
Aksa masuk ke dalam rumah Raka dengan terhuyung, kepalanya mendadak pusing dan pandangannya berkunang kunang. Raka yang melihatnya dari dalam segera menghampirinya.
" Aksa lo kenapa?" Raka menopang tubuh Aksa.
" Nggak tahu, tiba tiba kepala gue pusing Bang." Sahut Aksa.
" Duduk dulu!" Ucap Raka.
Sebenarnya Raka kesal sama Aksa tapi melihat adik iparnya seperti ini dia tidak tega. Apalagi melihat wajahnya Aksa yang begitu pucat, mata sembab membuat hati Raka trenyuh.
" Bang gue minta tolong panggilkan Ercha, gue perlu berbicara dengannya Bang." Ucap Aksa sambil memijat pelipisnya.
" Oke oke gue panggilkan." Sahut Raka.
Raka meninggalkan Aksa menuju kamar Ercha, setelah hampir sepuluh menit membujuk Ercha akhirnya Raka berhasil. Dengan langkah malas Ercha berjalan menuruni anak tangga menghampiri Aksa yang sedang duduk di ruang tamu.
" Sayang." Gumam Aksa ingin berdiri namun kepalanya berdenyut nyeri, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Ercha duduk di depan Aksa, ia menatap Aksa dengan sinis membuat Aksa tidak nyaman. Untuk beberapa saat mereka saling melempar pandangan.
" Ada apa dengan Mas Aksa? Kenapa wajahnya nampak pucat begitu? Apa dia tidak mengurus dirinya dengan baik selama satu minggu ini? Apa dia sakit ya?" Tanya Ercha dalam hati.
Aksa mendekati Ercha, ia bersimpuh di kaki Ercha sambil menggenggam tangannya.
" Lepasin gue!!" Bentak Ercha menepis tangan Aksa.
" Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi." Sahut Aksa mengeratkan genggamannya. Ia tidak peduli seberapa besar Ercha memberontak.
" Sebenarnya apa mau kamu hah? Aku sudah mengikuti apa kemauanmu. Lalu untuk apa kamu ke sini lagi? Untuk apa kamu ingin menemuiku lagi? Aku sangat malas melihat wajahmu itu." Ujar Ercha menatap Aksa.
" Aku ke sini untuk menjelaskan kesalahan dan kebohongan yang telah aku lakukan padamu. Aku...
" Semuanya sudah jelas di mataku, tidak ada hal yang harus di jelaskan lagi. Sekarang pergilah! Aku tidak mau membuang waktuku untuk mendengarkan ucapanmu yang tidak penting itu." Ujar Ercha.
" Ercha dengarkan aku!" Ucap Aksa mendongak menatap Ercha begitupun sebaliknya.
" Aku mencintaimu." Ucap Aksa membuat Ercha terkejut.
" A.. Apa?" Ucap Ercha sambil melongo tak percaya.
" Ya aku mencintaimu, aku mencintaimu sejak...
" Kau benar benar gila tuan Aksa Wilson." Ucap Ercha dengan nada tinggi.
" Ya aku gila karena kamu meninggalkan aku." Sahut Aksa.
" Heh..." Sinis Ercha.
" Bagaimana bisa kau bilang mencintaiku setelah kau membuat pengakuan kau mencintai wanita lain di depan keluargamu. Bahkan kau mengatakan jika kau ingin bercerai dariku dan menikahinya. Lalu apa ini? Kenapa kau sengaja mempermainkan perasaanku? Kenapa kau tidak mau melepasku begitu saja? Jangan buat aku bingung dengan sikapmu ini tuan Aksa! Aku mohon biarkan aku hidup dengan tenang tanpa drama menjijikkan yang kau perankan saat ini." Ucap Ercha mencoba melepas tangan Aksa namun tidak berhasil membuat Ercha kesal sendiri.
" Ya kau benar aku memang memainkan sandiwara, tapi bukan tentang perasaanku padamu melainkan tentang perasaanku pada Yura." Ucap Aksa.
__ADS_1
" Apa maksudmu tuan Aksa?" Tanya Ercha mengerutkan keningnya.
" Sebenarnya aku berbohong padamu, aku....
Akhirnya Aksa menjelaskan semuanya, semua yang ia lakukan dari awal sampai akhir sama seperti saat ia menjelaskan kepada keluarganya jika yang ia lakukan hanyalah kebohongan semata.
" Ja... Jadi kamu berpikir kalau aku menggugurk@n kandunganku, terus kamu marah dan berniat berpisah dariku karena kamu mengira kalau aku tidak ada perasaan apa apa kepadamu?" Tanya Ercha memastikan.
" Iya sayang, aku benar benar bodoh. Aku benar benar ceroboh Ercha, maafkan aku!" Ucap Aksa.
" Apa kau kira aku percaya padamu? Apa kau kira aku akan memaafkanmu lalu kembali kepadamu begitu?" Ujar Ercha menatap Aksa.
" Kau tidak percaya padaku?" Tanya Aksa.
" Tidak... Sekali berbohong seterusnya pasti akan berbohong juga." Sahut Ercha.
" Tidak sayang, kali ini aku sama sekali tidak berbohong padamu. Aku berbicara yang sebenar benarnya padamu. Aku tidak berbohong Ercha... Aku tidak ada hubungan maupun perasaan apa apa kepada suster Yura. Aku melakukan semua ini karena aku salah paham padamu. Aku minta maaf Ercha, tapi percayalah aku hanya mencintaimu dan selalu ingin bersamamu bukan yang lainnya. Aku mencintaimu Ercha... Hiks... Aku.. Aku.." Ucap Aksa semakin tenggelam dalam tangisannya.
