
Mereka semua melanjutkan makannya. Saat Maysa hendak menyuapkan makanannya, tiba tiba...
" Huek." Maysa membekap mulutnya. Maysa menahan mual di perutnya.
" Kau kenapa sayang?" Tanya Ilyas menatap Maysa dengan cemas. Semua orang melihat ke arahnya.
Maysa menggelengkan kepala. Ia berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar tamu, mau ke dapur takut suaranya menganggu mereka yang sedang makan. Melihat itu Ilyas segera menyusul Maysa.
" Huek... Huek... " Maysa memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel kamar mandi.
" Ya Tuhan sayang." Ilyas memijat pelan tengkuk Maysa.
Dengan telaten Ilyas mengusap keringat yang menetes di dahi Maysa selama Maysa mengalami muntah. Setelah mendingan, Maysa segera membasuh mulutnya sampai bersih. Ilyas mengeringkannya menggunakan tisu.
" Apa sudah mendingan?" Tanya Ilyas.
" Iya Mas." Sahut Maysa menganggukkan kepala.
" Kamu salah makan atau masuk angin?" Tanya Ilyas.
" Aku tidak tahu Mas, mungkin aku salah makan aja tadi. Atau bisa jadi aku masuk angin, semalam kan Mas menggempurku sampai pagi. Mungkin aku juga kecapekan kali." Ujar Maysa.
" Ya sudah buat istirahat saja." Ujar Ilyas.
" Iya Mas." Sahut Maysa.
" Ayo Mas bantu!" Ilyas memapah tubuh Maysa, tiba tiba kepala Maysa berdenyut nyeri, pandangannya kunang kunang lalu...
Brugh...
" Maysa." Pekik Ilyas menopang tubuh Maysa.
Ilyas segera membopong Maysa ke ranjang. Ia berlari keluar menghampiri maminya di meja makan.
" Mami tolong, Maysa pingsan."
" Apa????" Pekik semua orang bersamaan.
Mereka semua langsung meninggalkan meja makan menuju kamar tamu.
" Ya Tuhan putriku yang cantik, kamu kenapa sayang." Nyonya Alexa naik ke atas ranjang lalu duduk di sebelah Maysa.
" Aska segera panggil dokter." Ucap tuan Frans.
" Iya Pi." Sahut Aska.
Aska segera menelepon dokter Anton, dokter keluarga Wilson.
" Sayang bangun!" Ucap Ilyas mengusap dahi Maysa.
" Mi, Maysa kenapa? Kenapa di tidak sadar sadar Mi? Apa sesuatu buruk terjadi padanya?" Tanya Ilyas cemas.
" Tenanglah sayang! Berdoa saja semoga Maysa baik baik saja." Sahut nyonya Alexa.
" Aska bagaimana? Apa dokter bisa datang kemari? Kalau tidak bisa, telepon dokter Burhan saja!" Ujar Ilyas.
" Beliau dalam perjalanan Bang, tunggu sebentar lagi." Ucap Aska.
Mereka semua nampak cemas menunggu kedatangan dokter Anton. Tak lama bi Endah mengantar seorang dokter muda ke kamar tamu membuat Ilyas melongo.
" Sejak kapan dokter Anton berubah menjadi muda lagi?" Tanya Ilyas menatap maminya.
Nyonya Alexa tersenyum menatap Ilyas.
" Ini dokter Fian, putra dari dokter Anton." Ucap nyonya Alexa.
__ADS_1
Ilyas menatap dokter Fian dengan tatapan menyelidik. Dokter tampan, masih muda, dan berkulit putih serta hidung mancung membuat siapa saja terpana melihatnya.
" Anda yang mau memeriksa istri saya?" Tanya Ilyas memastikan.
" Iya Tuan Ilyas, tadinya ayah saya yang mau ke sini tapi mendadak beliau ada pasien darurat jadi saya yang menggantikannya." Sahut dokter Fian.
" Tidak bisa!"
"Hah??" Semua orang melongo mendengar ucapan Ilyas.
" Bang jangan drama! Kecemburuanmu tidak pada tempatnya. Masa' cemburu sama dokter." Ujar Aska.
" Saya tidak rela istri saya dia entuh oleh orang lain." Ucap Ilyas menatap sinis ke arah dokter Fian.
Semua orang menyembunyikan senyumannya melihat sikap Ilyas yang begitu posesif.
" Terus bagaimana dokter bisa memeriksa Maysa kalau begitu Bang." Ujar Aksa.
" Tidak apa, biarkan tuan Ilyas yang memegang stetoskopnya. Saya cukup mendengar denyut jantung dan nadinya saja." Sahut dokter Fian.
" Itu lebih bagus." Ucap Ilyas.
Dokter Fian memasang stetoskop di telinganya. Ia mendekati Maysa dengan berdiri di tepi ranjang.
" Pegang stetoskopnya Tuan! Lalu letakkan di dada istri anda! Saya tidak akan melihatnya." Ujar dokter Fian.
