
Saat Satya di depan pintu tiba tiba ia menghentikan langkahnya.
" Kenapa Sat? Buruan pergi sebelum ada yang melihat kamu di sini!" Ucap Maysa mendekati Satya.
Tiba tiba...
Deg...
Jantung Maysa terasa berhenti berdetak saat melihat Ilyas berdiri di depan pintu.
" Pak... Pak Ilyas." Ucap Maysa gugup.
Maysa menatap Satya.
" Kau pergilah!" Titah Maysa di balas anggukkan kepala oleh Satya.
Saat Satya hendak melangkah tiba tiba Ilyas menarik kerah bajunya lalu..
Bugh.. Bugh...
" Satya!!" Teriak Maysa menutup mulutnya saat Ilyas memukul wajah Satya.
Bugh... Bugh...
" Hentikan Pak!" Teriak Maysa menarik Ilyas agar melepaskan Satya.
Ilyas mendorong tubuh Satya hingga tersungkur di lantai.
" Satya pergilah!" Ucap Maysa meringis melihat darah di sudut bibir Satya.
" Ini akibatnya jika kau berani mendekati calon istriku, apalagi menyentuhnya. Kali ini aku biarkan kau lolos, tapi lain kali kau akan berakhir di rumah masa depan." Ancam Ilyas.
Satya beranjak lalu segera berlalu dari sana. Maysa menatap kepergiannya dengan perasaan iba.
" Apa kau mau mengejarnya?" Pertanyaan Ilyas menyadarkan Maysa.
Maysa menatap Ilyas yang saat ini menatapnya dengan tajam.
" Sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Maysa sedikit takut.
" Sejak kau masuk ke sini." Sahut Ilyas.
Maysa melongo menatap Ilyas.
" Jadi kau mendengar semuanya?" Tanya Maysa memastikan.
" Ya aku mendengar dan melihat semuanya." Sahut Ilyas.
__ADS_1
" Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau berbuat seolah olah kau mencintaiku dan tidak rela aku bersama pria lain?" Selidik Maysa.
" Iya.. Kenapa aku begitu emosi saat melihat wajah anak tadi? Kenapa aku tidak rela jika Maysa bersama pria lain? Aku tidak Terima jika Maysa di sentuh oleh pria lain. Apa ini yang di namakan cinta? Apa di hatiku sudah terukir jelas namanya? " Ujar Ilyas dalam hatinya.
" Katakan Pak Ilyas! Kenapa kau bertingkah seperti ini?" Maysa bertanya lagi.
" Untuk menjaga nama baikku. Aku tidak mau nama baikku tercemar karena perbuatanmu." Sahut Ilyas.
" Perbuatan yang mana?" Tanya Maysa.
Ilyas maju membuat Maysa memundurkan tubuhnya, Ilyas terus maju dan Maysa terus mundur.
" Saat putramu ingin ikut bersamamu, kau melarangnya dan kau bilang ada urusan. Apa ini yang kau sebut sebagai urusan itu?" Tanya Ilyas menatap tajam Maysa.
" A.. Aku..
Brugh...
Maysa jatuh ke atas ranjang, Ilyas segera mengukungnya membuat wajah mereka begitu dekat. Maysa menatap Ilyas dengan jantung yang berdetak kencang.
" Apa urusan berduaan dengan kekasihmu lebih penting di banding perasaan putramu? Bagaimana bisa seseorang yang sudah bertunangan berduaan dengan kekasihnya di dalam kamar? Bahkan kalian berdua berpelukan dan saling meluapkan rindu satu sama lain. Mengapa kau melakukan perselingkuhan sebelum pernikahan Maysa? Apa salahku sehingga kau melakukan ini padaku? Apa karena aku sedikit memaksamu untuk menerima pernikahan ini? Bukankah kau sendiri yang tidak mau jauh dari Kavin? Aku sudah memintamu untuk pergi, tapi kau yang memilih untuk tetap berada di samping Kavin. Lalu kenapa kau masih menerima pria lain dalam hidupmu?" Tanya Ilyas menatap Maysa.
" Bukan begitu Pak..
" Mas... Mulai sekarang panggil aku Mas! Aku calon suamimu bukan calon bapakmu." Ucap Ilyas penuh penekanan.
" Pertama aku tidak selingkuh darimu. Dia hanya masa laluku, aku rasa kau sudah tahu itu karena kau sudah mendengar semuanya. Yang kedua aku tidak sengaja bertemu dengannya di sini. Aku tidak tahu kalau dia ada di dalam kamarku. Yang ketiga walaupun aku masih menyimpan rasa untuknya tapi aku tidak akan pernah bisa bersamanya. Aku..
" Aku tidak mau kau menyimpan perasaan untuknya jadi kau harus membuang jauh jauh perasaan itu. Karena kau hanya boleh mencintaiku bukan yang lainnya." Ucap Ilyas memotong ucapan Maysa. Maysa memejamkan matanya mencoba menetralkan detak jantungnya.