" Sayang daddy minta maaf padamu." Ucap Aksa menyentuh perut Ercha.
" Daddy tidak tahu jika kamu masih ada di sini, hiks... Maafkan kecerobohan daddy sayang. Tolong bantu daddy membujuk mommymu untuk memaafkan dan kembali lagi pada daddy, daddy mencintai kalian berdua."
Tiba tiba...
Bugh...
Tubuh Aksa jatuh ke lantai.
" Ya Tuhan Mas Aksa." Pekik Ercha.
Raka yang mendengarnya segera berlari menghampiri Ercha.
" Ya Tuhan Aksa pingsan." Ucap Raka melihat tubuh Aksa tergeletak di lantai.
" Tolong bawah ke kamarku Kak!" Ucap Ercha.
" Yakin ke kamarmu?" Tanya Raka sedikit menggoda.
" Iya buruan Kak!" Sahut Ercha terlihat cemas.
" Baiklah baiklah, jangan cemas begitu! Daddy bayimu baik baik saja." Ucap Raka terkekeh.
Ercha memanyunkan bibirnya tanda protes.
Raka membopong Aksa menuju kamar Ercha di ikuti Ercha di belakang.
" Sepertinya suamimu tidak makan beberapa bulan, dia terasa ringan sekali." Ucap Raka.
" Mungkin." Sahut Ercha.
Raka membaringkan tubuh Aksa di ranjang Ercha dengan pelan. Ercha menyelimuti Aksa dengan sampai ke batas bahu.
__ADS_1
" Tolong panggilkan dokter Rean Kak!" Ucap Ercha tanpa menatap Raka. Ia malah asyik menatap wajah tampan suaminya.
" Masih peduli nih ceritanya? Jangan jangan masih cinta." Goda Raka.
" Udah deh Kak jangan menggodaku terus! Buruan panggilkan dokter." Ujar Ercha.
" Baiklah." Sahut Raka meninggalkan kamar Ercha.
Ercha menatap wajah Aksa, hatinya berdesir bagaikan ribuan kupu kupu beterbangan di dalamnya.
Ting...
Ponsel Ercha berdering tanda pesan masuk. Ia mengambil ponselnya lalu membuka pesan dari Aska. Sebuah rekaman suara penjelasan Aksa kepada keluarganya dan sebuah pengakuan dari suster Yura sebelum kembali ke negara S.
Ercha tersenyum mendengarnya. Ia tidak menyangka Aksa bisa melakukan hal sekonyol ini.
" Bisa bisanya kamu melakukan hal sekonyol ini Mas. Kenapa kamu tidak bisa berpikir jernih? Kenapa kamu malah bersikap kekanakan seperti ini sebelum mendengar penjelasanku. Sepertinya kau memang harus di beri sedikit pelajaran. Sudah lama aku memendam sikap jahilku selama ini karena aku harus belajar menjadi seorang ibu yang baik. Tapi sekarang tidak lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini ha ha... Kau akan lihat apa yang akan aku lakukan padamu Mas." Monolog Ercha tersenyum smirk.
Tak lama dokter datang untuk memeriksa Aksa.
" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Ercha.
" Tuan Aksa mengalami dehidrasi Nona, beliau kurang asupan gizi selama ini. Aku harus memberikan infus padanya untuk membantunya agar tidak kekurangan cairan. Setelah dia sadar berikan dia makanan yang bergizi dan buah buahan serta segelas susu. Minum air putih yang banyak dan istirahat yang cukup agar cepat pulih. Saya akan memberikan vitamin untuk di minum sampai habis." Terang dokter Rean.
" Baik Dok terima kasih." Ucap Ercha.
" Sama sama Nona." Sahut dokter Rean.
Dokter Rean memasang selang infus di tangan kanan Aksa. Setelah itu ia memberikan beberapa vitamin.
" Kalau begitu saya permisi dulu Nona. Semoga tuan Aksa segera pulih." Ucap dokter Rean.
" Terima kasih Dok, hati hati." Ucap Ercha.
Setelah kepergian dokter Rean, Ercha duduk di tepi ranjang menatap Aksa dengan perasaan entah.
" Kasihan kamu Mas, kamu sampai sakit begini gara gara aku. Tapi bukan salahku, itu salahmu sendiri. Siapa suruh membohongiku seperti itu. Ah aku jadi tidak tega memberikan pelajaran padamu." Gerutu Ercha.
" Berikan saja cintamu padaku sayang."
Ercha melongo menatap Aksa yang ternyata sudah siuman. Ia tersenyum menatap Ercha, saat ia hendak menggenggam tangan Ercha ia terkejut karena selang infus yang tertancap di tangannya.
" Sayang aku kenapa? Kenapa aku di infus seperti ini?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Kamu.... " Ercha menjeda ucapannya. Ia tersenyum smirk saat terbesit ide di kepalanya.
" Mas... Hiks..." Isak Ercha.
" Sayang kamu kenapa? Apa kondisisku separah itu sehingga membuatmu bersedih?" Tanya Aksa.
" Hiks... Iya Mas... Penyakitmu parah Mas, kata dokter kamu terkena Aids." Ucap Ercha.
__ADS_1
" Apa???"
TBC....