Ilyas memegang kepala stetoskop lalu ia meletakkan di dada kiri Maysa.
" Coba geser ke kanan Tuan!" Titah dokter Fian. Ilyas melakukan apa yang di perintahkan dokter Fian.
" Kalau boleh, bisakah saya memegang pergelangan tangannya? Saya ingin memastikan sesuatu." Ujar dokter Fian.
" Jangan lama lama!" Ucap Ilyas.
" Baiklah." Sahut dokter Fian tersenyum.
" Bagaimana keadaan menantu saya Dok?" Tanya nyonya Alexa.
" Nyonya Ilyas tidak apa apa Nyonya, hal ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda."
" Apa???"
Mereka semua nampak terkejut, mereka saling melempar pandangan sambil melongo.
" Ma.. Maksud dokter menantu saya hamil begitu?" Tanya nyonya Alexa memastikan.
" Iya Nyonya, untuk lebih jelasnya silahkan bawa ke rumah sakit dan chek up di bagian obgyn. Di sana anda akan tahu berapa umur kehamilannya dan bagaimana kondisi janinnya. Kalau menurut pemeriksaan saya semuanya sehat." Ujar dokter Fian.
" Alhamdulillah." Ucap semua orang.
" Bang, gue mau jadi om papi lagi." Ucap Aska menepuk pundak Ilyas yang sedari tadi hanya diam saja.
" Aku akan menjadi seorang ayah?" Tanya Ilyas memastikan.
" Bukan... Tapi lo akan menjadi seorang paman." Sahut Aska.
" Kok bisa? Istri gue yang hamil kok gue malah jadi paman?" Tanya Ilyas seperti orang linglung. Mungkin saking terkejutnya.
" Lo itu gimana sih Bang, udah tahu masih nanya aja!" Ujar Aska.
Aksa maju mendekati Ilyas.
" Selamat ya Bang, akhirnya lo mau jadi bapak lagi. Jaga baik baik kakak ipar dan keponakan kami Bang." Ucap Aksa merangkul Ilyas.
Tes...
__ADS_1
Tak terasa air mata menetes di pipi Ilyas.
" Lhoh kok malah nangis Bang?" Tanya Aska.
" Gue bahagia As... Hiks... Gue bahagia. Gue bakal jadi ayah lagi." Ujar Ilyas mengusap air matanya.
" Mami." Ilyas menatap nyonya Alexa.
Nyonya Alexa mendekatinya lalu memeluknya.
" Selamat sayang semoga Tuhan selalu melindungi calon anakmu dan istrimu." Ucap nyonya Alexa.
" Terima kasih Mi." Ucap Ilyas.
" Sudah jangan menangis! Nanti kalau Maysa sadar dia akan salah paham dengan reaksimu yang seperti ini. Nanti dia berpikir kalau kamu tidak bahagia." Ujar nyonya Alexa.
" Iya Mi." Sahut Ilyas melepas pelukannya.
Setelah itu dokter Fian pamit undur diri. Aksa mengantarnya sampai ke depan. Ilyas duduk di tepi ranjang sambil terus menggenggam tangan Maysa.
" Sayang sadarlah!" Ucap Ilyas mencium punggung tangan Maysa.
Maysa membuka matanya, ia menatap kedua mertuanya, Aska, Rega dan Ercha yang saat ini berdiri mengelilingi ranjangnya. Ia menatap Ilyas yang duduk di sampingnya.
" Mas ada apa? Aku kenapa?" Tanya Maysa lirih.
" Shhh... Kenapa kepalaku sakit sekali? Ya Tuhan." Gumam Maysa memegangi kepalanya.
" Sini Mas pijit!" Ujar Ilyas memijat kepala Maysa.
" Mas belum menjawab pertanyaanku, aku kenapa?" Tanya Maysa lagi.
" Kamu hamil sayang." Ucap Ilyas.
" Apa Mas? Hamil?" Tanya Maysa memastikan.
" Iya sayang, di sini ada buah cinta kita berdua." Ucap Ilyas mengelus perut Maysa.
" Bagaimana reaksi Kavin kalau dia tahu aku hamil Mas?" Maysa kembali bertanya.
" Apa? Mommy hamil?"
Semua orang menoleh ke arah pintu.
Deg...
Jantung Maysa dan Ilyas berdetak sangat kencang. Kavin berjalan menghampiri Maysa.
" Mommy hamil? Kavin mau punya adik maksud Mommy?" Selidik Kavin menatap Maysa dengan tajam.
" Maafkan Mommy sayang." Ucap Maysa.
" Kavin tidak akan memaafkan Mommy, Kavin....
Kavin apa hayooo...
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author biar makin semangat...
Terima kasih...
Miss U All...
***Author ucapkan selamat hari raya idul fitri untuk kalian yang merayakan esok hari.
Mohon maaf lahir dan batin***....
__ADS_1
TBC....