
Ilyas mengekori Maysa di belakang menuju rumah Aska. Ia merasa sangat kesal dengan sikap Maysa kali ini.
" Assalamu'alaikum." Ucap Maysa masuk ke dalam.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Aska dan Aksa bersamaan.
Maysa menghampiri mereka bertiga yang sedang asyik bermain. Kavin menatap Ilyas lalu tersenyum senang.
" Daddy." Ucap Kavin.
Aska dan Aksa menatap Ilyas, mereka berdua tertegun begitupun dengan Ilyas. Wajah Ilyas dan Aska benar benar sama persis.
" Wow... Aku baru percaya kalau di dunia ini kita punya tujuh kembaran, aku menyaksikannya hari ini. Kalian benar benar mirip, bagai pinang di belah jadi dua. Padahal kalian tidak saling mengenal, aku saja yang kembarannya tidak mirip sama sekali." Ujar Aksa berdecak kagum.
" Benar kata kamu Sa, kenapa wajah kami bisa mirip begini ya? Aku bagaikan melihat wajahku di depan cermin." Timpal Aska.
Kavin mendekati Ilyas.
" Daddy, kenalkan ini Om Aksa dan yang itu Om papi."
" Om papi? Kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan itu? Apa tidak ada sebutan lain? Kalau mau panggil om, om saja." Ujar Ilyas jelous.
" Enak aja anak gue panggil pria lain papi, gak terima gue." Gumam Ilyas.
" Karena wajahnya mirip dengan Daddy, jadi Kavin memanggilnya om papi." Sahut Kavin.
" Tidak boleh! Yang harus kamu panggil daddy, papi, papa atau apapun itu yaitu yang menikah dengan mommy kamu. Bukan orang lain, apalagi orang asing." Ujar Ilyas tegas.
" Kalau begitu biarkan om papi menikahi Mommy, dengan begitu Kavin punya dua daddy." Ucap Kavin polos.
" Astaga nih bocil... " Ucap Aksa sedangkan Aska hanya tersenyum.
" Apalagi itu sayang, itu malah sangat sangat tidak di perbolehkan. Mommy kamu hanya milik daddy, tidak boleh menjadi milik orang lain! Titik." Ucap Ilyas penuh penekanan.
" Posesif." Cebik Aksa.
" Apa lo bilang? Biarin aja gue posesif, yang jelas gue nggak mau ya istri gue deket deket sama pria lain seperti lo lo pada. Yang ada bakalan di embat nanti." Ucap Ilyas kesal.
" Lha kalau istri situ mau ga masalah, lagian kami jauh lebih muda daripada kamu. Masa gadis muda menikah sama pria tua bangkotan sepertimu." Sahut Aksa.
" Lama kurang ajar juga mulut lo, sini kalau lo berani." Ucap Ilyas menantang.
" Sudah sudah! Jangan berantem! Kalian seperti anak kecil tahu nggak sih." Ucap Maysa menengahi.
Keduanya diam sambil menatap Maysa.
" Bukannya kenalan yang benar malah berantem gini. Pak Aksa dan pak Aska, kenalkan ini SUAMIKU yang super tampan." Ucap Maysa membuat Ilyas mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
" Tapi juga super nyebelin." Sambung Maysa membuat senyuman Ilyas menghilang.
" Sayang kamu kok gitu sih!" Ucap Ilyas.
Aska dan Aksa terkekeh melihatnya. Ilyas menatap keduanya dengan tatapan tajam.
" Kavin sekarang makan dulu!" Ucap Maysa memberikan piring yang berisi nasi dan omlete kepada Kavin. Ia tidak mau mengurusi para pria dewasa itu.
" Kavin mau di suapi sama Om papi." Ucap Kavin membuat Ilyas melongo.
" Biar Daddy aja." Ucap Ilyas.
" Big No Dad! Kavin mau di suapi sama om papi, titik." Sahut Kavin.
Ilyas menghela nafasnya dalam dalam. Ia duduk di sofa tanpa menunggu di persilahkan lebih dulu. Sedangkan Maysa duduk di samping Kavin yang berarti dia duduk di samping Aska.
Aska mulai menyuapi Kavin, sedangkan Kavin asyik bermain robot robotan.
" Maysa, apa kamu bisa mengerjakan soal soal ujian tadi?" Tanya Aska.
" Bisa Pak." Sahut Maysa.
" Jangan panggil Pak donk! Kita kan di luar lingkungan sekolah." Ujar Aska.
Maysa melirik ke arah Ikyas yang saat ini sedang menatapnya sambil menggelengkan kepala.
" Aku panggil Kakak aja kalau gitu." Ujar Maysa. Ilyas melongo mendengarnya.
" Ini anak lama lama ngeselin juga, nggak tahu apa dengan kode yang aku berikan, bukannya menolak malah sok mau panggil kakak lagi. Emangnya dia kakaknya apa." Gerutu Ilyas kesal.
