
" Masalah Maurene, Mas sudah menelepon polisi untuk menangkapnya karena memang bukan Mas yang menyembunyikannya. Dia datang ke rumah pagi tadi, bi Hanum menelepon Mas dan meminta Mas datang ke sana. Sampai di sana Maurene menangis histeris karena takut di penjara. Tak lama setelah itu dia pingsan, dan Mas membawanya ke kamar tamu." Terang Ilyas.
" Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas Mas ingin memberikan kesempatan terakhir untukmu. Jika kamu menolak kesempatan yang Mas berikan, kau harus berjanji untuk tidak mengancam pergi lagi jika kita sedang ada masalah. Selesaikan masalah baik baik tanpa emosi." Ucap Ilyas tegas.
" Mas mengijinkanmu masuk ke perguruan tinggi di luar negeri. Mas akan menunggumu sampai kau menyelesaikan S2 mu di sana. Kau butuh bukti cinta dari Mas kan? Akan Mas buktikan jika Mas benar benar mencintaimu bukan wanita lain. Dalam waktu empat tahun itu Mas tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun. Mas akan setia menunggumu di sini. Dan Mas berharap kau juga bisa menjaga diri dan menjaga hatimu di sana. Mas tidak mau penantian Mas di sini akan sia-sia karena kau terpikat dengan pria lain." Ucap Ilyas menatap Maysa.
" Ambil formulir itu, Mas akan menandatanganinya sekarang juga." Titah Ilyas.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Maysa pergi dari kamar mengambil formulir di ruang kerja papanya. Ilyas hanya bisa menghela nafasnya dalam dalam. Ia tidak menyangka jika Maysa menerima tawarannya. Ini akan terasa sangat sulit baginya karena ia tidak bisa hidup jauh dari Maysa.
Namun semua sudah menjadi keputusannya, ia harus mempertanggungjawabkan ucapannya.
Tak lama Maysa kembali ke kamarnya. Ia menyerahkan formulir dan sebuah pena kepada Ilyas. Ilyas segera menandatanganinya lalu memberikannya kepada Maysa.
" Semoga kau bahagia, belajarlah dengan sungguh sungguh di sana! Maaf Mas tidak bisa mengantar keberangkatanmu karena Mas takut tidak bisa mengendalikan diri Mas saat melihat kepergianmu. Dan Mas mohon jangan pamit pada Kavin atau dia akan menghalangi kepergianmu." Ucap Ilyas berlalu dari kamar Maysa.
Maysa menatap kertas itu dengan hati kacau. Ini yang ia mau tapi entah mengapa ia tidak merasa bahagia. Lalu apa yang sebenarnya dia inginkan? Maysa sendiri pun tak tahu. Hati dan jiwanya labil. Ia duduk di tepi ranjang menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Nyonya Melodi masuk ke kamar Maysa, ia menghampiri sang putri tercinta yang nampak melamun.
" Ada apa dengan kalian? Kenapa Ilyas membawa Kavin pulang?" Tanya nyonya Melodi. Maysa menatap mamanya.
" Apa Kavin baik baik saja?" Tanya Maysa.
" Tentu saja tidak, ia menangis karena tidak mau pulang tanpa mommynya. Tapi sepertinya mommynya tidak mempedulikannya." Sahut nyonya Melodi.
Nyonya Melodi melihat kertas di tangan Maysa, ia segera merebutnya. Nyonya Melodi membulatkan matanya saat membaca kertas itu. Ia menatap Maysa dengan tajam.
" Apa ini Maysa?" Tanya nyonya Melodi mengangkat kertas itu. Maysa hanya diam saja.
" Katakan Maysa! Apa maksud semua ini?" Bentak nyonya Melodi membuat Maysa berjingkrak kaget. Nampak kekecewaan dari sorot mata nyonya Melodi, Maysa tahu itu.
" Darimana kamu memiliki pemikiran seperti ini? Apa kau lupa siapa kamu sekarang?" Tanya nyonya Melodi kepada Maysa yang hanya diam saja.
