TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
PENCULIKKAN


__ADS_3

Siang hari ponsel Maysa berdering, ia membuka matanya lalu meraba ponsel yang ada di sampingnya.


" Halo Ma ada apa?" Tanya Maysa setelah mengangkat panggilan dari nyonya Melodi.


" Maysa.. Kavin hilang."


" Apa??" Pekik Maysa sontak langsung duduk.


" Sayang ada apa?" Tanya Ilyas sambil mengucek matanya.


" Kavin hilang Mas." Sahut Maysa membuat Ilyas sangat terkejut.


Dengan terpaksa Ilyas duduk bersandar pada head board sambil menatap Maysa yang berbicara pada mamanya.


" Bagaimana bisa Kavin hilang Ma? Mama nungguin Kavin di sekolah dari pagi sampai siang kan?" Tanya Maysa cemas.


" Maaf sayang, tadi Mama bertemu teman Mama terus kami makan bersama di cafe. Saat Mama mau jemput Kavin, Kavin sudah tidak ada di sekolah. Kata pak satpam Kavin di jemput sama mama kandungnya. Kavin di culik sama nenek lampir Maysa hiks... Maafin Mama!" Isak nyonya Melodi.


" Nenek lampir, sepertinya dia sedang main main sama aku Ma. Akan aku kasih dia pelajaran." Geram Maysa.


" Ya udah aku akan ke sana, Mama tunggu di sana sebentar." Ujar Maysa mematikan sambungan teleponnya.


" Gimana sayang? Siapa yang menculik Kavin?" Tanya Ilyas.


" Siapa lagi kalau bukan mantan kamu itu, mantan yang kamu baik baikin beberapa waktu lalu." Sahut Maysa kesal.


" Ya sudah tidak perlu khawatir berlebihan, Mas..


" Bagaimana aku nggak khawatir Mas? Kavin di culik sama nenek lampir. Kalau Kavin kenapa napa gimana?" Tanya Maysa menatap Ilyas.


" Bagaimanapun Maurene ibu kandungnya, Mas yakin dia tidak akan berbuat sesuatu yang melukai Kavin." Sahut Ilyas.


" Wow.. " Decak Ilyas.


" Bahkan setelah lima tahun berpisah kau masih sangat memahami mantan istrimu itu, benar benar menakjubkan. Jika dia perasaan sebaik itu tidak mungkin dia pergi meninggalkan kalian." Ucap Maysa membuat Ilyas menyadari kesalahannya.


" Mas minta maaf! Bukan maksud Mas untuk membelanya tapi Mas berbicara berdasarkan logika saja." Ucap Ilyas.


" Logika mana yang kau maksud, logikanya seorang ibu tidak akan tega meninggalkan anaknya. Apalagi anaknya masih bayi, tapi pada kenyataannya nenek lampir itu melakukannya. Lalu bagaimana sekarang kau bisa mengatakan jika Kavin aman bersamanya. Aku ingin lihat berapa lama Kavin aman bersamanya. Jika sampai dia melukai putraku maka aku akan melenyapkannya dari dunia ini. Minta bang Barra untuk melacaknya Mas, aku yakin si nenek lampir itu belum menyadari jika Kavin membawa ponsel di dalam tasnya." Ujar Maysa.


" Baik sayang." Sahut Ilyas.

__ADS_1


Ilyas segera menelepon Barra untuk mrlacak keberadaan Kavin. Tak lama Barra menemukan lokasinya, di sebuah rumah di perkampungan kumuh.


" Kenapa nenek lampir membawa Kavin ke perkampungan kumuh? Apa dia tinggal di sana?" Gumam Maysa menatap Ilyas.


" Mas kamu pernah mengantarnya ke rumahnya kan? Apa lokasinya ada di perkampungan kumuh?" Tanya Maysa.


" Mas tidak tahu sayang, tapi Mas selalu mengantarnya di jalan xx. Dia minta di


turunkan di sana, tapi selama ini Mas tidak pernah di ajak mampir ke rumahnya." Sahut Ilyas.


" Selalu... Kau seperti seorang sopir untuknya saja." Maysa menganggukkan kepala.


" Atau kau mencoba menjadi seorang suami siaga?" Sambung Maysa menatap Ilyas.


" Sayang bukan begitu, Mas hanya...


" Udah lah aku tidak peduli, mau kamu mengganggap dia apa aku tidak peduli, walaupun kau mau kembali padanya sekalipun aku juga tidak peduli." Sahut Maysa memotong ucapan Ilyas.


" Mas tidak mau, yang Mas inginkan hanya kamu bukan yang lainnya." Sahut Ilyas membuat Maysa tersenyum.


