
Malam ini Aksa beserta keluarganya mendatangi rumah Raka untuk melamar Ercha. Mereka turun dari mobil begitupun dengan Ercha, ia menatap Raka yang saat ini berdiri menyambut mereka di depan pintu. Tanpa basa basi Ercha berlari menghampiri kakak tercinta lalu memeluknya dengan erat.
" Kakak aku kangen banget sama Kakak." Ucap Ercha meluapkan rasa rindu yang sudah lama ia pendam kepada Raka.
" Kakak juga sayang, Kakak sangat merindukan gadis kecil yang manja ini." Ucap Raka mengelus punggung Ercha.
Ercha memeluk Raka cukup lama, sepertinya ia melupakan Aksa dan keluarganya. Mereka semua melihat moment bahagia antara kakak dan adik sambil saling melempar senyumannya.
" Sudah pelukannya, kasihan mereka capek kalau harus berdiri lama." Ujar Raka melepas pelukannya.
Ercha menoleh ke belakang lalu melempar senyuman kepada mereka semua.
" Maaf karena telah melupakan kalian semua." Ucap Ercha di balas anggukkan kepala oleh mereka.
" Silahkan masuk Tuan dan Nyonya Wilson!" Ucap Raka sopan.
" Terima kasih Tuan Wijaya." Sahut Tuan Frans.
Mereka semua masuk ke dalam lalu duduk di sofa ruang tamu. Raka menjamu kedatangan keluarga Aksa dengan istimewa. Makanan dan minuman ala sultan ia hidangkan di meja.
" Silahkan di nikmati Tuan dan Nyonya Wilson, maaf kami hanya menyajikan seadanya saja." Ucap Raka menunjuk makanan yang ada di depan mereka.
" Terima kasih Tuan Wijaya, bagi kami ini terlalu istimewa, maaf jika kedatangan kami merepotkan anda." Ucap Tuan Frans.
" Kami tidak merasa di repotkan Tuan Wilson, justru suatu kehormatan bagi kami anda berkenan mengunjungi kami. Bukan begitu Tuan Lambyyan." Ujar Raka menatap Ilyas.
Ilyas tersenyum sambil menganggukkan kepala.
" Ayo di minum!" Ucap Tuan Frans.
Mereka mengambil minuman sesuai selera masing masing.
" Ini sayang." Aska memberikan segelaa jus stroberri kepada Rega.
" Terima kasih Mas." Ucap Rega.
Sejujurnya Rega merasa kecil berada di tengah tengah mereka. Bagaimanapun hanya dia yang berasal dari keluarga tidak punya. Paham akan hal itu, Aska menggenggam tangannya seolah menyalurkan rasa percaya dirinya kepada Rega. Rega tersenyum sembilan menyesap jusnya.
" Sayang kamu mau minum apa?" Tanya Ilyas menatap Maysa.
" Kopi milikmu saja Mas." Sahut Maysa melirik kopi di tangan Ilyas.
__ADS_1
" Mau minum kopi? Bukannya kamu tidak pernah meminum kopi? Nanti lambung kamu nggak akan nyaman sayang." Ujar Ilyas.
" Tapi aku mau itu Mas." Sahut Maysa.
" Baiklah." Ilyas memberikan secangkir kopinya kepada Maysa.
Bukannya mengambilnya, Maysa malah meminumnya dari tangan Ilyas. Hal itu sontak membuat Ilyas dan yang lainnya terkejut. Pasalnya Maysa tidak pernah bersikap manja seperti ini. Ilyas menatap mereka dan melempar senyuman manisnya.
" Begini Tuan Wijaya." Ucap Tuan Frans.
" Panggil Raka saja Tuan." Sahut Raka.
" Baiklah nak Raka, kedatangan kami kemari yang pertama untuk menjalin silahturohhim dengan keluarga nak Raka. Yang kedua kami punya maksud untuk melamar Ercha sebagai menantu kami. Sebagai calon istri untuk putra kami yang bernama Aksa Wilson." Ucap Tuan Frans menunjuk Aksa. Aksa tersenyum menatap Raka begitupun sebaliknya.
" Berdasarkan dari cerita mereka berdua, mereka telah lama menjalin hubungan yaitu sekitar satu tahun." Raka langsung menatap Ercha, Ercha nyengir kuda menampakkan deretan giginya sambil mengacungkan dua jari. Raka jadi paham apa yang telah Ercha lakukan pada keluarga Aksa.
" Benar benar gadis pembuat ulah." Batin Raka.
" Untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, apa nak Raka menerima kami dan akan memberikan restu nak Raka untuk hubungan mereka berdua?" Tanya Tuan Frans memastikan.
" Sebelumnya saya sangat berterima kasih karena kedatangan anda membuat saya bertambah keluarga. Yang kedua mengenai lamaran anda untuk adik saya, saya tidak bisa memutuskan sendiri karena ini menyangkut hidup adik saya ke depannya." Ucap Raka.
" Yang menjadi pertanyaan saya adalah, sebelum anda membuat keputusan untuk melamar adik saya, apakah anda tahu bagaimana sikap, sifat dan watak adik saya? Saya tidak mau di kemudian hari anda maupun keluarga anda mengeluh atas sikap adik saya." Sambung Raka.
