Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
36. Lari Lagi


__ADS_3

“Apa maksud Ayah?” tanya Jeff setelah dia menerima tamparan dan juga umpatan dari Tuan Harla. Dia mengerutkan keningnya sama sekali tak mengerti dengan keadaan saat ini.


“Kamu yang hamilin Bila, kan?!” tanya Tuan Harla dengan nada tinggi. Spontan Jeff membelalakkan matanya ketika Tuan Harla bertanya seperti itu.


Seingatnya dia tak pernah memberitahu siapapun tentang hal ini selain kedua teman Bila. Namun, seketika Jeff mengerti saat melihat Bi Inah yang ada di sana menatapnya dengan tatapan menyesalnya.


Akhirnya Jeff tak bisa mengelak. Dia menghela napasnya dalam sebelum menjelaskan segalanya pada Tuan Harla.


“Iya Ayah. Jeff yang melakukannya. Maaf,” lirihnya. Dia tahu kata maaf darinya tak akan bisa membuat Bila kembali ke sana.


“Kurang ajar kamu!!” Hendak saja Tuan Harla melayangkan kembali pukulannya sebelum tangannya dicekal oleh sang istri.


“Udah, Yah. Gak ada gunanya juga kita kasarin Jeff. Bila gak akan kembali ke sini. Sebaiknya sekarang kita cari Bila lagi.” Bunda Erina mengalihkan pandangannya pada Jeff.


“Bukankah katanya kamu bertemu dengan Bila di sana?” tanya Bunda Erina pada Jeff. Jeff mengangguk antusias.


“Bisa kamu ceritakan semua sampai Bila pergi dari rumah?” pinta Bunda Erina. Dia sangat penasaran apa penyebab putrinya itu lari. Seharusnya Bila tak pergi dari rumah jika Jeff bersedia untuk bertanggung jawab.


Bunda Erina membawa Jeff untuk duduk di sebelahnya diikuti oleh Tuan Harla dan yang lainnya yang ada di sana.


“Maafin Jeff, Bunda. Ini semua salah Jeff. Setelah tahu Bila hamil, Jeff malah menjauhi Bila karena masih merasa terkejut dengan kenyataan ini. Bila sudah datang pada Jeff untuk meminta tanggungjawab. Tapi...”


Jeff menggantungkan kalimatnya ragu akan memberitahu semuanya. Dia takut jika dirinya tak akan diterima lagi di sana sebagai kekasih Jeff atau bahkan sebagai Ayah dari anaknya sendiri.


“Tapi?” tanya Bunda Erina berusaha sabar mendengarkan penjelasan dari Jeff.


“Jeff menolaknya dan meminta Bila untuk menggugurkan kandungannya.” Mata Bunda Erina terbelalak. Tangannya spontan terangkat untuk menutup mulutnya.


Sementara itu Tuan Harla jelas sangat marah. Tapi dia berusaha menahan emosinya hingga giginya bergemeletuk, rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah.


“Kenapa kamu tega?” lirih Erina. Air matanya kembali menetes mendengar penuturan Jeff. Anaknya ditolak dan dengan tega Jeff meminta menggugurkan anaknya sendiri.


Akhirnya dia tahu apa yang menjadi alasan Bila pergi. Mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padanya.

__ADS_1


“Jeff menyesal, Nda. Kalau saja waktu itu Jeff merangkul Bila dan menenangkannya, mungkin detik ini Bila berada di sini dan bahagia,” ujar Jeff.


Erina tak bisa berkata apa-apa lagi. “Kemarin kamu ketemu sama Bila, kan? Apa dia masih mengandung?” Kali ini Tuan Harla yang bertanya.


Jeff mematung sepersekian detik saat mendengar pertanyaan Tuan Harla kemudian menggeleng lemah. “Jeff gak tau, Yah. Bila bilang dia sudah melenyapkan bayi itu.” Ucapan Jeff membuat Erina lemas seketika.


Setelah kehilangan putrinya, apa dia juga kehilangan cucunya? Tangisnya pecah, dia tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.


“Yah, Bunda mohon cepat temukan Bila. Bunda gak mau Bila kenapa-kenapa,” mohonnya pada suaminya.


