
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, murid murid kelas dua belas IPA mulai bersiap. Setelah berdoa mereka keluar dari kelas kecuali Rega. Cici dan Ratih menatap heran ke arah Rega.
" Ga, lo nggak pulang?" Tanya Cici.
" Iya bentar, kalian duluan aja. Gue masih pengin duduk di sini." Sahut Rega.
" Lhah ngapain lo duduk di sini sendirian? Mau jadi penunggu kelas gitu?" Tanya Ratih.
" Gue lagi malas pulang, di rumah gue sendirian di sini juga gue sendiri. Tapi bedanya kalau di rumah gue selalu ingat ibu gue." Ujar Rega.
" Oh Rega sayang." Ucap Cici dan Ratih bersamaan. Mereka memeluk Rega dengan perasaan iba.
" Lo nggak boleh sedih, mari kita hang out bareng untuk menghibur Regata yang manis jelita!" Ucap Cici.
" Hang out kemana?" Tanya Ratih menatap Cici.
" Kita ke mall gimana? Kita nonton film komedi biar bisa ketawa sepuasnya." Ujar Cici.
" Haduh mereka malah ngajakin nonton, mana Mas Aska udah nungguin gue lagi." Batin Rega.
" Eh kalian tidak perlu repot repot. Gue nggak apa apa kok, gue mau pulang aja mau tidur di rumah. Lain kali aja ya kita jalan jalannya." Ujar Rega.
" Beneran lo nggak apa apa?" Tanya Ratih.
" Iya bener lah." Sahut Rega.
" Ya udah deh, perlu gue antar nggak?" Tanya Cici.
" Enggak usah terima kasih." Sahut Rega.
" Ya udah yuk kita pulang!" Ucap Ratih merangkul Rega.
" Baiklah." Sahut Rega.
Mereka bertiga keluar dari kelas menuju halaman sekolah, sampai di sana mereka bertiga berpisah. Cici menuju mobilnya, Ratih menyetop taksi sedangkan Rega berjalan kaki sampai ke perempatan jalan.
Di sana mobil Aska sudah menunggunya, Rega membuka pintu mobil tiba tiba...
Deg...
Jantung Rega berdetak kencang saat melihat Mawar duduk di kursi samping kemudi.
" Bu Mawar." Gumam Rega.
" Lama amat sih kamu, kami sudah lama menunggu." Ucap Mawar.
" Kalian duluan saja! Aku ada keperluan." Ucap Rega menutup pintunya kembali.
__ADS_1
Rega berjalan menjauh dari mobil Aska, Aska turun dari mobil lalu mengejarnya.
" Rega." Panggil Aska mencekal tangan Rega.
" Lepas!!" Rega menyentak tangannya kasar membuat cekalan Aska terlepas.
" Sayang jangan salah paham! Ini tidak sesuai yang kamu pikirkan." Ucap Aska.
" Memangnya apa yang aku pikirkan?" Tanya Rega menatap Aska.
" Sayang dengarkan! Tadi bu Mawar tiba tiba masuk ke mobil Mas, dia tanya Mas nungguin siapa? Lalu Mas jawab Mas sedang menunggumu. Mas beralasan kalau kita mengadakan les berdua sayang. Mas tidak tahu harus jawab apa, jadi Mas asal jawab saja supaya dia tidak curiga. Eh dia malah bilang mau ikut supaya kita tidak berduaan saja." Terang Aska.
" Apa perlu Mas mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Aska menatap Rega.
Rega malah nampak kebingungan.
" Baiklah ayo kita katakan yang sebenarnya biar bu Mawar tahu kalau aku sudah punya tunangan, biar dia tidak menggangguku lagi." Aska menarik tangan Rega mendekati mobilnya.
" Tidak perlu Mas." Ucap Rega melepas tangan Aska.
Rega membuka pintu belakang lalu duduk di kursi penumpang, Aska tersenyum melihatnya. Ia segera masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya menuju sebuah cafe agar Mawar tidak curiga.
" Rega kenapa kau tidak mengajak teman temanmu untuk les bersama? Kenapa hanya kamu sendiri?" Tanya Mawar.
" Mungkin mereka sudah bisa Bu, lagian kenapa Bu Mawar yang repot? Pak Aska tidak keberatan kalau kami berdua saja. Bukan begitu pak Aska?" Tanya Rega.
" Iya, siapapun pasti akan saya bantu." Sahut Aska kembali fokus pada jalanan.
Sampai di cafe mereka bertiga turun dari mobil.
" Ayo Pak kita masuk!" Mawar menggandeng lengan Aska.
" Maaf Bu jangan seperti ini! Saya tidak mau timbul fitnah tentang hubungan kita. Saya tidak mau mereka berpikir jika kita punya hubungan yang spesial." Ujar Aska melepas tangan Mawar.