" Kamu seorang ibu Maysa... Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan putranya yang masih sekecil itu? Putra yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Kau tidak ada bedanya dengan Maurene. Kau menginginkan gelar? Tahta? Kau akan mendapatkannya Maysa. Dengan kuliah ke luar negeri kau akan mendapatkan pendidikan tinggi, tapi kau juga akan mendapatkan dosa karena menelantarkan anak dan suamimu Nak. Tugasmu, kewajibanmu sekarang bukanlah menuntut ilmu. Tapi mengurus mereka Maysa...." Ucap nyonya Melodi geram.
" Syurgamu terletak pada ridho suamimu, apa kamu hanya memikirkan tentang duniawi saja? Apa kau tidak memikirkan kehidupanmu di akhirat nanti? Kita hidup di dunia hanya sementara Maysa, semua orang yang hidup di dunia ini mengharapkan syurgaNya. Walaupun kita belum bisa menjadi sempurna, setidaknya menjadi baik itu penting Maysa. Mama mohon jangan lakukan ini pada menantu dan cucu Mama! Bukan hanya mereka yang akan menderita, tapi kau juga sayang. Mama tahu pendidikan itu penting, tapi jika kamu belum menikah Nak. Setelah kau menikah menjalankan kewajiban itu jauh lebih penting. Kau bisa kuliah di sini tanpa harus meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang istri dan seorang ibu. Kau bisa mendapat ilmu dan mengurus mereka secara bersamaan. Kalau kau berat melakukannya, maka jangan lakukan. Tetaplah menjadi seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab. Walaupun kau hanya punya ijazah SMA, tapi kau akan menjadi wanita mulia jika kau berhasil melakukan kewajibanmu dengan baik." Sambung nyonya Melodi.
Maysa memikirkan apa yang coba mamanya katakan padanya. Ia paham betul apa yang di maksud oleh nyonya Melodi.
" Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tetap ingin pergi meninggalkan mereka? Katakan Maysa!" Ucap nyonya Melodi.
Lagi lagi Maysa hanya diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pikirannya saat ini masih di liputi amarah.
__ADS_1
" Mama kecewa sama sifat egoismu ini. Hanya karena kau cemburu dengan Maurene kau menghancurkan pernikahanmu sendiri. Jika Karena tahu akan hal ini, Mama yakin dia pasti akan tertawa bahagia karena dia berhasil menghancurkan pernikahan kalian. Jika kamu bersikeras ke luar negeri, maka biarkan Ilyas bahagia bersama wanita lain." Ucap nyonya Melodi segera berlalu dari sana.
Maysa membaringkan tubuhnya sambil menatap langit langit kamarnya.
" Mama benar, aku memang egois. Jangankan empat tahun, Kavin selalu merengek jika tidak melihatku sebentar saja. Apa yang akan terjadi padanya jika aku pergi meninggalkannya selama itu? Jika Mas Ilyas berjanji akan setia padaku, tapi bagaimana dengan Kavin yang merindukan kasih sayang? Bisa bisa nanti nenek lampir mendekatinya setelah keluar dari penjara. Dan aku.. Aku akan bernasib sama seperti nenek lampir setelah pulang dari sana. Ya Tuhan.... Apa yang aku lakukan ini? Aku melakukan semua ini semata mata karena cemburu dengan nenek lampir itu. Bagaimana bisa karena dia, aku justru hendak menelantarkan suami dan putraku. Ayo Maysa! Bersikaplah dewasa. Jangan merengek seperti anak kecil lagi! Aku sendiri yang memilih hidup bersamanya, jadi apapun yang terjadi aku harus menghadapinya. Aku akan pulang menemui Mas Ilyas dan Kavin." Monolog Maysa.
Maysa segera bergegas keluar dari rumahnya. Ia melajukan mobil menuju rumah Ilyas untuk memperbaiki semuanya. Nasehat ibunya berhasil membuka matanya.
Maysa menghentikan mobilnya di depan rumah Ilyas. Nampak beberapa mobil polisi di depan sana.
