
Brak.....
Ckiitttt.....
" Astaga." Ucap Maysa terkejut saat mobilnya menabrak mobil di depannya.
Maysa melihat seorang pria turun dari mobil tersebut. Ia menajamkan penglihatannya karena ia merasa mengenal pria itu.
" Satya." Gumam Maysa.
Maysa segera turun dari mobil.
" Maysa." Ucap Satya.
" Ini benar kamu Satya." Ucap Maysa menatap Satya yang saat ini berdiri di depannya.
" Tidak di sangka kita bisa bertemu lagi Sat, gimana kabarmu?" Tanya Maysa menatap Satya.
" Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?" Tanya Satya.
" Seperti yang kau lihat." Sahut Maysa mengedikkan bahunya.
" Syukurlah kalau begitu, aku senang melihatnya. Bisakah kita menghabiskan kopi bersama?" Tanya Satya. Maysa nampak sedikit berpikir.
" Boleh juga sekali kali ini." Sahut Maysa.
" Ayo kita ke kafe xx!" Ajak Satya.
" Oke." Sahut Maysa.
Mereka berdua menuju kafe xx dengan mengendarai mobil masing masing. Sepuluh menit mereka sampai di sana. Maysa turun dari mobil lalu masuk ke dalam kafe di ikuti Satya yang berjalan di sampingnya.
" Sini saja." Ucap Maysa duduk di meja nomer dua.
" Oke." Sahut Satya.
Mereka memesan dua kopi latte sama fried potatto.
" Satya, apa kau hidup dengan baik selama ini?" Tanya Maysa menatap Satya.
" Tidak sebaik saat bersamamu dulu May." Sahut Satya.
" Tapi aku sudah menerima semuanya dengan ikhlas termasuk kepergianmu. Aku sudah ikhlas melepasmu sepenuhnya May." Ucap Satya.
" Syukurlah kalau begitu Sat. Apa kau sudah menemukan penggantiku?" Tanya Maysa memastikan.
" Aku tidak tertarik dengan wanita manapun selain dirimu." Ucap Satya terkekeh.
" Maafkan aku jika aku telah membuat hidupmu hancur. Aku tidak kuasa melawan papaku yang menentang hubungan kita. Tapi kembali lagi pada takdir yang telah Tuhan tentukan untuk kita berdua." Ucap Maysa.
" Iya kau benar May." Sahut Satya.
" Tapi jangan sampai kepergianku membuatmu tidak mau menjalin hubungan dengan wanita lagi Sat. Aku akan merasa bersalah jika sampai itu terjadi. Kau berhak bahagia, kau berhak melanjutkan hidupmu dengan sebaik mungkin Sat. Carilah pendamping hidup yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan merasa bahagia jika aku bisa melihatmu bahagia bersama yang lainnya." Ujar Maysa.
__ADS_1
" Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya atau tidak. Hatiku telah mati setelah aku gagal mendapatkanmu May. Aku tidak berminat menjalin hubungan dengan wanita manapun. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, walaupun terkadang aku merasa sepi tapi setidaknya aku tidak merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan selama ini." Ujar Satya membuat Maysa merasa bersalah padanya.
" Sekali lagi maafkan aku!" Ucap Maysa.
" Tidak masalah, silahkan di minum kopinya!" Ucap Satya memberikan secangkir kopi latte kepada Maysa.
" Terima kasih." Sahut Maysa.
Maysa menyeruput kopinya tiba tiba...
" Nona Maysa."
Maysa mendongak menatap ke asal suara.
" Bang Barra." Ucap Maysa.
" Sebentar! Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Apa yang sedang terjadi dengan hubunganmu dan Ilyas? Kenapa kalian berkencan dengan pasangan yang berbeda? Tadi di sana Ilyas bersama.... " Barra menjeda ucapannya saat menyadari kesalahannya. Ia menatap Maysa sambil nyengir kuda.
" Aku sudah tahu Bang. Mas Ilyas pergi kencan dengan kekasihnya. Aku melihat semuanya." Sahut Maysa.
" Benarkah?" Tanya Barra memastikan.
" Sebenarnya siapa wanita itu Bang? Lalu apa hubungan Mas Ilyas dengannya?" Tanya Maysa menatap Barra.
Barra duduk di kursi samping Satya berhadapan dengan Maysa.
" Dia nona Karina, perusahaannya menawarkan kerja sama dengan perusahaan Ilyas. Tapi untuk hubungan mereka, aku tidak tahu. Aku juga kaget saat melihat Ilyas bersama nona Karina tadi, entah apa alasannya aku sendiri tidak tahu." Ujar Barra.
