
Tiba tiba...
Plak....
Aksa menyentuh pipinya saat Ercha menghadiahi nya tamparan keras yang membuat pipinya terasa panas.
" Sa... sayang."
" Jangan pernah kau mengatakan hal buruk itu apalagi melakukannya Mas! Atau aku akan membencimu seumur hidupku." Ucap Ercha penuh penekanan sambil menunjuk wajah Aksa.
" Lalu aku harus bagaimana Ercha? Aku tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak mau kehilanganmu tapi kamu tidak mau memaafkanku apalagi menerimaku kembali sebagai suamimu." Ucap Aksa.
" Aku... Aku.. " Ercha menjeda ucapannya sambil sedikit berpikir. Ia tidak tega melihat Aksa seperti itu namun ia masih kesal dengan apa yang telah Aksa lakukan padanya.
" Kamu tetap tidak bisa memaafkan aku kan? Baiklah tidak apa apa, aku akan pergi dari sini." Ucap Aksa turun dari ranjang. Ia mencabut paksa jarum infusnya membuat darah mengalir dari tangannya dan berceceran di lantai.
" Ya Tuhan Mas Aksa. Kenapa kamu nekat sekali hah?" Pekik Ercha menarik tangan Aksa.
" Duduklah!" Titah Ercha.
" Aku tidak mau, aku mau pergi dari sini." Sahut Aksa.
" Aku bilang duduk ya duduk!" Ucap Ercha penuh penekanan membuat Aksa kalah.
Aksa kembali duduk di tepi ranjang, Ercha mengambil hansaplast di atas nakas lalu memasangkannya pada bekas jarum infus di tangan Aksa.
" Untuk apa kau mengobatinya? Harusnya kau biarkan saja darah itu mengalir. Toh tidak ada pengaruhnya terhadapmu." Ucap Aksa.
Ercha menatap Aksa dengan intens, begitupun sebaliknya.
" Aku memaafkanmu."
" Apa???" Aksa melongo tidak percaya sampai membuka sedikit mulutnya.
" Ya, aku memaafkanmu. Aku memaklumi alasanmu melakukan kebohongan itu, aku minta maaf jika akulah akar dari masalah ini. Jika saja aku bisa memberikan penjelasan kepadamu, pasti kau tidak akan melakukan semua ini. Di sini akulah yang pertama kali salah." Ucap Ercha.
Aksa tersenyum sambil menggenggam tangan Ercha.
" Aku mengambil alih kesalahanmu itu, akulah yang patut di salahkan di sini. Maafkan aku!" Ucap Aksa mencium tangan Ercha.
Ercha menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih." Ucap Aksa memeluk pinggang Ercha, ia menempelkan telinganya pada perut Ercha.
" Bagaimana keadaan anak kita?" Tanya Aksa mengelus perut Ercha.
" Dia baik baik saja, dia tumbuh dengan sehat di dalam sini." Sahut Ercha.
" Syukurlah kalau begitu." Ucap Aksa.
__ADS_1
" Anaknya papi.. Maafkan papi ya karena papi telah menyakiti kalian berdua. Papi tidak tahu jika ternyata kau tumbuh dengan baik di sini sayang. Cepat besar ya, papi sudah tidak sabar ingin menggendongmu setelah kamu lahir nanti sayang. Mulai sekarang papi akan menjaga kalian berdua. Papi akan memenuhi keinginan kalian berdua. Papi akan menjadi papi siaga yang siap memberikan apapun yang kalian minta." Ujar Aksa.
" Tenang saja! Aku pasti akan merepotkanmu setelah ini Mas. Kau tidak tahu saja kalau anakmu banyak maunya seperti aku. Bang Aska saja sampai kewalahan menuruti apa mauku." Ujar Ercha.
" Benarkah?" Tanya Aksa tidak percaya.
" Iya." Sahut Ercha menganggukkan kepalanya.
" Kalau tidak percaya kau akan tahu sendiri besok." Sambung Ercha.
" Aku ingin tahu bagaimana anak kita akan menyusahkan papinya. Papi tunggu saat itu tiba sayang." Ucap Aksa mencium perut Ercha.
Ada gelenyar aneh yang menjalar di hati Ercha. Tanpa sadar ia mengusap kepala Aksa dengan lembut. Aksa tersenyum merasakan sentuhan Ercha.
" Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan anak dan istriku. Aku berjanji akan menjaga mereka dengan baik. Aku akan menjadikan masalah ini sebagai pelajaran dalam hidupku ke depannya. Mulai sekarang aku harus menjalin komunikasi dengan baik. Aku sangat bahagia hari ini. Hari yang selama satu minggu ini aku nantikan." Ujar Aksa dalam hati.
" Shh." Desis Aksa saat tiba tiba kepalanya kembali nyeri.
