
Satu bulan berlalu sejak kematian bu Norma. Hubungan Aska dan Rega semakin dekat. Rega bertekad untuk memberikan hatinya kepada Aska yang kelak akan menjadi suaminya. Hari ini Aska membawa Rega ke rumahnya. Di sana Rega di sambut hangat oleh nyonya Alexa dan tuan Frans.
" Silahkan duduk Rega!" Ucap nyonya Alexa.
" Terima kasih Tante." Ucap Rega duduk di samping Aska.
" Tante turut berduka cita atas meninggalnya Ibu kamu, maaf Tante tidak ke sana karena Aska baru saja memberitahu." Ucap nyonya Alexa.
" Tidak masalah Tante, terima kasih telah memberikan empati kepada saya." Sahut Rega.
Tap tap tap
Nampak Aksa menuruni anak tangga, ia berjalan menghampiri mereka tiba tiba..
Deg...
Jantung Aksa berdetak sangat kencang saat menatap Rega.
" Regata." Gumam Aksa duduk di depan Rega.
" Kak Aksa." Gumam Rega.
Aska menatap keduanya bergantian.
" Kalian saling kenal?" Tanya Aska memastikan.
" Ya dia gadis yang aku ceritakan tempo hari."
Jeduarrr....
Ucapan Aksa bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Aska teringat ucapan Aksa kala itu.
Flashback On
" Bang gue suka sama gadis pekerja kafe, dia gadis lugu yang sangat manis. Bahkan untuk sekedar melihat wajahnya, gue selalu mampir ke kafe tempatnya bekerja setiap hari. Sepertinya dia anak SMA tempat kita bekerja Bang, soalnya aku sering lihat dia pakai seragam khas SMA kita." Ucap Aksa.
" Kalau suka kejarlah! Usia lo udah tidak muda lagi, jangan tunggu gue menikah dulu. Gue belum kepikiran ke sana." Ujar Aska.
" Gue ragu buat nyatain perasaan gue padanya Bang, gue takut dia tidak punya rasa yang sama, sama gue." Ujar Aksa.
" Tapi dia kenal lo kan?" Tanya Aska.
" Kenal lah orang setiap aku ke kafe aku selalu ngajak ngobrol dia, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau gue bekerja di sekolahnya Bang. Apalagi sudah satu bulan ini gue ijin karena harus mengurus kantor Papi." Sahut Aksa.
__ADS_1
" Mau bantuin gue nggak Bang?" Tanya Aksa.
" Bantuin gimana?" Tanya Aska memastikan.
" Bantuin gue buat dapatin dia Bang, gue nggak pandai merangkai kata kata buat meluluhkan hati cewek Bang. Bantu ya! Kapan kapan gue ajak Abang ketemu sama dia. Kalau saat ini gue lagi sibuk buat laporan bulanan soalnya sudah di tunggu Bang Ilyas." Ucap Aksa menatap Aska.
" Baiklah gue bantuin, tapi jangan salahkan gue kalau dia naksirnya sama gue nanti ha ha ha." Ucap Aska tertawa lepas.
Falshback off
" Pak." Rega menyenggol lengan Aska membuat Aska tersadar dari lamunannya.
" Ah iya, kenapa?" Tanya Aska menatap Rega.
" Di tanyain sama kak Aksa." Ujar Rega.
" Kenapa Ka?" Tanya Aska menatap Aksa.
" Darimana kalian kenal? Sepertinya kalian terlihat dekat, apa kalian punya hubungan?" Tanya Aksa memastikan.
" Tidak." Ucap Aska membuat Rega terkejut.
" Kenapa pak Aska bilang seperti itu? Apa dia lupa dengan janjinya pada ibu? Lalu apa arti kedekatan kami selama ini baginya?Sepertinya aku terlalu berharap. Mana mungkin pak Aska mau menikahi gadis sepertiku. Gadis yang jauh di bawah levelnya. Sadar Rega... Jangan bermimpi terlalu tinggi!" Ujar Rega dalam hati.
" Apa?" Pekik Aksa membulatkan matanya.
" Maksud Abang ibunya Rega tiada begitu?" Tanya Aksa memastikan.
" Sudah satu bulan lalu." Sahut Aska.
Aksa menatap Rega dengan mata sayu seolah bisa merasakan kesedihan Rega.
" Aku turut berduka Ga, semoga ibumu pergi dalam keadaan khusnul khotimah. Dan semoga kamu di beri ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Maaf jika aku terlambat mengucapkannya." Ucap Aksa tulus.
" Terima kasih Kak." Ucap Rega di balas anggukkan kepala oleh Aksa.
" Aksa, maksud Aska membawa Rega kemari itu karena Aska ingin...
