
" Daddy Mommy." Panggil Kavin membuka pintu kamar.
Keduanya melepas pagutannya, Maysa mengusap bibirnya dengan jempol.
" Iya sayang ada apa?" Tanya Maysa menatap Kavin yang berjalan menghampirinya.
" Kavin lapar, ayo kita makan Mom!" Ajak Kavin.
" Mau makan dimana sayang?" Tanya Ilyas mengelus kepala Kavin.
" Mau di restoran biasanya Dad, sekalian Kavin mau bermain di sana." Sahut Kavin.
" Baiklah ayo!" Ucap Ilyas.
" Mas kamu ada rapat, bukankah sekretaris Mas sudah menunggu dari tadi?" Ujar Maysa.
Ilyas melempar senyuman kepada Maysa.
" Tidak sayang, tadi Mas hanya mau menghindari kamu saja." Ucap Ilyas nyengir.
" Oh jadi Mas mau menghindari aku, ya sudah kita makan siang berdua aja Kavin. Tidak udah mengajak daddymu." Ucap Maysa sedikit kesal.
" Tapi Mom..
" Tidak ada tapi tapian, ayo!" Maysa menggandeng tangan Kavin, mereka berjalan menuju pintu.
Kavin menatap Ilyas, Ilyas memberikan kode kepada Kavin untuk membujuk Maysa.
" Mom Kavin tidak jadi makan." Ucap Kavin menghentikan langkahnya.
Maysa menghela nafasnya, ia tahu jika Kavin akan membela daddynya dan melakukan apa saja supaya daddynya bisa ikut.
" Kavin mau di sini saja sama daddy." Ucap Kavin.
Maysa membalikkan badannya.
" Kavin mau di sini sama daddy?" Tanya Maysa di balas anggukkan kepala oleh Kavin.
" Kalau begitu biar Mommy pergi sendiri, kamu temani daddy di sini saja." Ujar Maysa melepas gandengan tangannya.
" Kavin mau ikut Mommy, tapi please Mom ajak daddy juga. Sudahi pertengkaran kalian, Kavin merasa sakit kalau kalian terus bertengkar seperti ini. Kavin tidak mau memilih antara daddy dan mommy. Kavin mau kalian berdua selamanya." Ucap Kavin membuat hati Ilyas dan Maysa mencelos.
" Baiklah sayang maafkan Mommy." Ucap Maysa merasa bersalah. Ia tidak tahu jika tindakannya membuat hati Kavin terluka.
Ilyas berjalan mendekati Maysa dan Kavin.
" Maafkan Daddy juga." Ucap Ilyas memeluk Kavin dan Maysa.
" Kavin maafin." Sahut Kavin.
Akhirnya mereka bertiga saling berpelukan.
" Kalau begitu ayo kita berangkat! Kavin sudah sangat lapar." Ucap Kavin.
" Baiklah sayang, ayo!" Sahut Maysa.
Kavin berjalan di tengah tengah Ilyas dan Maysa. Tangan kanannya di gandeng oleh Maysa sedangkan tangan kirinya di gandeng oleh Ilyas. Para pegawai menatap keharmonisan mereka dengan tatapan iri. Tidak tahu saja mereka apa yang selalu terjadi di dalam rumah tangga mereka.
__ADS_1
Sampai di restoran yang di tuju, mereka bertiga masuk ke dalam. Pengunjung restoran ini tidak pernah sepi, kebanyakan mereka kedatangan pengunjung yang membawa anak anak karena ada wahana untuk anak anak bermain sambil menikmati makanannya secara gratis.
Wahana bermain berada di out door, jika di lihat nampak seperti sebuah taman yang asri karena banyak pepohonan dan permainan. Kavin langsung menuju meja yang ada di outdoor di dekat wahana bermain di ikuti Maysa sedangkan Ilyas memesan makanan.
" Mommy Kavin mau bermain dulu ya." Ujar Kavin.
" Oke sayang, hati hati." Sahut Maysa.
Kavin bergabung dengan anak anak lain. Ia naik ke atas ayunan bundar berhadapan dengan anak perempuan.
" Hai." Sapa Kavin.
Anak itu mendongak menatap Kavin.
" Hai." Balasnya.
" Namaku Kavin Lambyyan, siap namamu?" Tanya Kavin kepada gadis kecil nanti cantik itu.
" Namaku Lameila. Kamu boleh memanggilku Meila seperti teman teman memanggilku." Ujar gadis kecil yang ternyata bernama Meila.
" Meila nama yang bagus, dimana rumahmu?" Tanya Kavin lagi.
" Kenapa kau ingin tahu rumahku? Memangnya kamu mau main ke rumahku?" Bukannya menjawab Meila malah balik bertanya.
" Kalau kamu tidak keberatan aku akan main ke rumahmu, tapi tunggu sampai aku besar dulu karena kalau sekarang Mommyku pasti tidak mengijinkannya. Mommy tidak suka bermain ke rumah orang asing." Ujar Kavin.
