TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
MULAI CEMBURU


__ADS_3

Rega sampai di sekolah dengan berjalan kaki dari perempatan depan sana sedangkan mobil Aska sudah berada di parkiran khusus karyawan. Ia masuk pintu gerbang menuju kelasnya sambil celingak celinguk takut ada temannya yang melihatnya turun dari mobil Aska. Aska yang melihatnya dari jauh nampak tersenyum lebar.


" Kau benar benar unik sayang, jika yang lain pasti akan pamer jika punya hubungan denganku tapi kamu malah takut jika ada yang tahu. Kau benar benar istimewa, tidak salah aku memilihmu." Gumam Aska.


Aska turun dari mobil, ia berjalan menuju kantor guru melewati depan kelas Rega. Saat sampai di depan kelas Rega, bu Mawar berlari menghampirinya. Guru bahasa Indonesia yang menyukai Aska sejak pertama Aska mengajar di sekolah ini. Ia seumuran dengan Aska.


" Pagi Pak Aska, apa Bapak sudah sarapan?" Tanya Mawar menatap Aska.


" Pagi Bu, saya selalu sarapan sebelum berangkat kerja." Sahut Aska.


" Owh, saya kirain Bapak lupa sarapan. Saya mau mengajak Bapak ke cafe depan." Ujar Mawar.


" Terima kasih Bu." Ucap Aska.


Mawar mengapit lengan Aska membuat Aska risih. Ia mencoba menjauhkan tangan Mawar namun tidak berhasil.


" Gimana kalau makan siang nanti? Saya mohon jangan menolak lagi Pak." Ucap Mawar.


" Maaf Bu, tolong lepaskan tangan saya! Di sini banyak murid murid dan tidak baik jika kita terlihat tidak sopan di depan mereka." Ujar Aska.


" Mana Pak? Masih sepi kok. Ayo Pak kita ke kantor saja." Ucap Mawar menarik tangan Aska.


Rega melihat itu semua dari balik pintu.


" Bu Mawar cocok ya sama pak Aska." Ucap Cici, teman Rega.


" Iya, yang satu tampan yang satunya cantik. Lagian mereka juga sederajat, sama sama dari kalangan orang kaya." Sahut Ratih.


Mereka tidak tahu jika ucapan mereka menyakiti hati Rega. Rega kembali ke kursinya, ia menatap cincin yang Aska sematkan di jarinya semalam.


" Mereka benar, Mas Aska orang kaya dia lebih pantas bersanding dengan bu Mawar daripada aku. Walaupun keluarganya menerimaku tapi pandangan orang juga harus di perhatikan kan? Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka jika tahu kalau Mas Aska adalah tunanganku. Mereka pasti berpikir buruk tentangku. Aku berharap aku bisa menyembunyikan hubungan ini sampai selesai ujian nanti." Ujar Rega dalam hati.


" Rega kau dapat cincin itu darimana? Ini cincin mahal lhoh, hanya sultan saja yang bisa punya cincin seperti ini." Ujar Cici.


Rega langsung menyembunyikan jarinya.


" Rega kau tidak menjawab pertanyaan Cici." Ucap Ratih.


" Ah ini hanya cincin mainan saja." Dusta Rega.


" Gue nggak bodoh ya Ga, gue sering buka buka internet buat nyari cincin lamaran buat aku nanti. Siapa tahu ada orang kaya yang mau melamarku." Ujar Cici.


" Coba lihat Ga." Ratih menarik tangan Rega. Ia mengamati cincin yang melingkar di jari manis Rega.

__ADS_1


" Lo bener Ci, ini cincin pertunangan yang lagi viral. Cincin ini hanya launching sepasang saja." Ujar Ratih.


" Masa' sih? Gue baru tahu." Ujar Rega.


Cici membuka ponselnya, ia searching di mbah goglo.


" Nih lihat!" Ucap Cici menunjukkan ponselnya.


Rega membaca artikel yang berada di sana, mulutnya menganga lebar saat tahu harga cincin yang ia pakai saat ini. Bukan ratusan juta, tapi ratusan M.


" Bagaimana bisa Mas Aska memberikan aku cincin semahal ini? Kalau nanti hilang gimana aku mengembalikannya? Ya Tuhan... Sepertinya aku harus menyimpan cincin ini baik baik." Ujar Rega dalam hati.


" Ga... " Ratih menepuk pipi Rega.


" Ah iya, kenapa?" Tanya Rega.


" Udah ada pak Aska noh, lo malah ngelamun aja. Lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Ratih.


