TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
AKHIRNYA GOL JUGA


__ADS_3

Ilyas menurunkan lingerie Maysa hingga menampakkan bahu putih mulusnya, tak lupa Ilyas juga memberikan stempel kepemilikan di sana dengan jumlah yang cukup banyak. Melihat dua gunung kembar yang menyembul, Ilyas segera melahapnya membuat sang empu menggeliat seperti cacing kepanasan.


Sentuhan sentuhan lembut yang Ilyas berikan membuat Maysa terlena. Saat Ilyas menembus gawangnya, tidak ada teriakan kesakitan apalagi cakaran di punggung Ilyas. Semuanya terasa biasa dan n!kmat luar biasa. Ilyas terus memacu tubuhnya di atas Maysa dengan pelan. Sesekali ia mencecap dua gunung kembar milik Maysa atau sekedar memainkannya secara bergantian.


" Mas.." Desis Maysa di tengah tengah kegiatannya.


" Kenapa sayang? Apa ini terasa sakit?" Tanya Ilyas memastikan.


Maysa menggelengkan kepalanya. Ia memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan yang membuatnya terbang ke atas nirwana. Suara erangan dan des@h@n memenuhi ruangan kamar mereka.


Malam ini Maysa benar benar menyerahkan hidupnya pada Ilyas sepenuhnya. Setelah hampir satu jam lamanya, keduanya mencapai puncak nirwana bersama sama. Keduanya mengerang saling meneriakkan nama pasangannya.


" Terima kasih sayang, terima kasih telah menjaganya untuk Mas." Ucap Ilyas mengecup kepala Maysa lama. Maysa hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Terus terang Maysa merasa lelah, bahkan sangat lelah setelah mengeluarkan keringat deras yang mengucur di tubuhnya. Bahkan dinginnya AC tidak mampu mendinginkan badannya.


" Sekarang tidurlah! Mas akan memelukmu." Ucap Ilyas menyelimuti Maysa. Ia berbaring miring membawa Maysa ke dalam pelukannya. Ia menciumi kening Maysa dengan penuh bahagia.


" Mas berdoa semoga akan hadir Ilyas junior dengan segera, Mas yakin Kavin pasti akan sangat bahagia." Ucap Ilyas.


" Iya Mas, doakan semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka berdua." Ucap Maysa.


" Amin, sekarang tidurlah!" Ucap Ilyas.


Keduanya merasuk ke dalam mimpi bersama sama. Malam ini menjadi malam terindah untuk mereka berdua karena telah menyatukan cinta mereka. Mereka berharap akan hadir buah hati di tengah tengah mereka sebagai adiknya Kavin.


Sinar matahari masuk ke kamar Maysa melalui celah celah korden. Ia mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan milik suaminya. Ia meraba wajah Ilyas dengan pelan.


Maysa tersenyum mengingat kejadian semalam. Ia tidak menyangka bisa melakukannya dengan baik. Ia bahkan terus menyebut nama Ilyas di tengah tengah permainan. Tiba tiba tanpa sadar Maysa memajukan wajahnya lalu...


Cup...


Maysa mengecup bibir Ilyas cukup lama, saat ia hendak menjauh tiba tiba Ilyas menekan tengkuknya lalu menciumnya. Maysa membulatkan matanya sambil sedikit membuka mulutnya. Ilyas menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchi mulut Maysa dengan lembut. Suara decapan memenuhi kamar mereka.


Ilyas merubah posisi, ia menindih tubuh Maysa dengan pelan sambil terus memagut bibir indahnya. Tangannya mulai berkeliaran kemana mana. Ia meremas gundukan milik Maysa membuat Maysa mengeluarkan suara s3ksinya. Maysa tidak tahu jika suaranya membuat Ilyas hilang kendali.


Pagi ini keduanya kembali meluapkan cinta dengan penuh kebahagiaan. Suara des@han dan erangan mengiringi kegiatan mereka. Setelah mencapai puncaknya Ilyas tumbang di samping Maysa. Ia memeluk Maysa dengan erat seolah tidak mau kehilangannya.


" Mas aku harus mandi, sebentar lagi pasti Kavin ke sini." Ucap Maysa menatap jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Beruntung hari ini weekend jadi ia tidak perlu menyiapkan keperluan kantor dan sekolah anak dan suaminya itu.


" Sebentar lagi sayang, Mas masih ingin memelukmu." Sahut Ilyas.


" Mas kalau nanti Kavin ke sini, terus melihat kita seperti ini gimana? Lagian ini juga sudah siang Mas. Aku ada janji sama Kavin mau main ke rumah kak Aska." Ujar Maysa.


Ilyas mengheka nafasnya pelan. Sebenarnya ia tidak rela melepas istri tercintanya ini namun ia juga tidak bisa menahannya karena memang hari sudah siang.

__ADS_1


" Baiklah, ayo kita mandi bersama." Ucap Ilyas menyingkap selimutnya.


Maysa beranjak, saat ia menurunkan kakinya ke lantai tiba tiba,


" Awh." Pekik Maysa saat merasakan sakit pada bagian bawahnya.


