
" Kavin tidak akan memaafkan Mommy, Kavin sudah bilang kalau Kavin tidak mau punya adik. Kavin tidak mau kasih sayang Daddy dan Mommy terbagi."
Semua orang menghela nafasnya pelan. Maysa menatap Ilyas lalu menggenggam tangan Ilyas dengan erat. Ilyas menatapnya sambil menganggukkan kepalanya seolah memberi isyarat jika semuanya akan baik baik saja.
" Sayang dengarkan Daddy!"
" Daddy yang harus mendengarkan Kavin!" Sahut Kavin.
" Baiklah Daddy akan mendengarkanmu." Sahut Ilyas membiarkan putranya mengeluarkan semua isi hatinya.
" Kavin memang tidak mau punya adik, tapi kata om papi adik Kavin itu lucu. Kavin akan punya teman bermain mulai sekarang. Kavin bisa berbagi mainan dan yang lainnya sama adik bayi yang imut. Matanya bulat, pipinya gembul, bibirnya mungil dan badannya gendut. Kata om papi kalau Kavin menyayangi dedek bayi, mommy sama daddy pasti akan menyayangi Kavin. Benarkah begitu Mom?" Tanya Kavin menatap Maysa.
" Iya sayang, Mommy sama daddy akan selalu menyayangimu. Seperti oma yang menyayangi daddy, om papi sama om Aksa." Ujar Maysa.
" Kalau begitu Kavin mau punya dedek bayi, tapi sekarang dedek bayinya dimana?"
Pertanyaan Kavin membuat semua orang terkekeh.
" Dedek bayinya masih sangat kecil, dan ada di dalam sini. Di perut mommy." Ucap Ilyas mengelus perut Maysa.
" Kapan dedek bayinya keluar dari perut mommy?" Kavin bertanya lagi.
" Sembilan bulan lagi." Sahut Ilyas.
" Sembilan bulan?" Kavin mengerutkan keningnya.
" Dedek bayinya lahir saat Kavin naik ke TK nol besar. Karena Kavin mau jadi abang seperti daddy, jadi Kavin harus membantu Daddy menjaga dedek bayinya. Kavin sayang sama dedek bayi?" Tanya Ilyas.
" Kavin sayang mommy sama dedek bayinya." Ucap Kavin.
" Alhamdulillah." Ucap semua orang merasa lega.
Aska yang melihatnya pun tersenyum bahagia. Beruntung sebelum Kavin masuk ke dalam tadi, ia berhasil membujuk Kavin lebih dulu. Benar benar cemerlang ide Aska yang biasanya bikin rusuh.
" Terus Aunti cantik kapan punya dedek bayi?" Tanya Kavin mendekati Ercha.
" Egh???" Ercha merasa kebingungan menjawab pertanyaan Kavin.
" Sebentar lagi auntimu juga punya dedek bayi, sekarang dedek bayinya lagi berjalan menuju sini." Ucap Aksa mengelus perut Ercha.
Plek...
" Apaan sih Mas." Ucap Ercha menepis tangan Aksa.
" Amin... Bilang gitu donk sayang." Ujar Aksa.
" Nggak mau! Awas aja kalau sampai jadi, aku pasti akan..... " Aksa menutup mulut Ercha dengan tangannya.
__ADS_1
" Jangan mengatakan yang aneh aneh di sini!" Bisik Aksa.
Ckit...
" Awh." Pekik Aksa saat Ercha berhasil menggigit jarinya.
" Kenapa di gigit sayang?" Tanya Aksa.
" Lapar." Sahut Ercha asal.
" Kan baru makan." Ujar Aksa.
" Tadi aku makan nasi tapi sekarang pengin makan daging man... " Ercha menghentikan ucapannya saat melirik Kavin yang saat ini sedang menatapnya.
" Makan daging apa Aunti?" Tanya Kavin.
" Makan daging ayam sayang." Sahut Ercha.
" Aunti mau kan memberikan dedek bayi buat Kavin?" Tanya Kavin mendongak menatap Ercha.
" Maaf! Aunti nggak mau." Ucap Ercha nyengir.
" Aunti tapi Kavin juga ingin dedek bayi dari Aunti cantik. Biar nanti Kavin bisa bermain dengan mereka." Ujar Kavin.
" Aunti mami juga, buatkan dedek bayi buat Kavin ya." Sambung Kavin menatap Rega.
" Kavin akan dapat dedek bayi dari Aunti mami tapi bukan dari Aunti cantik, Aunti masih kecil jadi belum berani megang dedek bayi." Ujar Ercha.