" Ya sudah aku mau mencari Kavin sekarang, Mas di rumah aja." Ujar Maysa.


" Mas tidak perlu khawatir, aku pergi sama bang Barra dan mama. Doakan semoga kami bisa membawa Kavin dengan selamat." Ucap Maysa.


" Tapi sayang jika nanti Maurene menyakitimu gimana? Mas tidak mau sampai itu terjadi." Ujar Ilyas.


" Tidak semudah itu melukai aku Mas, aku lah yang akan melukainya karena telah berani bermain main denganku. Tanganku sudah gatal ingin menarik rambutnya, mendorong tubuhnya ke dasar laut biar dia tidak bisa mengganggu hidup kita lagi." Ujar Maysa membuat Ilyas bergidik ngeri.


" Baiklah Mas percaya padamu, maafkan Mas yang tidak bisa membantu. Kepala Mas masih sakit sekali." Sahut Ilyas.


" Tidak apa apa Mas, Mas tinggal bantu doa aja. aku pergi dulu, sepertinya bang Bara sudah sampai." Ucap Maysa menyalami Ilyas dengan takzim.


" Hati hati! Kalau ada apa apa telepon Mas. Bagaimanapun keadaan Mas, Mas siap membantu." Ucap Ilyas.


" Iya Mas." Sahut Maysa keluar kamarnya.


Maysa berdiri di pinggir jalan depan rumahnya, tak lama Barra datang dengan mobilnya. Maysa segera masuk ke dalam.


" Kita jemput mama dulu Bang!" Ucap Maysa.


" Oke." Sahut Barra.

__ADS_1


Barra melajukan mobilnya menuju sekolahan Kavin. Setelah menjemput nyonya Melodi, Barra kembali melajukan mobilnya menuju lokasi Kavin saat ini.


" Bang apa kau sudah meminta bantuan polisi?" Tanya Maysa.


" Tidak, aku rasa kita tidak perlu melibatkan polisi. Aku membawa orang orang ku bersama kita. Jika Maurene melakukan tindakan anarkis baru kita bertindak." Sahut Barra.


" Sasaran utama nenek lampir adalah Mas Ilyas, sekarang Mas Ilyas tidak bersama kita. Bagaimana kalau mak lampir itu tidak mau memberikan Kavin pada kita Bang?" Tanya Maysa.


" Kau tenang saja, mau atau tidak kita tetap akan mendapatkan Kavin. Akan aku pastikan itu." Ujar Barra.


" Haruslah, malu kalau kita sampai kalah sama satu orang itu. Kita di sini bertiga di tambah orang orang bang Barra masa' kalah sama satu orang. Nggak etis namanya." Sahut Maysa membuat Barra menahan senyumannya.


" Dia pasti menjadikan Kavin sebagai pion, aku harus lebih pintar dan aku harus bisa menguasai permainannya. Akan aku pastikan kalau aku yang akan menjadi pemenangnya." Ujar Maysa antusias.


" Tentu sayang, mama doakan semoga Kavin kembali bersama kita dengan selamat." Ucap nyonya Melodi.


" Hah begini amat ya nikah sama duda beranak, tahu gini dulu gue nikah sama yang single aja." Gumam Maysa membuat Barra tersenyum.


" Tahu gitu gue nikahnya sama lo aja ya Bang." Ucap Maysa asal.


Uhuk... uhuk... uhuk...


Barra tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Maysa.


" Minum Bang!" Maysa memberikan sebotol air mineral yang baru ia buka.


Barra meminum air itu hingga tandas dengan satu tangannya.


" Terima kasih." Ucap Barra memberikan botol kosong pada Maysa.


" Kenapa bisa sampai tersedak gitu Bang? Kaget ya dengan ucapanku." Ujar Maysa.


" Iya, bisa bisanya kamu ngomong kaya' gitu. Kalau bos mendengar bisa bisa aku langsung di pecat." Sahut Barra kembali fokus pada jalanan.


" Takut amat di pecat, lagian kalau di pecat tinggal cari pekerjaan lain. Yang rugi di sini mas Ilyas Bang bukan kamu. Coba aja mas Ilyas kalau nggak ada kamu, dia pasti kelabakan dalam mengerjakan pekerjaannya. Apalagi dia terbiasa memberi perintah kalau dia langsung turun tangan mengerjakan semuanya pasti tidak akan selesai Bang. Yang ada badannya kurus seperti lidi karena banyak pikiran ha ha ha." Ucap Maysa sambil tertawa.


Barra meliriknya sambil tersenyum.


" Kau memang pandai membuat orang nyaman berada di sekitarmu Maysa, pantas saja bos sampai tergila gila padamu. Seandainya kamu bukan milik bos, pasti aku sudah merebutnya." Batin Barra.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2