Tergoda Pesona Mr Cassanova

Tergoda Pesona Mr Cassanova
62. Khawatir


__ADS_3

Bukannya menjawab pertanyaan Melinda, Raveno malah menggendong gadis itu bridal dan membawanya ke parkiran. Tak lupa dia juga menggendong tas gadis itu.


“Mau ke mana?” Awalnya Melinda protes. Walaupun ini yang dia inginkan selama ini, tapi bukan di sekolah juga.


Raveno tak menjawab. Karena banyak pasang mata yang saat ini memperhatikan mereka, Melinda lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raveno.


Raveno juga tak protes, dia masih menggendong gadis itu hingga di parkiran. Dia menurunkn Melinda sebelum kemudian mengeluarkan motornya dari sana.


“Mau ke mana lagi kamu?” tanya satpam. Dia sudah sangat bosan melihat wajah Raveno.


“Kali ini beneran mau izin Pak. Nih lihat, anak orang sakit,” jawab Raveno. Kali ini dia memang tak bohong.


“Sakit apa kamu?” tanya satpam itu pada Melinda seolah dia sudah tak percaya dengan ucapan Raveno.


“E-eengg, i-itu Pak.” Melinda menjawab dengan gagap karena dia juga tak tahu rencara Raveno hingga dia tak bisa ikut berbohong dengan pria itu.


“Nih Bapak lihat? Bapak tau kan ini alat apa?” Raveno memperlihatkan Ventolin yang tadi digunakan Melinda.


“Kalau ada apa-apa sama dia, Bapak mau tanggung jawab?” tanya Raveno berusaha mendapatkan kepercayaan dari satpam itu.


Satpam menggeleng dengan cepat, tentu saja dia tak ingin main-main dengan nyawa seseorang.


“Ya udah bukain, saya yang bakal tanggung jawab dan bawa dia ke rumah sakit.” Dapat, akhirnya Raveno mendapatkan kepercayaan dari satpam itu.


“Naik,” perintah Raveno pada Melinda. Melinda tak banyak protes, dia segera menaiki motor Raveno.


Tangannya bergerak hendak memeluk Raveno karena dia takut jatuh. “Jangan modus!” sentak Raveno yang membuat Melinda mengurungkan niatnya.


Karena bingung, akhirnya dia hanya berpegangan pada tasnya yang dipakai Raveno. Raveno menarik gas hingga Melinda hampir saja terjatuh.


Menyadari hal itu sangat bahaya, akhrinya sebelah tangan Raveno menarik tangan Melinda untuk melingkar di perutnya.


Melinda tersenyum senang saat Raveno melakukan itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam hingga mereka tiba di tempat tujuannya.


Sebuah rumah sakit yang sangat besar. “Loh, kenapa ke sini?” tanya Melinda saat dia sudah turun dari motor Raveno.


“Lo berharap gue bawa ke mana?” tanya Raveno ketus. Melinda menciut dia tak lagi menjawab dan hanya mengikuti ke mana Raveno pergi.

__ADS_1


**** 


Jam sudah menunjukan pulang sekolah. Beberapa saat lalu Jeff mendapatkan telpon dari Bila agar menjemputnya di rumahnya.


Jadi dia bergegas pergi untuk menjemput istrinya ketika pekerjaannya sudah usai. 


Sesampainya di rumah Bila, Jeff memarkirkan mobilnya. Sepertinya kedua orang tuanya juga sudah pulang karena ada dua mobil juga yang terparkir di sana.


“Bil,” ucap Jeff saat dia sudah masuk rumah. Jeff kira akan ramai karena Bunda dan Ayah Bila sudah pulang. 


Tapi tak seperti dugaannya, ruang keluarga maupun ruang tamu terlihat begitu sepi.


“Bunda, lagi apa?” Akhirnya Jeff menemukan Bundanya yang tengah sibuk di dapur menyiapkan makanan.


“Oh hai, kamu datang. Ini Bunda lagi masak.” Kening Jeff berkerut merasa heran. “Emangnya Bi Inah ke mana?” tanya pria itu.


“Baru aja dia pulang kampung. Jadi Bunda keteteran siapin semuanya.”


“Kamu cari Bila? Kayanya dia ketiduran di kamar,” lanjutnya. Jeff menggeleng. “Biarin deh kalau Bila lagi tidur. Jeff bantu Bunda aja.”