" Aku pasti akan melupakannya, pernikahan bagiku adalah hubungan yang sakral. Dan aku akan memberikan cinta, hidup dan hatiku kepada seseorang yang menjadi suamiku nanti." Ucap Maysa. Ilyas tersenyum mendengarnya.
" Aku tidak menyangka kau mempunyai pemikiran sedewasa ini. Semoga kau menepati ucapanmu. Apa kau tidak mau meminta maaf padaku atas kejadian ini?" Ilyas terus menatap Maysa membuat jantung Maysa berdetak sangat kencang berdekatan dengan Ilyas seperti ini.
" Apa kau menganggap ini sebuah kesalahan sehingga aku harus meminta maaf padamu?" Maysa balik bertanya.
" Ya." Sahut Ilyas.
" Baiklah aku akan meminta maaf padamu, tapi ingat jika suatu hari nanti kau melakukan hal yang sama, maka aku akan menganggapnya sebagai kesalahan juga." Ujar Maysa.
" Tidak masalah! Aku akan meminta maaf padamu saat itu juga." Sahut Ilyas.
" Baiklah aku minta maaf." Ucap Maysa.
" Aku akan memaafkanmu asalkan... " Ilyas menjeda ucapannya, ia menatap bibir ping milik Maysa. Maysa segera melipat bibirnya ke dalam membuat Ilyas terkekeh.
Ilyas semakin memajukan wajahnya mengikir jarak di antara mereka, jantung Maysa semakin berdetak kencang seperti genderang mau perang.
__ADS_1
" Jangan lakukan itu Mas! Aku mohon... Aku tidak mau ciuman pertama di curi olehmu sebelum pernikahan. Aku gadis di bawah umur bukan hadis dewasa yang bisa mengimbangi permainanmu. Ya Tuhan kirim seseorang untuk menyelamatkanku." Batin Maysa.
Tiba tiba...
" Daddy.. Mommy... " Teriak Kavin menghampiri mereka. Maysa bernafas lega sedangkan Ilyas justru menghela nafasnya.
" Daddy mau ngapain Mommy? Minggir! Jauh jauh dari Mommy Kavin!" Ucap Kavin naik ke atas ranjang mendorong tubuh Ilyas.
Ilyas beranjak dari tubuh Maysa. Ia duduk di tepi ranjang di samping Maysa.
" Mommy, apa Daddy melukai Mommy?" Tanya Kavin menatap Maysa. Maysa melirik Ilyas negitupun sebaliknya.
" Tidak sayang, tadi Mommy sama Daddy terpeleset jadi jatuh di ranjang." Sahut Maysa mengelus pipi Kavin.
" Kalau Daddy nakal, laporkan pada Kavin Mom! Kavin akan menonjok wajah Daddy." Ujar Kavin. Maysa tersenyum mendengarnya.
" Terus kalau mommy kamu yang nakalin Daddy gimana?" Tanya Ilyas menatap Kavin.
" Ya di maafin aja, kan kita harus mengalah sama kaum perempuan Dad." Sahut Kavin.
Maysa menahan tawa mendengar jawaban Kavin. Ilyas menatapnya membuat Maysa membuang muka ke sembarang arah karena takut ketahuan sedang menertawakan Ilyas.
" Daddy akan memberikan hukuman pada mommymu."
" Tidak boleh!" Sahut Kavin cepat.
" Kalau Daddy melukai mommy, yang ada nanti mommy pergi lagi. Kavin tidak mau kehilangan mommy lagi Dad. Kavin sudah bersusah payah mencari mommy selama ini, masa' setelah ketemu mommy mau pergi lagi. Kavin akan sangat membenci Daddy kalau sampai itu terjadi." Ucap Kavin.
" Baiklah Daddy tidak akan melukai mommymu, justru sebaliknya Daddy akan mencintai dan menyayangi mommy kamu." Ucap Ilyas melirik Maysa.
Maysa menatapnya, Ilyas tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
" Apaan sih." Ucap Maysa.
" Putramu sangat berharap banyak padamu dan pada hubungan ini, aku harap kau tidak akan mematahkan harapannya. Aku harap kau bisa menjadi mommy yang selalu menemani dan menyayanginya. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi mommy yang baik untuknya, cukup cintai, sayangi dan temani putraku hingga dia dewasa nanti." Ujar Ilyas menggenggam tangan Maysa.
" Jika dia sudah dewasa, apa aku bisa pergi meninggalkannya?"
Pertanyaan Maysa menohok hati Ilyas. Keduanya saling melempar pandangan.
" Lakukan saja jika kau bisa melakukannya, karena aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi meninggalkan kami. Bagaimanapun caranya." Sahut Ilyas dengan tegas.
Maysa tersenyum ke arahnya.
" Semoga aku bisa mewujudkan keinginan Kavin." Ucap Maysa.
" Tentu." Sahut Ilyas.
__ADS_1
TBC....