TERJEBAK DUDA ANAK SATU

TERJEBAK DUDA ANAK SATU
TIDAK MAU PUNYA ADIK


__ADS_3

" Mommy." Ucap Kavin mendesak Maysa.


Tak kuasa menahan sesak dan ketakutan bersamaan, Maysa justru menangis.


" Sayang jangan menangis!" Ucap Ilyas menarik Maysa ke dalam pelukannya.


" Hiks... Mas." Isak Maysa memeluk Ilyas dengan erat. Ia menangis dalam pelukan Ilyas.


" Mommy." Kavin nampak cemas melihat Maysa menangis.


" Kamu ini berbicara apa Kavin? Apa kamu tahu pertanyaan kamu membuat mommymu sakit sayang, lihatlah mommymu sampai menangis seperti ini. Apa ini yang Daddy ajarkan padamu? Membuat orang tua tersakiti apalagi sampai menangis? Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama Mommy? Siapa yang berbicara seperti itu padamu sayang? Kenapa kau lebih percaya padanya di bandingkan mommymu? Kamu meragukan mommymu sendiri." Ucap Ilyas menatap Kavin yang saat ini menundukkan kepalanya.


" Sorry Mom, Dad." Ucap Kavin.


Maysa mengusap air matanya, ia menatap Kavin.


" Kavin." Ucap Maysa membuat Kavin mendongak menatap ke arahnya.


" Bagaimana jika Mom...


Grep...


Kavin langsung memeluk Maysa.


" Maafkan Kavin Mom, Kavin telah membuat Mommy sedih." Ucap Kavin.


" Tidak sayang, ini bukan salah Kavin." Ucap Maysa.


Maysa melepas pelukannya, ia menatap Kavin sambil mengusap wajah Kavin.


" Sayang Mommy memang bukan ibu kandung kamu." Ungkap Maysa.


Deg...


" Sayang kau mengatakan apa, kenapa kau mengatakan hal ini sayang. Kavin tidak perlu tahu tentang masalah ini." Ujar Ilyas.


Maysa menatap Ilyas.


" Kavin harus tahu yang sebenarnya Mas, bagaimanapun dia berhak tahu siapa ibu kandungnya. Cepat atau lambat dia harus tahu semuanya, jika aku sendiri yang memberitahunya aku tidak akan sanggup. Sekarang berhubung Kavin sendiri yang bertanya, aku harus memberitahu yang sebenarnya." Sahut Maysa.


Ilyas memijat pelipisnya, ia khawatir Kavin akan menjauh dari Maysa setelah tahu semuanya.


" Kavin ingat dengan tante yang pernah membawa Kavin kabur?" Tanya Maysa di balas anggukkan kepala oleh Kavin.

__ADS_1


" Dialah ibu kandungmu." Ucap Maysa. Ilyas memejamkan matanya mendengar ucapan Maysa.


" Apa itu artinya Mommy ibu tiri Kavin?" Tanya Kavin memastikan.


" Iya sayang." Sahut Maysa.


" Tapi perlu kau tahu sayang, walaupun Mommy tidak melahirkanmu tapi Mommy sangat menyayangimu. Mommy menganggapmu sebagai anak kandung Mommy sendiri. Kau putra Mommy dan selamanya akan begitu. Mommy tidak akan membiarkan orang lain mengambil dari Mommy termasuk ibu kandungmu. Lagian tidak ada bedanya kan ibu kandung sama ibu tiri? Selama ini Mommy yang merawatmu dan menyayangimu, bukankah Mommy sudah seperti ibu kandung untuk Kavin?" Tanya Maysa. Kavin menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu tidak usah di pikirkan! Yang penting Mommy menyayangimu sayang." Ucap Maysa menciumi wajah Kavin.


" Kavin juga menyayangi Mommy. Sampai kapan pun Mommy tetap Mommy Kavin. Kavin hanya mau Mommy bukan orang lain. Love you Mom." Ucap Kavin mencium pipi Maysa.


" Love you too sayang." Sahut Maysa.


" Sekarang kita makan ya, kita lupakan masalah ini." Ucap Maysa.


" Oke Mom." Sahut Kavin nampak gembira lagi.


" Sekarang makanlah!" Ucap Maysa memberikan sepiring makanan kepada Kavin.


" Kavin mau di suapin sama Mommy." Ucap Kavin.


" Baiklah Mommy suapi." Sahut Maysa.


" Sayang kamu juga harus makan." Ucap Ilyas menyodorkan sesendok makanan ke mulut Maysa.


Maysa tersenyum menerima suapan dari Ilyas. Selanjutnya Ilyas menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


" Sayang tumben kamu minta di suapin sama Mommy, biasanya kamu makan sendiri. Katanya Kavin mau...


" Kavin tidak mau punya adik."


Jeduaarrrr.....


Ucapan Kavin bagai petir menyambar di siang bolong. Tubuh Maysa dan Ilyas terpaku, mereka saling melempar pandangan.


" Sayang kenapa kamu berbicara seperti itu? Bukankah selama ini kamu ingin punya adik seperti teman teman kamu?" Tanya Ilyas mewakili Maysa.


