangguk mengiyakan perintah Raveno. 


Setelah itu Raveno akhirnya pergi ke kelasnya. 


****


Pulang sekolah telah tiba, seperti yang pria itu ucapkan tadi, dia akan menjemput Melinda di kelasnya.


Sore ini adalah jadwalnya untuk bekerja, namun dia akan mengantar Melinda pulang terlebih dulu.


"Mel, udah selesai!" tanya Raveno yang tiba-tiba datang di pintu kelas Melinda.


Melinda sedikit terlonjak karena terkejut. "Rav, bentar dikit lagi." Melinda masih sibuk dengan buku-buku yang berusaha dia masukkan ke dalam tasnya.


Beberapa teman Melinda yang masih belum keluar dari kelas memperhatikan dua orang itu.


Ada yang iri dengan kedekatan mereka ada juga yang memandang mereka ikut bahagia.


Tangan Raveno terangkat untuk membantu kegiatan Melinda.


"Udah!" serunya setelah dia berhasil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Sore ini gue kerja sampai malam. Jadi kalau mau tidur duluan, tidur aja," ucap Raveno.


Mereka beranjak dari kelas Melinda menuju parkiran.


"Kamu pikir aku harus kerja juga gak sih? Masa kamu doang yang bisa kerja," ucap Melinda.


Memang pada dasarnya gadis itu suka sekali menyebabkan masalah. Dia juga tahu jika Raveno tak akan mengizinkannya, tapi di masih mencoba memintanya.


"Gak ada kerja-kerja. Lo belajar aja yang benar," jawab Raveno.


"Udah aku duga," cicit Melinda. "Hah? Apanya?" Raveno tak mengerti dengan apa yang dikatakan Melinda.

__ADS_1


"Enggak." Setelah menjawab Raveno, Melinda berjalan mendahului Raveno.


"Tunggu gue!!" teriak Raveno. Dia hanya harus berjalan sedikit cepat dan dia sudah sejajar dengan gadis itu.


__ADS_2