
Satu bulan kemudian.
Sinar matahari masuk ke kamar Ercha melalui celah korden tepat mengenai wajah Ercha membuat matanya terasa silau. Ia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang saat ini berada di depannya sambil memeluknya.
" Sejak kapan kami tidur berpelukan seperti ini? Bukankah biasanya aku pasti akan menendangnya? Tapi kenapa hari ini rasanya begitu nyaman berada dalam pelukannya? Apa sekarang aku sudah mulai nyaman berada di dekatnya? Apa mungkin aku sudah mulai mencintainya?" Ujar Ercha dalam hati.
" Sudah puas menatap wajahku?" Tanya Aksa sambil membuka matanya membuat Ercha terkejut. Sontak Ercha langsung beranjak duduk.
Tiba tiba...
Huek...
Ercha membekap mulutnya menggunakan tangannya. Ia segera turun dari ranjang lalu berlari ke kamar mandi. Melihat itu Aksa segera menyusulnya.
Huek... Huek....
Ercha memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening saja di wastafel kamar mandinya.
" Ya Tuhan sayang kamu kenapa? Kenapa kamu seperti ini hmm? Apa kamu salah makan?" Tanya Aksa nampak khawatir.
Setelah mendingan Ercha membasuh mulutnya dengan air bersih.
" Hah... " Ercha menghembuskan nafasnya kasar sambil mengatur nafasnya yang ngos ngossan.
" Apa mungkin kamu masuk angin?" Tanya Aksa lagi.
" Kamu banyak pertanyaan Mas, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Tiba tiba perutku terasa mual dan pengin muntah. Kepalaku juga sangat pusing, hah.. Aku mau tidur lagi aja." Ujar Ercha.
Saat Ercha hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba tubuhnya terhuyung ke depan. Beruntung Aksa langsung menopang tubuhnya hingga ia tidak jatuh ke lantai.
" Aku bantu ke ranjang." Ucap Aksa.
Aksa menggendong Ercha ala bridal style menuju ranjang. Ia membaringkan tubuh Ercha ke ranjang. Tiba tiba Ercha memiringkan tubuhnya sambil memegangi perutnya.
" Sayang kenapa lagi?" Tanya Aksa.
" Perutku mual lagi Mas." Sahut Ercha.
" Mau muntah lagi?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Sepertinya begitu Mas." Sahut Ercha.
__ADS_1
" Ya sudah ayo kita ke kamar mandi!" Ujar Aksa.
Aksa membantu Ercha bangun, saat Ercha turun dari ranjang tiba tiba...
Huek...
Aksa memejamkan matanya saat Ercha muntah tepat di depan wajahnya. Ercha melongo menatap Aksa, tak lama kemudian ia malah tertawa.
Aksa berlari menuju kamar mandi membersihkan wajahnya, lalu ia mandi membersihkan tubuhnya sekalian. Sedangkan Ercha duduk bersandar di atas ranjang.
" Ya Tuhan... Kenapa rasanya pusing sekali? Perutku juga terasa sangat mual. Sebenarnya aku kenapa? Apa aku sakit? Tidak tidak... Aku tidak mau sakit seperti ini. Bisa bisa aku mati sebelum waktunya jika harus merasakan sakit seperti ini. Aku tidak mau sakit Tuhan, pekerjaanku masih banyak di kantor. Hari ini aku ada pertemuan dengan client yang akan memakai hasil desainku. Aku tidak boleh sakit titik." Monolog Ercha sambil memijat kepalanya sendiri.
Ceklek...
Aksa keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi bagian tengahnya saja. Ercha melongo menatap Aksa tanpa mengedipkan matanya.
" Mas apa kamu tidak malu keluar hanya memakai handuk seperti itu saja?" Ujar Ercha.
" Sebenarnya malu sih, tapi mau gimana lagi orang aku lupa membawa baju ganti." Sahut Aksa masuk ke ruang ganti.
" Ya Tuhan badannya bagus banget, jadi pengin nyubit tuh roti sobek." Gumam Ercha.
" Eh apaan sih kamu Cha, kalau mas Aksa sampai dengar kan malu." Monolog Ercha seperti orang gila.
Huek... Huek....
Aksa segera menyusulnya, ia memijat tengkuk Ercha dengan pelan.
" Hah aku kenapa sih? Kenapa harus mual seperti ini coba?" Gerutu Ercha sambil berkacak pinggang.