" Itu bagus, jadi kedengarannya nggak canggung gitu." Ujar Aska. Maysa menganggukkan kepala.
" Besok pagi bagian Aksa yang menjadi pengawas di kelasmu, jangan sampai terlambat karena Aksa tidak akan membiarkanmu mengikuti ujian di kelas itu." Ujar Aska menatap Maysa.
" Akan aku usahakan." Sahut Maysa.
" Oh aku tahu sekarang kenapa kamu bisa terlambat, pasti karena kamu mengurus Kavin dan daddynya dulu." Tebak Aska.
" Iya." Sahut Maysa.
" Kalau bisa jangan sampai pendidikanmu di kesampingkan karena kehidupan rumah tanggamu, kan sayang karena pendidikan itu penting." Ucap Aska.
Ilyas mendengarnya menatap tajam ke arah mereka. Aksa dapat melihat itu.
" Kau membuat masalah Bang, lihatlah kamera CCTV hidup di sana! Matanya seperti elang yang siap menerkam mangsanya." Batin Aksa.
" Bagiku keduanya sama sama penting, karena keduanya merupakan impianku selama ini." Sahut Maysa membuat Ilyas tersenyum.
__ADS_1
" Kalau boleh tahu, apa Kavin putra kandungmu?" Lirih Aska melirik Kavin yang sedang asyik bermain. Ia yakin kalau Kavin tidak mendengarnya.
Ilyas menatap mereka dengan tatapan tajam. Ia tidak bisa mendengar apa yang Aska ucapkan.
Maysa menganggukkan kepala membuat Aska menghela nafasnya pelan.
" Aku harap kau tidak lagi mempertanyakan masalah pribadiku." Ucap Maysa.
" Baiklah maafkan aku!" Sahut Aska.
Sore hari mereka pulang ke rumah. Ilyas nampak diam saja tanpa mau berbicara dengan Maysa. Maysa acuh saja, ia memandikan Kavin, setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Saat acara makan malam, Ilyas masih diam. Ia memakan makanannya dengan khidmat. Begitupun dengan Maysa, ia asyik menyuapi Kavin dan dirinya sendiri.
" Bener bener tidak peka nih istri gue, suami marah bukannya di bujuk ini malah di cuekin, nasib nasib punya istri anak kecil seperti dia. Nggak tahu apa kalau aku lagi kesel karena dia berani dekat dekat pria lain." Gerutu Ilyas menatap Maysa.
" Rasain kamu mas, kamu mau mendiamkan aku, oke aku terima. Aku ingin lihat siapa yang lebih betah bersikap dingin. Aku juga masih kesal karena kamu membentak Kavin demi wanita itu. Aku nggak boleh dekat dekat sama pria lain tapi kamu deket deket sama ulat bulu itu, gatel." Batin Maysa menyembunyikan senyumannya.
Selesai makan Ilyas kembali ke kamarnya, sedangkan Maysa ke kamar Kavin. Ya sejak Maysa menikah, Kavin menempati kamarnya sendiri. Tapi terkadang ia tidur bersama Maysa dan Ilyas.
" Sayang mau tidur di sini atau di kamar Mommy?" Tanya Maysa menatap Kavin.
" Kavin tidur di sini Mom, kata daddy kalau mau punya adek bayi Kavin harus bobok sendiri." Ujar Kavin. Maysa melongo mendengarnya.
" Apa maksud mas Ilyas bilang gitu sama Kavin? Apa dia mau meminta haknya dalam waktu dekat ini? Duh kok aku jadi deg deg an gini ya." Batin Maysa.
" Bener kan Mom?" Kavin mengguncang bahu Maysa membuatnya tersadar dari lamunannya.
" Emang daddy bilang gitu?" Tanya Maysa memastikan.
" Iya." Sahut Kavin.
" Ya sudah sekarang kamu bobok, Mommy kembali ke kamar ya. Mommy juga udah mengantuk pengin istirahat." Ujar Maysa.
" Iya Mom, jangan lupa buatkan adek buat Kavin ya."
"Hah???" Maysa melongo menatap Kavin. Entah mengapa setiap harinya Kavin tidak absen untuk meminta adek darinya. Entah itu pemikiran Kavin sendiri atau karena pengaruh Ilyas, Maysa sendiri tidak tahu.
" Ya Mom." Ucap Kavin.
" Ah iya." Sahut Maysa.
" Yeiii!!!! Kavin pasti segera punya dedek bayi. Terima kasih Mommy." Ucap Kavin senang.
" Ya Tuhan Kavin selalu memiliki harapan untuk segera punya adek, sedangkan gue sendiri belum siap. Semoga besok besok Kavin melupakan keinginannya itu." Batin Maysa.
TBC.....
__ADS_1