
Aksa menatap Ercha sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
" Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin kamu menjawab pertanyaanku lebih dulu Mas." Ucap Ercha.
" Katakan apa pertanyaanmu!" Titah Aksa.
" Menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus memilih Sam...
" Memilihku." Sahut Aksa cepat. Ercha menatap Aksa.
" Kau tetap harus memilihku, karena aku tidak akan membiarkan kau memilih Samuel. Kau sudah terikat janji dan komitmen denganku jadi aku tidak mau kau mengingkarinya. Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan kau meninggalkan aku. Kau milikku dan akan menjadi milikmu seumur hidupmu." Sambung Aksa.
Ercha tersenyum mendengarnya.
" Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Aksa.
" Aku heran aja, kamu sudah mengklaim jawaban sendiri tapi kamu masih bertanya kepadaku. Benar benar lucu." Ujar Ercha.
" Aku hanya ingin tahu isi hatimu saja." Ucap Aksa.
" Seperti sebelumnya, aku tidak akan kembali pada Samuel karena aku telah memilihmu sebagai sandaran hidupku. Aku tidak peduli apakah Samuel benar benar mencintaiku atau tidak, karena aku tidak akan kembali pada orang yang telah menyakitiku. Termasuk kamu." Ucap Ercha.
Aksa mengerutkan keningnya.
" Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani menyakitiku Mas, aku akan pergi dan tidak akan kembali lagi padamu. Jadi kau harus ingat itu." Ucap Ercha menatap tajam ke arah Ercha.
" Baiklah aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu. Aku benar benar terjebak dengan pertanyaanku sendiri." Ucap Aksa terkekeh.
Aksa terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sampai di sana Samuel segera mendapatkan penanganan dari dokter jaga di ruang UGD. Aksa dan Ercha menatap iba ke arah Samuel yang terbaring lemah di ats brankar.
" Sebenarnya apa yang kau inginkan Sam? Kenapa kau melakukan ini setelah kau menyakitiku?" Gumam Ercha.
" Mungkin dia menyesal karena telah menyakitimu selama ini." Sahut Aksa.
" Mungkin saja Mas." Sahut Ercha.
" Mau pulang atau mau menunggu di sini?" Tanya Aksa menatap Ercha.
" Kita pulang saja Mas, biarkan suster yang menjaganya." Sahut Ercha.
" Baiklah ayo!" Ajak Aksa.
Saat Ercha membalikkan badannya tiba tiba Samuel mencekal tangan Ercha.
__ADS_1
" Ercha jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Samuel entah sadar atau tidak karena matanya masih terpejam.
Ercha mencoba melepas tangan Samuel, namun tidak bisa. Samuel mencekal tangannya dengan erat.
" Jangan tinggalkan aku! Aku mohon tetaplah di sini bersamaku." Samuel kembali meracau.
Ercha menatap Aksa di balas anggukkan kepala oleh Aksa. Ercha duduk di kursi samping ranjang sedangkan Aksa duduk di sofa.
Jarum jam terus berdetak sampai jam dua malam. Samuel masih tetap memegang tangan Ercha. Aksa yang melihat Ercha tertidur sambil duduk segera mendekatinya. Ia melepas paksa tangan Samuel lalu membopong Ercha menuju sofa. Ia membaringkan Ercha dinatas sofa dengan posisi nyaman.
" Tidurlah Ercha! Besok pagi kita bisa pulang." Ucap Aksa mengelus kepala Ercha.
Aksa duduk di sofa sambil memangku kaki Ercha. Ia mulai memejamkan matanya karena tidak kuat menahan rasa kantuknya.
Pagi hari Ercha mengerjapkan matanya, ia mengucek matanya sambil menatap ke penjuru ruangan.
" Kenapa aku tidur di sofa? Bukankah semalam aku duduk di kursi itu?" Gumam Ercha beranjak duduk.
Ercha mengembangkan senyumnya saat melihat Aksa yang tertidur sambil duduk.
" Mas bangun." Ercha menepuk pelan pipi Aksa membuat Aksa membuka matanya.
" Pagi." Sapa Ercha sambil tersenyum.
" Apa badanmu tidak sakit tidur dengan posisi seperti itu Mas?" Tanya Ercha.
" Sedikit." Sahut Aksa menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
" Mau langsung pulang atau mau menunggu Samuel sadar dulu?" Tanya Aksa.
Ercha menatap ke arah ranjang dimana Samuel masih setia memejamkan mata.
" Aku mau menunggu Samuel sadar Mas, aku ingin mendengar apa alasan dia sampai tega mengkhianati aku." Sahut Ercha.