" Gue ingin membantu lo Ka." Sahut Aska memotong ucapan papanya.
Tuan Frans dan nyonya Alexa saling melempar pandangan. Nyonya Alexa memejamkan matanya sambil menganggukkan kepala seolah memberi kode pada suaminya untuk diam. Tuan Frans pun langsung bungkam.
" Benarkah?" Tanya Aksa dengan mata berbinar.
__ADS_1
" Iya tentu saja." Sahut Aska.
" Maaf Pak Aska, sebenarnya apa maksud Bapak berbicara seperti itu? Bukankah Bapak..
" Tidak Rega, yang akan menikahimu adalah Aksa. Aksa menyukaimu dan aku berjanji akan membantunya untuk mendapatkanmu. Saat aku punya kesempatan untuk itu, aku melakukannya demi adikku. Tugasku sudah selesai sampai di sini. Menikahlah dengan Aksa maka kau akan hidup bahagia." Ucap Aska.
Perih... Sedih dan sakit itulah yang Rega dan Aska rasakan saat ini. Sebenarnya Aska tidak tega melakukan ini kepada Rega namun ia lebih tidak tega menyakiti adik kesayangannya. Bagaimana bisa ia menikahi gadis yang adiknya cintai? Walaupun ia menikah dengan Rega, ia tidak akan bahagia di atas penderitaan adiknya sendiri.
Namun Aska tidak tahu jika perbuatannya membuat Rega marah. Rega merasa Aska telah mempermainkannya. Bagaimana tidak? Setelah Aska berhasil membuat Rega mencintainya kini dengan mudahnya ia melemparnya kepada orang lain.
" Jika Bapak mendekatiku hanya karena kasihan kepadaku, seharusnya tidak usah Bapak lakukan. Jika Bapak mendekatiku karena membantu saudaramu, seharusnya juga tidak Bapak lakukan. Di sini Bapak dan kak Aksa yang bermasalah, lalu kenapa aku yang harus menjadi korbannya?" Rega menatap Aska dengan tatapan nyalang.
" Bapak berjanji pada mendiang ibuku jika Bapak akan menjagaku dan akan mencintaiku."
Ucapan Rega membuat Aksa terkejut. Ia bingung untuk mengartikan apa yang terjadi saat ini.
" Dari awal aku sudah menolaknya kan? Tapi Bapak dengan percaya diri mengatakan hal manis di depan ibuku. Bapak mendekatiku dan membuatku nyaman selama satu bulan ini, aku berpikir jika Bapak memang serius ingin menikahi aku. Dan aku menyesali pemikiranku itu. Harusnya aku sadar jika semua itu tidak mungkin terjadi. Aku berharap terlalu tinggi hingga aku bertekad untuk melabuhkan hatiku padamu Pak. Aku menganggapmu sebagai malaikat baik hati selama ini, tapi sekarang aku melihatmu bagaikan malaikat maut yang siap mencabut nyawaku saat ini juga." Ucap Rega meneteskan air matanya.
" Rega bukan begitu maksudku, aku...
" Terima kasih untuk bantuan Bapak selama ini! Aku tidak butuh belas kasihan Bapak ataupun rasa simpati Bapak. Aku akan segera membayar lunas hutang hutangku. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan Bapak atau pun kak Aska. Aku mohon jangan temui aku lagi! Kecuali aku yang akan menemui Bapak dengan membawa semua yang uangnya." Ucap Rega.
Entah uang darimana akan Rega pikirkan nanti, yang jelas saat ini ia ingin segera pergi dari hadapan Aska. Ia merasa kecewa dan ingin marah kepada Aska. Namun ia sadar diri di mana statusnya saat ini.
" Maaf Om, Tante, aku permisi." Ucap Rega segera berlalu dari sana.
" Rega tunggu!" Ucap Aska dan Aksa bersamaan. Keduanya beranjak ingin mengejar Rega.
" Lo saja." Ucap keduanya kembali bersamaan.
" Lo aja Bang, dia marah sama lo bukan sama gue. Dan pesan gue, kalau suka sama Rega tolong jangan sakiti hatinya! Gue tidak apa Bang, mungkin dia bukan jodoh gue." Ucap Aksa.
" Benarkah?" Tanya Aska memastikan.
" Iya Bang, selamat berjuang!" Ucap Aksa.
Aska segera berlari mengejar Rega menuju jalanan. Namun Rega sudah tidak terlihat lagi.
" Arghh!!!" Aska menarik kasar rambutnya.
" Aku harus ke rumahnya untuk menjelaskan semua ini, semoga dia mau memaafkan aku dan mau kembali padaku." Gumam Aska.
Berhasil nggak ya?
__ADS_1
TBC....