" Aku tinggal di jalan cemara nomer lima. Benar ya besok kalau kamu udah besar kamu bakal main ke rumahku. Aku tunggu ya." Ucap Meila.
" Oke, aku pasti akan menepati ucapanku." Sahut Kavin.
Kavin dan Meila saling mengobrol layaknya seorang yang sudah dewasa. Tak lama mamanya Meila ikut bergabung bersama mereka.
" Lihatlah putra kita Mas! Masih kecil udah pintar gaet cewek. Tahu aja dia sama cewek cantik." Ucap Maysa.
" Seperti daddynya kan? Nggak salah memilih pasangan hidup. Udah cantik, baik hati pula. Tapi sayangnya sedikit galak." Ujar Ilyas.
" Yang mana nih yang Mas maksud? Yang pertama apa yang kedua?" Sindir Maysa.
" Yang terakhir dan satu satunya. Tidak ada kata pertama ataupun kedua. Hanya kamu selamanya." Sahut Ilyas mengelus pipi Maysa.
Maysa tersenyum bahagia mendengar ucapan Ilyas.
" Benar ya satu satunya, awas aja kalau nanti berani mendua. Akan aku tinggal kabur sejauh jauhnya dan tidak akan kembali lagi." Ucap Maysa.
" Mas tidak akan membiarkan itu terjadi, Mas akan menepati janji Mas padamu sayang. Kau satu satunya yang Mas inginkan." Ucap Ilyas merapikan anak rambut Maysa.
Deg deg deg...
Jantung keduanya terasa berdetak dengan kencang. Bahkan mereka bisa mendengar detakan jantung sama lain, sampai...
" Ini pesanannya Nona, Tuan." Ucap pelayan menyajikan pesanan Ilyas di meja. Keduanya nampak salah tingkah.
" Ada yang lain Nona, Tuan?" Tanya pelayan barangkali mereka menambah pesanan.
" Tidak Mbak, terima kasih." Sahut Ilyas.
" Baiklah kalau begitu saya permisi, selamat menikmati." Ucap pelayan undur diri.
__ADS_1
Maysa dan Ilyas saling melempar pandangannya, mereka lalu tersenyum.
" Kavin ayo makan dulu!" Panggil Maysa.
" Iya Mom." Sahut Kavin.
" Kavin itu Mommy kamu?" Tanya mamanya Meila menatap Maysa.
" Iya Tante, kenapa?" Tanya Kavin.
" Mommy kamu masih sangat muda, aku pikir dia kakak kamu." Ujar mamanya Meila.
" Apa mungkin dia bukan ibu kandung kamu? Dia ibu tiri kamu? Tidak mungkin kan kalau wanita semuda itu sudah punya anak sebesar kamu." Sambung mamanya Meila tanpa memikirkan perasaan Kavin.
Deg...
Jantung Kavin terasa berhenti berdetak.
" Benarkah Mommy Maysa bukan Mommy Kavin?" Gumam Kavin.
Kavin berpikir Maysa adalah ibu kandungnya yang meninggalkannya karena Maysa masih sekolah. Tadinya ia berpikir Maysa malu kalau harus membawa Kavin ke sekolahnya. Tapi ucapan mamanya Meila berhasil mengusik hatinya. Ia teringat dengan sosok wanita yang pernah menculiknya, dia mengaku sebagai ibu kandungnya.
Tiba tiba Kavin berlari menghampiri Maysa, dan...
Grep...
Kavin memeluk Maysa dengan erat. Maysa menatap Ilyas sambil melongo heran, Ilyas hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
" Sayang kamu kenapa? Apa ada yang menyakiti kamu?" Tanya Maysa mengelus kepala Kavin.
" Mommy." Ucap Kavin masih dalam pelukan Maysa.
" Iya sayang." Sahut Maysa.
Kavin diam saja, ia tidak tahu harus memulai darimana untuk bertanya pada Maysa.
" Kenapa sayang?" Maysa mendorong Kavin pelan hingga pelukannya terlepas. Ia menangkup wajah Kavin dengan kedua tangannya.
" Kenapa hmm?" Maysa bertanya lagi.
" Apa benar Mommy bukan ibu kandung Kavin?"
Deg...
Pertanyaan Kavin membuat jantung Maysa terasa berhenti berdetak. Dadanya sesak, nafasnya tercekat. Walaupun ia sudah tahu jika hal ini pasti akan terjadi suatu saat nanti, tapi ia tidak menyangka jika Kavin akan menanyakannya secepat ini.
Maysa menatap Ilyas, Ilyas menghembuskan nafasnya kasar.
" Jawab Mom! Apa Mommy bukan ibu kandung Kavin?" Kavin bertanya lagi.
Maysa bingung harus menjawab apa. Maysa memang punya rencana untuk memberi tahu Kavin yang sebenarnya tapi bukan sekarang. Maysa rasa sekarang bukak waktu yang tepat. Ia tidak mau Kavin menjauh setelah tahu siapa dia.
" Mo... Mommy...
Kira kira mau di jawab apa nih? Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹 yang banyak biar author semangat.
Terima kasih...
__ADS_1
TBC....