" Teman Kavin ada yang punya ibu tiri Dad, kata dia ibu tirinya berubah sejak adiknya lahir. Ibu tirinya sekarang tidak menyayangi dia lagi, ibu tirinya hanya sayang kepada adiknya. Kavin tidak mau kehilangan kasih sayang mommy." Sahut Kavin membuat hati Maysa mencelos. Ia tidak menyangka Kavin memiliki pemikiran seperti itu.


" Sayang setiap orang berbeda beda, jangan samakan ibunya teman kamu dengan mommymu Kavin. Mommymu tidak seperti itu, mommy pasti akan menyayangimu dan adikmu nanti. Mommy tidak akan membeda bedakan kamu dan adik kamu. Kalian berdua sama sama anak mommy dan daddy. Kami akan menyayangi kalian selamanya." Ujar Ilyas memberi pengertian.


" Tapi Kavin tidak mau Dad. Pokoknya sekarang Kavin tidak mau punya adik. Kavin ingin memiliki mommy sendirian. Kavin tidak mau berbagi mommy dan daddy sama siapapun. Kavin takut kalau mommy dan daddy lebih menyayangi adik bayi daripada Kavin. Kavin tidak mau punya adik, Kavin tidak mau." Kukuh Kavin.

__ADS_1


" Kavin." Bentak Ilyas tanpa sadar membuat Kavin berjingkrak kaget. Ia memeluk Maysa erat.


" Mas." Ucap Maysa menatap Ilyas.


" Yang sabar Mas! Kita harus memberi pengertian kepada Kavin pelan pelan. Jangan memaksa Kavin untuk mengerti kita Mas, saat ini Kavin masih dalam ketakutan. Kita harus meyakinkan dia jika kasih sayang kita kepadanya tidak akan berubah dengan menunjukkan cinta dan kasih sayang kita. Bukan malah membentaknya seperti ini Mas. Sebagai orang tua kita harus memahami putra kita Mas bukan dia yang harus memahami kita. Kita tidak boleh egois Mas." Ujar Maysa mengelus lengan Ilyas. Ilyas nampak sedang berpikir, ia berpikir ucapan Maysa ada benarnya.


" Sayang Daddy minta maaf, bukan maksud Daddy menyakitimu tapi Daddy hanya ingin kamu menjadi anak yang patuh dan nurut sama orang tua. Daddy tidak suka kamu jadi anak pembangkang sayang, maafkan Daddy." Ucap Ilyas mencium pucuk kepala Kavin.


" Kavin mau memaafkan daddy?" Tanya Masya di balas anggukkan kepala oleh Kavin.


" Baiklah kalau begitu kita lanjutkan makan lagi, setelah itu kita pulang. Mommy capek mau istirahat." Ujar Maysa.


" Iya Mom." Sahut Kavin.


Selesai makan mereka bertiga pulang ke rumah.


Sampai di rumah Kavin segera mengganti bajunya lalu tidur siang sambil memeluk Maysa. Maysa turun dari ranjang dengan pelan, ia masuk ke kamarnya menghampiri Ilyas di atas ranjang.


" Kavin sudah tidur?" Tanya Ilyas menarik Maysa untuk bersandar di bahunya.


" Sudah Mas, sepertinya dia lelah." Sahut Maysa menyandarkan kepalanya di bahu Ilyas.


" Bagaimana kalau kita tidak berhasil meyakinkan Kavin tentang keinginannya yang tidak mau punya adik?" Tanya Ilyas sambil mengelus kepala Maysa.


" Kavin anak yang baik Mas, aku yakin dia pasti bisa mengerti. Lagian toh aku juga belum hamil jadi masih ada banyak waktu untuk kita membujuk dan memberinya pengertian. Saat ini kita fokus saja pada Kavin, masalah adiknya biar menjadi rahasia Tuhan. Yang jelas kita tidak boleh membebaninya dengan hal ini, jika di paksakan ia justru akan merasa terintimidasi. Aku tidak mau dia justru akan membenci adiknya karena kita memaksanya." Ujar Maysa.


" Mas salut sama kamu, kamu bisa berpikir sedewasa ini. Mas aja nggak kepikiran sayang. Mas bangga padamu." Ucap Ilyas mencium kening Maysa.


" Istri siapa dulu, sepertinya menikahi pria tua membuatku bisa berpikir lebih dewasa." Ucap Maysa.


" Kamu menyinggung perasaan Mas sayang, biar pun tua begini tapi masih bisa membuatmu mendes@h memanggil nama Mas." Ucap Ilyas vulgar.


" Emang iya?" Canda Maysa.


" Kalau nggak percaya buktikan saja nanti malam, kau akan meminta ampun sama pria tua ini karena tidak sanggup mengimnangi permainan Mas." Ucap Ilyas membuat Maysa bergidik ngeri.


" Atau kita buktikan sekarang saja? Kalau nanti malam kelamaan." Ujar Ilyas.


" Nggak mau, yang ada nanti Kavin bangun terus mencariku." Ujar Maysa.


" Ah iya sayang kau benar, Kavin pasti akan mengganggu kegiatan kita. Mas baru menyadari kalau kamu tidak mau di ganggu saat melakukan itu." Ucap Ilyas.


" Hah???"

__ADS_1


TBC....


__ADS_2