Pria itu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku dan mendekati Bundanya yang sedang memotong sayuran.


“Jangan tanya, Bunda. Jeff pinter banget masak.” Jeff mengambil alih sayuran itu dan Bunda Erina beralih pada piring-piring dan alat masak yang belum dia cuci.


“Jadi, mau bikin sayur sop, Bunda?” Jeff kembali bertanya. Takutnya dia salah mengira menu yang akan dibuat oleh Bundanya.


Bunda Erina mengangguk. “Ayah ke mana kok gak keliatan?” Jeff bertanya karena rumat itu terlihat sangat sepi.


“Tadi sih di kamar, tapi gak tau sekarang di mana,” jawab Bundanya yang diangguki oleh Jeff.


Benar saja, Jeff menyelesaikan acara memasaknya hingga makanan itu siap. “Ternyata kamu emang pintar masak ya,” puji Bunda Erina yang kemudian mendapatkan kekehan dari Jeff.


“Udah Jeff bilang, Jeff itu sebenarnya cheff,” sombongnya. Jeff melepaskan apron yang dia kenakan setelah selesai menata makanan di meja makan.


“Ya udah panggil Bila sekarang, suruh makan. Bunda juga mau panggil Ayah.” Jeff mengangguk dan beranjak dari saja.


Jeff membuka pintu kamar Bila dengan pelan tak ingin gadis itu terkejut dengan pergerakannya.

__ADS_1


“Sayang, bangun dulu yuk. Kita makan.” Dengan lembut Jeff mengelus kepala gadis yang tengah tertidur lelap itu.


Bila hanya menggerakkan badannya sedikit sebelum kemudian dia kembali tertidur. Bahkan gadis itu mencari posisi nyaman.


Jeff terkekeh memperhatikan betapa lucunya istrinya itu. “Kamu gak mau bangun?” tanyanya dengan godaan.


Jeff akhirnya menggunakan cara terakhir. Dia menundukkan wajahnya hingga sangat dekat dengan wajah Bila.


Pria itu mengecup bibir Bila bertubi-tubi, bahkan menggigit kecil bibir mungil itu, hingga Bila mendesis.


“Ssshh.” Mata Bila terbuka saat merasa tidurnya terganggu.


“Kamu ini kenapa sih!” kesalnya sambil memukul lengan Jeff pelan. Jeff tersenyum lebar.


“Lagian kamu aku bangunin gak bangun-bangun,” jawab Jeff. “Gak bisa apa banguninnya secara lembut gitu,” protes Bila.


“Kamu mah gak bisa dilembutin, maunya dikasarin mulu,” goda Jeff. Dia memeluk Bila dengan erat.


Bila memasang wajah kesalnya. “Ya udah maaf ya Sayang,” bujuk Jeff. 


Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka berbaikan. Bila mengangguk dan membalas pelukan suaminya.


“Turun dulu yuk, kita makan. Aku sama Bunda udah masak,” sombong Jeff. “Emang iya kamu masak?” Bila tak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


“Iya dong. Aku kan suami idaman.” Bila mencebikkan bibirnya meledek suaminya yang kelewat percaya diri itu.


“Iya deh suami idaman,” sindir Bila. Namun Jeff tak merajuk, pria itu malah terkekeh dan mengekori Bila untuk turun ke lantai bawah.


Di sana sudah ada Bunda dan Ayahnya siap menyantap makanan. “Udah nunggu lama Bun, Yah?” tanya Bila tak enak.


“Enggak, baru aja sampai,” jawab Ayahnya. Mereka tersenyum melihat Jeff yang merangkul pinggan Bila saat berjalan menuju ke meja makan.


“Yuk kita makan dulu.” Bila dan Jeff mengangguk. Mereka makan bersama dengan suasana sepi.


Mungkin karena lapar atau makanan itu sangat lezat hingga mereka hanya fokus pada makanan dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.


“Mau nginep di sini?” Tuan Harla bertanya saat mereka sudah selesai makan.

__ADS_1


Bila melirik Jeff mencari jawaban. “Kayanya enggak Yah. Mungkin kapan-kapan lagi kita nginep,” tolak Jeff.


Bukannya tak mau, tapi dia tak membawa baju untuk besok bekerja.


__ADS_2