" Mas Ilyas benar, dia menelepon polisi untuk menangkap nenek lampir." Gumam Maysa saat melihat Maurene di bawa dua orang polisi ke mobil.
Maysa turun dari mobil, tiba tiba Kavin berlari menubruknya.
" Mommy tante jahat itu." Ucap Kavin memeluk kaki Maysa.
Maysa membawa Kavin ke dalam gendongannya.
" Apa dia melukaimu lagi?" Tanya Maysa memastikan.
" Tidak Mommy." Sahut Kavin menggelengkan kepalanya.
" Dimana daddymu?" Tanya Maysa.
" Dari tadi daddy mengurung diri di kamar Mom, entah kenapa daddy tampak sedih banget seperti baru saja kehilangan seseorang yang daddy sayang." Ucap Kavin.
" Kavin anak pintar Mommy, Kavin bisa membaca reaksi wajah seseorang." Sahut Kavin membuat Maysa terkekeh.
" Ayo kita temui daddy!"
Maysa masuk ke dalam menuju kamar Ilyas.
Ceklek...
Maysa membuka pintunya, ia menatap Ilyas yang berbaring miring di atas ranjang memunggungi pintu.
" Kavin tolong jangan ganggu Daddy! Kepala Daddy sakit sekali, seperti mau pecah rasanya. Jadi jangan membuat daddy emosi! Daddy tidak mau melakukan hal yang tidak daddy inginkan padamu. Jadi sekarang keluarlah!" Ucap Ilyas tanpa menoleh.
" Ehm ehm. " Maysa berdehem.
Mendengar suara itu Ilyas segera menoleh, ia tersenyum senang melihat Maysa di sana. Namun setelah itu ia tersenyum kecut karena mengingat kepergian Maysa.
Maysa berjalan mendekat, ia menurunkan Kavin di atas ranjang.
__ADS_1
" Daddy sakit." Kavin meletakkan tangannya di dahi Ilyas.
" Iya panas." Ucap Kavin.
" Mommy, daddy sakit lagi." Ucap Kavin menatap Maysa.
" Kalau kamu mau mengambil baju bajumu, kopernya ada di atas almari." Ucap Ilyas.
" Apa Mas menginginkan aku pergi dari sini?" Tanya Maysa.
Ilyas menatap Maysa begitupun sebaliknya.
" Kenapa kau membalikkan fakta sayang? Sudahlah jangan berdebat! Mas pusing, kepala Mas sakit sekali." Ucap Ilyas.
" Aku minta maaf telah membuat Mas pusing. Aku sudah memutuskan untuk tidak pergi, aku akan tetap di sini menemani Mas dan Kavin. Maafkan aku." Ucap Maysa membuat mata Ilyas membuat sempurna.
Ilyas beranjak duduk selonjor menatap Maysa.
" Apa kau bilang? Kau tidak jadi pergi?" Tanya Ilyas memastikan.
" Iya Mas. Aku menolak tawaran Mas kali ini dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi." Ucap Maysa.
" Janji tidak akan meminta pergi lagi?" Tanya Ilyas memastikan.
" Janji." Maysa menganggukkan kepala.
Grep...
Ilyas menarik Maysa ke dalam pelukannya.
" Terima kasih sayang, Mas sudah stress memikirkan bagaimana hidup Mas tanpa kamu sayang. Mas juga minta maaf karena telah menyakiti hatimu." Ucap Ilyas.
" Aku memaafkanmu Mas." Ucap Maysa.
" Biar kamu tidak meminta hal seperti ini lagi, malam nanti Mas akan membuatmu hamil adiknya Kavin." Bisik Ilyas di telinga Maysa membuat tubuh Maysa meremang.
" Tidak boleh menolak." Sambung Ilyas membuat Maysa menghela nafasnya pelan.
" Baiklah." Sahut Maysa pasrah.
Maysa menyerahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin ini yang terbaik untuk kehidupan mereka bertiga.
Kita OTW ke Bahagia ya... Kasihan mereka nggak ada bahagianya...
__ADS_1
Terima kasih...
TBC....