" Apa mas Ilyas tidak memberitahumu sesuatu tentang hubungannya dengan nona Karina?" Tanya Maysa memastikan.
" Biasa aja." Sahut Maysa.
" Tapi memang benar kata orang, bumil akan berubah jadi macan pada saat saat tertentu." Ucap Barra membuat Satya terkejut.
" Bumil?" Satya mengerutkan keningnya.
" Jadi kamu sedang hamil?" Tanya Satya.
" Iya Sat." Sahut Maysa.
" Kamu sedang hamil tapi kamu tidak fokus membawa mobil, lalu bagaimana jika terjadi hal buruk padamu dan anak kamu hah?" Ujar Satya menatap Maysa dengan tajam.
" Apa maksudmu tidak fokus membawa mobil?" Tanya Barra menatap Satya.
" Maysa membawa mobil sambil melamun sampai dia menabrak mobilku dari belakang." Sahut Satya.
" Apa???" Pekik Barra.
" Ini pasti gara gara perbuatan Ilyas." Sambung Barra menatap Maysa.
" Bukan, bukan karena mas Ilyas Bang. Aku hanya..
" Aku harus memberitahu Ilyas." Ucap Barra mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
__ADS_1
" Eh Bang nggak usah, aku nggak kenapa napa kok." Ujar Maysa.
" Sekarang kamu memang nggak kenapa napa tapi bisa saja besok besok kamu kenapa napa. Sudah diam saja! Aku harus memberikan Ilyas pelajaran." Ujar Barra.
Barra segera menelepon Ilyas. Setelah telepon tersambung, Ilyas pun langsung mengangkatnya.
" Halo Bar ada apa?" Tanya Ilyas.
" Nona Maysa kecelakaan Bos."
" Apa???" Pekik Ilyas.
" Dimana dia sekarang?" Tanya Ilyas panik.
" Kami sedang berada di cafe xx, sebentar lagi saya akan membawa nona Maysa ke rumah sakit. Saya tunggu kedatangan anda di sini Bos." Ucap Barra mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ilyas.
" Bang kenapa kamu berbohong? Kamu membuat mas Ilyas panik Bang, terus kalau dalam perjalanan dia ke sini kenapa napa gimana?" Ujar Maysa khawatir.
" Tenang saja! Dia pasti baik baik saja." Sahut Barra.
Sepuluh menit menunggu yang datang bukannya Ilyas tapi malah Aska dan Aksa.
" Maysa kamu baik baik saja?" Tanya keduanya bersamaan.
" Aku? Aku baik baik saja. Kenapa kalian kemari?" Tanya Maysa menatap keduanya.
" Bang Ilyas mengabari kami kalau kamu mengalami kecelakaan, tentu saja kami khawatir padamu. Itu sebabnya kami langsung kemari." Sahut Aska.
" Terima kasih telah mengkhawatirkan aku!" Ucap Maysa.
" Terus Ilyasnya kemana? Kenapa dia belum juga sampai sini?" Tanya Barra menatap Aska dan Aksa.
" Bang Ilyas sedang mengurus nenek lampir yang lagi rewel." Sahut Aska.
" Nona Karina maksudmu?" Tanya Barra memastikan.
" Siapa lagi?" Bukannya menjawab Aska malah balik bertanya.
" Benar benar merepotkan, di kabari istrinya kecelakaan bukannya langsung kemari malah lebih mementingkan wanita lain. Ilyas Ilyas... Dari dulu bego'nya selalu di pelihara." Gerutu Barra yang masih bisa di dengan Maysa.
Maysa menjadi lebih kesal dengan Ilyas.
" Ya sudah Bang aku mau pulang saja, aku capek mau istirahat." Ucap Maysa.
" Biar kami antar." Ucap ke empat pria yang ada di depan Maysa bersamaan.
Maysa tersenyum menatap mereka bergantian. Walaupun Ilyas tidak mendukungnya saat ini tapi ia tetap merasa bahagia karena masih ada mereka yang selalu peduli kepadanya.
" Aku bawa mobil sendiri jadi aku bisa pulang sendiri." Ucap Maysa.
" Kau pulang bersamaku, biar Aksa membawa mobilmu." Ujar Aska.
" Baiklah." Sahut Maysa.
__ADS_1
Akhirnya Maysa pulang bersama Aska, mobil yang di tumpangi oleh Aksa, Barra dan Satya mengikutinya dari belakang. Mereka nampak seperti para bodyguard yang sedang mengawal nyonya besarnya.
TBC....