" Nggak bisa gitu, pokoknya Aunti cantik sama Aunti mami harus memberikan Kavin dedek bayi untuk Kavin sama seperti mommy, titik. Kalau tidak Kavin pasti marah." Sahut Kavin.
" Iya baiklah sayang, om sama om papi pasti akan memberikan Kavin dedek bayi, sama seperti daddy." Sahut Aksa.
" Yei... Kavin punya tiga dedek bayi." Sorak Kavin.
Ercha memutar bola matanya malas. Kavin naik ke atas ranjang, lalu ia memeluk Maysa.
" Mommy ayo kita pulang!" Ajak Kavin.
" Nunggu mommymu mendingan dulu, mommy masih lemas sayang." Sahut Ilyas.
" Mommy, dedek bayinya sedang apa?" Tanya Kavin menempelkan telinganya ke perut Maysa.
" Dedeknya lagi tidur, besok biar di periksa saka dokter dulu." Ujar Maysa.
" Aku ucapkan selamat kakak ipar, semoga kamu dan babbynya sehat selalu." Ucap Ercha.
" Amin... Terima kasih Cha." Ucap Maysa.
__ADS_1
" Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap Ercha berlalu dari kamar tamu.
" Aku juga ucapkan selamat untukmu kakak ipar, semoga sehat selalu dan lancar sampai persalinan." Ucap Aksa.
" Terima kasih Kak." Sahut Maysa.
" Aku permisi."
Aksa segera menyusul Ercha ke kamarnya.
" Sayang." Aksa menghampiri Ercha yang sedang duduk bersandar di ranjang.
" Apa kamu marah sama aku?" Tanya Aksa menatap Ercha yang fokus pada ponselnya.
" Besok pagi aku sudah mulai bekerja di kantor Mas." Ucap Ercha membuat Aksa terkejut.
" Kamu mau bekerja?" Tanya Aksa membuat Ercha mengerutkan keningnya.
" Aku harus belajar memimpin perusahaanku kan? Lalu kenapa kamu terkejut begitu?" Bukannya menjawab Ercha malah balik bertanya.
" Aku pikir kamu mau jadi ibu rumah tangga saja di rumah seperti mami, kak Maysa dan Rega." Ujar Aksa.
" Jangan samakan aku dengan mereka Mas, aku tidak bisa jadi ibu rumah tangga yang hanya berdiam diri di rumah saja Mas. Buat apa aku sekolah tinggi tinggi kalau hanya jadi ibu rumah tangga di rumah? Maaf aku tidak mau." Sahut Ercha.
Aksa hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
" Atau kamu keberatan jika aku bekerja di kantoran? Apa kamu merasa aku tidak akan mampu membagi waktuku untukmu dan pekerjaanku?" Selidik Ercha.
" Iya." Sahut Aksa jujur.
" Mas, kamu di sekolahan dari jam enam pagi sampai jam tiga sore. Lalu apa yang akan aku lakukan selama kau tidak ada di rumah? Aku akan merasa boring kalau hanya mendekam di kamar saja. Mau melakukan pekerjaan rumah aku tidak bisa, lalu aku harus apa?" Tanya Ercha menatap Aksa.
" Baiklah sayang tidak masalah, kita akan tunggu sampai satu bulan ke depan. Kalau bulan depan kamu hamil, maka mau tidak mau kamu harus di rumah karena aku tidak mengijinkan kamu bekerja. Itu akan sangat mempengaruhi kehamilanmu." Ucap Aksa.
" Baiklah aku setuju dengan saranmu, tapi aku berdoa semoga saja aku tidak hamil." Ujar Ercha.
" Aku yakin kalau perbuatanku malam itu akan membuahkan hasil. Semoga keyakinanku menjadi kenyataan, amin." Ujar Aksa dalam hati.
" Tapi akan sangat lucu kalau kamu hamil Cha. Badanmu yang langsung ini akan terlihat menggemaskan dengan perut buncit seperti bola. Aku akan menciumi perutmu setiap saat untuk meluapkan perasaan cintaku kepada calon buah hatiku." Ucap Aksa membayangkan jika hal itu terjadi.
Ercha malah bergidik ngeri mendengar ucapan Aksa.
" Aku tidak bisa membayangkan sampai hal itu terjadi Mas, oh no... aku tidak mau. Ya Tuhan jangan beri aku babby dulu, aku belum bisa mengurus diriku sendiri apalagi harus mengurus seorang babby. Beberapa hari jadi istri saja aku belum bisa menyajikan makanan untuk suamiku, masa' iya harus di tambah mengurus babby. Tidak tidak... Semoga saja tidak terjadi." Ucap Ercha membuat Aksa terkekeh.
TBC...
Author ucapkan minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin...
__ADS_1
Miss U all....