TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
PENYESALAN AKSA


__ADS_3

" Arghhhh!!!!" Teriak Ercha menarik kasar rambutnya sendiri.


" Hiks... Hiks...." Tubuh Ercha luruh ke lantai.


" Kenapa kamu melakukan ini padaku Mas? Hiks... Apa cinta dan perhatianmu selama ini hanya kepalsuan saja? Apa aku sama sekali tidak berarti dalam hidupmu? Kenapa begitu cepat kau berpaling dariku? Bukan hanya dariku tapi dari anakmu juga. Hiks... Aku akui aku memang salah karena tidak pandai meluruskan kesalahpahaman ini tapi bukan ini yang aku harapkan darimu Mas. Hiks... Aku tidak menginginkan ini darimu hiks.... Kak Raka... Bawa aku pergi dari sini sekarang juga kak! Aku mohon hiks.... Aku tidak sanggup lagi berada di sini! Aku... Hiks... " Isak Ercha memukul dadanya yang terasa sesak.


Di ruang tamu Aksa menyesali perbuatannya sendiri. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu tergesa gesa membuat keputusan yang akhirnya membuatnya menyesal sedalam dalamnya.


" Hiks... Kenapa aku tidak tahu tentang hal ini? Kenapa aku tidak tahu jika anakku masih hidup? Kenapa aku bisa melakukan kesalahan seperti ini? Hiks... Aksa kenapa lo begitu bodoh? Kenapa lo bisa seceroboh ini? Kenapa lo begitu menuruti egomu sehingga lo berusaha menjauh dari istri lo sendiri. Ya Tuhan... Apa yang akan terjadi ke depannya nanti? Aku tidak mau berpisah dari Ercha, aku tidak mau kehilangannya. Ercha pasti sangat kecewa padaku, dia pasti sangat membenciku sekarang hiks.. Maafkan aku Ercha, maafkan aku sayang." Monolog Aksa.


Yura menghampiri Aksa.


" Maaf Tuan Aksa, apa yang harus aku lakukan di sini?" Tanya Yura.


" Tetaplah di sini sampai aku berhasil menjelaskan yang sebenar benarnya." Ucap Aksa mengusap air matanya.


" Kau bisa tinggal di kamar tamu dulu!" Sambung Aksa menunjuk kamar tamu.


" Baik Tuan." Sahut Yura meninggalkan Aksa menuju kamar tamu.


Aksa berjalan menuju kamarnya.


Tok tok...


" Ercha aku ingin bicara padamu sayang." Ucap Aksa.


Ercha tersenyum sinis mendengar ucapan sayang yang keluar dari mulut Aksa.


" Ercha aku ingin menjelaskan semuanya, yang aku katakan tadi hanya kebohongan sayang. Aku sengaja membawa Yura untuk membantuku supaya aku punya alasan untuk berpisah darimu. Bukan aku tidak mencintaimu tapi karena aku ingin membebaskan dirimu dari hubungan ini. Saat kau mengatakan ingin melenyapkan calon anak kita, aku merasa kamu tidak mencintaiku, aku merasa namun tidak akan pernah bisa memberikan hati dan cintamu kepadaku, itu sebabnya aku ingin kau memilih pria yang kau cintai. Sejujurnya sangat berat untukku mengambil keputusan ini sayang, bagaimanapun aku sangat mencintaimu. Ya Ercha aku mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu. Sekarang aku katakan yang sebenarnya, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Yura sayang. Aku hanya bersandiwara saja, maafkan aku! Aku mencintaimu Ercha. Apa kau mendengarkan aku?" Terang Aksa.


Sayangnya di dalam sana Ercha tidak mendengar setiap ucapan Aksa, karena tidak kuat menahan sesak di dadanya membuat Ercha tidak sadarkan diri.


" Ercha buka pintunya!" Ucap Aksa.


Karena tidak ada sahutan maupun suara dari dalam, Aksa menjadi panik.


" Ercha apa kau baik baik saja?" Tanya Aksa khawatir.


Ceklek ceklek...


Aksa berusaha membuka pintu, namun pintu terkunci dari dalam.


" Ercha buka pintunya!" Teriak Aksa semakin panik. Ia takut Ercha nekat melakukan hal yang tidak ia inginkan.

__ADS_1


" Kita dobrak saja pintunya."


Aksa menoleh ke asal suara.


" Bang Aska aku... "


" Gue udah dengar semuanya, lo bisa jelasin nanti. Yang penting saat ini kita harus memastikan kondisi Ercha, semoga dia baik baik saja." Ujar Aska.


" Terima kasih Bang." Ucap Aksa.


Keduanya mulai mendobrak pintu kamar Ercha.


Satu kali... Dua kali belum juga berhasil. Tuan Frans dan Ilyas yang mendengar suara gaduh segera menghampiri mereka.


" Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu dengan Ercha di dalam?" Tanya tuan Frans.


" Aku tidak tahu Pi, tapi Ercha tidak menjawab panggilanku. Aku takut dia...