" Sayang kapan kamu terakhir haid?"
Ercha membulatkan mata sempurna saat mendengar pertanyaan Aksa.
" Apa itu artinya aku... " Ercha menjeda ucapannya.
" Tidak tidak... Aku tidak mau hamil. Jangan sampai aku hamil, kalau sampai hal itu terjadi aku akan membencimu seumur hidupku Mas." Ucap Ercha.
" Sayang nggak boleh bilang begitu! Kamu harus...
" Harus apa?" Tanya Ercha dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Kamu yang membuatku seperti ini dengan menjebakku. Kamu pura pura dalam reaksi obat perangsang supaya aku mau membantumu. Dan saat aku mau meminum pil penunda kehamilan kamu bilang nggak akan jadi. Lalu ini apa hah?"
" Kalau sampai aku terbukti positif, aku berjanji tidak akan pernah memaafkanmu. Aku sudah bilang belum siap jadi ibu, tapi sepertinya kau sengaja membodohiku selama ini. Kau sendiri yang bilang kan kalau kau ingin menjadi papa di usiamu yang masih muda. Itu sebabnya kau mencegahku meminum pil itu."
" Bodoh kamu Ercha... " Ercha menarik kasar rambutnya.
" Aku akan melenyapkan ya sekarang juga." Ucap Ercha berlalu dari sana.
Ercha mengambil kunci mobil dan tas selempangnya di atas nakas.
" Ercha kamu mau apa?" Tanya Aksa mencekal tangan Ercha.
" Aku mau ke dokter kandungan dan meng@b0rs! anak ini." Sahut Ercha.
" Astaga sayang..... Sadarlah! Kalaupun benar kamu hamil, dia anak kita, darah daging kita, buah cinta kita sayang yang harus kita sayangi dan kita cintai. Kita harus menjaganya dengan baik bukan malah berniat buruk padanya. Berbuat buruk kepada anak yang sama sekali belum lahir ke dunia ini, itu sebuah dosa besar sayang. Lahirkan dia untukku." Ucap Aksa menggenggam tangan Ercha.
" Tapi aku belum siap untuk hamil Mas." Ucap Ercha keras kepala.
" Kamu belum siap karena kamu belum mengalaminya. Kalau kamu sudah mengalami kehamilan itu sendiri, kamu pasti siap dan bisa sayang. Percayalah kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak anak kita. Banyak wanita yang menginginkan seorang anak tapi mereka tidak bisa mendapatkannya sayang, sekarang kamu dengan mudah bisa mendapatkan itu, apa kamu tega ingin membuangnya hanya karena kamu belum siap menjadi seorang ibu? Jangan egois Ercha, jangan lakukan hal yang akan membuatmu menyesal nantinya." Ucap Aksa.
" Kamu yang egois!!!" Bentak Ercha menunjuk wajah Aksa.
" Dari awal aku sudah bilang padamu, jangan sentuh aku! Aku masih ingin menikmati kesendirianku atau kau bisa menganggapnya apalah itu. Aku belum siap untuk menjadi seorang ibu, tapi apa yang kau lakukan? Kau membuatku seperti ini. Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku masih muda, aku masih bisa hamil kapan pun aku mau. Aku tidak mau melahirkan anak ini. Aku tidak mau mengandung anak ini, anak hasil dari kebohonganmu." Ucap Ercha.
Ercha segera berjalan keluar kamarnya, ia menuruni anak tangga dengan tergesa gesa. Tidak mau terjadi hal yang tidak ia inginkan, Aksa segera berlari mengejar Ercha.
" Ercha tunggu!" Panggil Aksa.
Ercha terus berjalan menuju mobilnya, ia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju sebuah klinik dengan. kecepatan tinggi.
Aksa yang tidak bisa mengejarnya merasa kesal pada dirinya sendiri.
" Arghhh!!!!" Teriak Aksa menarik kasar rambutnya.
" Ya Tuhan lindungilah anakku! Jika Kau sudah memberikannya kepadaku maka Kau tidak boleh mengambilnya kembali. Luluhkan hati istriku yang sekeras batu itu. Semoga dia bisa menerima calon anakku." Monolog Aksa.
Bisa nggak nih? Gantung dulu ya biar pemasaran.. Jangan lupa tekan like koment dan kasih 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih...
Miss U all...
__ADS_1
TBC....