Rega menatap ke depan, dan benar saja. Di sana Aska sedang berdiri menyapa anak anak.


" Regata, apa kau baik baik saja?" Tanya Aska menatap Rega.


" Saya baik baik saja Pak, kenapa? Apa Bapak mengkhawatirkan saya?"


" Setelah berduaan dengan wanita lain?" Lanjut Rega dalam hati.


" Kamu murid saya, dan saat ini ada di jam pelajaran saya. Kalau kamu kenapa napa, saya yang harus tanggung jawab kan? Jadi fokuslah mengikuti pelajaran saya." Sambung Aska.


" Kalau saya tidak bisa fokus mohon di maklumi Pak, karena memang mood saya sedang berantakan."


" Berantakan karena melihatmu dekat wanita lain." Batin Rega.


" Kalau boleh saya tahu, kenapa mood kamu berantakan? Padahal ini masih pagi?" Tanya Aska tersenyum manis membuat murid murid cewek histeris.


" Saya tidak mengijinkan Bapak untuk bertanya mengenai hal pribadi saya. Lebih baik segera mulai pelajarannya Pak, saya permisi ke belakang sebentar." Ucap Rega keluar dari kelasnya.


Ingin sekali Aska mengejarnya namun tidak mungkin ia meninggalkan kelas di jam pelajarannya.


" Baiklah anak anak, mari kita mulai pelajarannya." Ucap Aska.


" Sebenarnya kamu kenapa sayang? Kenapa kamu seperti tidak suka Mas berada di sini? Apa yang membuatmu seperti ini?" Batin Aska.


Selama pelajaran berlangsung Aska tidak konsentrasi dalam mengajar. Apalagi sampai jam pelajaran hampir usai Rega belum kembali. Sampai pada belum istirahat pertama berbunyi, Aska segera mencari Rega.

__ADS_1


" Kemana kamu sayang? Apa mungkin dia pulang? Ah mungkin saja." Monolog Aska.


Grep..


Tiba tiba Mawar menggandeng lengan Aska.


" Eh mau kemana Bu?" Tanya Aska.


" Kita lunch di kantin yuk Pak, saya lapar." Ucap Mawar menarik Aska.


" Tapi saya tidak Bu, Bu Mawar saja sana yang makan." Sahut Aska.


" Tidak mau, saya mau di temanin sama Bapak biar makan saya banyak." Ujar Mawar.


Aska hanya bisa mengikuti Mawar saja. Sampai masuk ke kantin sekolahan, Mawar masih menggandeng Aska.


" Eh lihat lihat deh! Pak Aska sama Bu Mawar makan berdua di kantin? Wah... Mereka pasti punya hubungan nih." Ujar salah satu murid yang sedang makan di sana.


" Bakal ada hari patah hati sedunia nih kalau Pak Aska sama Bu Mawar menikah."


" Bener bener pasangan serasi, kalau mereka menikah terus punya anak pasti anaknya bakaln cakep banget, ah jadi nggak sabar pengin melihat mereka menikah sebelum gue lulus."


Telinga Rega merasa panas, ia menoleh ke arah Aska yang nampak sedang bergandengan tangan dengan Mawar. Ia merasa kesal melihat semua itu. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.


Deg...


Jantung Aska terasa berhenti berdetak saat Rega lebih dulu membuang muka. Ia langsung menjauhkan tangan Mawar dari tangannya. Ia berjalan menghampiri meja Rega, namun sebelum itu...


" Hai Ga, sendirian aja. Boleh gabung?"


Aska menghentikan langkahnya saat seorang murid cowok yang baru datang duduk di depan Rega. Rega melirik Aska sekejap lalu ia menatap teman cowoknya yang bernama Ardo.


" Silahkan! Kebetulan gue sendiri." Sahut Rega.


" Gue perhatiin lo dari tadi duduk di sini, apa lo tidak mengikuti pelajaran jam pertama?" Tanya Ardo.


" Tidak, gue lagi malas mikir pelajaran. Mending gue jajan di sini." Sahut Rega.


" Lain kali kalau mau bolos ajak ajak gue donk! Biar gue yang traktir." Ucap Ardo.


" Siapp." Sahut Rega.


Aska meninggalkan kantin dengan kesal. Ia merasa cemburu melihat kedekatan Rega dengan teman cowoknya.

__ADS_1


" Sepertinya kau sengaja membuat Mas kepanasan sayang, Mas akan memberimu hukuman nanti." Batin Aska.


TBC.....


__ADS_2