
Hari ini Maysa, Ercha dan Rega sedang jalan jalan di sebuah mall xx. Entah apa yang mereka cari hanya mereka yang tahu karena sedari tadi berjalan memutari stand satu ke stand yang lainnya mereka tidak nampak membawa barang belanjaan.
" May aku nggak sanggup berjalan lagi! Aku lapar." Ucap Ercha memegangi perutnya sambil ngos ngosan.
Entah kenapa sejak Ercha hamil ia selalu merasa kelaparan setiap saat, apalagi jika harus bekerja atau sekedar mengeluarkan keringat sedikit saja.
" Sebenarnya aku juga begitu. Gimana kalau kita cari makan dulu di resto." Ujar Maysa.
" Boleh deh, kita cari makan di resto xx yang ada di bawah aja ya." Sahut Rega.
" Oke oke, ayo kita ke sana!" Ajak Ercha.
Mereka bertiga turun ke lantai bawah menggunakan eskalator. Sampai di bawah mereka segera menuju resto xx yang ada di deretan stand makanan.
Mereka masuk ke dalam resto lalu memesan makanan sesuai keinginan masing masing. Selesai memesan mereka duduk di meja yang masih kosong. Tanpa sengaja tatapan Ercha tertuju pada meja nomer tujuh dimana Ilyas sedang duduk bersama Karina dan seorang pria paruh baya.
" May, itu kaya'nya bang Ilyas deh." Ucap Ercha menunjuk Ilyas.
Maysa mengikuti arah jari tangan Ercha.
" Iya kamu benar, itu mas Ilyas." Sahut Maysa.
" Tapi siapa wanita dan pria itu kak May?" Tanya Rega.
" Dia Karina, kalau pria itu aku tidak tahu. Aku harus menghampiri mereka." Ujar Maysa.
Maysa berjalan menghampiri meja Ilyas di ikuti Ercha dan Rega dari belakang.
" Apa ini Mas?" Tanya Maysa membuat ketiga orang yang sedang berbicara itu menoleh ke arahnya.
" Sayang."
" Nona Maysa." Ucap Karina dan Ilyas bersamaan.
" Apa di sini kalian sedang membicarakan pernikahan?" Selidik Maysa menatap Ilyas.
" Ka..
" Kau benar Nona, kami sedang membicarakan pernikahan antara Ilyas dan putri saya."
Jeduarrrr.....
Ucapan pria baruh baya itu benar benar membuat Maysa terkejut. Tubuhnya tegang bagaikan di sambar petir di siang bolong. Tiba tiba perutnya terasa nyeri.
" Shhh... " Maysa memegangi perutnya.
" Sayang kamu kenapa?" Ilyas segera mendekati Maysa.
" Stop!" Ucap Maysa menaikkan tangannya.
" Ercha, Rega, tolong bawa aku ke rumah sakit! Perutku tiba tiba sakit sekali." Ucap Maysa meringis menahan sakit pada perutnya.
" Sayang biarkan Mas yang mengantarmu." Ucap Ilyas.
__ADS_1
" Tidak perlu, aku tidak sudi berdekatan dengan pria sepertimu. Bukannya selamat yang ada nanti aku malah mati." Sahut Maysa ketus.
" Sayang aku..
" Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" Bentak Maysa menepis tangan Ilyas.
Perut Maysa terasa semakin sakit setelah menngeluarkan bentakan.
" Shhh... Ercha aku mohon bawa aku ke rumah sakit segera sebelum semuanya terlambat. Aku mohon! Aku sudah tidak kuat lagi." Ucap Maysa.
" Baiklah ayo!" Ucap Ercha.
Tiba tiba darah mengalir dari sela sela kaki Maysa.
" Kakimu berdarah Kak." Pekik Rega menunjuk kaki Maysa yang berwarna merah.
" Ya Tuhan kamu pendarahan May." Pekik Ercha panik.
" Astaga." Ucap Ilyas.
Tanpa membuang waktu Ilyas segera menggendong Maysa. Ia berlari menuju parkiran mobilnya di ikuti Ercha dan Rega dari belakang. Maysa menggenggam tangan Ercha seolah tidak mau melepaskannya.
" Ercha aku mohon selamatkan calon anakku! Aku tidak mau kehilangannya." Ucap Maysa menatap Ercha.
" Tenanglah kakak ipar! Semua akan baik baik saja." Ucap Ercha terus berlari mengikuti Ilyas.
" Bertahanlah sayang demi anak kita." Ucap Ilyas.
" Hiks... Sakit." Rintih Maysa menahan sakit yang begitu menusuk perutnya.
