
Hari ini Kavin pulang ke rumah. Ia di sambut oleh keluarga Ilyas dengan gembira. Mereka berkumpul di ruang keluarga.
" Sini cucu Oma duduk sama Oma aja." Ucap nyonya Alexa.
Kavin mendekati nyonya Alexa, lalu duduk di pangkuan nyonya Alexa.
" Bagaimana keadaan Kavin? Apa dia sudah benar benar sehat?" Tanya nyonya Lambyyan menatap Maysa.
" Alhamdulillah sudah Ma." Sahut Maysa.
" Syukurlah kalau begitu." Ucap tuan Lambyyan.
" Mi, aku titip Kavin ya. Aku ada keperluan di luar soalnya, mungkin aku akan sedikit lama." Ucap Masa menatap nyonya Alexa.
Ilyas menghela nafasnya, ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
" Boleh Mami tahu keperluan apa?" Tanya nyonya Alexa ingin tahu karena ia tahu jika hubungan anak dan menantunya sedang tidak baik baik saja.
" Aku mau mengunjungi temanku Mi, dia sedang di rawat di rumah sakit karena kecelakaan. Tapi maaf! Aku tidak bisa memberi tahu kalian siapa dia. Aku harap kalian menghargai privasiku." Ucap Maysa.
" Baiklah hati hati! Kalau bisa pulangnya jangan kesorean, kasihan Kavin kalau lama lama di tinggal sama kamu. Apalagi dia baru saja keluar dari rumah sakit. Dia pasti sangat membutuhkan kamu." Ujar nyonya Alexa.
" Iya Mi, kalau begitu aku berangkat dulu." Ucap Maysa.
" Mas akan mengantarmu." Ucap Ilyas beranjak.
" Tidak perlu Mas! Aku bisa sendiri, lebih baik Mas temani Kavin saja. Aku pergi." Ucap Maysa berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban Ilyas. Lagi lagi Ilyas hanya bisa menghela nafasnya saja.
" Mommy." Panggil Kavin menghentikan langkah Maysa.
Maysa menoleh ke belakang, ia kembali menghampiri Kavin.
" Maaf sayang Mommy melupakanmu." Ucap Maysa.
Cup cup cup...
Maysa menciumi pipi Kavin.
" Mommy pergi dulu sayang, sampai jumpa nanti. Kavin sama Oma dulunya, dan ingat!..
" Jangan nakal." Ucap keduanya kompak.
Semua orang tertawa melihat sikap keduanya.
" Mommy pergi dulu." Ucap Maysa.
" Oke Mom, be carefull!" Ucap Kavin.
__ADS_1
" Oke sayang." Sahut Maysa berjalan keluar rumah menuju parkiran.
" Mi aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu." Tanpa mendengar jawaban maminya, Ilyas segera berlalu dari sana membuat nyonya Alexa menggelengkan kepalanya.
Maysa melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Satya di rawat. Sebelumnya ia sudah memberi kabar pada tuan Hendra. Lima belas menit Maysa sampai di rumah sakit itu, ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
" Maysa." Panggil tuan Hendra yang sudah menanti kedatangan Maysa.
" Hai Om, apa kabar?" Tanya Maysa sambil menyalami tuan Hendra dengan takzim.
" Alhamdulillah baik, bagaimana kabarmu dan keluargamu? Apa putramu sudah sembuh?" Tuan Hendra balik bertanya.
" Kami baik baik saja Om, putraku baru saja pulang dari rumah sakit, dia butuh banyak istirahat makanya tidak bisa ikut." Ujar Maysa.
" Tidak masalah, maaf Om merepotkanmu." Ucap tuan Hendra.
" Tidak Om." Sahut Maysa.
" Ayo kita langsung ke ruangan Satya." Ajak tuan Hendra.
Mereka berjalan menuju ruang rawat Satya.
Ceklek....
Mereka berdua masuk ke dalam. Maysa mendekati Satya yang terbaring lemah di atas ranjang. Berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya.
" Tidak ada. Sudah satu minggu ini dia hanya diam seperti itu. Sepertinya dia tidak punya semangat hidup lagi." Sahut tuan Hendra.
" Aku turut prihatin atas keadaannya saat ini Om, tapi bagaimana ini bisa terjadi? Memangnya Satya mau kemana dan darimana?" Tanya Maysa ingin tahu.
" Satya ke rumah Om, dia pamit mau pergi ke luar negeri. Dia bilang kalau dia tetap di sini, dia tidak bisa melupakanmu. Hatinya tersiksa, hidupnya menderita karena menyimpan cinta yang begitu mendalam padamu. Tapi sebelum sampai bandara dia mengalami kecelakaan dengan truk yang melaju dari arah lawan. Mungkin dia ingin meninggalkanmu namun hatinya tidak mau. Itu sebabnya dia berakhir di sini sekarang." Terang tuan Hendra.