" Sayang, apa itumu sakit?" Tnaya Ilyas mendekati Maysa.


" Sedikit Mas, seperti ada yang mengganjal gitu." Ujar Maysa membuat Ilyas tersenyum.


" Itu karena kita baru melakukannya, lama lama kalau sudah terbiasa tidak seperti itu. Mas akan menggondongmu saja kalau begitu." Ucap Ilyas.


Ilyas menggendong Maysa ke kamar mandi, Maysa menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Ilyas menahan malu karena saat ini mereka sama sama polos. Ilyas menurunkan Maysa pada bathup, lalu mengisinya dengan air hangat.


Ilyas masuk ke dalam bathup membuat Maysa terkejut.


" Mas ngapain di sini? Mas mandi di shower aja sana!" Ujar Maysa.


" Nggak mau, Mas mau mandi di sini." Sahut Ilyas duduk di belakang Maysa. Maysa hanya bisa menghela nafasnya, Ilyas tidak tahu saja kalau saat ini Maysa sedang mati matian menahan malu.


Ilyas menggosok punggung Maysa dengan busa sabun.


" Mas biar aku sendiri, aku risih kalau Mas yang melakukannya." Ujar Maysa.


" Biarkan Mas yang melakukannya sayang. Mas ingin memanjakan istri Mas yang cantik ini. Kamu harus terbiasa dengan hal hal seperti ini biar kamu nyaman." Sahut Ilyas.


Maysa hanya bisa pasrah saja, selesai mandi mereka segera memakai baju. Maysa duduk di depan meja rias, matanya membola sempurna saat melihat lehernya berubah menjadi merah semua.


" Astaga Mas... Kenapa kau meninggalkan jejak segini banyaknya? Oh ya Tuhan.... Bagaimana aku bisa keluar menemui orang lain kalau seperti ini?" Pekik Maysa meraba lehernya.


Ilyas tersenyum melihat tingkah Maysa, ia mendekati Maysa lalu mencolokkan hair dryer pada stop kontak. Ilyas membantu Maysa mengeringkan rambutnya.


" Mas." Panggil Maysa kesal.


" Apa sayang?" Tanya Ilyasenata Maysa melalui pantulan cermin.


" Ini bagaimana menghilangkannya?" Tanya Maysa.


" Itu akan hilang dengan sendirinya sayang, jangan khawatir!" Sahut Ilyas.


" Berapa lama?" Maysa bertanya lagi.


" Paling tiga sampai empat hari."


" What???" Pekik Maysa.

__ADS_1


" Selama itu Mas? Lalu bagaimana aku keluar rumah Mas? Orang orang pasti akan menertawakan aku kalau aku seperti ini." Uajr Maysa.


" Tinggal di tutupi pakai bedak concealer kamu aja beres kan." Sahut Ilyas.


" Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran ke sana ya. Aku memang benar benar bodoh." Gumam Maysa memukul kepalanya dengan pelan.


" Kau tidak bodoh sayang, hanya tidak kepikiran saja." Sahut Ilyas.


Maysa mendongak menatap Ilyas, ia melempar senyuman kepadanya. Ilyas membungkuk lalu...


Cup...


Ilyas mengecup bibir Maysa sekilas. Maysa mengerucutkan bibirnya.


" Suka banget curi curi kesempatan." Cebik Maysa.


" Ya nggak apa apa lah sayang, sama istri sendiri juga. Kalau Mas melakukannya pada orang lain itu baru dosa." Sahut Ilyas.


" Iya iya Pak suami memang maha benar." Sahut Maysa.


Setelah rambut Maysa kering, Ilyas menyisirnya dengan hati hati karena takut melukai kulit rambut Maysa. Setelah itu ia mengikat rambut Maysa dengan pita.


" Sudah beres, istriku terlihat sangat cantik pagi ini. Apalagi dengan riasan natural di lehernya." Ucap Ilyas menggoda Maysa.


" Hmm mengejek nih, awas aja lain kali akan aku balas perbuatanmu ini Mas. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti." Ucap Maysa tersenyum smirk.


" Memangnya apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ilyas berjongkok di depan Maysa.


" Tunggu saja! Aku tidak akan memberitahu Mas sebelumnya." Ucap Maysa mengeringkan sebelah matanya.


" Ya sudah, ayo kita ke kamar Kavin!" Ajak Ilyas.


" Bentar, aku belum menutupi bekas gigitan macan di leherku." Sahut Maysa mengambil bedak concealernya. Ia mengaplikasikan bedak itu ke wajah dan lehernya.


" Duh makin cantik istri Mas, jadi pengin di dalam kamar aja." Ujar Ilyas.


" Nggak mau. Badanku pegal pegal semua, sepertinya remuk nih tulang tulangku Mas." Ujar Maysa.


" Ya nggak gitu juga sayang, itu karena kamu belum terbiasa. Jadi mulai sekarang biasakan, Mas akan memintanya setiap pagi dan malam." Ucap Ilyas mengerlingkan sebelah matanya.


Maysa melongo mendengarnya.


TBC...


Ilyas mengecup bibir Maysa.

__ADS_1


__ADS_2