" Tenanglah sayang, kau pasti baik baik saja. Kau wanita kuat begitupun dengan anak kita." Ucap Ilyas.
" Itu sebabnya kau menyakiti aku." Lirih Maysa.
" Maafkan aku sayang!" Ucap Ilyas.
" Aku tidak sudi memaafkanmu Mas. Kau jahat.. Kau bajing@n! Aku membencimu hiks.. Aku sangat membencimu. Jika sampai anakku tidak selamat, jangan pernah temui aku lagi setelah ini." Sahut Maysa.
" Tidak... Itu tidak akan terjadi. Anak kita pasti selamat sayang." Sahut Ilyas.
Sampai di parkiran Ilyas segera menurunkan Maysa di jok belakang mobilnya.
" Rega kamu ikut bang Ilyas, aku akan mengikuti kalian dari belakang." Ujar Ercha.
" Baik Cha." Sahut Rega.
Rega masuk ke dalam memangku kepala Maysa.
" Shhh sakit Ga." Rintih Maysa.
" Sabar ya Kak." Hanya itu yang bisa Rega katakan karena ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Ilyas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan mendahului kendaraan yang ada di depannya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Ilyas segera membopong Maysa masuk ke dalam menuju ruang unit gawat darurat. Sampai di dalam Maysa segera di tangani oleh dokter spesialis kandungan langsung yang kebetulan stand by di sana.
Ilyas dan Rega menunggu di luar ruangan dengan cemas.
" Bagaimana Bang? Apa Kak Maysa sudah di tangani oleh dokter?" Tanya Ercha yang baru saja sampai karena lama mencari tempat untuk parkir.
" Sudah." Sahut Ilyas duduk di kursi tunggu sambil menyangga kepalanya. Pikirannya kalut saat ini, ia takut terjadi hal buruk kepada Maysa dan calon anaknya.
" Semoga kak Maysa dan bayinya baik baik saja ya Tuhan." Ucap Ercha.
" Amin, kita doakan semoga mereka baik baik saja Cha." Ucap Rega di balas anggukkan kepala oleh Ercha.
"Ya Tuhan aku mohon selamatkan anak dan istriku! Aku tidak mau kehilangan mereka ya Rob." Batin Ilyas.
Setengah jam mereka menunggu sampai keluarga Wilson datang menghampiri mereka bertiga.
" Apa yang terjadi pada Maysa, Ilyas?" Tanya nyonya Alexa.
" Maysa mengalami pendarahan Mi." Sahut Ilyas.
" Bagaimana bisa dia mengalami pendarahan begitu saja? Apa ada sesuatu hal yang menyebabkan dia seperti ini?" Selidik nyonya Alexa menatap Ilyas.
Ilyas bungkam tidak berani mengatakannya kepada maminya. Ercha dan Rega saling melempar pandangan.
" Apa yang terjadi Ercha, Rega? Bukankah Maysa pergi dengan kalian berdua?" Tanya nyonya Alexa menatap Ercha dan Rega bergantian.
Mereka berdua ikutan bungkam membuat nyonya Alexa merasa geram.
" Katakan pada Mami apa yang terjadi? Apa kalian tidak bisa menjaga saudara kalian hingga Maysa berakhir di sini dengan membahayakan janinnya?" Ucap nyonya Alexa dengan nada tinggi.
" Bukan salah mereka Mi, ini salahku." Sahut Ilyas.
" Memang ini salahmu karena kamu tidak bisa menjaga istrimu dengan baik. Katakan hal apa yang membuat Maysa mengalami hal mengerikan seperti ini hah!" Ujar nyonya Alexa mendesak Ilyas.
" Katakan Ilyas!!" Bentak nyonya Alexa geram.
" Dia....
Akhirnya Ilyas menceritakan kejadian saat Maysa memergokinya bersama Karina dan papanya. Nyonya Alexa nampak marah, ia menatap Ilyas dengan tajam lalu...
Plak.....
Semua orang memejamkan mata saat melihat tamparan keras mendarat sempurna di pipi Ilyas dari nyonya Alexa.
" Ceraikan Maysa sekarang juga."
Jeduaarrr......
Nah loh rasain Ilyas... Siapa nih yang seneng melihat Ilyas menderita? Harus kasih mawar yang banyak ya buat author... Ha ha ha Author maksa...
Ada yang nggak rela cerita ini tamat jadi author lanjutin dulu ya...
Terima kasih untuk kalian semua yang telah mendukung author...
__ADS_1
Miss U all...
TBC..