" Baiklah aku akan menemanimu, tapi aku berharap setelah kau mendengar alasannya, pikiranmu tidak goyah hingga berpikir ingin kembali padanya." Sahut Aksa.
" Kamu tidak percaya padaku?" Tanya Ercha menatap Aksa.
" Bukannya tidak percaya tapi lebih ke waspada aja." Sahut Aksa.
" Sama aja." Ucap Ercha berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Aksa tersenyum melihat kepergiannya.
Tak lama Ercha keluar dari kamar mandi, ia menatap Aksa yang saat ini memberi kode padanya kalau Samuel sudah sadar. Ercha segera menghampiri Samuel di ranjangnya.
__ADS_1
" Ercha maafkan aku!" Ucap Samuel menatap Ercha.
" Aku tidak bisa memaafkanmu karena apa yang kau lakukan padaku begitu menyakitkan. Aku tidak akan memaafkan pengkhianat seperti dirimu." Ucap Ercha.
" Aku tidak bermaksud menyakitimu Ercha, tapi aku terpojok oleh keadaan." Ujar Samuel.
" Apa yang membuatmu tega melakukan semua itu padaku?" Tanya Ercha melipat tangan di depan dadanya.
" Sejujurnya awal aku mendekatimu karena aku memang jatuh hati padamu, tapi aku tidak bisa mengabaikan hubunganku dengan Lupi. Sebelum aku mengenalmu, aku dan Lupi.... "
Akhirnya Samuel menceritakan semua kebenarannya kepada Ercha. Dari hubungan dengan kedua orang tua Lupi sampai hubungannya dengan Ercha. Ercha nampak terkejut mengetahui fakta itu. Ia tidak menyangka jika selama ini Samuel mencintai sekaligus memanfaatkannya.
" Aku minta maaf Ercha, aku terlambat menyadari perasaanku. Aku sadar jika aku benar benar mencintaimu setelah kau pergi dariku. Aku mohon maafkan aku Ercha!" Ucap Samuel.
" Jika kau mau kembali padaku, aku akan mengabaikan janjiki kepada mendiang orang tua Lupi. Aku ingin menggapai kebahagiaan bersamamu, cukup sudah aku tersiksa dengan perasaanku sendiri. Aku tidak mencintai Lupi tapi aku mencintaimu. Kembalilah padaku Ercha! Bantu aku keluar dari situasi ini." Ucap Samuel.
" Kau tidak mencintai Lupi tapi kau harus tetap bersamanya karena janji yang kau ucapkan pada orang tua Lupi?" Tanya Ercha memastikan.
" Iya, dan itu sangat menyiksa diriku. Aku tidak bahagia bersama Lupi karena kebahagiaanku ada bersamamu." Ujar Samuel.
" Itulah hukuman untuk orang sepertimu, dari awal kau sengaja memanfaatkan aku dan sekarang kau menerima karmanya. Selama tiga tahun ini kau berhasil melaluinya, jadi jalani saja seperti apa yang kau lakukan selama ini." Ucap Ercha.
" Jangan harap aku mau memaafkanmu apalagi kembali padamu. Bagiku kau hanya seonggok sampah yang tidak patut di hargai. Jangankan di buang di tempat sampah kau bahkan tidak layak di buang di jalanan." Ucap Ercha menusuk hati Samuel.
Samuel memejamkan matanya menahan perih di dadanya.
" Kau bilang apa waktu itu?" Tanya Ercha menatap Samuel.
" Kau bilang aku tidak akan pernah bisa mendapatkan pria yang mau menerimaku apa adanya kan? Sekarang kau lihat? Kau lihat bagaimana calon suamiku begitu mencintaiku." Ercha mengapit lengan Aksa dengan mesra.
" Inilah pria sejati, pria yang hanya akan mencintai diriku dan akan membuat aku bahagia selamanya. Dia akan menjadikan aku ratu di dalam hidup dan di dalam hatinya. Kalau kau tidak percaya, kau bisa melihatnya nanti." Sambung Ercha.
" Mulai sekarang jangan berbuat hal yang hanya akan menyulitkan dirimu sendiri. Jangan menganggu hidupku lagi dan jangan pernah temui aku lagi." Ucap Ercha.
" Ayo Mas kita pergi, kita sudah terlalu baik dengan menunggunya di sini." Ucap Ercha.
Mereka berdua berlalu meninggalkan Samuel dengan penyesalannya.
" Hiks... Hiks.. Kenapa rasanya sesakit ini? Maafkan aku Ercha, maafkan aku!"
TBC....
Next part pernikahan keduanya ya...
__ADS_1