" Saya tidak peduli bagaimana sikap dan watak Ercha Tuan Raka. Saya menerima Ercha apa adanya, saya menerima Ercha dengan kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, untuk itu kami akan saling menyempurnakan satu sama lain. Bukan begitu Ercha?" Aksa menatap Ercha.
" Aku nggak tahu." Sahut Ercha membuat semua orang melongo.
" Aku nggak tahu apakah aku bisa melengkapi kekuranganmu atau tidak Mas, karena aku melihat tidak ada kekurangan sedikitpun dari dalam dirimu. Yang ada kau yang akan melengkapi semua kekuranganku karena memang aku banyak kekurangannya." Sambung Ercha membuat semua orang tersenyum.
" Cie cie... Bisa romantis juga toh." Seru Aska.
" Wah Aksa kamu benar benar pria yang sempurna tanpa kekurangan satu apapun. Itu merupakan pujian pertama yang Ercha akui atas dirimu." Ucap Aska menggoda Ercha.
" Eh bukan... Itu hanya buat basa basi aja." Ujar Ercha.
" Ucapan yang sudah keluar dari bibirmu tidak bisa kau tarik kembali." Ucap Aska.
" Terima kasih telah menyanjung saudaraku." Sambung Aska. Ercha mengerucutkan bibirnya menatap sinis ke arah Aska.
" Aska... Berhentilah menggoda calon adik iparmu! Atau dia akan kabur sebelum pernikahan." Ujar nyonya Alexa terkekeh.
__ADS_1
" Eits jangan donk. Kalau dia kabur yang ada Aksa bakal mati berdiri karena kehilangan wanita pujaan hatinya." Sahut Aska sambil tertawa.
" Maafkan kelakuan putra kami yang satu itu Tuan Raka! Dia memang suka bercanda." Ucap Tuan Frans.
" Tidak apa apa Tuan Frans, adikku tidak akan merasa kesepian berada di tengah tengah kalian." Sahut Raka.
" Tuan Raka, bagaimana jika pernikahan mereka di laksanakan di hari yang sama dengan pernikahanku dan Rega? Sepertinya itu akan menjadi moment paling indah dalam keluarga kita." Ujar Aska memberi usul.
" Lamaran aja belum di terima sudah ngomongin pernikahan, gimana sih." Ujar Ercha.
" Lo kelamaan jawabnya, tinggal bilang aku menerima lamaranmu mas Aksa, mari kita menikah." Sahut Aska membuat semua orang menahan tawa.
" Ya nggak gitu juga donk! Aku mau mas Aksa melamarku dengan benar." Ujar Ercha.
" Memangnya gimana cara melamar yang benar?" Tanya Aksa lembut sambil menatap Ercha.
" Yang romantis misalnya." Sahut Ercha.
" Lo kalau mau romantis itu sama gue, kalau sama Aksa mana bisa dia romantis. Ngomong aja kalau nggak penting dia nggak bakalan ngomong apalagi mau merayumu. Calon suami lo itu pendiam Ercha, jadi jangan ngarep dia bersikap romantis sama lo." Ujar Aska melirik Aksa.
" Siapa bilang gue nggak bisa?" Sahut Aksa.
" Emang lo bisa?" Tanya Aska memastikan.
Tiba tiba Aksa berlutut di depan Ercha sambil mengeluarkan kotak cincin berwarna merah. Semua orang melongo melihatnya, mereka tidak menyangka sosok Aksa yang pendiam bisa melakukan hal itu. Padahal mereka sama sekali belum menyiapkan cincinnya, tapi ternyata Aksa sudah mempersiapkan sendiri.
" Ercha Pharamita. Aku tidak pandai merangkai kata kata untuk mengambil hatimu dengan ungkapan cintaku. Yang jelas saat ini aku ingin menjadikanmu sebagai istri dan ibu dari anak anakku kelak. Aku ingin kau mendampingiku di saat aku susah maupun senang, aku ingin kau menjadi penyemangat hidupku agar hidupku lebih maju dari sekarang. Ercha Pharamita, dari sekian banyaknya gadis di luar sana, entah mengapa aku hanya menginginkanmu saja. Aku ingin menjaga dan melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku ingin melabuhkan hati dan cintaku hanya kepadamu. Aku ingin terus menghabiskan waktu bersamamu di sisa hidupku. Apakah kau mau menikah denganku? Apakah kau mau menjadi ibu dari anak anakku?" Aksa menatap Ercha begitupun sebaliknya. Ercha terharu dengan setiap kata yang Aksa rangkai untuknya. Ia tidak menyangka Aksa bisa melakukan hal seperti ini untuknya.
" Ercha apa kau bersedia menerima lamaran ini?" Tanya Aksa sekali lagi.
" Iya aku mau." Sahut Ercha menganggukkan kepalanya.
" Alhamdulillah." Seru semua orang.
Aksa memasangkan cincin di jari manis Ercha, begitupun sebaliknya. Suara tepuk tangan mengiringi kebahagiaan mereka berdua.
" Bimbing aku ke jalan yang benar dan ajari aku untuk menjadi manusia yang lebih baik." Ucap Ercha menatap Aksa.
" Tentu, aku akan melakukannya hanya untukmu." Sahut Aksa tersenyum bahagia.
TBC....
__ADS_1
Mohon maaf kemarin author tidak bisa update karena semalam migraine author kambuh dan sampai sekarang masih terasa pusing. Author tidak up untuk novel author yang lain ya... Harap di maklumi
Terima kasih...