" Om takut jika kepergiannya akan berakhir dengan dia pergi selamanya Maysa. Om tidak mau kehilangan dia. Dia pamit ke luar negeri saja rasanya begitu berat untuk melepasnya, apalagi jika pergi untuk selamanya." Ucap tuan Hendra.
" Berpikirlah positif Om, yakinlah jika Satya akan baik baik saja." Ujar Maysa.
" Satya akan baik baik saja jika kau di sampingnya, tapi itu tidak mungkin terjadi kan? Kau sudah mempunyai kehidupan sendiri." Ucap tuan Hendra.
" Aku tidak bisa menjanjikan itu Om, tapi aku akan berusaha memberikan semangat untuk Satya agar dia bisa kembali bersama dengan Om seperti dulu lagi." Ucap Maysa.
" Terima kasih Maysa, kalau begitu Om pergi dulu." Ucap tuan Hendra meninggalkan ruangan Satya.
Maysa menatap Satya, ia menggenggam tangan Satya dengan erat.
" Bangunlah Sat! Om Hendra sangat mencemaskan keadaanmu. Aku pun begitu Satya. Aku sangat khawatir melihat kondisimu seperti ini. Berjuanglah demi orang orang yang menyayangimu." Ucap Maysa.
" Apa kau tidak merindukan aku? Ayolah Satya... Aku yakin kau sangat merindukan aku. Bangunlah! Mari kita mengenang masa masa indah saat kita bersama dulu." Ucap Maysa.
__ADS_1
" Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu dulu? Seingatku dulu kita bertemu karena aku salah masuk mobilmu. Aku kira itu mobilku karena mobil kita sama. Terus kamu memintaku keluar dari mobilmu dengan ucapan yang penuh kelembutan. Saat itu aku seperti terhipnotis oleh sikap dan ketampananmu. Aku merasa kau pria yang memiliki sikap penyayang. Saat itulah aku jatuh hati padamu." Ucap Maysa mengingat kenangan mereka.
" Setelah itu kita semakin dekat, hingga kita menjalin hubungan asmara. Tapi sayang semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Ayahku menentang keras hubungan kita karena masa lalu para orang tua kita. Tapi aku bahagia pernah mencintai dan menjadi seseorang yang kamu cintai. Aku tidak menyesali apa yang telah terjadi di antara kita. Aku bahagia menjalani semua itu. Terima kasih telah menjadi pria yang membuatku merasakan cinta untuk yang pertama kalinya. Bangunlah Sat! Ayo kita berteman lagi untuk saling menghibur diri. Setelah kepergianmu tidak ada lagi tempat untuk aku berkeluh kesah. Aku harus menyimpan semuanya sendirian. Jika kau bangun sekarang, aku akan menjadikanmu temanku lagi." Ucap Maysa.
Tanpa Maysa sadari Ilyas melihat dan mendengar semuanya. Hatinya sakit melihat istrinya memberikan semangat kepada pria lain. Tidak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya. Ia segera meninggalkan tempat itu sebelum hatinya semakin hancur.
Maysa mengelus punggung tangan Satya. Tiba tiba jari Satya bergerak gerak membuat Maysa terkejut melihatnya.
" Satya kau meresponku?" Pekik Maysa
Maysa berdiri, ia menangkup wajah Satya dengan kedua tangannya.
" Satya ini aku! Bangunlah Sat! Demi aku." Ucap Maysa.
Satya mengerjapkan matanya dengan perlahan. Ia menatap Maysa dengan sayu.
" Satya kamu sadar, alhamdulillah akhirnya kamu sadar Sat. Aku senang melihatnya." Ucap Maysa senang.
Grep...
Satya menarik Maysa ke dalam pelukannya.
" Aku mencintaimu sayang, maaf aku telah membuatmu cemas." Ucap Satya mengelus punggung Maysa.
Maysa merasa aneh dengan sikap Satya.
" Aku akan menepati janjiku untuk menikahimu, aku akan melamarmu di depan orang tuamu."
Jeduarrr...
Ucapan Satya membuat Maysa terkejut, tubuhnya mematung, pikirannya melayang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Satya.
" Aku panggil dokter dulu." Ucap Maysa.
" Jangan pergi! Biarkan seperti ini, aku sangat merindukanmu setelah beberapa hari tidak bertemu. Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Ucap Satya mencium pipi Maysa.
" Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi pada Satya? " Tanya Maysa dalam hati.
Kenapa Hayo???
Jangan lupa tekan like koment vote dan beri 🌹 yang banyak biar Maysa semangat menjalani masalah yang akan ia hadapi.
Terima kasih...
Miss U All..
TBC....
__ADS_1