Tuan Harla mengangguk dan berusaha menenangkan istrinya.


****


Bandung sepertinya hanya akan menjadi angan-angan bagi Bila. Karena berbagai pertimbangan akhirnya Bila memutuskan untuk menetap di Korea.


Selain adaptasi yang membutuhkan waktu lama, dia juga harus memikirkan biaya hidupnya jika dia tak bekerja nanti.


“Oke, aku pasti bisa lewatin semua ini.” Bila mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Hari ini dia tak memiliki jadwal mengajar, jadi akan dia gunakan untuk beristirahat saja. “Menonton film lagi?” tanyanya pada dirinya sendiri.


Sebenarnya dia merasa muak dengan kehidupannya yang hanya mengajar, menonton film di rumah dan melamun. Tapi tak ada pilihan lain karena saat ini orang-orang yang dia kenal sedang berada di sekitarnya.


Tok tok


Suara pintu diketuk membuat Bila mengalihkan atensinya ke arah pintu. “Siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini?” tanya Bila penasaran.


Semenjak tinggal di sana, Bila memang sangat jarang kedatangan tamu. Hanya tetangganya saja yang pernah datang itupun hanya memberikan sekotak kue sebagai ucapan selamat datang padanya.


Namun, meski begitu Bila berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu itu. “Sebentar,” ucap Bila memberikan tanda pada orang yang mengetuk pintu itu.


Tangan Bila terangkat untuk membuka pintu itu hingga pintu terbuka lebar dan menampilkan orang yang Bila duga akan berada di sana.

__ADS_1


Mata Bila terbelalak dengan tubuh yang menegang. Bagaimana tidak? Raveno, orang yang dia temui beberapa hari lalu kini ada di hadapannya dengan senyum lembutnya.


“Hai,” sapa pria itu. Raveno mengangkat tangannya dengan percaya diri. Sepersekian detik suasana sepi sebelum kemudian Bila mengerjapkan matanya.


“Ngapain kamu di sini?” Sebuah pertanyaan yang sangat mencerminkan jika Bila sangat keberatan dengan keberadaan Raveno di rumahnya.


“Nemuin lo,” jawab Raveno dengan wajah tanpa dosanya. Bila merotasikan bola matanya. Rupanya Raveno tak mengerti dengan ucapannya kemarin.


“Lo gak paham sama yang gue bilang waktu itu?” tanya Bila kesal.


“Paham. Tapi gue mohon kasih gue kesempatan,” mohon Raveno. Raut wajahnya berubah sendu. Entah mengapa hatinya menjadi luluh jika berada di hadapan Bila.


“Gak ada kesempatan dan gue juga gak pernah kasih kesempatan sama lo.” Bila hendak menutup pintu rumahnya.


Namun, kegiatannya itu gagal karena Raveno lebih cepat menahannya dengan kakinya yang berakhir terpaksa Bila kembali membuka pintu rumahnya.


“Apa yang lo mau?” Bila mulai kesal dengan pria yang ada di hadapannya itu.


“Gue udah bilang beberapa kali apa yang gue mau sama lo. Gue mau lo percaya sama gue dan kasih tau gue sebenarnya apa yang terjadi. Gue suka sama lo.” Kalimat terakhir Raveno membuat Bila membulatkan matanya.


Bagaimana mungkin Raveno menyukainya? Mereka hanya bertemu beberapa kali dan tidak begitu dekat.


“Gak ada yang perlu gue bilang sama lo.”


“Gue gak peduli. Ceritain apapun tentang lo karena gue suka.” Dengan seenak jidat, Raveno masuk ke dalam rumah Bila dan meninggalkan sang pemilik rumah di ambang pintu.


Tak ada pilihan lain, akhirnya Bila menyusul Raveno ke dalam walaupun dia sangat marah saat ini.


“Gue mau jus jeruk.” Ucapan Raveno membuat Bila menganga. Tamu mana yang meminta minum seperti itu, bahkan sang pemilik rumah juga belum menawarkan.


Raveno tak peduli dengan raut wajah Bila yang sepertinya sudah menahan kesabarannya. Pria itu mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana.


Sementara dengan terpaksa, Bila membuatkan minum untuk Raveno. Pria menyebalkan yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2