TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
SALAH PAHAM


__ADS_3

Setelah mendapat titik dimana Ercha berada melalui gps yang ia pasang di mobil Ercha, Aksa segera melajukan mobilnya menuju sebuah klinik yang ada di pinggiran kota. Klinik kecil yang biasa di gunakan untuk menerima persalinan dan lain sebagainya.


Di dalam perjalanan Aksa terus berdoa, ia berharap Ercha akan membatalkan niatnya. Ia tidak mau jika sampai calon anaknya kenapa napa. Sampai di depan klinik, Aksa langsung turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia berlari masuk ke dalam.


" Permisi apa ada pasien bernama Ercha Wilson?" Tanya Aksa pada petugas pendaftaran.


" Saya suaminya." Sambung Aksa saat petugas itu hanya menatapnya saja.


" Nyonya Ercha baru saja masuk ke poli kandungan tuan, ruangannya ada di paling ujung." Ucap petugas menunjuk sebuah ruangan yang bertuliskan poli kandungan.


Tanpa membuang waktu, Aksa segera menuju ruangan itu.


Ceklek....


Aksa membuka pintu dengan pelan, bagaimanapun ia harus tetap menjaga kesopanannya. Di dalam sana saat ini Ercha sedang berbaring di atas ranjang sambil terus menatap monitor yang menunjukkan butiran kecil yang dokter yakini sebagai calon anaknya.


" Usianya memasuki delapan minggu Nyonya. Dia sehat dan perkembangannya bagus. Apa anda mengalami mual di pagi hari?" Tanya dokter.


Ercha tidak bergeming, ia justru meneteskan air matanya.


" Hiksss.... " Isak Ercha membekap mulutnya.


Melihat itu Aksa langsung masuk ke dalam.


" Sayang." Ucap Aksa.


Ercha langsung memeluk Aksa, ia membenamkan wajahnya ke perut Aksa.


" Maaf Dok istri saya sedang sensitif saat ini." Ucap Aksa.


" Tidak masalah Tuan, hal ini biasa terjadi pada ibu hamil." Sahut dokter tersenyum.


" Dia anak kita sayang." Ucap Aksa mengelus kepala Ercha.


" Hiks.. I.. Iya Mas. Dia anak kita hiks.. " Isak Ercha.


" Kenapa kamu menangis hmm? Apa ini air mata bahagia?" Tanya Aksa.


" A... Aku.. Aku." Ucap Ercha gugup.


" Atau kamu merasa sedih? Atau kamu merasa bimbang dengan keputusanmu? Apa kamu tetap pada tujuan awalmu datang ke sini?" Tanya Aksa.


Ercha melepas pelukannya, ia mengusap air matanya lalu menatap Aksa.


" Ya."


Jeduarrr...


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Aksa benar benar terasa kaku. Hatinya memanas, tanpa ia sadari ia mengangkat tangannya ke wajah Ercha. Ercha memejamkan matanya siap menerima tamparan dari Aksa, beruntung Aksa bisa mengendalikan dirinya.


" Lakukan apa yang kau mau, tapi setelah ini jangan temui aku lagi." Ucap Aksa.


Aksa segera berlalu dari sana. Dokter menatap Ercha dengan bingung.


" Tidak apa Dok, suami saya hanya salah paham saja. Lanjutkan pemeriksaannya karena saya harus segera pulang untuk menjelaskan kesalahpahaman ini!" Ucap Ercha.


" Baiklah." Sahut dokter kembali memeriksa Ercha.

__ADS_1


Setelah selesai dokter memberikan resep kepada Ercha.


" Di sini ada obat pengurang mual, vitamin B yang harus anda habiskan dan tablet tambah darah. Satu bulan lagi silahkan kembali kemari atau ke rumah sakit." Ucap dokter.


" Terima kasih Dok." Sahut Ercha.


Setelah menebus resepnya Ercha melajukan mobilnya kembali ke rumah, Ia harus meluruskan masalah yang saat ini sedang ia hadapi. Saat di tengah perjalanan ia mendapat telepon dari pembantu rumahnya yang mengabarkan jika Raka sakit. Tanpa membuang waktu ia langsung memutar arah mobilnya menuju rumahnya sendiri.


Dua puluh menit ia sampai di rumahnya, ia segera masuk ke dalam menuju kamar Raka.


" Kak Raka." Ucap Ercha menghampiri Raka yang terbaring lemah di atas ranjang.


" Ercha... Kenapa kamu kemari hmm?" Lirih Raka.


" Maaf Den, saya tadi yang menelepon non Ercha." Ucap bi Ijah.


" Kenapa Bibi meneleponnya? Aku kan sudah bilang jangan beritahu Ercha. Aku baik baik saja Bi." Ucap Raka.


" Maaf Den, Bibi khawatir karena dari kemarin demam den Raka belum juga turun." Ujar bi Ijah.


" Jadi begini sikap seorang kakak setelah adiknya menikah? Dia merasa telah membuang adiknya sehingga dia tidak mau lagi berbagi duka kepada adiknya. Sejak kapan Kakak demam?" Tanya Ercha menatap Raka.


" Baru kemarin." Sahut Raka.


" Lagian walaupun Kakak mengabatimu kamu juga tidak bisa merawat Kakak kan?" Sambung Raka.


" Aku akan merawatmu Kak, aku akan menginap beberapa hari di sini sampai Kakak sembuh." Ujar Ercha.