" Tiduran saja Mas biar tidak nyeri lagi." Uajr Ercha.
Ercha membantu Aksa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aksa terus menggenggam tangan Ercha seolah tidak mau berpisah lagi.
" Lepasin tanganku Mas!" Ucap Ercha.
" Tidak mau, aku takut kamu berubah pikiran terus kamu meninggalkan aku! Aku sudah susah payah mendapat maaf darimu." Ujar Aksa.
" Pokoknya aku tidak mau jauh darimu." Ucap Aksa.
" Baiklah, aku akan tiduran di sampingmu saja kalau begitu." Ujar Ercha menunjuk sisi kiri Aksa yang kosong.
" Baiklah, itu akan lebih baik." Sahut Aksa.
Ercha duduk bersandar di samping Aksa. Aksa kembali menggenggam tangan Ercha dengan erat.
" Aku akan panggil bi Inah untuk membawakan makanan untukmu Mas. Kamu harus minum obat biar kamu bisa cepat pulih. Aku tidak mau sampai kamu kenapa napa." Ucap Ercha membuat Aksa tersenyum lebar.
" Terima kasih sayang, sekarang aku ingin cepat sembuh biar kamu tidak lama lama mengurus aku. Besok gantian aku yang akan mengurusmu." Ucap Aksa.
" Iya Mas." Sahut Ercha.
Ercha mengambil ponselnya di atas nakas, ia segera menelepon bi Inah meminta di bawakan makanan ke atas. Tak lama bi Inah datang dengan membawa dua porsi makanan untuk mereka berdua.
" Silahkan Den, Non." Ucap bi Inah memberikan nampannya kepada Ercha.
" Terima kasih Bi. Tolong bereskan lantainya sekalian ya Bi" Ucap Ercha.
" Baik Non." Sahut bi Inah.
Bi Inah membereskan pecahan piring dan gelas. Setelah itu ia keluar dari kamar Ercha.
__ADS_1
" Sekarang saatnya kita makan Mas." Ucap Ercha.
" Kamu juga belum makan dari tadi?" Tanya Aksa menatap Ercha.
Ercha menggelengkan kepalanya.
" Ya Tuhan... Kasihan sekali istri dan anakku dari tadi belum makan, sini aku suapi." Ucap Aksa beranjak duduk.
Sebenarnya kepalanya sangat sakit di bawa duduk seperti ini namun sebisa mungkin ia menahannya demi bisa menyuapi sang istri tercinta.
" A'." Aksa menyodorkan sesendok makanan ke mulut Ercha.
Sambil tersenyum Ercha menerima suapan demi suapan itu.
" Mas kamu juga harus makan." Ucap Ercha mengambil sendok bersih di piring satunya lalu ia menyuapi Aksa.
Alhasil keduanya saling suap suapan layaknya pasangan suami istri yang romantis pada umumnya. Aksa nampak tersenyum bahagia begitupun juga dengan Ercha.
" Sayang apa yang membuatmu mau memaafkan aku? Sebelumnya kamu begitu kukuh dengan pendirianmu? Dan tadi aku sempat mendengar ucapan kalau kamu mau memberi aku pelajaran. Apa maksud semua itu hmm?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Saat kamu pingsan aku mendapat pesan dari bang Aska." Sahut Ercha.
" Pesan apa?" Tanya Aksa lagi.
" Pesan rekaman suara saat kamu menjelaskan hubunganmu dengan suster Yura dan alasanmu melakukan kebohongan itu." Sahut Ercha.
" Terima kasih Bang... Lo telah membantu gue meluluhkan hati Ercha. Gue berhutang budi sama lo. Bisa bisanya lo kepikiran untuk merekam ucapan gue." Batin Aksa tersenyum.
" Kenapa senyum senyum begitu Mas?" Tanya Ercha menatap Aksa.
" Aku bahagia sayang, akhirnya kita bisa kembali bersama. Aku akan kembali menikahimu besok di depan keluargaku. Aku juga akan meminta maaf sekali pada mereka semua." Ucap Aksa menggenggam tangan Ercha.
" Aku mencintaimu." Sambung Aksa mencium punggung tangan Ercha.
" Aku juga." Sahut Ercha membuat Aksa melongo.
" Ka.. Kamu apa?" Tanya Aksa sambil tersenyum.
" Aku juga." Sahut Ercha.
" Kamu juga mencintaiku?" Tanya Aksa memastikan.
" Bukan.. Aku juga mau meminta maaf pada keluargamu." Sahut Ercha.
Senyuman yang tadi menghiasi wajah Aksa tiba tiba memudar. Ia tersenyum kecut menatap Ercha.
" Aku juga mencintaimu mas. Maaf aku belum bisa mengatakan langsung padamu, aku masih terlalu malu untuk melakukannya." Ucap Ercha dalam hati.
TBC....
__ADS_1