TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
INSIDEN PENUSUKAN


__ADS_3

Sampai di perumahan kumuh, Maysa, Barra dan nyonya Melodi segera turun dari mobil. Mereka bertiga menuju ke titik lokasi dimana Kavin berada. Kondisi kampung itu lumayan sepi, mungkin orang orangnya masih pada bekerja.


Sampai di depan rumah sempit bercat hijau, Barra menghentikan langkahnya.


" Yang mana rumahnya Bang?" Tanya Maysa.


" Di dalam sini." Sahut Barra menunjuk rumah itu sambil menatap ponselnya.


Dan benar saja, terdengar suara ribut ribut dari dalam.


" Aku Mommymu Kavin, panggil aku Mommy sekarang juga." Ucap Maurene dengan nada tinggi.


" Kavin tidak mau, mommy Kavin hanya mommy Maysa bukan kamu tante jahat." Teriak Kavin.


" Hei, Maysa itu hanya perempuan yang merebut daddymu dari Mommy. Kalau dia tidak datang ke tengah tengah kita, kita pasti sudah jadi keluarga bahagia sayang." Ujar Maurene.


" Mommy May tidak seperti itu, dia orang baik." Sahut Kavin.


" Tau apa kau tentang orang baik? Kalau dia orang baik pasti dia sudah ke sini menolongmu. Tapi mana dia? Dia bahkan tidak mencarimu. Dia sedang asyik bersama daddymu itu." Ucap Maurene.


" Kavin yakin mommy pasti akan ke sini, mommy akan menjambak rambut tante sampai terlepas dari kepala tante. Mommy pasti akan menolong Kavin, mommy Maysa orang baik tidak jahat seperti tante." Ujar Kavin.


Tiba tiba...


Plak...


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Kavin.


" Kurang ajar kamu, aku akan membunuhmu kalau kamu tidak mau menuruti perkataanku." Ucap Maurene.


" Hiks... Mommy... " Teriak Kavin.


Brak...


Maysa membuka pintu dengan kasar. Maurene dan Kavin menatap ke arahnya.


" Mommy." Pekik Kavin senang.


" Sayang." Ucap Maysa hendak mendekati Kavin yang saat ini sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Tiba tiba Maurene mengalungkan pisau tajam ke leher Kavin membuat Maysa menghentikan langkahnya.


" Berani mendekat aku akan melenyapkannya sekarang juga." Ancam Maurene.


" Mommy hiks... " Isak Kavin merasa takut.


" Tenanglah sayang! Kamu jangan takut ya!Ada mommy di sini." Ucap Maysa.


Maysa menatap Maurene begitupun sebaliknya.

__ADS_1


" Apa maumu? Kenapa kau begitu tega melakukan semua ini kepada Kavin?" Tanya Maysa.


" Aku tidak peduli padanya, yang aku mau hanyalah kembali pada Ilyas. Kau menyayangi Kavin kan? Bawa Kavin bersamamu dan berikan Ilyas padaku." Ucap Maurene.


" Aku tidak akan menyerahkan siapapun padamu. Aku akan tetap bersama mas Ilyas dan Kavin selamanya." Sahut Maysa.


" Berarti kau memilih untuk melihat kematian Kavin." Ucap Maurene menekan pisau ke leher Kavin.


" Mommy hiks."


" Jangan sakiti putraku!" Ucap Maysa.


" Lakukan sesuai keinginanku!" Ucap Maurene menjauhkan pisaunya dari leher Kavin.


" Apa tujuanmu sebenarnya? Bukankah kau sakit keras? Bahkan nyawamu tidak lama lagi akan tiada, lalu untuk apa kau melakukan semua ini di sisa hidupmu yang hanya tinggal menghitung hari saja? Setidaknya lakukan hal baik sebelum kau kembali padaNya." Ucap Maysa.


" Ha ha ha.. " Maurene nampak tertawa keras.


Semua orang saling melempar pandangan sambil mengerutkan keningnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Maurene.


" Penyakit mana yang kau maksud? Kanker itu? Tidak... Aku tidak terkena penyakit mematikan itu. Aku hanya membohongi Ilyas supaya dia berempati padaku. Pada kenyataannya Ilyas masih mencintaiku, mendengar aku sakit dia langsung datang padaku dan merawatku." Ucapan Maurene membuat semua orang melongo.


" Sudah aku duga jika kau memang bersandiwara. Biar aku tebak! Kau sudah jatuh miskin, pihak agencymu sudah tidak mau mempekerjakan kamu lagi. Tapi kau masih ingin hidup mewah tanpa susah bekerja, itu sebabnya kau kembali pada mas Ilyas." Tebak Maysa.