" Kalau sampai terjadi sesuatu pada putri dan cucu Papi, kau harus bertanggung jawab Aksa." Ancam tuan Frans memotong ucapan Aksa.


" Iya Pi." Sahut Aksa.


" Coba dobrak lagi!" Titah tuan Frans.


Brak... Brak...


Akhirnya pintu terbuka, mereka semua masuk ke kamar Ercha dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Ercha yang tergeletak di lantai.


" Ercha!!!!" Teriak Aksa mendekati tubuh Ercha.


Saat Aksa hendak membopong tubuh Ercha tiba tiba suara seseorang menghentikannya.


" Jangan sentuh adikku!" Teriak Raka di depan pintu.


Semua orang menoleh ke arahnya, dengan langkah tegap Raka menghampiri mereka semua.


" Tidak ada yang berhak menyentuh adikku." Ucap Raka. Ia segera membopong Ercha dengan hati hati.


" Dia istriku Bang, aku berhak atas dirinya." Ucap Aksa.


" Dia bukan istrimu lagi." Ucap Raka membuat mereka semua terkejut.


" Kau kehilangan hakmu sebagai suaminya sejak kau mengatakan ingin berpisah dengannya dan ingin menikahi wanita lain." Ucap Raka penuh penekanan.

__ADS_1


" Maaf Bang! Ini hanya kesalahpahaman saja. Aku bisa menjelaskan semuanya." Ucap Aksa.


" Aku tidak peduli itu, yang jelas kau sudah membuat adikku seperti ini. Dan jangan harap kau bisa menemui adikku lagi." Ucap Raka membawa Ercha pergi.


" Maaf Nak Raka!" Ucap tuan Frans menghentikan langkah Raka.


" Aksa memang membuat kesalahan yang membuat kesalahapahaman ini terjadi, entah apa alasannya saya sendiri tidak tahu. Tapi mereka sedang dalam masalah saat ini. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." Sambung tuan Frans.


" Aku akan mengijinkan Aksa menemui Ercha kalau Ercha sendiri yang memintanya. Saat ini aku tidak mau adikku tertekan karena berada di rumah ini. Maaf aku harus pergi." Ucap Raka melanjutkan langkahnya.


" Bang aku mohon jangan bawa Ercha pergi dari rumah ini! Ini rumahnya Bang." Ucap Aksa mengikuti Raka dari belakang.


" Rumah ini sudah tidak nyaman lagi baginya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adik tercintaku. Kau dan kekasihmu itu harus menerima akibat dari perbuatan kalian. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan kepada kalian berdua." Ucap Raka.


Saat Raka melewati ruang tamu, ia berpapasan dengan nyonya Alexa.


" Mami tolong bilang ke Bang Raka untuk tidak membawa Ercha pergi Mi." Ucap Aksa sambil menangis.


Raka menatap nyonya Alexa begitupun sebaliknya.


" Mami aku mohon bantu aku! Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tolong jangan biarkan Ercha pergi dari rumah ini!" Ujar Aksa menatap ibunya.


" Biarkan dia membawa Ercha karena saat ini Ercha adalah adiknya, bukan istrimu lagi."


Jeduarrr....


Ucapan nyonya Alexa bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Aksa.


" Ma.. Mami.. " Ucap Aksa.


" Silahkan bawa Ercha kembali ke rumah Raka, maafkan Tante yang tidak bisa menjaga Ercha dengan baik sehingga dia harus mengalami rasa sakit ini akibat perbuatan putra Tante. Tolong jaga Ercha dan cucu Tante dengan baik, Tante yakin tidak ada orang yang mampu menjaga Ercha sebaik dirimu." Ucap nyonya Alexa mengatupkan kedua tangan di dadanya.


Aksa memejamkan matanya menahan sesak karena melihat ibunya merendahkan diri di depan orang lain.


" Aku permisi Tante." Ucap Raka kelaur dari rumah Aksa.


" Bang tunggu!" Ucap Aksa.


Raka tidak bergeming, ia terus melangkah sampai ke mobilnya. Aksa terus mencoba mencegah kepergian Raka. Nyonya Alexa yang melihatnya hanya bisa diam.


" Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran putraku saat ini, yang aku tahu inilah yang terbaik untuk mereka berdua. Biarkan mereka saling menenangkan diri lebih dulu agar mereka bisa berpikir jernih untuk menerima penjelasan satu sama lain. Aku tidak mau sampai mereka mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Aku akan meminta penjelasan Aksa lebih dulu kenapa dia tega melakukan semua ini pada Ercha." Ujar nyonya Alexa dalam hati.


Ya... Nyonya Alexa meminta Raka menjemput Ercha, ia juga menceritakan masalah yang sedang di hadapi putra dan menantunya itu. Ia ingin Ercha merasa nyaman berada di rumahnya sendiri, ia tidak mau sampai terjadi hal buruk pada calon cucunya jika Ercha mengalami banyak tekanan. Ia berharap semoga hubungan Aksa dan Ercha masih bisa di selamatkan.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2