" Memangnya kenapa kalau mereka berpikiran seperti itu? Malah bagus kan, setidaknya mereka mendoakan kita berjodoh." Ucap Mawar.
" Karena saya punya tunangan."
Jeduarrr...
" A.. Apa? Tunangan?" Tanya Mawar tidak percaya.
" Iya Bu, apa Ibu tidak lihat kalau saya memakai cincin pertunangan?" Ujar Aska menunjukkan jari manis di tangan kirinya.
Mawar membulatkan mata sempurna, ia tidak percaya jika pria yang selama ini ia taksir sudah punya calon istri.
" Si... Siapa calon istrinya Pak?" Tanya Mawar menatap Aska.
__ADS_1
" Namanya Arin." Sahut Aska.
" Dari keluarga mana Pak? Apa nama perusahaan keluarganya? Atau mereka salah satu dari kolega bisnis kita?" Selidik Mawar.
Hati Rega mencelos, kenapa selalu seputar itu yang orang orang tanyakan. Aska menatap Rega sebentar lalu kembali menatap Mawar.
" Darimanapun dan dari keluarga manapun dia berasal, yang jelas dia ada di hati saya. Saya mencintainya dengan tulus dari dalam hati bukan dari tahta ataupun hartanya. Karena bagi saya cinta dan kasih sayang adalah segalanya." Sahut Aska.
" Seperti Bu Mawar dan saya, kita sama sama memiliki kekayaan dan tahta yang sepadan. Tapi kita tidak punya cinta, lalu apa arti dari kekayaan itu Bu? Saya harap Bu Mawar mengerti apa yang coba saya katakan. Jadi saya harap mulai sekarang jangan mengganggu saya lagi. Saya permisi."
" Ayo Rega kita masuk ke dalam!" Ucap Aska berlalu dari sana di ikuti Rega di belakangnya.
Mawar mengepalkan erat tangannya.
" Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh kalah. Baru tunangan, bukankah sebelum janur kuning melengkung kita masih punya kesempatan untuk mendapatkannya? Aku akan berusaha semaximal mungkin untuk mendapatkanmu Aska, jika aku gagal aku akan menggunakan kekuasaan papaku untuk mendapatkanmu." Gumam Mawar menyusul Aska masuk ke dalam.
" Kalian mau pesan apa? Biar saya yang bayar." Ucap Mawar duduk di depan Aska.
Aska memutar bola matanya malas, bagaimana ada wanita tidak tahu malu seperti Mawar? Sudah di tolak masih saja mepet.
" Tidak perlu Bu, kami bisa membayarnya sendiri." Sahut Aska.
" Tidak apa apa Pak Aska, sekali kali. Pak Aska memang bisa bayar, tapi Regata belum tentu." Ucap Mawar sinis sambil melirik Rega.
" Kenapa tidak bisa?" Tanya Rega tidak takut. Ia paling tidak suka jika di rendahkan.
" Memangnya kamu punya uang untuk membeli makanan di cafe mahal ini?" Tanya Mawar.
" Bu Mawar benar mungkin aku tidak punya uang, tapi Pak Aska yang mengajakku ke sini jadi Pak Aska lah yang harus membayar semua makananku. Salah sendiri memilih cafe elit seperti ini." Ujar Rega memutar bola matanya malas.
" Sukanya gratisan toh, kalau gitu mending kamu cari pacar anak orang kaya aja Rega, biar dapat gratisan setiap hari."
Brak....
Aska menggebrak meja membuat Rega dan Mawar berjingkrak kaget. Ia juga menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Aska berdiri menatap tajam ke arah Mawar.
" Anda seorang guru tapi mulut anda lebih buruk dari mereka yang tidak pernah bersekolah. Saya menyayangkan sikap anda yang sangat tidak buruk ini Bu Mawar. Jika anda tidak bisa berbicara baik baik lebih baik anda diam daripada perkataan anda menyakiti orang lain." Ucap Aska menunjuk wajah Mawar.
" Rega tunangan saya, semiskin apapun dia tapi dia kaya cinta dan kasih sayang. Dia tahu cara menghormati orang lain dengan benar, tidak seperti anda yang mengaku punya pangkat besar. Saya harap ini terakhir kalinya anda mengganggu kami, jika anda berani mengusik kami di kemudian hari maka aku akan membuat perhitungan untuk anda." Ucap Aska penuh penekanan.
Mawar sangat terkejut dengan ucapan Aska, begitupun dengan Rega. Jantung Rega bahkan berdetak sangat kencang, ia takut Mawar akan membocorkan hubungannya dengan Aska.
" Ayo sayang kita pulang!" Aska menarik tangan Rega meninggalkan cafe itu.
Mawar mengepalkan erat tangannya melihat kepergian mereka berdua.
" Aku akan buat perhitungan padamu Rega." Gumam Mawar tersenyum smirk.
__ADS_1
TBC...