" Aku akui kau benar benar bocah pintar Maysa. Kau pandai membaca suasana dan pikiranku." Sahut Maurene.


" Tidak perlu banyak bicara! Tanda tangani surat perceraianmu dengan Ilyas maka aku akan memberikan Kavin padamu." Ucap Maurene menunjuk sebuah stopmap yang tergeletak di atas meja.


" Rupanya kau sudah menyiapkan semuanya. Segitunya kau ingin kembali pada mas Ilyas, apa tidak ada pria lain yang bisa kau jadikan sasaran tempat untuk menopang hidupmu? Bang Barra misalnya." Ucap Maysa.


Maurene menatap Barra membuat Barra menundukkan kepalanya. Bukannya takut tapi ia risih dengan tatapan Maurene.


" Dia hanya bawahan Ilyas saja, dan dia bukan seleraku." Sahut Maurene membuat harga diri Barra terluka. Sedangkan Maysa malah menahan tawanya.


" Sial dia menghinaku, emangnya dia pikir aku mau sama dia? Dih amit amit, walaupun hanya tersisa dia wanita di dunia ini, aku tidak akan memilihnya." Batin Barra.


Maysa duduk di sofa usang sambil membuka buka stopmap itu. Di sana tertulis jika Maysa menggugat cerai Ilyas dengan alasan istri pertamanya kembali. Benar benar tidak masuk akal.


" Cepat tanda tangani atau aku akan menggores wajah tampan Kavin." Ucap Maurene.


" Mommy hiks... " Kavin kembali menangis.


" Jika sampai Kavin terluka sedikit pun, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau." Ancam Maysa.


Maysa maju ke depan menghadap Maurene.


" Mau apa kau? Jangan berani macam macam atau putramu yang akan jadi taruhannya." Ucap Maurene mengancam.

__ADS_1


" Sudah cukup bermain main denganku. Aku akan menghentikan permainan kotormu ini." Ucap Maysa. Dengan cepat Maysa menepis tangan Maurene hingga pisau di tangannya terjatuh.


Maurene segera mengambil pisau itu tapi Maysa menginjak tangannya dengan keras.


" Awh sakit Maysa." Teriak Maurene.


" Bawa Kavin keluar Bang!" Titah Barra.


" Tidak bisa, kau tidak bisa membawa Kavin begitu saja." Ucap Maurene.


Maysa menarik kasar rambut Maurene membuat Maurene memekik kesakitan. Barra segera membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Kavin, setelah terbuka nyonya Melodi segera membawa Kavin ke mobil.


" Maysa kurang ajar... Lepaskan aku!" Teriak Maurene menahan perih di kepalanya.


" Kau tadi menampar putraku bukan? Sekarang kau juga harus merasakan sakitnya di tampar." Ucap Maysa menarik rambut Maurene hingga ia mendongak ke atas.


Plak...


" Awh.." Pekik Maurene saat Maysa menampar pipinya.


Plak...


Maysa menampar pipi satunya membuat kedua pipi Maurene merah.


" Aku akan buat perhitungan kepadamu karena telah bermain main denganku dan membuang waktuku." Ucap Maysa.


Maysa menarik rambut Maurene hingga tubuhnya ikut terseret. Maurene terus berteriak meminta pertolongan para tetangga namun Barra sudah menseterilkan lokasi itu hingga tidak ada satu pun orang yang menolongnya.


" Maysa maafkan aku! Aku tidak akan lagi mengusik hidup kalian. Aku minta maaf." Ucap Maurene.


" Tidak ada kata maaf untukmu Maurene, kau telah melukai putraku." Bentak Maysa mendorong tubuh Maurene hingga punggungnya membentur tembok.


Brak...


Dahi Maurene terpentok pojokan meja hingga mengeluarkan darah. Maurene mengusap darah yang mengalir di dahinya.


" Kau harus membayar mahal untuk ini Maysa." Batin Maurene.


" Jika kau berani mengusik keluargaku lagi, aku akan membunuhmu saat itu juga. Hiduplah dengan baik tanpa menimbulkan kerugian untuk orang lain." Ucap Maysa penuh penekanan.


" Ayo Bang!" Maysa dan Barra keluar dari rumah sempit itu. Mereka berjalan menuju mobil, tiba tiba Maurene mengejarnya dari belakang.


" Maysa." Teriak Maurene.


Maysa menoleh ke belakang menatap Maurene yang saat ini berlari ke arahnya tiba tiba....


Jleb....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2