" Emangnya kamu bisa?" Tanya Raka menggoda Ercha.


" Aku hanya menemani Kakak saja, kalau yang merawat Kakak kan ada bi Ijah." Sahut Ercha duduk di tepi ranjang.


" Kabar bahagia? Apa itu?" Tanya Raka.


" Semoga kabar ini bisa menjadi penyembuh buat Kakak." Ujar Ercha.


" Aku hamil."


" Apa???" Pekik Raka tidak percaya.


" Ya aku hamil Kak, usianya delapan minggu." Ucap Ercha mengelus perutnya yang rata.


" Alhamdulillah.. Kakak bahagia sayang." Ucap Raka senang.


Raka memiringkan tubuhnya menghadap Ercha. Ia meletakkan tangannya pada perut Ercha.


" Halo jagoan Om."


" Eh bukan, halo jagoan Papa." Ralat Raka.


" Papa?" Ercha mengerutkan keningnya.


" Ya.. Kakak tidak mau di panggil om. Kakak akan menjadi papa dari anakmu sedangkan Aksa akan menjadi daddy. Jadi anakmu akan punya dua papa yang akan menyayanginya." Ujar Raka.


" Iya kau benar Kak." Sahut Ercha.


" Kakak tidak bisa membayangkan bagaimana kamu bisa menjadi seorang ibu yang baik. Kamu gadis manja yang selalu bergantung pada orang lain, bagaimana cara kamu nanti mengurus anakmu? Atau anak kamu buat kakak saja?" Ujar Raka.

__ADS_1


" Enak aja! Kalau anakku aku kasih ke kakak, siapa yang mau mengurusnya? Istri saja belum punya." Ucap Ercha menjulurkan lidahnya.


" Ha ha kau benar. Ya sudah kalau begitu mulai sekarang kamu harus belajar menjadi ibu yang baik. Kamu harus mempersiapkan dirimu untuk mengurus anakmu nanti. Kakak tidak mau sampa anak kakak nanti tidak terurus dengan baik."


" Sehat sehat di dalam sini sayang, papa sudah tidak sabar menanti kehadiranmu ke dunia ini. Besok kalau kamu sudah lahir, kita bisa bermain bola bersama." Ucap Raka.


" Bagaimana kalau perempuan?" Tanya Ercha.


" Memangnya perempuan nggak boleh main bola? Kamu aja dulu sukanya main bola sama Kakak." Sahut Raka.


" Iya benar juga kamu Kak." Sahut Ercha.


Hari menjelang malam, saat ini Ercha sedang menyuapi Raka.


" Apa kamu sudah mengabari Aksa kalau kamu mau bermalam di sini?" Tanya Raka.


" Astaga aku lupa Kak. Aku juga tidak membawa ponselku, aku akan mengabarinya sekarang. Aku pinjam ponsel Kakak ya." Ucap Ercha meletakkan piring makanan di atas nakas.


Ercha mengambil ponsel Raka lalu menelepon Aksa.


Tut... Tut...


Telepon tersambung tinggal menunggu Aksa mengangkatnya, namun hingga panggilan terakhir Aksa tidak juga menjawabnya.


" Mas Aksa kemana sih?" Gumam Ercha.


Ercha kembali menelepon nomer Aksa namun hasilnya sama saja. Aksa tidak mengangkatnya.


" Angkat donk Mas! Aku mau minta ijin sekalian aku mau menjelaskan soal tadi pagi. Kamu salah paham padaku Mas." Monolog Ercha.


Di lain tempat tepatnya di dalam kamar Aksa, Aksa duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di atas kasur. Ia menatap ponselnya yang terus menyala.


" Aku yakin kau hanya akan memberitahuku kalau Ercha pulang ke rumahmu. Ercha benar benar tidak peduli padaku dan calon anakku. Dia telah melenyapkan anakku, anak yang belum bisa aku lihat sama sekali. Hiks... Hiks... Kau jahat Ercha... Kau jahat padaku dan anakku. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi hiks... Anakku.. Maafkan ayahmu yang tidak bisa berbuat apa apa sayang hiks... Hiks... "


Drt... Drt....


Ponsel Aksa berdering tanda panggilan masuk dari tuan Arian. Aksa segera mengangkatnya.


" Halo Pa." Sapa Aksa.


" Aksa, bisakah kamu kemari? Papa sakit parah Nak. Lusa Papa akan menjalani operasi, ada tumor di otak Papa."


" Apa??" Pekik Aksa.


" Ba... Baiklah Pa. Aku akan ke sana, aku akan mengambil penerbangan malam ini juga. Papa tunggu aku di sana! Papa harus kuat! Aku tutup teleponnya Pa." Ucap Aksa.


Aksa segera memesan tiket untuk sampai ke negara S yang akan terbang jam sepuluh malam. Ia mengambil kopernya lalu memasukkan baju bajunya ke dalam koper tersebut.


" Mungkin ini jalan dari Tuhan untukku menjauh darimu Ercha. Dari wanita yang aku cintai dan aku benci dalam waktu yang sama. Aku harap aku bisa mengambil keputusan yang tepat untuk hubungan kita setelah aku pulang. Semoga kau bahagia."


Nah lhoh siapa yang salah di sini?


Jangn lupa tekan like, koment, vote dan 🌹 yang banyak buat author.


Terima kasih...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2